Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Rumah Fara


__ADS_3

Aku terbangun karena mendengar suara alarm dari ponselku. Ammar masih tidur dan aku melihat wajahnya jauh lebih tampan saat dia tertidur. Aku tengah mengagumi wajahnya yang berbaring di sampingku dan dia tiba-tiba terbangun dengan sebuah senyuman dan menyapa aku.


"Selamat pagi." Ucapnya.


Kami lalu menatap satu sama lain untuk beberapa saat.


"Selamat pagi." Balas ku.


Aku lalu bangun dari atas tempat tidur dan menyegarkan diriku dengan mandi. Setelah beberapa saat kemudian, aku berjalan keluar dari kamar mandi, sementara Ammar masih tampak berbaring di atas tempat tidur dengan menyilangkan kakinya.


"Apa kau tidak berencana untuk bangun dari atas tempat tidur itu?" Ucapku bertanya kepadanya.


"Aku mau bangun. Tapi tubuhku terasa mati rasa karena pelukanmu sepanjang malam." Ucap Ammar menggodaku.


Aku sedikit terkejut mendengarkan ucapannya itu, karena aku merasa bahwa aku tidak memeluknya semalam dan itu tidak mungkin terjadi karena aku tetap berada di sisi tempat aku tidur.


"Jangan buat alasan tidak masuk akal. Aku tidak memelukmu tadi malam dan kau bisa lihat bahwa aku masih berada di sisi tempat aku tidur saat aku terbangun pagi ini." Ucap ku seraya menggantung handuk rambut yang aku gunakan kembali ke rak.


"Itu karena aku membantumu untuk tidur dengan nyenyak dan mulai melepas mu di pagi hari agar kau tidak akan merasa malu." Ucapnya kembali dengan nada yang terdengar menggoda aku.


"Jika kau pikir bahwa itu akan terasa memalukan, kau seharusnya tidak membicarakan topik seperti ini." Ucapku.


Ammar hanya tertawa. Dia benar-benar kekanakan dan aku tahu bahwa ini belum akan berakhir. Jika aku tidak memaksanya untuk segera masuk ke dalam kamar mandi, maka dia akan terus berusaha menggodaku.


Aku berjalan mendekat ke arahnya dan menariknya untuk duduk dengan tegap.


"Mati rasa di tubuhmu itu akan segera pergi setelah kau masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Pergilah sana... Ayo cepat." Ucapku dengan memaksanya supaya segera mandi.


"Baiklah sayang, aku akan kembali dalam waktu beberapa detik." Ucapnya dan berdiri dari atas tempat tidur dan langsung memberikan kecupan kilat di bibirku lalu berlari dengan cepat ke arah kamar mandi.


Sebelum aku bisa memproses apa yang tengah terjadi, pintu kamar mandi sudah tertutup dan aku mendengar suaranya tertawa dari dalam sana. Itu adalah ciuman pertama yang aku rasakan di bibirku.


Aku lalu mengetuk pintu kamar mandi dan dia pun bertanya kepadaku.


"Apalagi sekarang Sayang?" Ucapnya.


"Hei.... kau bahkan belum menyikat gigimu dan kau berani-beraninya untuk memberikan ciuman itu di bibirku..." Ucapku.


Dia kembali tertawa kecil.


"Aku akan keluar dan bicara denganmu sayang."


Dia kembali menggunakan kata itu untuk memanggilku.


'Ada apa dengannya itu? Kenapa dia terus memanggilku sayang?'


Pikiran itu membuat aku merona. Aku merasa begitu kekanakan.


Setelah selesai mandi kami pun turun ke lantai bawah sekitar jam 07.30 dan kami membawa 4 tas untuk perjalanan bulan madu kami.


"Orang tuamu meneleponku sayang. Mereka bilang bahwa mereka sudah membuat sarapan di sana untuk kalian nikmati. Jadi jangan buat mereka menunggu. Cepatlah, kita bisa bertemu satu bulan setelah bulan madu kalian." Ucap Mama mertua kepada kami berdua.


"Aku akan merindukan Mama." Ucap Ammar.


"Iya tentu saja Mama akan merindukan menantu Mama. Jagalah dirimu dengan baik Sayang." Ucap Mama mertua mengusap kepalaku.


Ammar tampak kesal. Hal itu lantas membuat aku dan Mama mertua tertawa.


"Baiklah Ammar-ku sayang, jaga dirimu baik-baik dan kau harus menjaga menantu kesayangan Mama ini." Ucap Mama mertua ku lagi dan kali ini dengan mengusap kepala Ammar.


