Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
18. Bercanda


__ADS_3

Setelah menjelaskan semuanya kepada Alia, Arka mengatakan kepada Alia bahwa dia akan keluar rumah untuk mencari Dafa.


Arka berjalan keluar dari dalam rumah dan kemudian mendengar suara tangis anak kecil dari samping rumah. Arka menjadi begitu khawatir dan kemudian berjalan ke arah taman karena taman itu berada di samping rumah. Arka menjadi terkejut dan berlari kearah Dafa yang tengah menangis.


"Apa yang terjadi Dafa?" Tanya Arka seraya berlutut di hadapan Dafa.


"Papa." Ucap Dafa dengan suaranya yang menangis sesenggukan.


"Ya Tuhan, ada apa Nak? Kenapa kau menangis?" Tanya Arka dan mengusap kepala Dafa lembut.


"Dia memukul ku." Ucap Dafa masih menangis dan menunjuk ke arah gadis kecil yang menjadi lawannya berkelahi tadi.


"Apa? Kau pembohong." Teriak Lana yang membuat Dafa langsung memeluk Arka dengan erat dan menjadi ketakutan karena gadis kecil itu.


Lana adalah nama gadis kecil itu, dan masih berusia 6 tahun. Disamping Lana, ada seorang wanita yang merupakan Mama nya, yang datang lebih dulu dari Arka.


Arka lalu menggendong Dafa di lengannya dan bertanya kepada Mama Lana yang berada di sampingnya.


"Ada apa ini sebenarnya?" Tanya Arka.


"Saya minta maaf sebelumnya. Tapi saya rasa mereka berdua bertengkar dan memukuli satu sama lain." Ucap wanita itu membungkuk ke arah Arka.


"Apakah itu benar?" Tanya Arka beralih menatap Dafa yang masih terisak.


Dafa menundukkan kepalanya dan berkata, "iya Pa."


Arka menggelengkan kepalanya.


"Minta maaf sekarang juga." Ucap Dafa dan mereka berdua pun meminta maaf satu sama lain.


Lana turun dari gendongan Mama nya dan melihat kearah Arka dengan tersenyum. Arka juga melihat kearah gadis kecil itu dan tersenyum.


Mama Lana kemudian mulai berbincang dengan Arka, begitu juga dengan Lana yang mencari perhatian Arka. Sementara Dafa menjadi cemburu karena Lana yang dekat dengan Papa nya itu.


Sementara itu di rumah sakit...


"Arghh... Ini sudah beberapa jam dan Arka belum kembali kemari." Ucap Nadia yang begitu kesal karena sejak tadi menunggu kedatangan Arka.


Sejak tadi Nadia terus berusaha menghubungi Arka. Tapi ponsel Arka tak bisa dihubungi. Nadia yang merasa bosan terus mondar mandir, dia lalu menyalakan televisi yang berada di dalam ruangan rumah sakit dan berbaring di tempat tidur.


"Mungkin ada acara yang bisa menghibur." Ucap Nadia seorang diri.


"Tuan Arka Wijaya dengan istri yang lainnya, Nyonya Alia Wijaya tengah bersenang-senang. Mereka terlihat bermain di taman dengan mengendarai sepeda bersama anak mereka. Keluarga baru itu tampak begitu bahagia, Dafa bahkan terlihat begitu dekat dan akrab dengan Ibu sambungnya itu. Tuan Arka juga terlihat begitu mencintai istri barunya itu. Lantas bagaimana dengan Nyonya Nabila istri pertama dari Tuan Arka yang masih berada di rumah sakit yang dikabarkan tengah sakit itu?"


Berapa media televisi mulai memberitakan hal itu. Nabila mencoba untuk mengganti ke saluran televisi lainnya. Tapi yang ditampilkan tetap berita yang sama.


Setelah melihat berita itu Nadia menjadi begitu marah. Rahang nya mengeras, matanya begitu memerah. Dia benar-benar dipenuhi amarah saat ini.


"Sialan... Tidak bisa... Tidak bisa seperti ini. Arka adalah milikku. Aku tidak peduli apapun caranya, Arka hanya akan menjadi milikku. Bila perlu, aku akan membunuh wanita itu, jika dia terus mengganggu hubunganku dan Arka." Ucap Nadia lalu membuang remote yang sedari tadi di pegang nya ke arah lantai dan menjadi sangat marah.


Disaat yang bersamaan di kediaman Arka....


Lana dan Mama nya yang bernama Sabrina itu adalah tetangga baru dari Arka dan Alia. Mereka baru saja pindah di rumah sebelah yang berada di samping rumah mereka.


"Mama, Om ini sangat tampan." Ucap Lana yang tampak mengagumi Arka.


