
Para tamu sudah meninggalkan kediaman Rayhan. Kini hanya tinggal anggota keluarga saja yang masih berada di rumah Rayhan.
Mereka semua duduk berkumpul di ruang keluarga. Tak lama Rayhan dan Izzah turun dari kamar mereka menuju lantai bawah. Izzah telah berganti pakaian. Begitu juga dengan Rayhan.
Izzah sama sekali tak pernah berniat mengeluarkan semua barang-barang Rayhan dari dalam lemari. Semuanya utuh, masih sama seperti saat terakhir kali Rayhan membuka lemarinya.
Semua mata tertuju pada keduanya. Mereka terlihat begitu serasi. Tangan Rayhan menggenggam tangan Izzah dengan erat. Seolah tak ingin jauh dari Izzah walau sedetik.
Semua orang duduk di ruang keluarga yang besar itu. Rayhan dan Izzah duduk berdampingan, disamping keduanya masing-masing duduk Arka dan Arsha.
Ada beberapa orang anggota keluarga yanv duduk melingkar, termasuk Bi Asih dan Mang Diman.
"Terima kasih semuanya. Terutama Umi yang tetap menerima Izzah sebagai anggota keluarga meski Rayhan sudah dinyatakan meninggal." ucap Rayhan membuka percakapan dibalas anggukan oleh Bu Ros.
"Alhamdulillah Ray, ternyata kamu selamat." ucap Tante Rika adik dari Pak Wijaya, Papa Rayhan.
Rayhan mengangguk, lalu menatap Romi yang masih mengenakan pakaian pengantin.
"Romi, terima kasih karena sudah berniat baik ingin menikahi Izzah agar anak-anakku memiliki sosok Ayah. Tapi maaf, karena aku sudah kembali. Terpaksa niatmu itu tak bisa terlaksana. Aku tak tau apakah kau benar-benar mencintai Izzah atau tidak. Tapi dapat ku pastikan, Izzah tetap mencintai aku. Dan dia tetap isteriku dan akan tetap seperti itu selamanya." ucap Rayhan.
__ADS_1
"Maafkan aku Kak Ray, jujur aku katakan. Aku memang mencintai Izzah lebih-lebih lagi Arka dan Arsha. Selama kau tiada, aku lah yang selalu bersama mereka. Hingga aku menjadi nyaman dan berniat menikahi Izzah. Aku ingin menikahi Izzah bukan semata-mata karena cinta, tapi karena aku juga menyayangi Arka dan Arsha." ujar Romi.
"Benarkah itu?" tanya Rayhan tak percaya. "Bukan karena kau ingin...." lanjut Rayhan terhenti.
"Karena aku ingin apa?" balas Romi ngotot. "Apa kamu pikir aku mau nikahi Izzah demi harta?" lanjut Romi emosi.
Rayhan tersenyum sinis.
"Bukan aku yang bilang, tapi kamu sendiri." balas Rayhan.
Romi jadi kelabakan, Bu Mona terlihat mencubit paha Romi.
Romi yang raut wajahnya emosi berdiri lalu meninggalkan ruangan itu.
"Romiiii.....Romiii...." teriak Bu Mona.
Romi tak bergeming, ia terus berjalan tanpa menatap ke belakang.
"Rayhan, seharusnya kamu gak begitu sama Romi. Bagaimanapun selama ini, Romi itu yang sudah menggantikan posisi kamu sebagai Papa untuk anak-anak kamu. Kamu gak bisa gitu aja dong rebut semuanya." ucap Bu Mona.
__ADS_1
"Loh! Apa yang sudah aku rebut? Semuanya kan akemang milikku, hakku. Kenapa malah Tante bilang aku merebut semuanya dari Romi. Mereka anak-anak aku, Izzah juga isteriku."
"Aaahh kau masih saja sombong seperti dulu." teriak Bu Mona pergi meninggalkan ruangan itu.
Bu Ros terlihat menghela nafas panjang.
"Wuuuuuu dasar nenek-nenek gak tau diri. Sebut den Rayhan sombong, padahal teh dia sendiri yang sombong." sorak Mang Diman.
Setelah kepergian Bu Mona, anggota keluarga lainnya mengobrol santai. Menanyakan apa yang terjadi pada Rayhan hingga sampai tujuh tahun lebih dia tak kunjung kembali.
Rayhan menceritakan semuanya. Semua orang mendengarkan dengan seksama.
"Hari itu, aku memaksa untuk bisa segera terbang meski cuaca sedang buruk. Karena aku benar-benar ingin berada disamping Izzah saat mendengar kabar tentang Pak Haris meninggal. Namun, saat tengah berada di ketinggian. Pesawat terguncang hebat, aku juga tidak tau apa yang sedang terjadi. Pilot memintaku untuk segera keluar dari pesawat mengenakan parasut. Awalnya aku menolak mengingat bagaimana dengan keselamatan mereka. Namun dua orang pelayan setiaku memaksa dan menuntunku meniju pintu darurat. Hingga akhirnya aku terjun. Setelah itu aku sudah tidak ingat apa-apa lagi." ujar Rayhan.
Air mata Izzah menetes, membayangkan apa yang sudah dilalui Rayhan.
"Nasib baik aku ditolong orang, namanya Pak Ahmad. Yang akhirnya menjadi orangtua ku selama tujuh tahun. Aku benar-benar tidak mengingat apapun tentang identitasku. Bertahun-tahun aku bertahan di desa itu. Bekerja sebagai petani dan pada akhirnya takdir menuntunku menonton berita pernikahan Izzah ditelevisi. Setelah itu aku mengingat semuanya. Sama seperti Izzah, akupun hampir saja menikahi anak gadis Pak Ahmad. Namun kuasa Allah lebih dari segalanya, hingga Ia menuntunku untuk bisa berkumpul bersama kalian lagi." lanjut Rayhan.
Semua orang tampak haru, tak terkecuai kedua anak Rayhan. Keduanya memeluk Rayhan erat. Tak ingin Rayhan menjauh sedikitpun.
__ADS_1