Ammar tersenyum dan berkata, "sampai jumpa lagi Ma, dan aku janji bahwa aku akan menjaga menantu Mama ini." Ucapnya.


Setelah itu, aku dan Ammar pun keluar dari dalam rumah dengan perasaan bahagia.


...****************...


PoV Ammar


Kami lalu naik ke dalam mobil dan mobil pun melaju dengan cepat. Fara tampak melihat kearah luar jendela.


Tiba-tiba suara ponselku berdering, aku lantas melihat siapa orang yang menelpon ku itu. Aku lalu mengangkat telepon itu.


"Tuan, meeting hari ini mengharuskan kehadiran anda. Bisakah kami menghubungi anda melalui Skype?" Ucap asistenku.


"Tentu saja kau bisa." Balas ku.


Aku lalu melihat ke arah Fara dan berkata, "aku harus menghadiri meeting melalui Skype sekarang."


"Ya tentu saja kau bisa melanjutkan pekerjaanmu." Ucap Fara dengan tersenyum.


Aku mengeluarkan laptopku dan memulai meeting itu. Aku sesekali melihat ke arah Fara. Dia tengah mengambil earphone dari dalam tasnya dan menyambungkannya dengan ponselnya.


Sudah satu setengah jam perjalanan kami menuju rumahnya dan sepanjang waktu itu aku benar-benar berkonsentrasi dengan meeting ku dan aku sesekali mencuri pandang ke arahnya. Tapi dari raut wajahnya terus saja memperlihatkan perasaan yang berubah-ubah.


Pertama, dia terlihat bahagia.


Kedua, dia tampak sedih.


Ketiga, dia terlihat kecewa dan,


Keempat dia bahagia dan seterusnya seperti itu.


Aku begitu penasaran untuk mengetahui apa yang membuat perasaannya berubah dengan begitu cepat.


Saat aku kembali melihat ke arahnya setelah meeting ku selesai, matanya tampak membulat sempurna karena rasa kebahagiaan. Dia melepaskan earphone dari telinganya dan melihat ke arahku.


'Sial! Aku ketahuan menatapnya.' pikirku yang merasa bahwa dia mendapati aku tengah memandang ke arahnya.


"Kita sudah sampai.... kita sudah tiba di rumah...." Ucapnya dengan tersenyum.


Ternyata dia tidak menyadari bahwa aku tengah menatapnya sejak tadi.


'Syukurlah. Itu hal yang melegakan untukku.'


Mobil kami pun berhenti. Kami lalu berjalan keluar dari dalam mobil. Mama nya berjalan keluar dari dalam rumah dan Fara pun berlari ke arah Mama nya dengan berteriak.


"Maaaa....."


Bagiku itu semua sangat menggemaskan.


Aku lalu berjalan ke arah belakang mobil dan mengeluarkan hadiah yang disiapkan oleh Mama ku untuk aku berikan kepada mertuaku.


Seorang pelayan datang untuk membantuku. Aku berterima kasih kepadanya dan memberikan tas lainnya sedangkan Aku sendiri juga membawa tas yang lain.


"Rumah yang indah." Ucapku saat aku melihat ke arah rumahnya.


Hal yang menarik perhatian mataku adalah balkonnya yang penuh dengan tumbuhan hijau. Aku terus saja menatap ke arah balkon itu.


"Nona Fara yang mendesainnya sendiri." Ucap pelayan itu.


Aku tidak bisa mencerna apa yang pelayan itu katakan kepadaku.


"Maaf?" Ucapku bingung meminta dia mengulang ucapannya lagi.


"Balkonnya! Nona Fara yang mendesainnya sendiri." Ucap pelayan itu lagi.

__ADS_1


"Oh terima kasih sudah mengatakannya kepadaku." Ucapku kepada pelayan itu saat Mama Mertua ku mendekat ke arahku.


"Selamat datang." Ucap Mama Mertuaku.


Aku tersenyum kepadanya dan berjalan masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Masuklah putriku dan menantu ku. Kalian cukup terlambat. Ayo kita menyantap menu sarapan yang sudah Papa siapkan untuk kalian." Ucap Papa mertuaku saat dia keluar dari sebuah ruangan yang aku rasa bahwa itu mungkin saja dapur.


"Ayo." Ucap Fara menarik tanganku mendekat ke arah meja makan.


"Masakan Papa ku adalah makanan favoritku dan Papa hanya memasak pada acara spesial dan rasanya juga sangat lezat." Ucap Fara dan kemudian dia duduk di sampingku.


