
Suasana acara pertunangan Aldi dan Hani yang seharusnya berjalan lancar kini berubah menjadi ricuh. Bu Ros begitu marah, dia meluapkan emosinya. Semua tamu undangan mulai riuh dengan keadaan yang terjadi.
Beberapa orang bahkan mulai berbisik-bisik menyebut nama Izzah.
"Iiihhh gak nyangka ya, menantu bu Rosita yang kelihatannya alim ternyata mantan wanita panggilan." bisik-bisik suara tamu undangan.
Rayhan berusaha menenangkan bu Ros, namun semakin Rayhan terdengar menyebut nama Izzah. Semakin membuat hati bu Ros murka.
"Mami tenang dulu, ayo kita omongin baik-baik. Sebenarnya mami dapat informasi itu dari mana? Itu semua bohong mi." ucap Rayhan.
"Bohong gimana, orang Bella sendiri yang membuktikan semuanya sama mami kalau Izzah itu perempuan gak bener." balas bu Ros.
"Ya Allah, Bella lagi, Bella lagi. Apa wanita itu belum puas juga mau merusak rumah tangga Rayhan." ucap Rayhan.
"Jangan kamu salahkan Bella, memang sudah terbukti semuanya kalau dia itu perempuan yang kamu punyut di tempat kotor." teriak bu Ros menunjuk Izzah.
Izzah terlihat terisak, sementara di sampingnya ada bi Asih yang mengelus pundaknya, dan mang Diman yang berdiri tegak. Seolah hendak menjadi penjaga untuk Iszah dari orang-orang yang hendak menyakiti Izzah.
"Cukup mi." bentak Rayhan.
"Gak, untuk saat ini mami gak mau diam. Karena apa yang mami katakan memang benar. Asal kamu tahu Rayhan, mami di beri tahu sendiri oleh seorang wanita yang sering dinpanggil mami Lita."
Rayhan terlihat menelan ludah, dia tak tahu hendak berkata apa.
"Lihat, kamu keihatannya tak bisa menjawab apa-apa. Denger ya Rayhan mami ini diberi tahu oleh mami Lita, bahwa Izzah itu dulu dijual ibu tirinya itu. Lalu kamu tanpa pikir panjang, malah membayar wanita itu dengan mahal. Iya kan?" lanjut bu Ros sambil menunjuk bu Novi.
Semua orang telihat kaget sambil melihat ke arah bu Novi. Begitu juga dengan orang tua Aldi. Keduanya memandang bu Novi penuh tanda tanya.
"Ayo, bilang sama mami kalau semuanya yang mami katakan adalah salah." tantang bu Ros pada Rayhan.
"Rayhan bisa jelasin semuanya mi." balas Rayhan.
"Gak ada yang perlu kamu jelasin lagi. Mami hanya gak habis pikir sama kamu. Kok bisa kamu ngelakuin hal serendah itu. Kamu seperti tidak bisa mendapat wanita lain saja sampai-sampai kamu malah membayar wanita murahan itu untuk kau jadikan isteri." ucap bu Ros lalu berjalan mendekati Izzah.
"Aku tidak tau sihir apa yang sudah kamu lakukan terhadap anakku, sampai dia mau menikahi perempuan kotor seperti kamu." ucap bu Ros.
Izzah semakin terpukul dengan ucapan bu Ros.
"Hei Mak Lampir, jaga bicara kamu." hardik mang Diman.
"Diam kau Diman, kau jangan ikut campur urusan keluargaku." balas bu Ros tak kalah berteriak. "Dan kau Rayhan, mami harap sekarang juga kau ceraikan perempuan kotor ini. Lalu pulang ke rumah. Jangan lagi kau bawa perempuan ini ke rumah." lanjut bu Ros lalu meninggalkan acara pertunangan itu.
__ADS_1
Semua orang tampak tak percaya atas apa yang mereka dengar. Ada yang menatap iba pada Izzah, dan ada juga yang menatap Izzah penuh pertanyaan.
Orang tua Aldi kemudian menarik Aldi untuk pergi dari acara pertunangan itu. Sementara pak Haris dan bu Novi terdiam tak tahu harus berbuat apa.
"Ayo Aldi, kita pergi dari sini." ucap orang tua Aldi.
"But mom, dad. Setidaknya kitad dengar penjelasan mereka dulu." balas Aldi.
"Tidak ada yang perlu kita dengarkan lagi Al. Semuanya sudah jelas. Mommy and Daddy gak mau berbesan dengan orang yang tega menjual anaknya sendiri. Meskipun itu hanya anak tiri. Siapa juga yang bisa menjamin kalau dia juga tidak menjual Hani pada lelaki hidung belang." ucap mama Aldi.
Bu Novi menjadi marah besar mendengar ucapan dari calon besannya itu.
"Heh, jangan asal ngomong kamu ya. Saya gak mungkin menjual anak kandung saya." teriak bu Novi.
"Lalu kenapa kamu jual anak tiri kamu? Ibu macam apa kamu ini." ucap mama Aldi tak kalah berteriak.
"Enough mom, jangan buat keributan." ucap Aldi berusaha menenangkan ibunya.
"Then come on, lets get out of here. Yang jelas acara ini mommy batalin. Ayo pulang." ucap mama Aldi menarik tangan Aldi.
But mom. Dad please tell mommy I love Hani." rengek Aldi pada papanya.
