
Setelah penandatanganan berkas-berkas pernikahan selesai, ada acara tambahan yang diselipkan.
Izzah dan mengambil microfon untuk memberikan wejangan dan nasehat kepada kedua putera dan puteri mereka.
Rayhan berbicara terlebih dahulu.
"Anak-anakku..,
Hari ini menjadi satu dari hari yang paling bersejarah di dalam kehidupan kalian berdua. Kalian telah sah menjadi suami dan isteri, dari pasangan kalian masing-masing, yang darinya kelak akan lahir anak-anak yang sholeh dan sholehah, dan kalian akan menjadi seorang ayah dan seorang ibu, untuk kemudian menjadi seorang kakek dan seorang nenek, ……insyaAllah."
"Menikah adalah separuh perjalanan ketakwaan kepada Allah dan bagian dari sunnah Rasulullah. Tiada janji terindah yang didengar oleh wanita dari lisan laki-laki, kecuali janji akad pernikahan." Lanjut Rayhan.
"Anakku Arka, isteri adalah tulang rusukmu, ia bukanlah wanita yang bisa di suruh-suruh. Perlakukanlah ia dengan kelembutan, maka ia akan lebih lembut dari perlakuanmu." Sambung Rayhan lagi.
__ADS_1
"Terkhusus untuk menantuku Devan, sudah lepas tanggung jawab kani sebagai orangtua dari putriku Arsha. Maka ambilah putriku sebagai isteri sekaligus sebagai amanah yang kelak kamu dituntut bertanggung jawab atasnya. Dengannya dan bersamanya lah kamu beribadah kepada ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa, di dalam suka, di dalam duka."
Arsha tak dapat menahan perasaan harunya. Air mata menggenang di pelupuk matanya, dan mengalir begitu saja di pipinya.
Kali ini, giliran Izzah yang berbicara.
"Puteriku Arsha dan juga Nabila....
Sebagai seorang ibu sekaligus mertua, ibu berpesan: terima dan sambutlah suami kalian dengan sepenuh cinta dan ketaatan. Layani ia dengan kehangatan. Manjakan ia dengan kelincahan dan kecerdasan kalian. Bantulah ia dengan kesabaran danp0 doa. Hiburlah ia dengan nasihat-nasihat. Bangkitkan ia dengan keceriaan dan kelembutan. Tutuplah kekurangannya dengan mulianya akhlaq kalian." Ucap Izzah dengan perasaan haru.
"Kepada besanku…
Terimalah masing-masing mereka sebagai tambahan anak bagi kita. Maklumilah kekurangan-kekurangannya, karena mereka memang masih muda. Bimbinglah mereka, karena inilah saatnya mereka memasuki kehidupan yang sesungguhnya.
__ADS_1
Wajar, sebagaimana seorang anak bayi yang sedang belajar berdiri dan berjalan, tentu pernah mengalami jatuh untuk kemudian bangkit dan mencoba kembali. Maka bantulah mereka sampai benar-benar kokoh untuk berdiri dan berjalan sendiri.
Bantu dan bimbing mereka, tetapi jangan mengatur. Biarkan.., Karena sepenuhnya diri mereka dan keturunan yang kelak lahir dari perkawinan mereka adalah tanggung-jawab mereka sendiri di hadapan ALLAH Subhaanahu wa ta’alaa. Hargailah harapan dan cita-cita yang mereka bangun di atas ilmu yang telah sampai pada mereka.
Keterlibatan kita yang terlalu jauh dan tidak pada tempatnya di dalam persoalan rumah tangga mereka bukannya akan membantu. Bahkan sebaliknya, membuat mereka tak akan pernah kokoh. Sementara mereka dituntut untuk menjadi sebenar-benar bapak dan sebenar-benar ibu di hadapan…dan bagi anak-anak mereka sendiri.
Ketahuilah, bahwa bukan mereka saja yang sedang memasuki kehidupannya yang baru, sebagai suami isteri. Kita pun, para orang tua, sedang memasuki kehidupan kita yang baru, yakni kehidupan calon seorang kakek atau nenek – insyaAllah. Maka hendaknya umur dan pengalaman ini membuat kita, para orangtua, menjadi lebih arif dan sabar, bukannya semakin pandir dan dikuasai perasaan. Pengalaman hidup kita memang bisa jadi pelajaran, tetapi belum tentu harus jadi acuan bagi mereka.
Jika kelak -dari pernikahan ini- lahir cucu-cucu bagi kita. Sayangilah mereka tanpa harus melecehkan dan menjatuhkan wibawa orangtuanya. Berapa banyak cerita di mana kakek atau nenek merebut superioritas ayah dan ibu. Sehingga anak-anak lebih ta’at kepada kakek atau neneknya ketimbang kepada kedua orangtuanya. Sungguh, akankah kelak cucu-cucu kita menjadi anak-anak yang ta’at kepada orangtuanya atau tidak, sedikit banyak dipengaruhi oleh cara kita memanjakan mereka." Ucap Izzah panjang lebar.
Tanpa sadar, Arka dan Arsha berjalan mendekat ke arah kedua orang tuanya. Keduanya menghambur di pelukan Rayhan dan Izzah.
"Terima kasih, Ayah, Ibu." Ucap keduanya hampir berbarengan.
__ADS_1
Izzah memberi kode pada kedua menantunya, Nabila dan Arka untuk mendekat. Mereka semuapun kembali berangkulan satu persatu, seperti mengulang prosesi sungkeman. Hanya saja kali ini dengan cara berdiri.
Disusul para besan dan keluarga besar yang lainnya, hingga semuanya berkumpul dalam satu frame dan dilakukan pemotretan.