Aku duduk di depan Papa mertuaku, sementara Fara duduk di depan Mama mertuaku.


"Sangat lezat." Ucapku dan aku terus menyantap makanan yang tersedia dengan mulut yang penuh dan ternyata semua menu itu disediakan oleh Papa mertua untukku.


Aku tidak pernah menyangka bahwa Papa mertua ku ternyata hebat dalam hal memasak.


Setelah selesai sarapan, Mama mertuaku meminta Fara untuk menunjukkan seisi rumah kepadaku dan aku pun hanya bisa menerimanya.


"Sekarang aku akan membawamu pergi ke tempat favoritku di rumah ini." Ucap Fara saat menarik ku ke arah balkon dari rumah itu.


Sebuah pintu kaca memisahkan rumah dan balkon. Fara mendorong pintu kaca itu keluar dan pemandangan yang sangat indah menyambut ku. Ada banyak tumbuhan yang hijau dari sisi dan kanannya. Balkonnya benar-benar indah. Ada sebuah ayunan putih dengan tempat duduk berwarna biru yang terlihat sangat nyaman. Di sana juga ada meja bundar dengan tiga kursi berwarna putih. Tanaman hijau yang menggantung di atas kepalaku membuat suasananya semakin terasa indah dan segar. Semuanya terlihat indah saat dilihat dalam jarak yang sedekat ini dibandingkan dengan saat aku melihatnya dari bawah tadi.


Aku berjalan ke arah ayunan dan duduk di sana dengan nyaman.


"Aku suka interior tempat ini. Apakah kita harus melakukan mendesain hal yang sama untuk mendekorasi rumah kita nanti?" Ucapku bertanya kepada Fara.


Fara duduk di kursi dengan meja bundar itu dan melihat ke arahku.


Kemudian dia berkata, "aku merasa bahwa ini tidak terlalu profesional. Jadi kita harus menyewa desainer profesional untuk mendesain rumah kita." Ucapku.


Fara berjalan mendekat ke arahku dan mendekatkan bibirnya ke arah telingaku dan berkata, "desainer yang mendekorasi tempat ini tidak mau mendesain rumahmu karena uang. Dia akan mendekorasi rumahmu karena ketulusan mu."


Posisinya yang mendekat secara tiba-tiba ini membuat semuanya berjalan terasa begitu perlahan. Dia tertawa dan berbalik. Tapi aku langsung menariknya dengan paksa mendekat ke arahku.


...****************...


PoV Faradina


Aku duduk di pangkuannya dan dia memegang perutku.


"Lalu bagaimana jika aku menggodanya dan menunjukkan kepadanya ketulusanku." Ucap Ammar.


'Menggoda?'


Beraninya dia mengatakan bahwa dia akan menggoda seseorang di depan istrinya sendiri.


Aku lantas memalingkan wajahku ke kiri saat aku mendengar ucapannya dan ucapannya itu terdengar menyakiti hatiku dan membuat mataku hampir saja terasa berair.


"Tidak, dia tidak akan mau tergoda kepada seorang pria yang sudah menikah." Ucapku.


Dia menaruh tangan kanannya di bawah kakiku dan menarik kakiku membuat aku duduk berhadapan di atas pangkuannya. Salah satu tangannya berada di punggungku dan satu tangan lainnya berada di kakiku. Dia seolah memegang punggung ku agar aku tidak terjatuh.


"Seorang wanita yang sudah menikah tidak bisa tergoda kepada seorang pria yang sudah menikah juga." Ucapku.


"Bahkan setelah mengetahui bahwa si penggoda itu adalah suaminya sendiri?" Tanya Ammar kepadaku.


Aku mengangkat kepalaku untuk melihat wajahnya dan bertanya kepadanya.


"Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku yang mendekorasi rumah ini padahal aku tidak mengatakan kepadamu tentang hal itu." Ucapku bingung.


"Pelayanmu yang mengatakannya kepadaku. Dia mengatakan hal itu saat aku terpesona dengan bagaimana indahnya balkon ini." Ucap Ammar dengan senyuman di bibirnya.


Dug... Dug... Dug...


"Kau terlihat menggemaskan saat kau tampak ingin menangis." Ucapnya seraya mengusap rambutku dengan tangan kirinya.


"Kau seharusnya minta maaf karena sudah membuat aku ingin menangis di hari ketiga pernikahan kita." Ucapku dengan kesal.


