Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Semakin Beranjak Dewasa


__ADS_3

3 tahun berlalu....


Sofia kini sudah berusia 17 tahun, sementara Reyhan berusia 15 tahun. Sofia duduk di bangku kelas 3 sekolah menengah atas, sementara Reyhan baru masuk kelas 1.


"Reyhan, kelas kami akan mengadakan sebuah perjalanan tamasya. Jadi aku akan pergi selama seminggu." Ucap Sofia saat Reyhan baru masuk ke dalam rumah.


"Oh aku mengerti, tapi aku tidak bisa mengizinkannya." Ucap Reyhan dengan suara yang terdengar marah.


"Kenapa?" Tanya Sofia dengan bingung.


"Kau tahu itu jauh lebih baik dibandingkan aku, Kakak. Itu bukanlah perjalanan tamasya yang diadakan kelas mu. Tapi kau akan melakukannya dengan teman-temanmu bukan?" Ucap Reyhan dengan suara yang terdengar sedikit keras.


"Ah kau sudah mengetahuinya, jadi kau harus membantu aku untuk menutupi semuanya, oke adikku yang tampan." Ucap Sofia seraya menepuk pundak Reyhan.


"Oh, sekarang aku sudah menjadi adikmu yang tampan? Bukankah aku selalu terlihat menggemaskan di matamu?" Ucap Reyhan dengan menyeringai.


"Kumohon tolong aku!" Ucap Sofia dengan suara yang terdengar memelas kepada adiknya itu.


"Kakak bisa mengatakan yang sebenarnya dan pergi begitu saja. Toh Mama dan Papa tidak akan setuju bahkan jika Kakak mengatakan yang sebenarnya." Ucap Reyhan kepada Sofia.


"Itu tidak akan menyenangkan bagiku. Aku ingin bertingkah seperti seorang anak yang pemberontak." Ucap Sofia dengan senyuman di bibirnya.


"Baiklah, seperti yang kau inginkan._ Ucap Reyhan dan berjalan naik ke lantai atas.


Reyhan lalu mengeluarkan ponselnya dan mulai menelpon nomor Papanya. Dia pun langsung mengatakan kepada Papanya bahwa Sofia akan pergi bersama dengan teman-temannya dan meminta Papanya untuk mengizinkan Sofia dan Papanya hanya tersenyum di seberang telepon itu.


"Apa kau pikir Reyhan akan berbohong kepadaku?" Ucap Ammar dengan senyuman di bibirnya kepada Fara yang duduk disampingnya.


"Hah? Apa maksudnya itu?" Tanya Reyhan bingung.


"Itu artinya Papa kita kalah dengan taruhannya, idiot." Ucap Sofia dengan keras yang tiba-tiba berada dibelakang Reyhan.


Reyhan semakin bingung dan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh semua orang. Mulai dari Papa nya dan sekarang Sofia yang semakin membuatnya bingung saja.


"Sayang, datanglah ke ruang kerja Mama dan Papa." Ucap Fara melalui ponsel Ammar.


Reyhan lalu berjalan ke arah ruang kerja kedua orang tuanya. Saat dia tiba disana, dia melihat kedua orang tuanya tengah tersenyum kepadanya. Reyhan semakin bingung dan lantas bertanya ada apa sebenarnya.


"Mama bertaruh dengan Papa bahwa kau tidak akan berbohong. Tapi Papa mengatakan bahwa kau akan melindungi kakakmu. Jadi semuanya seperti yang kau ketahui sekarang, Mama menang karena kau tidak berbohong dan tetap mengatakan semuanya kepada Papa mu." Ucap Fara tersenyum.


"Jadi kalian membuat aku sebagai bahan taruhan dan kali ini Mama juga terlibat? Baiklah sekarang aku mau tanya, Mama lebih membela siapa?" Tanya Reyhan kesal.


"Mama bilang bahwa kau tidak akan berbohong sayang. Jadi kau tahu sendiri jika Mama pasti berpihak padamu." Ucap Fara.


