Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Ditraktir Devan


__ADS_3

Arsha, Nabila, dan Vita akhirnya mengikuti Devan pergi ke sebuah restoran bernuansa Eropa yang letaknya di pusat kota. Mereka bertiga terlihat malu-malu karena insiden ketahuan main detektif-detektifan.


Namun, Devan sama sekali tak membahas hal tersebut. Devan justru meminta mereka untuk memesan sepuasnya. Nabila dan Vita yang doyan makan dengan semangat melahap makanan mereka, sementara Arsha masih saja terlihat malu-malu.


Saat makanan habis, terlihat Nabila dan Vita saling berbisik.


“Kenapa?” tanya Devan, ia seolah menyadari keanehan pada mereka.


“Eh … ini. Anu … si Nabila masih laper katanya,” jawab Vita terang-terangan,


"Apaan sih kok malah aku, kan tadi kamu juga bilang masih lapar." Protes Nabila.


Devan tertawa kecil, tetapi efeknya malah membuat jantung Arsha semakin jedag-jedug.


“Pesen aja lagi, pilih sesuka kalian. Tenang, aku yang bayar,” kata Devan.


“Van, gimana kalau kita pindah ke warung bakso langganan aku aja? Perut ku udah sahabatan sama makanan di sana soalnya. Kalau kebanyakan makan makanan mewah kayak gini, takut ambein besoknya,” ucap Nabila, "aku tahu kalian semua udah terbiasa makan makanan kayak gini. Tapi sekali-kali cobain deh makan di warung bakso langganan aku. Dijamin lidah pasti bergoyang." Lanjutnya.


"Gak ah, takutnya lidah aku gak berhenti nanti goyangnya." sahut Vita.


Arsha hanya bisa tertawa.


"Ayolah, mau ya Sha," bujuk Nabila.


"Iya-iya." Balas Arsha.


"Yes, cuss berangkat." teriak Nabila girang.


"Eehh tapi kamu mau gak Van?" Tanya Vita.

__ADS_1


"Kalau kalian semua pada mau kesana ya udah. Aku sih oke-oke aja." Balas Devan disambut anggukan ketiga wanita itu.


“Oke kalau begitu, ayo jalan.” ucap Devan, kemudian meminta tagihan ke pelayan dan segera membayar.


Ketiga wanita itupun mengekori Devan kembali ke mobil, tetapi di jalan menuju parkiran mereka bertemu seseorang yang tidak terduga.


“Devan?” Seseorang menyebut namanya dengan lembut, membuat Devan menoleh.


Ketiga wanita itu juga ikut menoleh, lalu mata Arsha membulat melihat penampakan gadis berhijab modern itu.


“Maaf, siapa, ya?” Devan tampak bingung melihat gadis itu.


“Lho, kamu lupa sama aku, Van? Ini aku, Luna,” balas perempuan itu manja-manja.


"Lucinta Luna." cebik Arsha.


“Luna …,” lirih Devan, mencoba mengingat sesuatu. Kemudian dia menjentikkan jemari. “Ah, iya, aku ingat! Kita sekelas pas SMA, ‘kan?”


“Enggak cuma pernah sekelas, Van, tapi juga pernah sehati,” ucap Luna sambil tersenyum.


'Ya Allah … jadi dia mantannya Devan? Kok, cantik banget, sih?' batin Arsha.


“Bisa aja kamu.” Devan lalu menoleh pada Arsha. “Oh, iya, Lun, kenalin. Ini Arsha dan teman-temannya, Vita dan Nabila.”


Seperti terpaksa, Luna akhirnya mengulurkan tangan dan bersalaman dengan Arsha dan teman-temannya.


“Mereka siapa, Van?"


“Oh ya, dia Arsha calon istriku, insyaAllah,” jawab Devan mantap, membuat Arsha menoleh sambil melotot tidak percaya.

__ADS_1


Arsha terlihat sangat kaget, tapi raut wajahnya ebih banyak menunjukkan kebahagiaan.


Arsha lalu menatap Luna sambil memperlihatkan senyum penuh kemenangan.


'Makan tuh, Mantan! Biarpun kamu cantik, tapi yang namanya mantan tetep saja bakal tertinggal di belakang.'


Arsha melihat Vita dan Nabila yang sedang terkekeh.


Saat Arsha kembali menoleh pada Lunq, ia melihat bibir gadis itu bergumam, “Biasa aja.” Matanya juga memindai Arsha dari atas ke bawah.


'Duh … pengen tak kasih balsem tuh mulut.'


"Tahan! Tahan!" bisik Vita dan Nabila yang langsung memegang lengan Arsha.


“Kami duluan, ya?” Devan sepertinya menyadari keadaan. Ia berpamitan dan mengangguk pada Luna, lalu masuk ke mobilnya.


Arsha dan kedua temannya jalan lebih dulu, karena Nabila lah yang menjadi petunjuk jalan menuju warung bakso yang disebutnya. Sementara Devan mengekor dibelakang dengan mobilnya seorang diri.


Setelah sekitar lima belas menit, mereka semua akhirnya tiba di warung bakso langganan Nabila. Ketiga gadis itu turun dari mobil sambil menunggu Devan turun dari mobilnya.


Pintu mobil terbuka dan Devan segera muncul dengan pesonanya.


"Astaga, astaga, astaga! Emaknya dulu ngidam apa, sih? Kok, bisa anaknya seganteng itu?" ucap Vita.


"Sadar Bu, itu calon sahabat ibu. Ibu sendiri kan, sudah punya calon sendiri." Balas Arsha sambil mentoyor kepala Vita.


"Iya-iya, aku tahu. Tapi gak ada salahnya kan ngagumin cowok ganteng. Siapa tau pacar aku bisa berubah ganteng juga." Ucap Vita.


"Ngimpi kamu Vit." Balas Nabila sambil tertawa.

__ADS_1


__ADS_2