
PoV Faradina
Semuanya berjalan dengan begitu sempurna dalam hidupku. Jika aku tidak pernah mau menerima perjodohan yang diberikan keluargaku, mungkin aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan seperti saat ini.
Aku begitu bahagia saat melihat senyuman bahagia di wajah seluruh keluargaku, terutama di wajah Oma Izzah dan Opa Reyhan. Mereka adalah orang yang menjadi inspirasi bagiku.
Hari ini, usia Sofia tepat satu tahun. aku ingin sekali mengatakan, "tidak terasa ya, usia Sofia sudah satu tahun?"
Tapi jika aku pikir-pikir lagi, tentu semuanya terasa juga. Apalagi di tiga bulan pertama, aku selalu begadang terus. Apalagi Sofia itu jenis bayi yang jika belum dengar suara panggilan beribadah subuh, dia akan belum mau tidur. Bagaimana aku tidak lemas saat pagi harinya.
Aku menatap wajah Sofia yang lebih sering aku panggil dengan sebutan Tuan Putri saat dia masih tertidur tepat di pagi hari ulang tahunnya.
"Selamat ulang tahun Sofia Putri Ammar. Semoga panjang umur, sehat selalu, jadi anak yang berbakti kepada orang tua, selalu ceria seperti sekarang dan semakin pintar ya Nak. Aamiin." Ucapku lalu mencium keningnya.
Di ulang tahun pertama Sofia ini sebenernya tidak ada perayaan yang mengundang teman-teman bermainnya di sekitar komplek rumah kami. Aku dan Ammar berencana untuk membuat acara kumpul-kumpul keluarga besar, mengobrol, makan-makan, tiup lilin, tapi kami akan membagi-bagikan kue ke tetangga teman-teman bermain Sofia. Hanya itu saja.
Awalnya Ammar ingin ulang tahun pertama Sofia ini mau dirayakan di sebuah restoran, mengundang para sahabat Ammar yang memiliki anak-anak kecil. Bahkan rencana nya juga mau mengundang fotografer kesayangan yang sudah langganan memotret aku dan suami dari zaman kami menikah sampai hamil kemarin. Iya, fotografernya juga teman Ammar sendiri.
Aku dan Ammar merasa sepertinya akan seru kalau bisa ngerayain ulang tahun pertama anak kami meskipun memang anaknya belum mengerti. Tapi aku berpikir semuanya lumayan untuk kenang-kenangan. Maklum, sebagai orang tua, kami begitu bahagia akan ulang tahun pertama, anak pertama. Inginnya merayakan sesuai keinginan kami, tapi aku juga memikirkan keinginan keluarga besar yang ingin merayakan semuanya secara lebih kekeluargaan.
Apalagi jika memikirkan keluargaku memiliki anggota yang cukup banyak begitu juga dengan keluarga Ammar. Meskipun hanya dirayakan dengan keluarga, tetapi aku jelas ingin ada yang istimewa. Aku ingin kue ulang tahun Sofia bentuknya 3D agar lebih indah saat di foto.
Aku sudah mulai memikirkan tema kue ulang tahun ini dari sebulan sebelum hari ulang tahun Sofia. Aku akhirnya memilih untuk pakai tema barbie karena Sofia begitu suka menonton animasi itu.
Untuk makanan semuanya dari toko kue milik Oma Izzah yang masih berjalan sampai sekarang. Mulai dari kue ulang tahun, sampai makanan besar, semuanya dari toko kue Oma Izzah. Bahkan menu makanan lainnya, Oma Izzah dan Mama yang langsung turun tangan untuk memasak semuanya.
Oma Izzah lebih suka makanan tradisional sejak dulu, jadi Oma memasak gulai ayam tua, lalapan sayur, tahu tempe goreng dan juga sambal ijo. Sementara pesanan dari Kak Denis ingin makan sate kambing dan sate ayam. Jadi Mama dan Kakak Ipar yang menyiapkan menu itu.
