
^^^[Vita: Gimana rasanya nikah sama cowok tertampan di kampus?]^^^
[Tia: Jangan ganggu, dia lagi sibuk bercocok tanam.]
...[Vita: Haha awas aja kalau sampai nggak pake kado dari kita. Coret dari genk!]...
[Tia: Kalau bisa difotoin biar kita percaya.]
^^^[Vita: Haha.]^^^
Arsha mendengkus membaca percakapan kedua sahabatnya itu di grup. Pesan yang masuk sejak lima jam lalu itu baru ia baca jam tiga pagi. Semalam Arsha sangat lelah dan tak sempat membuka-buka ponsel.
Arsha mengetik balasan untuk kedua sahabatnya itu.
[Berisik kalian.]
Arsha sedikit merenggangkan otot, lalu turun dari ranjang.
'Tunggu, di mana dia?'
Arsha baru sadar semalam langsung tidur. Pakaiannya pun masih lengkap, gamis dengan jilbab.
Sejurus kemudian, Arsha tersenyum tipis saat melihat pria yang mengenakan kaus putih tertidur di lantai beralaskan karpet tebal.
Arsha menatap pria yang baru sah menjadi suaminya itu kemarin, ada buku tampak terbuka di atas dadanya.
'Aku yakin dia pasti ketiduran saat sedang membaca.'
Arsha berjalan mendekat dan berjongkok di sisinya.
'Siapa sangka aku akan menikah dengan Devan.'
Arsha mengingat ucapan ayah ya kala itu.
"Jodoh itu unik, mungkin dia orang yang diam-diam menyebut namamu dalam doa, bisa juga dia orang yang dulu pernah kamu sebut dalam doa, atau ... nama kalian pernah didoakan oleh seseorang agar berjodoh. Makanya kita harus berdoa yang baik, agar berimbas baik ke depannya," ucap Rayhan sehari sebelum Arsha menikah.
Arsha terus memandangi wajah Devan yang memiliki daya tarik untuk dicium.
"Kenapa cuma dilihatin?"
Suara Devan membuat Arsha terlonjak, bahkan sampai terjungkal ke belakang saking kagetnya. Mata Devan tiba-tiba terbuka dan keduanya tengah tatap-tatapan sekarang.
“Kok, malah bengong?” tanya lelaki itu.
Tatapan matanya begitu tajam, tetapi hangat. Membuat Arsha membeku, lalu meleleh ke dalam pesonanya.
"Jangan cuma dilihatin dong, pegang kek, cium kek, peluk kek, sayang kek."
“I-itu, bukan mahram," jawab Arsha asal, lalu bersiap berdiri.
Devan seketika tergelak, lalu tiba-tiba ia menarik tangan Arsha sampai jatuh tepat di atasnya. Arsha yang sangat terkejut mau langsung bangun, tapi ditahan olehnya.
"Malam pertama kita sudah lewat," bisiknya yang membuat Arsha langsung merinding. "Nggak ada malam pertama, subuh pertama juga bisa."
Arsha menelan ludah berat. "Ja-ngan, Van. Aku masih polos."
__ADS_1
Devan terkekeh. "Masih polos, tapi kok nyimpen fotoku."
Mata Arsha terbelalak, lalu mengikuti gerak mata Devan yang terarah ke ponsel di sebelahnya. Mata Arsha semakin membulat.
'Itu kan buku ponsel-ku? Duh, mana ada editan foto dia yang aku kasih simbol lope-lope gede banget lagi.'
"Gimana? Masih polos, apa mau dipolosin?"
"A-aku mau ke kamar mandi, keburu keluar." Arsha berusaha melepaskan diri.
"Cium dulu." Devan mengarahkan pipinya.
Arsha kembali menelan ludah berat.
"Pilih cium apa dipolosin?"
"Cium!" jawab Arsha spontan dan langsung mengarahkan bibirnya ke pipi Devan.
Saat bersiap mendaratkan bibir ke pipi, Devan malah menghadap ke arah Arsha.
Arsha langsung menjauh dan menjaga jarak dari Devan, memegangi bibir yang sudah ternoda. Sementara Devan malah terkekeh.
