
Alia kembali ke rumah mereka dengan wajah yang sedih dan ekspresi yang tidak bisa di jelaskan. Dia masuk ke dalam rumah dan ada seorang pelayan yang berdiri di depan dirinya.
"Nyonya, dari mana saja anda? Tuan Arka sangat khawatir kepada anda." Ucap pelayan itu dan tampak sangat serius.
Alia melihat kearah pelayan itu dengan tatapan mata yang dingin dan berkata dengan ekspresi yang dingin juga.
"Toh aku tidak mati bukan, katakan saja kepadanya bahwa dia tidak perlu mengkhawatirkan tentang aku lagi."
Setelah mengatakan hal itu, Alia lalu bergegas berjalan masuk kedalam kamarnya dan membanting pintu kamarnya dengan begitu keras.
"Ada apa dengan Nyonya?" Ucap pelayan itu dan kemudian menelpon Arka.
Pelayan itu menginformasikan kepada Arka tentang Alia yang sudah pulang ke rumah. Sementara itu disisi lain, Arka akhirnya bisa bernapas lega dan menutup sambungan telepon itu.
'Ya Tuhan, dia membuatku begitu cemas. Tapi kemana sebenarnya dia pergi dan kenapa dia bahkan tidak menjawab panggilan dariku sejak tadi?' ucap Arka dalam hati dan kemudian kembali mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah.
Disaat yang bersamaan Alia tidak bisa berpikir dengan benar. Dia begitu kebingungan dan juga marah disaat yang bersamaan.
'Apa kau memang benar ingin menceritakan aku Arka? Lalu bagaimana dengan ucapan mu, tindakanmu, dan kelakuanmu selama ini padaku? Apakah itu semua hanya kepalsuan saja. Baiklah, aku sepertinya berharap berlebihan. Papa ku sendiri bahkan tidak menginginkan aku dan bagaimana mungkin kau mau menginginkan aku.' ucap Alia dalam hati dan menertawakan dirinya sendiri.
Alia duduk di atas tempat tidur dengan wajah yang begitu sedih seraya memikirkan apa yang baru saja terjadi tadi kepadanya.
>>>>>>>>>>>>>>
Sebelumnya....
'Siapa sebenarnya orang ini? Jangan bilang bahwa ini adalah Nabila.' ucap Alia dalam hati seraya mengendarai mobilnya menuju lokasi yang dikirimkan oleh pengirim pesan kepadanya itu.
Alia akhirnya tiba di sebuah cafe dan masuk ke dalamnya setelah memarkirkan mobilnya.
Nadia sudah duduk di sebuah kursi menunggu kedatangan Alia sejak tadi. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Alia ketika dia melihat Alia masuk kedalam cafe itu.
"Terima kasih karena sudah datang." Ucap Nadia dengan tenang dan suaranya yang terdengar begitu lembut. (Penuh kepalsuan)
Alia melihat kearah Nadia dengan ekspresi yang kesal dia kemudian berpikir,
'Dia begitu kasar kepadaku tadi dan sekarang ini... Apakah dia mencoba untuk mengasihani diriku? Aku tidak akan membiarkan dia berpikir seperti itu.'
Alia duduk di sebuah kursi berhadapan dengan Nadia.
Nadia langsung berucap, "tinggalkan suamiku."
Tak ada sedikitpun keterkejutan dari wajah Alia. Ia tampak tenang dan malah tersenyum, meski sebenarnya dia begitu kesal.
"Aku menikahi Arka bukan kamu dan aku akan meninggalkan dia hanya jika dia meminta dan mengatakan itu kepadaku sendiri." Ucap Alia dengan tersenyum dan dalam hati merasa begitu kesal setelah mendengar intonasi cara Nadia berbicara.
Nadia tertawa dan berucap seraya mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tasnya.
"Ha ha ha, kau begitu lucu sekali. Lihatlah ke sini, ini adalah hadiah yang aku katakan kepadamu tadi." Ucap Nadia seraya memutar kertas itu menghadap pada Alia.
Alia mengambil kertas itu dan memegang nya dan setelah melihat dan membaca kertas itu, mata Alia menjadi panas dan dia tidak dapat berkata apapun.
"Lakukan dengan cepat dan cepatlah menghilang dari hidup kami." Ucap Nadia kemudian pergi dari cafe itu dengan senyuman mengejek di wajahnya. "Oh ya, tenang saja aku sudah membayar minuman yang ada dihadapan mu itu. Minumlah agar pikiranmu bisa lebih tenang." Lanjut Nadia lalu menghilang dari dalam cafe.