Aku sendiri hanya membuat puding saja. Pagi-pagi sebelum pukul 5 pagi, aku sudah membuat puding kira-kira 50 buah. Sementara untuk dekorasinya disiapkan oleh Ammar dibantu kakak ipar.
Ulang tahun Sofia yang pertama ini, lebih mirip dengan acara kumpul keluarga besar, karena benar-benar hanya keluarga inti saja yang hadir. Dari pihak Ammar, ada seluruh keluarganya. Mama dan Papa mertua serta saudara ipar dan anak-anak mereka. Sementara dari keluargaku, itulah yang benar-benar banyak.
Dimulai dari Opa Reyhan dan Oma Izzah. Mama dan Papa. Kak Denis dan istrinya dan kedua anaknya. Om Arka dan Tante Alia, Kak Dafa dan istrinya Kak Sheila serta anak mereka, Amira dengan suaminya Ariel serta anak mereka.
Jika dihitung, anggota keluarga besar ku hampir berjumlah dua puluh orang, dan itu sudah cukup ramai ditambah keluarga Ammar maka yang hadir di ulang tahun Sofia hampir menyentuh angka tiga puluh orang.
"Apa kau sudah siap sayang?" Tanya Ammar saat aku duduk di depan cermin di meja rias.
Sementara Sofia duduk diatas tempat tidur dengan sudah mengenakan pakaian ala princess nya.
"Iya, aku sudah siap." Balasku tersenyum.
Kami bertiga lalu turun ke lantai bawah tepat saat semua orang sudah mulai berdatangan. Aku terlebih dulu langsung menghampiri Oma Izzah yang tampak masih bugar diusianya yang hampir menyentuh angka tujuh puluh.
"Cicit Oma sudah satu tahun saja. Semoga cepat punya adik lagi ya." Bisik Oma Izzah yang membuat aku tersenyum.
"Oma ada-ada saja." Balasku.
Kami pun memulai acara ulang tahun Sofia. Walau sebenarnya tidak ada acara tiup lilin karena Sofia sudah mulai rewel. Mungkin dia mengantuk karena begitu ramai orang di rumah, jadi dia tidak bisa tidur siang. Acara potong kue juga tidak ada karena semua orang dewasa lebih fokus pada makanan tradisional yang Oma Izzah siapkan.
Kue itu pun akhirnya dihabiskan oleh anak-anak balita lainnya yang memang menyukai makanan manis.
Intinya ulang tahun pertama Sofia ini kami benar-benar merayakannya dengan kumpul-kumpul keluarga besar saja.
Aku hendak membawa Sofia naik ke lantai atas menuju kamar untuk membaringkannya di tempat tidur. Namun Oma Izzah melarang ku dan meminta untuk membiarkan Sofia tertidur dalam pangkuan Oma.
__ADS_1
"Tapi Oma nanti kelelahan." Ucapku.
Berat badan Sofia pasti akan membuat Oma Izzah cepat kelelahan. Tapi Oma tetap bersikeras untuk memangku Sofia.
"Biarkan saja sayang." Ucap Mama kepadaku.
Aku pun akhirnya setuju dan hanya bisa melihat Oma yang terus menatap wajah Sofia dengan penuh cinta.
Aku tak tahu jika itu adalah terakhir kalinya Oma memangku Sofia karena satu minggu setelah ulang tahun Sofia, Oma Izzah kembali menghadap Tuhan untuk selamanya.
Hari itu merupakan hari paling menyedihkan bagi keluarga kami, terutama bagi Opa Reyhan yang kehilangan separuh jiwanya. Opa benar-benar tidak memiliki semangat untuk hidup setelah kepergian Oma.
Aku tahu benar bagaimana mereka berdua begitu saling mencintai. Jadi semua orang yang melihat Opa Reyhan, tidak akan heran kenapa Opa Reyhan bisa seperti itu.
Kepergian Oma Izzah benar-benar begitu mendadak. Aku masih ingat, malam itu Oma meminta kami semua para anak cucunya untuk berkumpul di rumah utama karena Oma berkata bahwa dia ingin melihat semua anak, cucu, serta cicitnya berkumpul di rumah untuk makan malam keluarga.