"Enak, kan?" tanya Devan sambil duduk.
'Pertanyaan macam apa itu? Ya jelas enaklah!'
"Modus banget!" Ucap Arsha.
Devan lagi-lagi terkekeh. "Kalau mau lagi bilang aja. Gratis, bisa nambah juga."
"Maaf, maaf, habis aku bingung semalem mau ngapain."
'Oh, iya. Semalam aku tidur duluan.'
"Lagian ngapain tidur di bawah?" Ucap Arsha.
"Emang udah siap kalau aku tidur di atasmu?"
"Heh! Dijaga kalau ngomong!"
"Kenapa? Kita udah ada label halalnya," balas Devan santai.
"Oh iya, ya."
Keduanya terdiam beberapa saat.
"Nggak jadi ke kamar mandi?" tanyanya memecah keheningan.
Arsha menggeleng. "Nggak jadi kebelet."
"Bisa gitu, ya?"
"Bisalah, di dunia ini segala hal bisa saja terjadi."
"Termasuk pernikahan kita," ucap Devan sambil melipat tangan di depan dada.
__ADS_1
Arsha terdiam sejenak. "I-tu ... aku juga nggak nyangka."
"Mendekatlah." Devan menepuk sisinya yang kosong.
Arsha hanya diam saja.
"Kalau gitu aku aja yang mendekat." Pria tampan itu menggeser duduknya dan sekarang berada tepat di depan Arsha.
"Ma-u ngapain? Aku belum siap," ucap Arsha refleks sambil menutup tubuh dengan kedua tangan.
Devan tak menjawab, tetapi tangannya terangkat ke pucuk kepala Arsha. Samar Arsha mendengar ia membaca sesuatu, sementara matanya menatap Arsha lekat.
Hanya beberapa detik, lantas Devan menurunkan tangannyq ke pundak Arsha. "Semalam kamu udah tidur, jadi aku belum sempat berdoa untuk kebaikan pernikahan kita."
Arsha mengangguk-anggukan kepala. "Oh."
"Arsha ...."
"Ya?"
"Bantu aku agar bisa menjadi suami yang baik untukmu. Karena aku sadar, tidak ada yang sempurna dalam suatu hubungan. Aku masih perlu banyak belajar, pun denganmu. Aku berharap, kita bisa saling melengkapi ke depannya. Satu janjiku, aku akan berusaha selalu ada untukmu."
Wajah Arsha tiba-tiba terasa panas. Pandangan Devan pun tampak sedang menyelidik tiap inci wajahnya.
"Kamu cantik. Apalagi kalau dilepas jilbabnya."
Arsha langsung menjaga jarak lagi. "Kalau itu ... ja-ngan sekarang."
Devan tampak bingung. "Jangan-jangan kamu botak. Nggak punya rambut ya?"
"Punyalah!"
"Mana lihat?"
"I-ni." Arsha hampir saja membuka jilbab. "Ntar aku tunjukkin kalau sudah siap. Kalau nggak, ya ... besok, besoknya lagi, atau ntar lebaran....."
Devan tergelak. "Aku cuma bercanda. Jangan dipaksa kalau memang belum siap. Aku sabar menunggu, santai saja."
Arsha malah menjadi serba salah.
'Masalahnya aku memang belum terbiasa nggak pakai jilbab di depan laki-laki selain Ayah dan Kak Arka.'
"Lima tahun menunggumu aja aku kuat," lanjut Devan.
'Lima tahun?'
"Maksudnya?" tanya Arsha bingung.
Devan tiba-tiba tampak salah tingkah, ia langsung melihat jam tangannya. "Sebentar lagi subuh. Gimana kalau kita pulang aja ke rumahmu. Aku mau shalat berjamaah sama ayah mertua."
Devan beranjak dan berjalan cepat ke arah ranselnya, mengambil baju lalu seperti bersiap melepas kausnya.
"Eh, mau ngapain?" tanya Arsha kaget.
Devan sejenak menghentikan aktivitasnya. "Menurutmu?"
__ADS_1