
"Pak Arka?" ucap Nabila ragu. Setelahnya, ia terbahak, lalu segera menekan tombol 'stop' pada ponselnya.
"Woo, lihatlah ... kamu sangat seksi, Arka." Nabila memutar kembali video yang terekam olehnya tadi. Nabila kembali terbahak.
Sementara itu, di dalam rumah Arka tergesa menuruni anak tangga dengan perasaan kesal. "Ini sangat memalukan! Bisa-bisanya dia masuk tanpa izin. Dasar penguntit! Dan dia melihatku sedang ... ya ampun! Harga dirimu sedang terancam Arka Abraham Wijaya!" gerutunya sambil memakai kaus.
"Nabila! Awas kamu!" teriak Arka.
Baru saja ia akan berteriak lagi, sebuah bantal mendarat di mukanya. Membuat ia mengaduh dan mengusap muka pelan.
"Berisik banget.. Ini rumah, bukan hutan!" ucap Arsha.
Arka memutar bola matanya malas. "Sekalian saja lempar lemari ke wajahku!"
"Salah siapa teriak-teriak! Mau konser, hmm?" Arsha semakin gregetan.
"Aku cuma manggil penguntit yang ada di luar sana. Bisa-bisanya dia masuk tanpa izin"
Dahi Arsha mengeryit. "Siapa? Nabila? "
__ADS_1
"Kamu kenal?" tanya Arka bingung.
"Tentu saja. Dia pahlawanku, bukan kayak kakak, nggak berguna! Ditelepon sampai puluhan kali sama sekali nggak diangkat. Jual saja ponsel kakak buat beli martabak!" jawab Arsha kesal.
Arka menggaruk kepalanya, merasa bersalah. "Ah, itu ... aku sedang berolahraga, jadi nggak pegang HP."
"Alasan!"
"Sudahlah! Kamu ini mirip Mak Lampir kalau marah-marah. Minggir! Aku mau ngasih perhitungan sama gadis itu!"
"Mau ngapain kak?" tanya Arsha bingung karena tiba-tiba saja Arka berjalan melewatinya begitu saja. Langkahnya bersiap untuk menyusul Atka, tetapi harus terhenti karena suara panggilan Izzah.
Nabila yang sedang terkekeh karena melihat video tadi seketika menoleh ke arah sumber suara, ia menatap Arka yang berdiri di depan pintu dengan tampang kesal. Mau tak mau, Nabila berjalan mendekatinya.
"Bawa sini HP-mu!" perintahnya dengan menadahkan tangan ke arah Nabila.
"Untuk apa? Pulsa Bapak habis?" tanya Nabila.
"Jangan pasang tampang polos kayak gitu! Bawa ke sini HP-mu, atau cepat hapus apa yang kamu ambil dengan benda itu!"
__ADS_1
"Santai, Pak. Slow, inget umur, nanti kalau asam uratnya kambuh gimana?" balas Nabila mencoba menenangkan. "Saya pasti akan menghapusnya, tenang saja. Bagaimanapun Bapak adalah calon suami yang harus dihormati."
Arka memutar bola matanya malas. "Calon suami dari mananyq," ucapnya sambil mendengkus kesal.
"What? Calon suami? Jadi kamu Nabila, Nabila yang Ibu maksud kemarin? Omegod, dunia ini begitu sempit, akhirnya aku bisa bertemu denganmu secepat ini," ucap Arsha yang tiba-tiba sudah berada di belakang Arka.
Nabila menatap Arka dan Arsha bergantian karena bingung. Baru sadar kenapa Arka ada di rumah ini.
"Aku kembaran si pria galak ini," ucap Arsha, seakan menjawab kebingungan Nabila.
Nabila menggaruk rambutnya yang tak gatal. "Kembar?" tanyanya ragu, sambil memandang lagi dengan teliti dua orang yang kini ada di depannya secara bergantian.
Arsha terkekeh melihat wajah Nabila yang bingung. "Aku tahu apa yang kamu pikirkan, kami memang berbeda karena kembar tak identik. Lihatlah, bagaikan langit dan bumi dan dia seperti om-om bukan? Entahlah, aku juga nggak tahu kenapa bisa memiliki saudara kembar seperti dia. Wajahnya Boros."
Arka mentautkan alis mendengar ucapan saudara kembarnya itu. "Apa maksudmu? Aku ini masih muda, tampan, dan energik. Kalian jangan bersekongkol untuk menjatuhkan harga diriku!"
Nabila dan Arsha seketika tertawa terbahak bersama, karena melihat satu-satunya pria di antara mereka itu terlihat sangat kesal.
"Ya Tuhan, sepertinya aku akan semakin tertindas di rumah dengan kehadiran gadis ini," ucapnya lirih dengan mengusap wajah kasar, lalu beranjak masuk meninggalkan dua wanita itu.
__ADS_1