Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
MEMECAT LASTRI


__ADS_3

Berulang kali Rayhan beristighfar memohon ampun atas kekhilafan yang dia lakukan. Rayhan membentangkan sejadah lalu berdzikir kemudian mengaji. Tepat pukul sepuluh malam Izzah sampai rumah, tak seperti biasanya suasana begitu terasa berbeda. Rayhan tak menyambut kedatangannya jika pulang terlambat.


"Tuan dimana Las?" tanya Izzah pada Lastri yang membuka pintu.


"Sepertinya di kamar Nyonya, karena setelah makan tadi Tuan langsung naik ke atas." jawab Lastri.


Dengan cepat Izzah bergegas menuju kamarnya.


"Tak biasanya bang Rayhan seperti ini. Dia pasti selalu menyambutku jika pulang terlambat. Apa dia sakit? Atau jangan-jangan dia marah padaku?" gumam Izzah.


Izzah mengetuk pintu kamar yanv terkunci.


"Sudah aku bilang pergi....." teriak Rayhan.


Izzah menjadi bingung, "ada apa sebenarnya?" gumam Izzah.


Izzah kembali mengetuk pintu.


"Abang ini Izzah bang. Abang kenapa? Abang marah ya sama Izzah? Izzah minta maaf ya bang." ucap Izzah.


Tak lama Rayhan membuka pintu kemudian langsung memeluk Izzah.


"Maafkan abang sayang, abang minta maaf. Demi Allah sayang maafkan abang, abang khilaf." ucap Rayhan terisak.


"Loh loh abang kenapa sebenarnya. Kita masuk dulu yuk, kita bicara di dalam." balas Izzah.


Izzah melihat pecahan vas berserakan di pintu kamarnya. Pikiran Izzah semakin bertanya-tanya atas apa yang sebenarnya terjadi. Mereka berdua lalu duduk di tepian ranjang. Izzah memegang tangan Rayhan yang tertunduk.


"Ayo ceritain sama Izzah, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa abang tiba-tiba minta maaf, kenapa ada vas bunga yang pecah di pintu kamar kita? Kenapa juga abang teriak tadi saat Izzah mengetuk pintu?" cecar Izzah.


Rayhan menghela nafas panjang.


"Abang khilaf Zah, abang minta maaf." ucap Rayhan lalu menceritakan semuanya apa yang telah di lakukan Lastri padanya.


"Astaghfirullahal'adzim bang, ya Allah ampunilah hamba Mu ini." isak Izzah.


Rayhan lalu memeluk Izzah yang terisak.


"Abang minta maaf Zah, abang memang suami yang gak baik buat Izzah. Tapi demi Allah abang gak ngelakuin apa-apa." ucap Rayhan tertunduk melepaskan pelukannya pada Izzah.

__ADS_1


"Bang ini semua salah Izzah, Izzah gak seharusnya membiarkan abang berduaan dengan Lastri di rumah. Seperti kata abang, Izzah seharusnya harus berada di sisi abang saat di rumah. Demi Allah bang maafkan Izzah yang sudah egois lebih mementingkan toko kue Izzah." ucap Izzah dengan suara serak menahan tangis.


Mereka berdua berpelukan, berusaha saling menguatkan. Rayhan berulang kali menciumi kening dan pipi Izzah. Izzah pun melakukan hal yang sama. Hingga keduanya tertidur dalam pelukan masing-masing.


Pagi hari ini Izzah memutuskan untuk tidak berangkat ke toko kue. Begitu juga dengan Rayhan. Mereka berdua duduk di ruang keluarga meminta Lastri untuk menghadap mereka. Dengan gugup Lastri melangkah, karena ini untuk yang pertama kalinya Rayhan dan Izzah memanggilnya untuk berbicara bertiga dengannya. Lastri hendak duduk di lantai, namun Izzah memintanya untuk duduk di sofa.


"Lastri..." ucap Izzah.


"Ya Nyonya." jawab Lastri.


"Mulai hari ini kamu tidak usah lagi bekerja disini. Ini pesangon untuk kamu." ucap Izzah seraya menyodorkan amplop berwarna coklat ke arah Lastri di depan meja.


"Loh kok saya tiba-tiba di pecat sih Nyonya? Salah saya apa?" tanya Lastri.


"Sebelumnya terima kasih karena telah mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik selama ini. Tapi sikap kamulah yang menunjukkan kamu tidak seharusnya bekerja disini bersama kami Lastri. Jadi kami memutuskan untuk tidak lagi memperkerjakan kamu di rumah ini."


"Tapi Nyonya, sebenarnya apa salah saya?" ucap Lastri yang mulai berpura-pura menangis.


"Cih..." dengus Rayhan.