"Oh, tapi aku tetap saja tidak akan memaafkan kalian semua. Dalam keluarga kita, kenapa hanya aku yang selalu berbeda? Menjadi anggota keluarga yang paling muda, seharusnya aku lebih diperhatikan. Tapi di sini selalu yang tua yang lebih diperhatikan dan kalian semua selalu membully aku." Ucap Reyhan dengan memperlihatkan air mata palsunya.


"Kau bodoh! Itu karena kau selalu sibuk dengan ponsel dan buku-buku mu di kamarmu. Apakah kau bahkan mau bersosialisasi dengan kami?" Ucap Sofia.


"Jangan menyalahkan aku. Aku mengikuti semua ini dari Mama kita juga." Ucap Reyhan mengangkat pundaknya.


"Bahkan Mamamu ini tidak terlalu sulit untuk dihadapi." Ucap Ammar dan berjalan mendekat ke arah Fara dan memeluknya.


"Aku akan membuat kalian semua cemburu sama seperti kalian membuat aku selalu cemburu. Ingat itu di dalam kepala kalian. Seseorang wanita nantinya akan memberikan semua perhatiannya kepadaku." Ucap Reyhan kepada mereka semua sebelum dia pergi dari ruang kerja orang tuanya.


"Hanya mendengarkan hal itu, sudah membuat aku mengasihani wanita yang akan menjadi pasangannya." Ucap Sofia dan kemudian tertawa dengan keras.


...----------------...

__ADS_1


Seperti yang sudah direncanakan, Sofia akhirnya pergi liburan dengan teman-temannya. Sofia sebenarnya ingin pergi ke sebuah pantai yang cukup terkenal akan ramai pengunjung pada saat hari libur, karena disana mata mereka akan dimanjakan dengan pemandangan pantai dengan pasir putih, banyak pohon cemara dan pohon kelapa sehingga menjadi tempat bersantai yang segar di bawah sengatnya panas matahari.


Hari itu, saat Sofia dan teman-temannya tengah nongkrong di kantin, Sofia pun mengajak mereka untuk camping, karena dia sudah lama sekali tidak liburan dengan teman-teman. Terakhir kali mereka pergi bersama-sama itu pun pada saat kelas mereka mengadakan studi tour. Sudah setahun lebih Sofia tidak camping bersama teman-temannya.


Sofia begitu bahagia setelah teman-temannya setuju jika mereka berencana untuk camping, mereka pun langsung menentukan waktu dan tempat pada hari itu juga sambil cerita santai bercanda.


Sofia pun bertanya kepada mereka "mau camping dimana?" Sofia juga memberikan pilihan "mau di gunung, di pantai yang ada di daerah S atau pantai di daerah Y?"


Ternyata kebanyakan teman-teman Fara memilih camping di sebuah pantai yang memang diinginkan Fara. Alasannya karena sudah lama tidak camping disana, karena terakhir kali mereka camping di daerah yang disebutkan Fara. Kemudian mereka pun menentukan waktu kapan mereka akan camping.


Setelah selesai membahas waktu dan tempat camping, merekapun mulai membahas tentang mempersiapkan bahan-bahan logistic yang akan dibawa untuk camping.


Tiba sudah saatnya hari H, setelah semua sudah siap barang-barang yang akan di bawa, Sofia dan teman-temannya memutuskan untuk pergi sore hari dari rumah mereka agar sampai disana bisa menikmati sunset di pantai itu.


"Pa, Ma, aku berangkat." Ucap Sofia dengan begitu antusias.


"Ingat untuk selalu berhati-hati. Dan jangan sampai melakukan hal yang aneh-aneh. Jangan rusak kepercayaan yang sudah Mama dan Papa berikan padamu." Ucap Fara mengingatkan putrinya yang sebentar lagi akan memasuki dunia perkuliahan itu.


"Tenang saja Ma. Aku janji gak akan merusak kepercayaan yang Mama dan Papa berikan." Balas Sofia dengan serius.


Sofia lalu berpamitan pada kedua orang tuanya. Dia lalu melihat ke arah Reyhan yang duduk di sofa ruang tamu tampak sibuk membaca buku.


