
Setelah melakukan penelitian terhadap bubur yang diberikan Bu Mila, ternyata tidak terdapat zat-zat berbahaya ataupun racun yang dapat membuat kesehatan Bu Ros memburuk.
CCTV pun sudah dipasang Rayhan di kediamannya bersama Ana. Namun tak ada yang mencurigakan dari gerak-gerik Ana. Semuanya tampak normal, Ana memang terlihat benar-benar buta.
Rayhan menemukan jalan buntu dalam menyelidiki semuanya.
Sepertinya kecurigaan Mang Diman salah, gumam Rayhan.
Namun satu hal yang mulai membuka tabir peristiwa yang menimpa Bu Ros. Setelah beberapa hari, orang suruhan Rayhan melakukan penyelidikan. Mereka mendapatkan fakta bahwa tempat yang dikatakan Bu Mila sebagai lokasi terjadinya kecelakaan, sebenarnya tidak pernah ada kecelakaan yang terjadi dalam kurun waktu dua tahun lamanya.
Rayhan mengajak Mang Diman bertemu guna membahas semuanya.
"Gimana? Udah dapat bukti-bukti?" tanya Mang Diman.
"Belum dapat Mang, bubur yang dibawa Bu Mila gak ada apa-apanya."
"Gak ada apa-apanya gimana teh maksud Den Rayhan? Gak ada buburnya? Cuma tinggal mangkok doang kituh? Terus buburnya kemana? Den Rayhan yang makan ya?" cecar Mang Diman menahan tawa.
"Aduh Mang, maksud saya gak ada zat-zat berbahaya atau racunnya. Semuanya normal-normal saja."
"Terus gimana dengan si Kunti Suzzana itu?"
"Suzzana?" tanya Rayhan heran.
"Ia Suzzana, madunya Neng Izzah." jawab Mang Diman.
"Astaghfirullah..." seru Rayhan tertawa.
Mang Diman ikut cekikikan.
"Gimana atuh hasil CCTVnya, ada yang mencurigakan tidak?"
"Gak ada Mang, semuanya normal-normal saja. Sepertinya Mang Diman salah, Ana benar-benar buta."
"Aaaahh itu teh pasti si Suzzana yang udah nyadar kalau ada CCTV, Mamang teh seratus persen yakin kalau si Suzzana itu pura-pura buta."
__ADS_1
"Terus sekarang gimana Mang?" tanya Rayhan.
"Memangnya tidak ada sedikitpun bukti bahwa kecelakaannya Mamah Dedeh teh di sengaja?"
"Hmmmm. Oh ya saya lupa. Orang suruhan saya bilang, menurut warga setempat lokasi yang di bilang Bu Mila tempat kecelakaannya Umi itu tidak pernah ada kecelakaan yang terjadi selama dua tahun belakangan."
"Berarti kecurigaan Mamang teh benar atuh."
Mang Diman terlihat berpikir.
"Aaahh gimana kalau sekarang teh untuk si Suzzana, suruh anak buahnya Den Rayhan untuk selidiki keluarganya."
"Maksud Mang Diman gimana?" tanya Rayhan.
"Aduuuhh, Den Rayhan kan pinter atuh. Masa gitu aja tidak mengerti. Maksud Mamang teh, cari tau asal usul si Suzzana itu. Lihat keluarganya, terutama yang di bilang pamannya yang preman itu. Bila perlu tanya warga sekitar tempat tinggalnya si Suzzana teh tau gak kalau dia pernah kecelakaan atau gimana gitu." jelas Mang Diman.
"Hmmm baik kalau begitu Mang."
Mang Diman lalu menyeruput kopi yang dibuat Bi Asih. Mereka bertemu di rumah Mang Diman.
"Jablay?" seru Rayhan mengerutkan dahinya.
"Hahaha ternyata Mamang teh lebih gaul dari Den Rayhan. Gak pernah denger lagunya Neng Titi Kamal ya Den? Begini liriknya." ucap Mang Diman hendak bersenandung.
"Lay...lay..lay...lay..lay...lay.. panggil Rayhan si jablay. Neng Izzah masih marah, Rayhan gak pernah di belai..." dendang Mang Diman.
Bi Asih keluar dari dalam rumah.
"Aduh aduh, mana suaranya jelek, liriknya salah lagi." ucap Bi Asih. "Jangan nyanyi lagi atuh Pak, bisa rusak telinga Ibu." lanjutnya.
Rayhan tertawa, begitu juga dengan Mang Diman.
"Den Rayhan udah pernah nginap di rumah Neng Izzah?" tanya Mang Diman lagi setelah Bi Asih masuk ke dalam rumah.
"Udah waktu itu Mang, cuma gak diajak tidur berdua." jawab Rayhan.
__ADS_1
"Eeleuh-eleuh kasiaan." seru Mang Diman. "Udah berapa bulan gak kepake?" bisik Mang Diman cekikikan.
Rayhan yang mengerti arah pembicaraan Mang Diman tertawa.
"Wah wah wah, jangan bilang Aden teh sudah berbuat sama si Suzzana."
"Aahh gak lah Mang, Rayhan maunya sama Izzah aja." jawab Rayhan tertawa.
"Seriusan? Kenapa gak dicoba sama si Suzzana. Yaa walaupun dia gak geulis yang penting kan perempuan beneran, bukan jadi-jadian." Mang Diman terbahak.
"Astaghfirullah, cinta, jiwa dan raga saya hanya untuk Izzah seorang." balas Rayhan cekikikan.
"Uuuhh coba kalau Mamang, udah di pake atuh si Suzzana. Apalagi udah berbulan-bulan gak pernah. Toh juga udah isteri sendiri. Hihihi"
"Ngomong apa hah?" ucap Bi Asih menjewer telinga Mang Diman dari belakang.
"Ampun Bu, ampun." ucap Mang Diman. "Mamang teh cuma bercanda atuh Aden, jangan didengerin. Siapa juga yang mau sama si Suzzana yang kurus itu." lanjut Mang Diman.
"Tadi katanya Mamang mau." ucap Rayhan memanasi Bi Asih.
Bi Asih semakin kencang menjewer telinga Mang Diman.
"Dasar aki-aki, kurang apa atuh service'san dari Ibu sampai mau sama si kurus itu?" ucap Bi Asih.
"Aduuhh beneran Bu, Bapak teh cuma bercanda." ucap Mang Diman meringis kesakitan. "Bapak teh cuma cinta sama Ibu." lanjut Mang Diman memeluk pinggang Bi Asih.
Refleks Bi Asih melepaskan jewerannya.
"Jangan peluk-peluk, malu atuh sama Nak Rayhan." ucap Bi Asih berusaha melepaskan pelukan Mang Diman.
"Biarin aja, toh isteri sendiri. Kalau Den Rayhan iri sudah atuh sana cepetan pulang peluk Neng Izzah." goda Mang Diman.
Rayhan hanya tersenyum.
Izzah, Abang rindu padamu sayang, gumam Rayhan.
__ADS_1