Izzah mengusap tangan Rayhan lembut. Kemudian melanjutkan bicaranya.


Wajah Lastri berubah merah padam. Disaat yang bersamaan Parjo, satpam dari rumah Izzah dan Rayhan menenteng sebuah tas dari kamar Lastri.


"Nyonya ini semua barang-barang Lastri yang sudah saya kemas." ucap Parjo.


"Silahkan Lastri kamu boleh pergi sekarang, aku jamin pasti Parjo sudah mengemas semua barangmu. Tidak mungkin ada yang ketinggalan." ucap Izzah.


"Di jamin gak akan ada yang ketinggalan Nyonya." sahut Parjo.


"Sialan..." teriak Lastri menggebrak meja sambil berdiri.


"Sombong kamu Izzah, padahal kamu juga sama sepertiku wanita yang berasal dari kampung." lanjut Lastri.


Rayhan yang emosi berdiri hendak menampar Lastri. Namun Izzah menghalanginya.


"Sabar bang, jangan kotori tangan abang dengan menyentuh wanita seperti dia." ucap Izzah yang semakin membuat Lastri geram.


"Jangan sekali-kali kau samakan dirimu yang hina itu dengan isteriku." hardik Rayhan.

__ADS_1


"Hina kau bilang? Padahal kau hampir saja mau menyentuh tubuhku yang kau bilang hina ini. Jujur saja kau katakan, tubuhku ini lebih seksi kan dari isterimu itu."


Plaaakk!!! Rayhan menampar Lastri dengan keras hingga Lastri sempoyongan.


"Pergi kau dari sini perempuan murahan. Aku pastikan kau tidak akan bisa bekerja di rumah siapapun lagi. Kau hanya benalu, perempuan sepertimu hanya ingin menggoda suami orang." teriak Rayhan.


Izzah memegang tangan Rayhan berusaha menenangkannya. Sementara Lastri hanya memegang pipinya yang memerah.


"Parjo lebih baik kau bawa Lastri keluar sekarang juga." perintah Izzah.


"Baik Nyonya."


Dengan cepat Parjo menyeret Lastri keluar rumah.


"Eh Lastri kalau mimpi itu jangan tinggi-tinggi. Nanti kalau jatuh sakit tau. Masa iya perempuan seperti kamu mau godain Tuan Rayhan. Kamu itu gak ada apa-apanya dibanding dengan Nyonya Izzah." ucap Parjo.


"Diam." teriak Lastri sambil meringis kesakitan memegang pipinya.


"Masih sakit ya, sini tak cium biar sakitnya hilang. Hihihi." lanjut Parjo.


"Jangan mimpi ya." ucap Lastri ketus.


"Lastri...Lastri kalau kamu ngebet pengen gituan, mbok ya jangan sama Tuan Rayhan, mana selera Tuan Rayhan sama pembantu kayak kamu orang isterinya jauh segala-galanya dibanding kamu. Nyonya Izzah pasti jauh lebih seksi dari kamu, hanya saja karena pakaiannya yang tertutup jadi gak kelihatan bentuk tubuhnya." pikiran liar Parjo bersemayam membayangkan tubuh Izzah.


"Astaghfirullah, mikir opo to aku iki. Ampuni hambaMu gusti Allah" ucap Parjo mengelus dadanya.


"Ngomong-ngomong kalau kamu bener-bener ngebet. Ayo sini sama mas Parjo aja, punyaku pasti bisa bikin kamu puas, mau gak? Biar mas Parjo halalin dulu." ucap Parjo terkekeh sambil memegang bagian belakang Lastri.


"Sialan kamu, jangan kurang ajar ya. Aku gak level sama kamu." balas Lastri menepuk tangan Parjo.


"Alaahh sok-sok gak level, masih untung aku nawarin diri. Padahalkan dari bentuk tubuh kamu yang udah aku lihat semalam kamu itu sudah sering dipake'."


"Maksud kamu apa hah?" bentak Lastri.


"Sudah gak usah sok suci, semalam aku lihat kok apa yang kamu lakuin terhadap Tuan Rayhan. Kamu dengan sengaja pakai handuk buat goda Tuan Rayhan sampai handuk yang kamu pake melorot memperlihatkan dada kamu yang sudah kendor itu." jelas Parjo panjang lebar sambil menjatuhkan tas Lastri yang di bawanya di jalan depan rumah Izzah.


Lastri terdiam tak mampu berkata apa-apa.


"Sudah ah, lebih baik kamu pergi sejauh mungkin dari sini. Jangan balik-balik lagi, dasar wanita penggoda. Mending masih original eeehh ini barang udah second. Hhuuuhh malu-maluin. Hahahaha." ucap Parjo berlalu meninggalkan Lastri yang berdiri di pinggir jalan menunggu angkot.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2