"Ya ampuun, sampai kapan kau seperti ini? Tidak akan ada wanita yang menyukaimu jika kau seperti ini terus." Ucap Sofia berusaha mengambil buku yang dibaca Reyhan.


Namun Reyhan dengan cepat merampas bukunya lagi.


"Jangan ganggu aku. Hushh.... Cepatlah pergi." Usir Reyhan.


"Kau yakin tidak mau ikut denganku?" Ucap Sofia yang terus berusaha mengajak adiknya itu agar ikut bersamanya.


"Tidak. Aku lebih baik di rumah daripada nantinya aku akan menjadi pesuruh Kakak dan teman-teman Kakak." Ucap Reyhan.


Perjalanan Sofia dari rumah kira-kira 30 menit sampai di lokasi camping. Sesampainya disana Fara dan teman-temannya memilih spot yang bagus untuk tempat bermalam dan mereka menghabiskan waktu sore hari dengan pandangan ke pantai menatap pantulan sunset yang begitu indah ciptaan Tuhan.


Sampai Sofia pun menguapkan "nikmat Tuhan yang manakah, yang kamu dusta kan".


Kebetulan di pantai itu sudah ada tempat seperti gubuk atau pondok tempat berteduh santai. Jadi Sofia dan teman-temannya tidak perlu membuat tenda lagi. Itulah yang menjadi salah satu alasan kenapa mereka semua memilih camping di pantai itu, karena mereka tidak perlu repot-repot membawa tenda karena sudah ada tempat untuk beristirahat. Di pantai itu juga ada penjaga pantai, jadi mereka tidak perlu khawatir. Itulah yang membuat Fara dan Ammar setuju untuk mengizinkan Sofia pergi bersama teman-temannya meski camping mereka bukanlah agenda yang dibuat oleh sekolah.


Saat tiba malam hari, Sofia dan teman-temannya membuat api unggun untuk menghangatkan diri dan api untuk bakar ikan untuk makan malam. Hal itulah yang paling seru pada saat camping bagi Sofia. Dimana dia dan teman-temannya bisa bakar-bakar ikan sambil menyanyi bersama, bercanda gurau dan yang lainnya.


Setelah santap hidangan makan malam, mereka duduk melingkari api unggun sambil menyanyi bersama. Mereka lalu beristirahat dengan rebahan santai menatap bintang-bintang di langit dengan merasakan dinginnya angin laut.


Acara camping yang dilalui Sofia benar-benar membuatnya merasa begitu bahagia, karena itu merupakan pengalaman pertama baginya pergi bersama teman-temannya tanpa ada agenda dari sekolah.


...----------------...


Beberapa minggu kemudian...


Sofia tengah berada di kamarnya, dia tengah bersantai karena liburan sekolah. Dia sudah berada di tahun terakhirnya dari sekolah menengah atas setelah liburannya nanti.


Dia tampak tengah mendengarkan lagu, saat ponselnya bergetar.


"Iya Ma." Ucap Sofia mengangkat teleponnya dengan menjawab panggilan dari Mama nya itu.


"Tuan Putri, bisakah kau datang ke klinik sekarang? Jika kau bisa melakukannya, ajak juga adikmu untuk ikut bersamamu." Ucap Fara melalui telepon.


"Jangan khawatir Ma, aku akan pergi kesana bersama dengan Reyhan." Ucap Sofia via telepon dan setelah itu dia berlari ke arah kamar adiknya itu.

__ADS_1


Tanpa mengetuk pintu Sofia langsung berlari masuk ke dalam kamar Reyhan. Reyhan pun berteriak kepadanya karena Sofia masuk tanpa permisi lebih dulu.


"Dasar kakak yang bodoh. Berapa kali harus aku katakan sebelum masuk ke kamarku, kau harus mengetuk pintu dulu." Teriak Reyhan kepada Sofia.


Sofia hanya tersenyum dan meminta Reyhan untuk bersiap-siap karena Mama mereka meminta mereka untuk pergi ke klinik.


