
"Dokter... Dokter... cepat tangani istri saya." teriak Rayhan.
Rayhan telah sampai rumah sakit dan langsung membawa Izzah ke ruang unit gawat darurat.
Rayhan terlihat begitu cemas saat Izzah dibawa masuk ke ruang UGD.
"Dokter, izinkan saya masuk untuk menemani isteri saya."
"Maaf pak, silahkan pak Rayhan tunggu diluar saja. Nantinya kehadiran pak Rayhan didalam dapat mengganggu pekerjaan kami dalam menangani isteri bapak." ucap dokter lalu masuk ke ruang UGD.
Rayhan tak dapat menahan air matanya. Dia duduk bersandar didepan pintu ruang UGD.
"Ya Allah lindungi istri dan anakku, semoga mereka berdua tidak apa-apa." isak Rayhan.
Mang Diman ikut berjongkok duduk di samping Rayhan.
"Nak Rayhan yang sabar, harus kuat menghadapi ini semua. Lebih baik kita sama-sama berdoa semoga semuanya baik-baik saja." ucap mang Diman sambil mengelus punggung Rayhan.
Bi Asih dan Intan tampak menitikkan air mata. Sementara Ifan tertunduk lesu.
Yang kuat Izzah, aku yakin kamu pasti bisa melewati semua ini, gumam Ifan.
__ADS_1
Dokter Harun terlihat berlari menghampiri Rayhan.
"Ray..." panggilnya.
Rayhan mendongak lalu berdiri.
"Run isteri gue Run, isteri gue pendarahan. Lakuin sesuatu Run." ucap Rayhan terisak.
"Lu tenang dulu Ray, tenang. Izzah pasti sudah ditangani dengan baik oleh dokter didalam." ucap dokter Harun.
"Tapi gue takut Izzah kenapa-kenapa." isak Rayhan.
"Itu gunanya berdoa Ray, lu berdoa aja semoga Izzah baik-baik aja."
"Dokter gimana keadaan isteri saya?" tanya Rayhan.
"Maaf pak, bu Izzah kehilangan banyak darah, dan bayi yang dikandungan nya harus segera dikeluarkan."
"Aa..aapaa?" ucap Rayhan.
"Kami sudah melakukan yang terbaik pak untuk mempertahankan bayi bu Izzah, tapi air ketuban bu Izzah sudah pecah jadi dengan berat hati saya katakan bayi itu harus segera dikeluarkan. Kami memerlukan izin pak Rayhan untuk melakukan operasi." jelas dokter.
__ADS_1
Rayhan menatap dokter Harun.
"Relakan Ray, demi keselamatan Izzah." ucap dokter Harun.
Terdengar isak tangisan bi Asih dan Intan yang membuat hati Rayhan semakin pilu.
"Baiklah dok, segera lakukan operasi. Yang penting isteri saya selamat." ucap Rayhan dengan linangan air mata.
Maafkan ayah nak, kau harus lebih cepat lahir ke dunia ini, gumam Rayhan.
Dokter kemudian masuk kembali ke ruang operasi setelah Rayhan menandatangani surat persetujuan untuk Izzah dioperasi.
Dokter Harun mengelus pundak Rayhan yang terlihat gusar.
"Ray, sekali lagi gue katakan. Lu harus kuat demi Izzah, jangan sampai lu lemah. Hal itu malah akan membuat Izzah makin terpuruk." saran dokter Harun.
"Yang gue pikirin apa anak gue bisa selamat Run, umurnya aja baru enam bulan."
"Zaman sekarang sudah canggih Ray, lu hanya perlu berdoa aja agar anak lu bisa selamat melewati semua ini. Jika dia lahir selamat masih ada cara medis buat dia tetap bisa tumbuh meski udah gak di rahim ibunya lagi." ucap dokter Harun.
Mata Rayhan berbinar, ada sedikit harapan dari ucapan dokter Harun.
__ADS_1
"Ya gue pasti akan tetap berdoa buat keselamatan mereka berdua. Dan masalah anak gue, berapapun biayanya pasti gue bayar yang penting dia bisa selamat." ucap Rayhan seraya menyeka air matanya.
Selama satu jam lebih Rayhan terus saja mondar mandir didepan ruang UGD. Dokter Harun tetap setia mendampingi Rayhan. Sementara Ifan dan Intan serta bi Asih dan mang Diman, duduk di kursi yang tersedia didepan ruang UGD.