"Your mommy is right Aldi, even daddy dont want you have a reationship with this family." ucap papa Aldi yang kemudian ikut menarik Aldi agar pergi dari rumah itu.
Suasana menjadi semakin kacau. Izzah terus saja menangis dalam pelukan Rayhan. Mang Diman dan bi Asih tetap setia berada diasamping mereka. Sementara Hani terdiam seribu bahasa. Sedari tadi dia hanya berdiri mematung, hatinya begitu kecewa. Hari bahagia yang ditunggu-tunggunya berubah kacau.
Orang-orang kembali berbisik-bisik, membuat dokter Harun kesal.
"Ifan, lebih baik kita suruh saja para tamu ini untuk pulang." ucap dokter Harun yang berdiri bersama Lisa berdampingan dengan Ifan dan Intan.
"Iya, itu ide bagus. Dari pada semua orang mulai berbicara yang tidak-tidak." balas Ifan.
Kemudian keduanya bergerak menuju kerumunan para tamu.
"Bapak-bapak, ibu-ibu, mohon maaf karena acara hari ini ada sedikit masalah. Kami harap kalian semua bisa meninggalkan tempat ini." ucap Ifan.
"Mohon maaf atas ketidak nyamanan ini semuanya. Dan terima kasih atas pengertian kalian semua." tambah dokter Harun.
Kemudian para tamu undangan satu persatu berjalan keluar rumah. Hingga tertinggal hanya orang-orang terdekat Izzah dan Rayhan yang berada diruangan itu.
Tiba -tiba Hani berteriak.
__ADS_1
"Aaaaaaarrrrrgggghhhh." pekik Hani.
Semua orang yang ada disana kaget melihat Hani yang berteriak histeris sambil menangis lalu terduduk di lantai. Bu Novi lalu mendekati Hani.
"Sabar, sayang. Jangan begini." ucap bu Novi. "Ayo bangun nak." lanjut bu Novi berusaha membangunkan Hani.
"Diam.....ini semua gara-gara ibu." teriak Hani mendorong bu Novi.
Bu Novi kaget karena di bentak Hani. Sorot mata Hani menunjukkan kebencian terhadap bu Novi.
"Ini karma dari Tuhan atas semua sikap jahat ibu terhadap kak Izzah. Dulu ibu semena-mena sama kak Izzah. Ibu bahkan tega menjual kak Izzah. Dan lihat sekarang, Hani lah yang mendapat imbasnya."
"Tapi Hani..." ucap bu Novi.
"Diam...." teriak Hani. "Dulu, ibu juga yang mengajar Hani untuk membenci kak Izzah. Padahal sejak kecil kak Izzah begitu baik dan perhatian pada Hani. Tapi ibu tetap saja menghasut Hani untuk membenci kak Izzah. Sekarang gak akan mungkin ada yang mau menjadikan Hani menantu jika mereka mengetahui ibu itu pernah menjual anaknya di rumah lokalisasi. Meskipun itu anak tiri. Ibu jahat, Hani benci sama ibu." ucap Hani meninggalkan semua orang berlari menuju kamarnya.
Bu Novi berlinang air mata, menatap anak kesayangannya berlari menuju kamarnya. Hatinya begitu hancur mendengar ucapan Hani yang membenci dirinya.
Setelah beberapa saat, semua orang kemudian pulang ke rumah setelah menguatkan Rayhan dan Izzah menghadapi masalah yang baru saja terjadi.
"Neng Izzah, nak Rayhan, mamang sama bibi teh balik dulu ya. Kalian yang sabar ya. Insyaallah akan ada hikmah di balik semua ini." ucap mang Diman.
Izzah dan Rayhan mengangguk, mang Diman dan bi Asih lalu pulang ke rumah mereka. Pak Haris kemudian mendekati Izzah.
"Izzah, ayah tidak tahu harus berkata apa. Yang jelas ayah minta maaf atas semua kejadian buruk ini." ucap pak Haris.
"Ayah tidak perlu mengkhawatirkan Izzah, yang perlu kita support sekarang adalah Hani. Kasihan dia, acara pertunangannya jadi batal." ucap Izzah.
"Ini semua karena kamu Novi." ucap pak Haris. "Kamu lah penyebab semuanya." lanjut pak Haris kemudian meninggakan bu Novi yang menangis menuju kamarnya.
Bu Novi menatap Izzah penuh rasa bersalah.
"Maafkan ibu Izzah." ucap bu Novi lalu menuju kamarnya dengan berlinang air mata.
"Sayang, maafkan abang ya." ucap Rayhan memeluk Izzah.
"Sudahlah bang, tidak perlu meminta maaf. Justru Izzah lah yang seharusnya meminta maaf. Karena kehadiran Izzah dalam kehiduoan abang selalu saja membawa masalah untuk abang." balas Izzah.
"Jangan bicara begitu sayang. Abang sangat mencintai Izzah. Jadi mari kita hadapi semua masalah ini bersama-sama."
"Terima kasih bang. I love you." ucap Izzah menitikkan air mata.
__ADS_1
"I love you more sayang." balas Rayhan mengusap lembut pipi Izzah.
Keduanya lalu memutuskan untuk kembali ke kamar mereka lagi. Mereka memutuskan untuk tinggal lagi di rumah itu untuk sementara waktu sampai keadaan kembali membaik dengan bu Ros.