
Obrolan hangat Izzah dan Bu Mira akhirnya usai. Karena malam semakin larut, akhirnya Izzah beserta Rayhan dan Arka memutuskan untuk segera berpamitan.
"Kami pamit dulu, Bu Mira, Nabila" pamit Izzah sambil memeluk Nabila dan mamanya bergantian.
"Maaf ya, Bu, jika kesan pertama datang ke rumah kami malah seperti ini," balas Bu Mira sungkan.
"Ini adalah pertemuan pertama yang menyenangkan dan mengesankan, saya akan ke sini lagi kapan-kapan, boleh, kan?" balas Izzah sambil mengelus kepala Nabila lembut.
"Dengan senang hati. Pintu ini selalu terbuka lebar untuk kalian, terutama Nak Arka, sering-sering kemari, ya. Pacar Nabila dulu sering juga ke sini sambil bawa martabak manis, gado-gado, mi ayam, bokso, siomay, cilok, bata--"
"Ma!" Disenggolnya lengan Mira pelan. "Ini bukan acara kuis, nggak perlu sebutin semua makanan kesukaan Mama," bisik Nabila.
Rayhan dan Izzah terbahak, sedangkan Arka menelan ludah berat. 'Ternyata, nggak anak, nggak ibu, sama aja!' gumamnya dalam hati.
"Baiklah, semoga bisa bertemu di lain kesempatan. Rencana berikutnya mengenai pernikahan mereka kita akan bicarakan saat Nabila dan Ibu berkunjung ke rumah kami," ucap Izzah yang dibalas anggukan oleh Bu Mira.
"Hati-hati di jalan," ucap Nabila sambil melambaikan tangan ke arah mereka yang sudah berada di dalam mobil.
"Hati-hati di jalan, calon suami!" teriak Nabila sambil menatap Arka yang duduk di depan dan hendak menutup jendela mobil.
Ia melotot ke arah Nabila yang tengah tertawa lepas. Lalu, perlahan mobil yang mereka tumpangi melaju keluar halaman rumah dan meninggalkan perkampungan tempat Nabila dibesarkan itu.
__ADS_1
Nabila tersenyum simpul, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. 'Arka ... Arka ... akan kubuat kamu jatuh cinta!' ucapnya dalam hati.
***********************
Malam ini sinar rembulan tampak begitu indah, ditemani gemerlap bintang di langit malam ketika Nabila dan sang Mama berkunjung ke rumah Arka.
Keduanya dijamu dengan sangat sempurna. Mang Diman dan Arsha ikut duduk bersama dengan keluarga.
"Adduuhh saya teh tidak menyangka ternyata Neng Nabila ini anaknya Yusuf. Yusuf itu dulu teh ngontrak di tempat saya. Dia itu pemuda yang baik, sholeh, jadi bujangan incaran semua wanita atuh di kompleks kita. Iya kan Neng Izzah?" tutur Mang Diman kepada Bu Mira dibalas anggukan oleh Izzah.
"Pantes aja Nabila teh geulis pisan, papanya saja kasep, mamanya juga geulis atuh, masyaAllah. Beruntung kamu teh Arka, punya calon istri secantik Neng Nabila," lanjut Mang Diman lagi.
Nabila tampak malu-malu.
Rayhan menyenggol lengan Mang Diman.
"Abaahh, jangan dibahas lagi. Itu masa lalu."
"Eehh iya-iya, maaf. Abah teh suka begitu, suka lupa. Maklum faktor U, sudah pikun. Hehehe."
Semua orang tersenyum, kemudian pembicaraan dilanjutkan dengan membahas tentang segala persiapan pernikahan.
__ADS_1
"Sebenarnya saya ingin pernikahan Nabila dan Arka akan berbarengan dengan pernikahan Arsha dan Devan. Tapi karena Devan belum datang bersama keluarga besarnya untuk membicarakan tentang pernikahan mereka. Jadi, bagaimana jika bulan depan penikahannya, apa kalian siap?" tanya Izzah kepada Arka dan Nabila.
"Kalau saya, kapan pun siap, Bu," jawab Nabila mantap.
Arka menyebikkan mulut. "Terserah ibu saja. Aku akan nurutin kemauan ibu aja," ucap pria yang masih menikmati kudapan itu, dengan pasrah.
Izzah memandang anak lelakinya dengan senyum merekah. "Terima kasih sayang."
"Oke, deal. Bulan depan fix kita mantu, Yah." ucap Izzah lagi.
"Haduh, akhirnya ada yang laku juga," ucap Arsha terlihat girang.
"Kamu sendiri kapan Sha? Gak mau barengan sama Arka?" tanya Rayhan.
"Hehehe, entar dulu ya Yah. Aku masih mau melakukan penyelidikan dulu." balas Arsha.
"Maksud kamu?" tanya Rayhan dengan dahi yang mengkerut.
"Ada deh Yah." ucap Arsha.
Izzah menggeleng-geleng mendengar ucapan Arsha.
__ADS_1
"Oh ya, Bu. Nanti semua urusan biar saya yang atur. Untuk seragam keluarga nanti akan diantar ke rumah Nabila kalau sudah siap," ucap Izzah.
"Terima kasih banyak, Bu. Saya nggak nyangka kenapa Nabila bisa kenal dan akhirnya bakal menikah sama Nak Arka." ucap Bu Mira terharu.