Ternyata, keesokan paginya, saat Opa Reyhan membangunkan Oma Izzah untuk mengajaknya beribadah bersama, Oma Izzah sudah tidak bangun lagi dalam tidurnya.
Kami semua benar-benar kehilangan sosok panutan kami dalam diri Oma Izzah. Tapi kami semua ahli keluarga Oma Izzah hanya bisa berharap, semoga Oma Izzah ditempatkan di sisi terbaik Tuhan.
Kehidupan keluarga besar ku berubah karena ketidakhadiran Oma, tapi kami berusaha kuat demi kesehatan Opa. Hanya saja, Opa juga tidak bisa bertahan lebih lama dibandingkan dengan yang aku harapkan.
Aku semakin terluka dan tidak bisa menerima saat Opa juga menyusul Oma Izzah kembali pada Tuhan setelah satu beberapa bulan lebih hidup sendiri tanpa ditemani Oma Izzah.
Lagi-lagi, keluarga besar ku diterpa duka yang amat sangat mendalam. Kepergian Opa merupakan luka yang terdalam bagi Om Arka yang begitu dekat dengan Opa. Begitu juga dengan Mama yang kehilangan sosok cinta pertamanya.
Sejak kepergian Opa, Om Arka dan Mama menjadi jauh lebih murung. Bagaimana tidak, baru saja satu tahun kami kehilangan sosok Oma Izzah, kini giliran Opa Reyhan yang pergi.
Aku lalu berjanji, jika anak yang ada dalam kandunganku berjenis kelamin laki-laki, maka aku akan menyematkan nama Opa untuk nama anakku itu.
...****************...
"Sayang jangan stres berlebihan, karena itu akan mempengaruhi kesehatanmu dan juga bayi yang ada di dalam kandungan mu." Ucapku saat aku mencoba untuk menenangkan Fara.
Fara tengah hamil lagi dengan anak kedua kami dan seperti yang dia harapkan, bahwa bayi dalam kandungannya itu adalah bayi berjenis kelamin laki-laki.
Saat ini, kami tengah menyiapkan ulang tahun Sofia yang kedua dan Fara tidak bisa bergerak bebas dengan kandungannya yang sudah berusia 9 bulan.
Sebenarnya Fara tidak ingin merayakan ulang tahun Sofia karena dia masih saja belum bisa melupakan kejadian satu minggu setelah ulang tahun Sofia yang pertama dimana dia harus kehilangan sosok Oma Izzah, wanita yang sangat di kagumi Fara. Selain itu, Fara juga kehilangan Opa Reyhan beberapa bulan setelah kepergian Oma Izzah.
Tapi, kali ini Sofia bersikeras ingin agar ulang tahunnya di rayakan. Jadi Fara tampak berusaha melupakan kesedihan dihatinya demi kebahagiaan puteri kecil kami.
"Tuan Putri, jangan membuat Mama lelah itu akan membuat kesal adikmu sayang." Ucapku saat Sofia berlari mengelilingi Fara dan menyentuh perut Fara dengan popok yang dia kenakan.
"Maaf adik kecil, aku tidak akan membuatmu kesal lagi." Ucap Sofia.
"Bagus, jadi sekarang bagaimana kalau kita mempersiapkan ulang tahun Tuan Putri kita ini?" Ucap Farah tampak tersenyum ceria.
Aku tahu bahwa Fara pasti bisa melalui semua kesedihan dalam hidupnya dan aku berjanji bahwa aku akan berusaha untuk membuat dia selalu tersenyum dan merasakan kebahagiaan dalam hidupnya.
Aku lalu keluar dari dalam kamar untuk mempersiapkan pesta ulang tahun itu dan saat aku kembali masuk ke dalam kamar kami, aku melihat Tuan Putri kami tengah menggunakan pakaian yang bertemakan Mickey Mouse dan rok berwarna pink. Dia terlihat menggemaskan dengan pakaiannya itu.