"Baiklah, aku minta maaf." Ucapnya memegang tangan kiri ku dengan tangan kanannya.


Aku menganggukkan kepalaku perlahan yang terasa mengusap ke arah pakaian yang dia gunakan.


Dia menaruh dagunya tepat di atas kepalaku dan mulai berkata kepadaku, "kenapa kau tidak mempelajari tentang desain dan malah memilih menjadi seorang psikiatris?"


"Itu karena aku suka desain hanya untuk mengisi waktu luang ku dimana aku bisa mengatakan hal itu sebagai hobi. Jika aku memilih itu sebagai mata kuliah profesional ku, aku bisa saja kacau dan yang paling penting aku mendesain rumah ini hanya karena ketertarikan ku dan ide yang datang ke dalam kepalaku. Karena tidak pernah ada rumah kedua yang aku rencanakan untuk bisa aku desain di masa depan." Ucapku kepada Ammar.


"Lalu bagaimana dengan rumah baru kita? Aku pikir kita bisa mendesainnya jika kau suka." Ucap Ammar padaku.


"Sebenarnya saat ini tidak ada ide apapun yang muncul dalam kepalaku. Tapi saat ide itu muncul nanti, aku akan memberitahukan kepadamu. Jadi sewa saja seorang profesional desainer yang bisa membantu kita untuk mendesain apa yang kita suka." Ucapku memberikan saran kepada Ammar dan dia pun menerima saran ku itu.


...****************...


Ponsel terdengar berdering yang membangunkan aku. Tubuhku benar-benar mati rasa. Apa yang terjadi sebenarnya?


"Ahh..."


Sebuah suara yang keras terdengar dari atas kepalaku.


Aku pun mengingat bahwa kami tengah mengobrol saat duduk di atas ayunan, tidak lebih tepatnya dia tengah memeluk aku di atas ayunan dan kami pun tertidur.


"Ponselku berdering tapi tanganku begitu mati rasa. Aku bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhku." Ucapku dengan suara yang masih mengantuk.


"Baiklah di mana ponselmu?" Tanya Ammar.


Aku pun menjawabnya bahwa ponselku berada di saku sebelah kiri.


Ammar lalu melepaskan tangan kiri ku dan dia langsung beralih ke arah sisi kanan kantong celanaku dan mengambil ponselku dan dia langsung menjawab panggilan itu kemudian menaruh ponsel di telinga sebelah kiri ku.


"Halo." Ucapku.


"Sayang, sekarang sudah jam 01.00 siang. Jadi kita harus makan sekarang. Kalian bisa melanjutkan kemesraan kalian nanti." Ucap Mama menggodaku.


"Ma, kami akan segera datang dan sebagai informasi untuk Mama, kami hanya duduk dan tertidur." Ucapku kepada Mama dengan wajahku yang terasa memanas saat ini.


"Baiklah. Ayo cepat turun." Ucap Mama lalu memutuskan sambungan telepon.


"Itu adalah Mama yang menelpon kita, mengajak kita untuk makan siang." Ucapku kepada Ammar.


Ammar pun berkata, "aku mendengar semuanya karena volume di ponselmu cukup keras." Ucap Ammar tertawa.


Ammar lalu membantu aku untuk berdiri tegak dan dia juga berdiri tegak. Setelah meregangkan otot kakinya karena tubuhnya juga mati rasa disebabkan aku yang duduk di atas tubuhnya. Dia membuka dan menutup jemarinya seolah tengah memberikan jemarinya itu kekuatan agar bisa terlepas dari mati rasa di tangannya itu.


Aku terus menggerakkan tangan kananku dan dia memegang tanganku dengan tangan kirinya.


"Ayo pergi." Ucapnya seraya menarik ku dan aku pun berjalan di sampingnya.


"Ammar, sekarang kau bisa mencoba makanan yang dibuat oleh Mama mertuamu." Ucap Papa kepada Ammar.


"Cobalah makanan yang Mama buat, rasanya benar-benar menakjubkan." Ucapku.


"Jadi makanan siapa yang lebih kau sukai? Makanan yang dibuat Mama mu atau Papa mu karena kau terdengar memuji keduanya?" Tanya Ammar kepadaku.


"Sebenarnya aku menyukai masakan yang dibuat oleh keduanya. Tapi makanan yang dimasak oleh Papa sedikit spesial dan karena Papa hanya memasaknya di waktu yang tertentu saja." Ucapku tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah, balik lah. Kalian berdua ayo mulailah makan." Ucap Mama kepada kami.


...****************...