Arka tertawa kecil dan mengusap rambut Lana.


"Terima kasih gadis kecil yang cantik." Balas Arka. "Kau sendiri pasti punya Papa yang tampan. Lihat saja dirimu, kau seperti seorang putri dari sebuah kerajaan." Lanjut Arka yang membuat Lana tampak malu.


Di sisi lain Dafa merasa semakin cemburu. Dia memutar matanya malas dan berkata dengan perlahan, "iiiissshhh.... sangat menjengkelkan. Aku juga tampan."


Arka yang mendengar ucapan Dafa hanya tersenyum lalu mengusap kepala putera kesayangannya itu.


Lana kemudian melihat kearah Dafa. Dia lalu menjulurkan lidahnya keluar dengan cara yang mengejek dan kemudian berbalik ke arah sang Mama dengan senyuman yang penuh kemenangan di bibirnya.


"Baiklah Dafa, ayo kita masuk. Mama mu sudah menunggu didalam sejak tadi." Ucap Arka kepada Dafa.

__ADS_1


"Ayo Pa. Aku bosan disini." Ucap Dafa kesal.


Hal itu membuat Arka dan Sabrina yang mendengar ucapan Dafa menahan tawa.


"Baiklah, senang bertemu dengan mu Nak Dafa." Ucap Sabrina, sementara Lana tetap menjulurkan lidahnya ke arah Dafa.


Dafa dan Arka kemudian masuk ke dalam rumah. Begitu juga dengan Lana dan Sabrina pulang ke rumah mereka.


'Aku yakin dia mungkin sekarang tengah begitu marah setelah tidak melihatku berada di sana sejak tadi.' ucap Arka dalam hati yang tengah memikirkan tentang Nadia yang berada di rumah sakit.


Arka dan Dafa lalu masuk ke dalam kamar. Begitu masuk ke dalam kamar, Dafa langsung berteriak setelah melihat sosok Alia.


"Hantu..." Teriak Dafa.


Alia dan juga Arka keduanya menjadi begitu terkejut. Arka langsung menurunkan Dafa dari atas gendongannya dan berjongkok bertanya kepadanya.


"Ada apa Dafa?" Tanya Arka dengan lembut.


Sementara Dafa sendiri langsung memeluk Arka dengan begitu erat dan dia tampak begitu ketakutan.


"Hantu Paa..." Ucap Dafa lagi.


"Hantu? Dimana?" Tanya Dafa heran.


Arka lalu melihat ke dalam kamar. Diapun menghela napas dan menahan tawanya saat menatap Alia yang tengah berdiri mematung dengan menggunakan masker berwarna putih di seluruh wajahnya.


Alia perlahan mendekat lalu berjongkok di hadapan Dafa.


"Sayang, apa kau tidak mengenali Mama. Ini Mama sayang." Ucap Alia dengan lembut.


Dafa perlahan mendekat dan melihat kearah Alia dengan mata yang membulat. Dia kemudian memegang pipi Alia yang mengenakan masker warna putih itu.


"Iya, ini adalah Mama. Papa, ini adalah Mama ku. Bukan hantu." Ucap Dafa.


Arka menjadi tertawa dan berkata kepada Alia.


"Sekarang lihat, kau malah menjadi hantu di mata anakmu ini. Bagaimana ya tanggapan dia selanjutnya jika dia melihatmu masih seperti ini lagi. Ha ha ha." Ucap Arka dan tertawa.


"Berhenti mengejekku." Balas Alia.


"Kenapa Mama memakai bedak yang banyak di wajah Mama?" Tanya Dafa.


Arka semakin terbahak mendengar pertanyaan Dafa.


"Hmmm ini..... Ini namanya masker sayang." Balas Alia.


"Bukankah masker itu yang dipakai menutup hidung dan mulut?" Ucap Dafa lagi.


Alia terdiam dan menatap Arka seolah meminta tolong untuk bisa memberikan jawaban atas pertanyaan Dafa.


"Aku angkat tangan saja." Ucap Arka tertawa lalu keluar dari dalam kamar Alia.


Sementara Alia hanya bisa menggaruk kepalanya kemudian mulai menjelaskan semuanya kepada Dafa.


*************


Waktu pun berlalu dengan begitu cepat dan saat ini waktu sudah berganti malam.


Alia dan Arka tengah makan malam, sementara Dafa sudah makan lebih awal dan sudah tidur dengan cepat.


"Ayo kita keluar." Ucap Arka dengan memegang tangan Alia seraya tersenyum setelah selesai makan malam.


"Kemana?" Tanya Alia dan menjadi begitu penasaran.


Arka menarik tangan Alia mendekat ke arahnya dan berkata dengan perlahan di telinga Alia.