'Sekarang pekerjaan terakhirku juga sudah selesai. Aku begitu pintar bukan begitu, hahahaha tentu saja.' ucap Nadia dalam hati dan kembali pergi ke rumah sakit.
(Nadia adalah orang yang paling bodoh yang ada di dunia ini.)
Setelah kepergian Nadia, Alia masih berada di dalam cafe. Dia kembali melihat surat itu dan kemudian keluar dari dalam cafe dengan ekspresi yang dingin. Dia terdiam dan tetap tenang seolah dia tidak peduli dengan hal yang baru saja terjadi padanya. Tapi di dalam lubuk hatinya yang paling dalam itu sangat sakit, sakitnya itu begitu besar hingga membuat hatinya hancur berkeping-keping.
>>>>>>>>>>>>
Kembali ke waktu saat ini.....
Alia tengah berbaring di atas tempat tidur. Dia menutupi wajahnya dengan bantal dan menangis dengan keras. Dia tidak bisa menahan lebih lama lagi rasa sedih dihatinya.
Di sisi lain, Arka tiba di rumah dan langsung bergegas masuk ke dalam.
"Di mana dia?" Tanya Arka kepada seorang pelayan.
"Nyonya ada di lantai atas Tuan, di dalam kamar." Balas pelayan itu dengan membungkuk pada Arka.
Arka berlari begitu cepat dan sangat ingin untuk melihat Alia.
'Aku harap kau bisa mencoba untuk memahami semuanya. Aku akan membunuh wanita itu jika dia mencoba untuk memanipulasi pikiranmu.' ucap Arka dalam hati.
Dia akhirnya mengetahui tentang Alia yang bertemu dengan Nadia di cafe atas laporan dari anak buahnya.
"Tuan, Nyonya Alia berada di cafe X bertemu dengan wanita itu." Ucap anak buah Arka.
__ADS_1
Arka tiba di depan pintu kamar Alia. Arka lalu mengetuk pintu kamar Alia kemudian masuk ke dalamnya dengan ekspresi yang serius dan juga khawatir disaat yang bersamaan.
Sementara Alia tengah menangis, jadi dia tidak menyadari kehadiran Arka.
Arka menjadi terkejut setelah melihat Alia yang menangis. Dia lalu mendekat kearah Alia dan berkata, "Alia kau...?"
Alia lalu duduk di atas tempat tidur dan mengusap air matanya. Dia melihat kearah lantai dengan wajah yang tampak begitu menyedihkan. Arka merasakan sakit yang mendalam di dadanya setelah melihat Alia yang seperti itu.
"Apa yang sudah dia katakan wanita itu kepadamu?" Tanya Arka dan membuat Alia melihat ke arahnya.
Alia membuat wajah yang cemberut dan kemudian kembali mengusap wajahnya.
"Apakah itu penting untuk kau ketahui?" Ucap Alia dan berdiri dari atas tempat tidur.
Arka memeluk Alia dari belakang dan berkata, "tunggu, dengarkan aku dulu. Kau tidak bisa seperti ini setelah mendengarkan omong kosong dari orang luar."
Alia menjadi kebingungan dan mematung setelah mendengar ucapan Arka. Dia kemudian mendorong arka dan berkata dengan penuh kemarahan.
"Jangan bermain-main denganku Arka." Alia tampak semakin kesal.
"Aku tidak bermain-main dengan..." Arka hendak mengatakan sesuatu tapi Alia membuang air ke wajahnya yang dia ambil dari atas meja yang berada di samping tempat tidur.
"Apa yang...." Ucap Arka dan melihat kearah Alia dengan ekspresi yang tampak terkejut.
"Aku.... Aku tidak bermaksud..."
Alia menyadari apa yang sudah dia lakukan dan merasa begitu bersalah. Sementara Arka melihat ke arah sebuah cangkir lalu mengisi nya dengan air dan kemudian tersenyum.
"Tidak, kau tidak boleh melakukan itu." Ucap Alia dan berjalan mundur ke belakang.
Arka lalu mengangkat cangkir itu dan berkata, "kau yang memulainya duluan."
"Aku minta maaf." Ucap Alia tapi Arka sudah menuang air itu di kepala Alia.
Arka mulai tertawa seraya mengatakan, "zombie..."
(Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Arka dan Alia benar-benar seperti anak kecil)
Alia melihat kearah Arka dengan tatapan marah dia memegang pakaian Arka dan menariknya masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Arka begitu terkejut dan juga merasa begitu bodoh.
"Hei, apa yang..." Ucap Arka tapi Alia tidak menghiraukan nya dan mendorong Arka masuk melewati pintu lalu menghidupkan shower.
"Dasar bodoh." Ucap Arka dan pergi seraya melihat kearah Arka dengan ekspresi yang dingin.
Arka berbalik dan menatap dinding, dia menutupi wajahnya.
'Aku pikir dia akan menjadi tenang sedikit saja. Tapi dia malah menjadi dingin seperti ini. Bagaimana aku bisa membuatnya untuk tidak... maksudku bagaimana aku bisa membuatnya menjadi lebih tenang sekarang.' ucap Arka dalam hati dan merasa begitu tertampar.
"Benar, aku sangat bodoh." Ucap Arka kepada dirinya sendiri dan membuka pakaiannya.
Setelah beberapa menit...
'Tapi dia memang benar-benar wanita yang kuat. Lihat saja dia mendorong ku dan bam!! Wah, aku memang mempunyai istri yang keren. Benar, ini bukan pertama kalinya dia melakukan hal seperti ini padaku. Kalau begitu mari mencoba untuk berbicara dengannya dan membuat semua kesalahpahaman nya menghilang.'
Arka telah selesai mandi dengan begitu cepat dan kemudian keluar dari dalam kamar mandi menggunakan celana panjang dan sebuah kaos oblong.
Alia tengah duduk di atas tempat tidur. Dia sudah mengganti pakaiannya dan tengah berdiam diri di sudut tempat tidur. Dia lalu melihat kearah Arka dengan mata yang marah. Sementara Arka berjalan ke arahnya dan duduk disampingnya di atas tempat tidur.
"Apa yang dia katakan kepadamu?" Tanya Arka dengan tenang.
'Apa aku harus mengatakannya kepadamu? Kau tahu dengan benar apa yang dia katakan kepadaku dan kau masih bertanya kepadaku. Hebat sekali akting mu ini Arka Wijaya.' ucap Alia dalam hati dan menatap Arka dengan penuh kemarahan.
Di sisi lain....
Dafa tengah bermain bola di taman rumah dan dia tersenyum dengan begitu ceria. Tiba-tiba sebuah bola menggelinding ke arahnya dan Dafa melihat kearah bola itu.
Dafa perlahan membungkuk dan melihat bola itu. Dia hendak memegang bola itu di tangannya.
'Bagaimana jika bola ini meledak? boom...!'
"Hei kau....!" Terdengar suara seorang gadis kecil yang tiba-tiba muncul dari sisi lainnya.
Dafa lalu menatap ke arahnya dan melihat gadis kecil itu dengan ekspresi yang serius. Gadis kecil itu menggunakan rok yang menggemaskan dan rambutnya yang di kepang dua.
Gadis itu berjalan mendekat kearah Dafa dan berkata, " lepaskan bola ku di bawah."
"Kenapa?" Ucap Dafa lalu menyembunyikan bola itu di belakang punggungnya.
"Hei, apa yang kau lakukan?" Ucap gadis kecil itu dan tampak kesal.
__ADS_1
Dafa melihat kearah gadis kecil itu dan dia juga tampak kesal.
"Aku tidak mau." Ucap Dafa dan mengalihkan pandangannya dari gadis kecil itu.
"Kau... Itu punyaku." Ucap gadis kecil itu dan dia lalu mendorong Dafa.
Dafa yang kehilangan keseimbangan nya pun terjatuh ke tanah.
"Dasar bodoh." Teriak Dafa lalu berdiri.
Dafa kemudian menarik rambut gadis kecil itu dan gadis itu pun berteriak kesakitan.
" Apa kau sudah gila." Ucap gadis kecil itu dan mencoba untuk melepaskan rambutnya dari genggaman Dafa.
"Kau yang sudah gila." Ucap Dafa dan mendorong gadis kecil itu lagi.
Disaat yang bersamaan di dalam kamar Alia....
Alia tidak membalas ucapan Arka.
Arka menghela napas dan berdiri dari atas tempat tidur.
"Aku rasa aku harus menunjukkan semuanya kepadamu daripada harus menunggumu untuk mengatakan semuanya kepadaku." Ucap Arka lalu keluar dari dalam kamar.