PoV Ammar


Kami pun selesai makan siang...


"Ayo biarkan aku menunjukkan kepadamu beberapa kamar yang ada di sini." Ucap Fara dan menarik ku ke lantai atas.


"Taaaaraaaa....." Ucap Fara dengan begitu bahagia membuka kamar itu.


Kamar yang aku lihat sekarang adalah kamar miliknya. Kamar itu bernuansa lavender dan ada sofa di sisi ruangan yang berwarna lavender juga dan ada beberapa kotak yang mengelilingi tempat tidur yang sebenarnya di dalam kotak itu terdapat ada banyak mainan.


Di sisi lain ada sebuah pintu dorong yang juga merupakan jendela untuk bisa memberikan pemandangan kepada seseorang yang duduk di sana untuk minum kopi. Di dinding di atas tempat tidur ada foto candid dari dirinya yang tersenyum begitu ceria.


Sisi sebelah kiri kamar ada sebuah televisi dan beberapa foto dirinya. Aku juga bisa melihat ada foto dirinya dan juga keluarganya di sana.


"Yang ini?" Ucapku menunjuk ke arah sebuah foto.


"Itu adalah saat aku menyiapkan piknik di lantai atas yang dibantu oleh para pelayan." Ucapnya padaku.


"Kau masih begitu kecil saat itu." Balas ku.


Dia tertawa dan menarik ku keluar dari dalam kamarnya.


"Aku akan menunjukkan tempat di foto itu." Ucapnya padaku.


Dia lantas membawa aku naik ke lantai atas tepatnya di roof top rumahnya. Ada sebuah tenda yang didekorasi dengan beberapa mainan anak-anak. Ada dua buah boneka teddy bear di dalam tenda itu dan juga ada beberapa peralatan untuk piknik di samping tenda itu.


"Papa bilang untuk tidak mengubah semua ini karena ini begitu indah dan memberikan kenangan bahagia bagi kami." Ucapnya padaku. "Aku biasa datang kemari untuk memandang bintang-bintang saat tidak ada hujan." Ucapnya.


"Kapan terakhir kali kau duduk di sini dan menikmati bintang saat tidak ada hujan?" Ucapku bertanya kepadanya.


Aku melihat kearahnya dan ada tatapan kesedihan dari dalam matanya.


"Saat aku berada di kelas 12 di masa sekolah. Setelah itu aku pindah untuk kuliah dan jarang kembali ke rumah." Ucapnya.


Aku mencoba mencari cara untuk membuatnya tersenyum. Aku lantas melihat ada beberapa bunga yang ada di roof top itu. Aku pun memiliki ide untuk membuatnya kembali ceria.


"Biarkan aku yang menyiram tanamannya." Ucapku dan membuka selang yang ada disana.


Air pun keluar dan aku dengan sengaja mengarahkan air itu ke tubuhnya. Dia pun berteriak kesal. Aku hanya bisa tertawa dan meminta maaf kepadanya. Dia lalu merampas selang itu di tanganku dan mulai menyemprotkannya ke arahku.


"Tidak.... tidak... aku sudah mengatakan minta maaf. Itu tidak disengaja. Tapi kau melakukannya dengan sengaja." Ucapku tertawa.


"Kita akan tahu semuanya jika itu disengaja atau tidak." Ucap Fara kepadaku tertawa dan mencoba untuk menggelitik ku.


"Baiklah... baiklah... itu memang disengaja." Ucapku menyerah karena aku merasa sudah kehilangan nafas.


"Itu sangat baik untuk didengar." Ucap Fara. "Oke baiklah. Ayo istirahat sebentar. Kita tidak ingin menghabiskan waktu bulan madu kita karena merasakan flu dan batuk bukan?" Ucap nya kepadaku.


Aku lalu memegang kepalanya dan mengusapnya dengan perlahan.


...****************...


PoV Faradina


Aku berjalan keluar dari dalam kamar mandi dengan sebuah handuk di tanganku dan aku melihat Ammar tengah menggunakan ponselnya.


"Kau belum juga mengeringkan rambutmu, kau malah terus memainkan ponselmu." Ucapku mendekat ke arahnya dan mengambil ponselnya dari tangannya dan menaruhnya di atas sofa.


Aku lalu duduk dibelakangnya dan aku mulai untuk mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Kesehatan jauh lebih penting dibandingkan dengan kau yang terus memainkan ponselmu itu." Ucapku dan dia terdengar tertawa.


"Untuk apa tawamu itu?" Tanyaku kepadanya dan melihat ke arah matanya melalui cermin yang ada di hadapan kami.