Namun Reyhan tetap mengomel.


"Terserah kau saja, cepat bersiaplah." Ucap Sofia tidak menghiraukan teriakan dari adiknya itu dan meninggalkan kamar Reyhan.


10 menit kemudian mereka tiba di klinik setelah diantar oleh sopir mereka.


"Mama kami sudah datang." Ucap Sofia setelah Fara membuka pintu dari ruangannya.


Sofia melihat ada seorang anak laki-laki duduk di sana yang usianya hampir sama dengannya.


"Sayang, bisakah kau duduk di sofa?" Ucap Fara menunjuk ke arah sebuah sofa yang ada di dalam ruangannya itu.


"Oh tentu saja Ma." Balas Sofia dan melihat Reyhan yang masih sibuk dengan ponselnya.


Sofia lantas menggelengkan kepalanya karena tidak percaya dengan apa yang dilakukan adiknya itu. Dia lalu memukul kepala Reyhan untuk mendapatkan perhatian darinya dan Sofia pun berhasil.


"Dasar bodoh, ayo duduk di sofa." Ucap Sofia.


Setelah itu dia duduk di sofa dan sepanjang waktu anak laki-laki itu hanya menatap ke arah Sofia.


Fara berjalan ke arah anak laki-laki itu dan memegang tangannya kemudian menuntun dia untuk mendekat ke arah sofa itu juga.


"Andrew, perkenalkan putra dan putriku. Kau bisa berteman dengan mereka' Ucap Fara memperkenalkan kedua anaknya kepada anak laki-laki itu.


"Hai aku Sofia." Ucap Sofia dengan tersenyum dan menjulurkan tangannya.


Tapi anak laki-laki bernama Andrew itu tidak menerima jabatan tangan dari Sofia.


"Dia tidak suka bicara dengan orang asing sayang. Tapi bisakah kalian berteman dengannya?" Ucap Fara kepada Sofia dan juga Reyhan.


"Dia sama sepertiku. Jadi kami tentu bisa berteman." Ucap Reyhan sebelum Sofia sempat menjawab ucapan Mama nya dan berjalan mendekat ke arah Andrea lalu memeluknya.


Tapi Andrew tidak membalas pelukan dari Reyhan dan hal itu membuat Reyhan berjalan menjauh dari dirinya.


"Perlahan lah Reyhan. Mama benar-benar serius saat Mama mengatakan bahwa dia tidak suka orang asing. Dia itu mengidap xenofobia. Tidak sepertimu yang menghindari orang lain dan menjadi introver." Ucap Fara dengan suara yang terdengar marah.


Fara lalu menatap ke arah Andrew dan memegang pundaknya.


"Andrew aku akan meninggalkanmu bersama dengan mereka. Mereka ini adalah orang baik. Jadi bertemanlah dengan mereka. Tolong coba untuk melakukannya demi kebaikan Mamamu." Ucap Fara dan berjalan keluar dari dalam ruangan itu.


"Apakah kau benar-benar tidak akan menyapaku?" Ucap Sofia dengan mata yang tampak berbinar.


"Aku... aku... hanya butuh beberapa saat..." Ucap Andrew dengan suara yang gemetar.


Andrew terus terdiam beberapa saat. Sementara Sofia dan Reyhan hanya bisa saling menatap dan menunggu sampai Andrew bisa bicara pada mereka berdua.


"Bisakah kalian menjadi temanku yang sebenarnya?" Ucap Andre dengan suara yang begitu gemetar karena dia mencoba untuk memaksakan suaranya itu keluar dari tenggorokannya.


"Iya tentu saja." Ucap Sofia dengan antusias.


"Baiklah, kita bisa berteman dan bermain games di ponsel." Ucap Reyhan dengan senyuman sumringah di wajahnya.

__ADS_1


Andrew pun tersenyum, dan senyuman itu membuat dia terlihat sangat tampan. Dengan senyuman di wajahnya itu, membuat jantung Sofia tiba-tiba berdegup kencang.


Bersambung....


__ADS_2