
Bu Ros dan Bella datang ke rumah sakit tempat Izzah dirawat. Melihat kedatangan mereka membuat mang Diman mendengus kesal.
"Ngapain Mak Lampir itu kemari." ucap mang Diman.
"Hushh bapak jangan mulai lagi. Mungkin bu Ros mau nengokin neng Izzah." balas bi Asih.
"Sejak kapan Mak Lampir perduli sama neng Izzah?"
Bi Asih hanya menghela nafas.
Bu Ros dan Bella menghampiri Rayhan yang tengah duduk dengan dokter Harun.
"Ray..." panggil bu Ros.
Rayhan hanya melihat sekilas ke arah bu Ros, lalu kembali menunduk.
"Kamu yang sabar ya Ray." ucap Bella.
"Sejak kapan kamu peduli sama Izzah?" dengus Rayhan kesal.
"Ray, terlepas dari Izzah itu adalah maduku. Dulu aku juga pernah bersahabat dengannya." balas Bella.
"Sudahlah Ray, lu harus tenang." bujuk dokter Harun menarik tangan Rayhan agar duduk kembali.
Tak lama berselang dokter keluar dari ruang operasi. Rayhan dengan segera menghampiri.
"Dokter bagaimana keadaan isteri saya?" tanya Rayhan.
"Pasien sudah melewati masa kritis, dan operasinya berjalan lancar." jawab dokter wanita bernama Nuri itu.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan bayinya, dokter Nuri?" tanya dokter Harun.
"Bayi bu Izzah juga berhasil dilahirkan dengan selamat, namun kondisinya kritis. Karena bayi bu Izzah lahir prematur masih di usia enam bulan. Sekarang bayinya telah kami tempatkan di inkubator dengan peralatan medis yang bisa menopang kehidupannya seperti masih di dalam rahim. Tapi tetap saja tidak bisa disamakan seratus persen dengan rahim ibu. Jadi saya hanya bisa menyarankan untuk berdoa supaya bayi itu dapat bertahan." ujar dokter Nuri.
Air mata Rayhan seketika luruh, lututnya terasa begitu lemas.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan isteri saya dok? Saya mendapatinya sudah tak sadarkan diri di toilet hotel." ucap Rayhan.
"Dari hasil lab menyatakan ibu Izzah mengalami keracunan, bisa jadi dari makanan atau minuman dan sepertinya ibu Izzah juga terjatuh yang menyebabkan perutnya terbentur hingga membuatnya pendarahan dan air ketuban pecah sebelum waktunya." jelas dokter Nuri.
"Ya Allah Izzah...." isak Rayhan dengan terduduk di lantai rumah sakit.
Mang Diman dan bi Asih memandang Rayhan dengan pilu. Mereka ikut menangis begitu juga dengan Intan dan Ifan.
"Dokter Harun, sebaiknya pak dokter menenangkan pak Rayhan, jangan sampai pak Rayhan terlihat seperti itu di depan bu Izzah, karena akan berpengaruh dengan kesehatan bu Izzah. Bu Izzah bisa jadi lebih depresi nantinya." ucap dokter Nuri. "Kalau begitu saya permisi dulu. Bu Izzah harus istirahat dulu. Jika kalian ingin membesuk, hanya boleh dua orang saja masuk ke dalam ruangan. Dan saya harap kalian semua dapat terlihat kuat dihadapan bu Izzah dan mensupportnya." sambung dokter Nuri.
"Baik bu dokter, terima kasih." ucap dokter Harun.
"Bagaimana Izzah bisa keracunan? Kenapa dia bisa terjatuh? Apa ada orang yang sengaja mencelakainya? Aku memang suami yang tidak becus, aku tidak bisa menjaga isteri ku sendiri." ucap Rayhan dengan air mata berderai.
"Nak Rayhan yang sabar, dan harus kuat. Tadi dengar sendirikan pesan bu dokter, jangan sampai terlihat sedih di depan neng Izzah. Nanti bisa berpengaruh untuk kesehatan neng Izzah." saran mang Diman.
"Mang Diman benar Ray, lu harus kuat demi Izzah dan bayi kalian." ucap dokter Harun.
Bu Ros terlihat menyeringai, tanpa dia sadari mang Diman melihatnya.
"Heh Mak Lampir kenapa senyum-senyum begitu? Kamu teh seneng ya neng Izzah celaka?" ucap mang Diman yang membuat Rayhan melihat bu Ros dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Si Izzah itu pantas mendapatkan semua ini. Ini karma buat dia karena telah merusak rumah tangga Bella." jawab bu Ros.
__ADS_1
"Dasar gelo pisan maneh teh. Wujud manusia tapi hati macam binatang. Bukannya iba melihat mantu sendiri celaka malah senyam senyum." ucap mang Diman berapi-api.
"Kurang ajar kau Diman." teriak bu Ros hendak maju menampar mang Diman.
Namun segera ditarik Rayhan. Mang Diman pun yang ingin maju menghadapi bu Ros ditarik bi Asih mundur.
"Sudah pak, jangan begini." ucap bi Asih.
"Apa maksud mami ngomong begitu? Mami bersyukur Izzah dan anak kami celaka?" teriak Rayhan.
"Mami bukannya bersyukur, mami cuma bilang itu karma buat dia karena merusak kebahagiaan isteri kamu yang sah." ucap bu Ros santai.
"Mami...!" teriak Rayhan.
"Loh emang kenyataan kan Bella itu isteri kamu yang sah. Tapi semenjak kehadiran wanita kampungan itu kamu berubah. Berubah sama Bella, malah kamu juga berubah sama mami sampai berani melawan dan bentak mami."
"Segitu bencinya mami sama Izzah, apa jangan-jangan mami yang ngeracunin Izzah?" ucap Rayhan.
Bu Ros gelagapan, begitu juga dengan Bella. Bella terlihat khawatir.
"Jaga omongan kamu Rayhan, jangan asal nuduh sembarangan. Apa buktinya mami yang ngeracunin Izzah. Bisa aja isteri kampungan kamu itu salah makan. Maklum aja orang kampung kan rakus-rakus, gak bisa lihat makanan enak dikit. Langsung di embat." ucap bu Ros sambil memandang mang Diman.
Mang Diman yang tersinggung maju selangkah, namun bi Asih dengan cepat menariknya kembali.
"Jangan pak." ucap bi Asih.
Ifan dan Intan sangat geram melihat tingkah bu Ros.
"Mohon maaf sebelumnya lebih baik bu Ros pergi saja dari sini daripada membuat keributan. Ini rumah sakit, banyak pasien yang akan terganggu." ucap dokter Harun.
__ADS_1
"Ayo mi, kita pulang saja." ucap Bella.
Lalu bu Ros dan Bella pergi dari rumah sakit.