"Ke sebuah tempat rahasia." Bisik Arka.

__ADS_1


Alia berkedip dua kali dan kemudian sebuah senyuman terukir di bibir Arka.


"Baiklah yang mulia." Balas Alia dan memegang tangan Arka seraya tersenyum manis ke arahnya.


"Sekarang tutup matamu." Ucap Arka lagi kemudian menggendong Alia di lengannya.


"Waaahh, baiklah." Balas Alia


Alia menjadi begitu terkejut dan kemudian melingkar kan lengannya di leher Arka.


"Ke mana suamiku yang tampan ini akan membawaku pergi?" Tanya Alia dengan tersenyum cerah sementara matanya masih tertutup.


Arka lalu berhenti di tengah perjalanan dan berkata, "jangan mencoba untuk menggoda aku."


"Lalu siapa yang harus aku goda?" Ucap Alia dengan wajah yang cemberut.


Arka menjadi terdiam sesaat, dia kemudian terbatuk dan berkata, "tidak ada. Kau tidak boleh menggoda orang lain selain aku."


"Hmmmpphh....." Alia mengalihkan pandangannya seraya tersenyum dan juga menghela napas.


'Makhluk apa sebenarnya dia ini? Apakah dia seekor kelinci? Dia begitu menggemaskan.' ucap Arka dalam hati dan tertawa kecil.


Setelah beberapa menit, Arka akhirnya membuat Alia berdiri diatas lantai dan berkata, "kau sudah boleh membuka matamu sekarang."


Alia mengambil napas dalam dan berkata dengan begitu ceria seraya membuka matanya "apa ini?"


Dia melihat ke sekeliling.


"Dimana ini Arka Wijaya?" Ucap Alia dengan suara yang begitu serius dan semua rasa senangnya tadi kini berubah menjadi kekesalan.


"Teras!" Balas Arka dan kemudian tertawa yang membuat Alia menjadi semakin kesal.


"Sebenarnya kau berharap kemana aku akan membawamu, hmmmmm?" Tanya Arka dengan senyum yang mengejek.


"Aku pikir kau akan memberikan sebuah pedang atau mungkin senjata api, ah tidak. Sepertinya sebuah bom lebih baik." Ucap Alia dan kemudian tersenyum ke arah Arka.


"Wow benar-benar sebuah harapan yang diluar ekspektasi." Balas Arka seraya melangkah mundur setelah Alia mendekat ke arahnya dengan wajah kesal.


"Mau pergi kemana kau? Kemari lah, ayo kita bersenang-senang dulu." Ucap Alia seraya menggulung lengan bajunya.


"Siapa kau ini sebenarnya? Apa kau seorang petinju, petarung? Bagaimana bisa kau mencoba untuk memukul suamimu sendiri." Ucap Arka perlahan.


Alia menghentikan langkahnya dan berkata, "hmmm... Aku tidak merencanakan ini, tapi karena kau mengatakannya sendiri. Maka, ayo kita lakukan."


"Tidak, aku tidak memikirkan itu. Lupakan semua apa yang aku katakan tadi, Mama!" Ucap Arka dan mulai berlari menjauh dari Alia dari teras rumah, sementara Alia mulai mengejarnya.


Setelah lelah berlarian karena saling mengejar, Alia dan Arka duduk di lantai bersama dan tengah tertawa bersama.


"Kau benar-benar seperti kura-kura." Ucap Alia dengan tertawa.


Arka menatap wajah Alia dengan senyuman di bibirnya. Sementara Alia masih terus tertawa. Dia kemudian menyadari bahwa Arka tengah memikirkan sesuatu. Alia lalu menjentikkan jemarinya di hadapan wajah Arka dan kemudian menaikkan alisnya.


"Kau sedang menatap apa?" Tanya Alia.


Arka tersenyum dan kemudian menaruh kepalanya di pundak Alia dan berkata, "tentu saja memandangi istriku."


Setelah Arka mengatakan hal itu, Alia tersenyum begitu cerah dan melihat kearah langit malam yang bertabur bintang.


"Aku sangat bahagia karena kau memberitahuku tentang semuanya." Ucap Alia.


Arka tersenyum lalu memegang dagu Alia.


"Memang sudah seharusnya aku menjelaskan semuanya kepadamu. Kau itu istriku, orang yang aku cintai saat ini, esok dan selamanya." Ucap Arka dibalas senyuman manis dibibir Alia.


Keduanya semakin mendekatkan wajah mereka hingga hidung mereka beradu. Perlahan bibir mereka akhirnya bertemu.


"Aku mencintaimu." Ucap Arka.

__ADS_1


Alia hanya tersenyum dan kembali mencium bibir sang suami dengan lembut.


Bersambung....


__ADS_2