Kami menikmati pesta ulang tahun itu bersama keluarga besar dan juga teman-teman bermain Sofia di sekitar komplek perumahan kami. Namun di pertengahan pesta ulang tahun itu, Tuan Putri kami malah tertidur dalam gendonganku.
...****************...
__ADS_1
PoV Author
8 bulan kemudian...
"Mama lihat Reyhan sudah bisa merangkak sekarang. Dia sangat menggemaskan, aku bangga menjadi kakaknya." Ucap Sofia seraya menepuk dadanya.
"Sayang, terima kasih karena sudah menjaga adikmu." Ucap Fara dan mengusap kepala Sofia lembut.
Sofia tersenyum dan berlari ke arah taman belakang rumah untuk bermain dengan Papa nya.
"Papa, aku juga mau bermain dengan air." Ucap Sofia saat dia melihat Papa nya tengah berenang di kolam.
"Sayang, Mama mengatakan tidak boleh, bukan?" Ucap Amar bertanya kepada Sofia saat Ammar mengingat bahwa Fara tidak mengizinkan Sofia untuk masuk ke dalam air karena cuacanya yang dingin.
"Iya Papa, tapi Papa bisa membantuku. Aku mau bermain bersama Papa." Ucap Sofia dengan bibirnya yang tampak cemberut.
Ammar berjalan keluar dari dalam kolam dan tidak menghiraukan peringatan yang diberikan Fara kepadanya.
"Sekarang kau siap Tuan Putri?" Ucap Amar.
"Tapi pakaianku Papa." Ucap Sofia.
"Papa akan mengatakan bahwa kau terjatuh di kolam sayang, jadi kau harus melindungi Papa, oke." Ucap Ammar.
Sofia pun menganggukkan kepalanya. Mereka lalu bermain di dalam air. Saat Fara datang ke halaman belakang rumah, mulut Fara terbuka lebar melihat apa yang terjadi di depan matanya itu.
"Siapa yang mengizinkanmu untuk masuk ke dalam kolam Sofia?" Ucap Fara dengan penuh kemarahan.
"Papa." Ucap Sofia dengan satu kata yang langsung membuatnya mengkhianati Papanya.
"Tuan Putri, kita sudah setuju." Ucap Amar dengan tampak tidak percaya.
"Aku lupa Papa." Ucap Sofia tertawa kecil.
"Sekarang keluarlah dari dalam kolam kalian berdua." Ucap Fara dan mereka berdua pun berjalan keluar dari dalam kolam.
"Tuan Putri, kau haru mandi sekarang dan kemudian kau akan tidur siang. Apa kau mengerti?" Ucap Fara.
"Baik Ma, aku akan menjadi anak yang baik dengan mengikuti perintah Mama." Ucap Sofia dan berlari ke arah kamar mandi.
Fara lalu menatap ke arah A.mar dengan tatapan penuh kemarahan.
"Sekarang kau! Bagaimana kau bisa begitu tidak bertanggung jawab seperti itu? Bagaimana jika Sofia menjadi flu?" Ucap Fara kepada Ammar.
"Aku akan menjaga dia sayang. Tapi sekarang bagaimana kau bisa menjaga aku?" Ucap Ammar dan menarik Fara ke dalam pelukannya dan langsung mengajak Fara melompat jatuh ke dalam kolam renang.
"Kenapa kau ini.....!!!" Ucapan Farah terhenti saat Sofia berlari kembali dan menatap kami berdua yang masih berada di dalam kolam renang.
"Kalian berdua bermain tanpa Tuan Putri kalian." Ucap Sofia.
"Kemari lah dan ayo bersenang-senang Tuan Putri. Mama tidak akan memarahi mu karena Mama juga bermain di dalam air." Ucap Ammar.
Saat itu, Fara akhirnya bisa tertawa dengan begitu lepas. Hal itu membuat Ammar merasa bahagia dan dia berharap bahwa Fara akan seceria dahulu.
Bersambung....
__ADS_1