Dia tersenyum menatapku melalui cermin. Aku menaikkan alisku dengan seolah tengah bertanya kepadanya, ada apa dengannya. Tapi dia hanya menggelengkan kepalanya. Aku lalu memutar kepalanya ke arah kiri dan melihat ke arah matanya.


'Dia sangat menggemaskan.'


Aku melihat ke arah matanya yang membuat aku merasa seolah tengah menyelam begitu dalam dan matanya itu seolah mengatakan kepadaku tentang ada cerita yang begitu banyak. Aku mendekat ke arahnya dengan menutup mataku dan aku menaruh bibirku di bibirnya.


Aku langsung tersadar dengan membuka mataku dan aku melihat dia juga membuka matanya. Dia lalu melihat ke arahku dengan wajah yang tampak terkejut.


Adrenalin dalam tubuhku terasa berlari. Aku langsung berbalik dan hendak membuat langkah untuk pergi. Tapi sebuah tarikan paksa darinya yang membuat aku terduduk kembali di kursi itu.


Dia memegang wajahku dan membuat aku melihat ke arah matanya. Dia pun tersenyum. Dia lalu menaruh tangannya di pangkuanku dan menarik aku mendekat ke arahnya. Dia sama sekali tidak mengalihkan tatapan matanya. Dia mendekat ke arahku dan menaruh bibir lembutnya di bibirku. Aku menutup mataku dan membiarkan dia mencium aku.


Hanya saat aku hampir terasa tidak bisa bernapas, dia pun melepaskan aku dan aku langsung menarik nafas ku yang sudah terengah-engah. Dia lalu tersenyum ke arahku.


"Beginilah caranya kau berciuman. Bukan hanya memberikan sebuah kecupan dengan begitu cepat." Ucapnya.


Pipiku terasa merona. Dia lalu berdiri dari atas kursi itu dan berjalan ke arah lemari, sementara aku masih duduk di kursi itu. Sesaat kemudian, aku lalu mengikuti dirinya.


"Aku rasa akan lebih baik jika kita tidur di kamar tamu." Ucapnya.


"Kenapa begitu?" Tanyaku dengan bingung.


Dia menunjuk ke arah tempat tidur dan berkata, "apakah kau pikir kita bisa tidur dengan ada banyak mainan di atas tempat tidur?"


"Aku biasa tidur dengan mainan itu di atas tempat tidur." Ucapku karena merasa kenapa hal itu bisa mengganggu kami.


"Sayang.... itu bukan hanya satu atau dua mainan yang kau miliki. Tapi ada lebih dari 20 mainan dan jika kita harus tidur di sana, kita harus saling berdesakan dan memeluk satu sama lain." Ucapnya.


"Oh, aku mengerti. Tapi tidak ada kamar tamu lagi di rumah ini." Ucapku.


"Apa? Tapi aku melihat ada banyak kamar di rumah ini." Tanya Ammar kepadaku.


"Oh itu karena aku merubah kamar tamu menjadi beberapa kamar berbeda dan di sini tidak ada kamar tamu karena tidak ada orang yang mengunjungi rumah kami sampai menginap. Meski aku punya kakak laki-laki dan juga sepupu serta anggota keluarga lainnya, mereka tidak pernah menginap di rumah ini. Justru kamilah yang lebih sering menginap di rumah mereka." Ucapku tersenyum.


"Kamar yang berbeda? Maksudnya?" Tanya Ammar dengan wajah yang tampak bingung.


"Iya, ayo biarkan aku menunjukkan semuanya kepadamu." Ucapku menariknya keluar dari dalam kamarku.


Kamar pertama, aku ubah menjadi perpustakaan pribadi.


Kamar kedua, jadi studio.


Kamar ketiga, sebagai teater dan,


Kamar keempat sebagai ruang musik.


"Jadi kau merubah setiap kamar sesuai dengan apa yang kau sukai?" Tanya Ammar kepadaku.


"Iya." Balas ku.


"Apakah kau tahu bagaimana caranya memainkan piano?" Tanya Ammar lagi kepadaku.


Aku tersenyum canggung ke arahnya dan berkata, "tidak. Aku ingin belajar, tapi aku tidak punya waktu. Jadi aku hanya bisa memainkan lagu twinkle twinkle little star."


"Baiklah, aku tahu di mana tempat yang akan bisa membuat kita tidur dengan nyenyak." Ucap Ammar dan langsung menarik ku keluar dari dalam kamar itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2