Sementara Alia tampak bingung. Dia kemudian berdiri dan mencoba untuk mengerti apa yang dimaksudkan oleh Arka.
'Apa yang coba dia lakukan sekarang?' ucap Alia dalam hati dan berbalik menghadap tempat tidur.
Setelah beberapa saat, Arka kemudian masuk ke dalam ruangan Alia dengan membawa sebuah amplop besar berisi berbagai data dan foto. Arka lalu membuka amplop itu dan memperlihatkan segala isinya di atas meja. Diapun memanggil Alia dan memintanya untuk berbalik.
"Berbalik lah..." Pinta Arka.
"Apa ini?" Tanya Alia dan tampak begitu kebingungan melihat berbagai macam data dan foto diatas meja.
"Iya, mereka sebenarnya kembar." Ucap Arka.
Alia memegang kepalanya dan kemudian mengusapnya perlahan dari belakang.
"Oh ya Tuhan, ini semua terlalu tiba-tiba. Maksudku, apakah kau begitu serius saat ini?" Ucap Alia dan merasa begitu bodoh.
Dia tampak kebingungan dan terkejut disaat yang bersamaan.
"Tidak ada yang mengetahui hal ini kecuali beberapa orang dalam keluarga kami dan sekarang kau bahkan Dafa dan ibu juga tidak tahu tentang hal ini." Ucap Arka.
Beberapa foto menunjukkan wajah Nabila dan juga Nadia. Sebenarnya tidak ada yang berbeda dari keduanya. Hanya model rambut dan cara berpakaian. Ada data tentang adopsi Nabila oleh orang tuanya, begitu juga Nadia.
Bahkan, dari beberapa lembar foto itu, ada foto masa bayi Nabila dan Nadia.
Alia terus melihat satu persatu foto dan juga data-data yang menunjukkan bahwa Nabila mempunyai saudara kembar yaitu Nadia.
"Apakah sekarang kau masih marah kepadaku istriku sayang?" Ucap Arka melihat kearah Alia dan matanya tampak membulat sempurna.
"Iiihhh... Berhentilah bersikap begitu menggemaskan dan jangan panggil aku istri tersayang mu." Ucap Alia dan berbalik untuk tidak menatap Arka.
"Jangan begitu dingin kepadaku. Kau tahu bahwa aku mencintaimu dan rasanya sangat sakit ketika kau bersikap seperti ini kepadaku." Ucap Arka dan melihat ke arah bawah.
"Aku sangat bingung sekarang. Katakan kepadaku, apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Alia menghela napas begitu dalam, dan dia duduk di atas tempat tidur.
Arka lalu menjelaskan semuanya kepada Alia. Apa yang dikatakan Arka membuat Alia begitu terkejut mendengarkan tentang Nabila dan Nadia.
"Aku menjadi semakin bingung, ternyata yang mengaku sebagai Nabila saat ini adalah Nadia." Ucap Alia dan matanya berputar karena kebingungan.
"Aku tahu ini sulit untuk dimengerti, tapi cobalah untuk mengerti sedikit saja. Dan ingatlah satu hal, bahwa kau sudah menikah denganku dan aku mencintaimu lebih dari hidupku sendiri." Ucap Arka dengan wajah yang serius.
Arka lalu mendekatkan kepalanya dengan kepala Alia. Kening mereka beradu.
"Aku begitu takut kehilanganmu." Ucap Arka dengan suaranya yang terdengar sedih.
Alia tersenyum dan kemudian mencium kening Arka.
"Dan kau harus ingat, bahwa istrimu ini hanya Alia dan tidak ada orang lain lagi. Dan kau harus tahu bahwa Alia ini sangat mencintai suaminya ini." Ucap Alia dengan pipinya yang merona merah.
Ucapan dan tindakan Alia yang dilakukannya itu membuat Arka terkejut. Dia tidak bisa menyembunyikan bahwa dirinya tengah merona. Dia pun meletakkan kepalanya di pangkuan Alia dan kemudian melihat Alia dengan senyuman di wajahnya.
"Apa kau ingin aku kena serangan jantung?" Tanya Arka dengan tertawa kecil.
Wajah Alia tampak datar dan berkata, "iya dan ingatlah satu hal bahwa hanya aku yang bisa membuatmu terkena serangan jantung."
Arka tertawa mendengarkan ucapan Alia dan berkata, "baiklah yang mulia ratu."
__ADS_1
Bersambung....