
Keesokan paginya....
Saat aku terbangun, Dafa sudah selesai mandi dan mengenakan pakaiannya. Dia melihat ke arahku dengan ekspresi wajah yang penuh pertanyaan.
"Apa yang sudah terjadi kepada kita semalam? Bagaimana kita bisa tiba-tiba ada di sini?" Tanya Dafa.
Maaf Dafa, bahkan jika aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu, kau pasti tidak akan percaya kepadaku. Jadi aku harus berbohong padamu saat ini.
"Aku juga tidak tahu. Aku merasa pusing setelah meminum jus jeruk itu dan kemudian aku menemukan diriku di sini. Seseorang pasti sudah membawa kita kemari." Ucapku.
"Oh, ngomong-ngomong di mana Mila? Aku ingat bahwa dia juga meminum jus itu. Apa dia baik-baik saja?" Ucap Dafa yang tampak panik.
"Mungkin dia berada di kamar 45 atau 44. Aku tidak ingat." Ucapku berpura-pura.
"Ayo kita pergi melihatnya." Ucap Dafa.
Aku lalu mandi lebih dulu sebentar dan mengganti pakaianku, kemudian pergi bersama Dafa. Kami lalu membuka kamar nomor 45, tapi tidak ada orang di sana. Saat kami beralih untuk membuka kamar nomor 44 dan...
"Apa-apaan ini?" Ucap Dafa tampak begitu terkejut.
Mila terlihat tengah tertidur di atas tempat tidur tanpa mengenakan pakaian bersama dua orang pria yang ada di sampingnya.
'hehehe, apakah kau menyukai hadiah dariku ini Mila?'
Aku berpura-pura untuk terkejut juga dan melihat Mila yang tampak terbangun kemudian...
"Apa yang terjadi di sini?" Ucap Mila m.
Kedua pria itu juga bangun. Dan salah satu dari mereka berkata, "Mila kembalilah tidur. Semalam begitu menakjubkan."
Mila melihat ke arahku dan Dafa. Aku bisa melihat dengan jelas dia tampak begitu ketakutan.
"Dafa, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Aku mabuk semalam dan mereka melecehkan aku. Aku begitu sedih." Ucap Mila.
Aku melihat ke arah wajah Dafa, dia tampak terkejut dan juga kecewa.
__ADS_1
'Dafa, jangan katakan kepadaku bahwa kau masih percaya kepada wanita busuk itu.'
"Jangan khawatir Mila, aku akan membuat kedua orang biadab ini menghilang dengan cepat pucat dari muka bumi ini." Ucap Dafa.
Aku tidak bisa mempercayai apa yang aku dengar. Dafa benar-benar masih percaya kepada wanita rubah itu.
'Tidak... tidak kali ini Mila. Kau mau membuat para pria itu melecehkan aku dan kau ingin melakukannya dengan Dafa. Aku tidak bisa melepaskan semua ini, tidak lagi.' ucapku dalam hati.
"Dasar laki-laki biadab. Kenapa kalian berdua melecehkan dia? Kalian berdua akan pergi ke penjara sekarang." Ucapku dengan mendramatisir keadaan.
Kedua pria itu tampak terkejut dan salah satu dari mereka pun mulai berkata kepadaku.
"Tidak seperti itu, Mila lah yang sudah meminta kami untuk melecehkan dirimu. Tapi kami masuk ke dalam kamar yang salah. Bagaimana dia bisa menyalahkan kami sekarang?" Ucap pria itu.
Wajah Dafa tampak begitu terkejut setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh pria itu. Dia pun menatap ke arah Mila kembali dengan tatapan mata yang penuh tanda tanya.
"Mila, apakah itu benar?" Tanya Dafa.
"Tidak Dafa, kau tidak boleh mempercayai mereka. Aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Mereka berbohong." Balas Mila.
Salah satu dari pria itu menggelengkan kepalanya dan dia pun berkata, "hemmmm kau memang pembohong yang hebat. Inilah rekaman suaramu." Ucap pria itu.
"Untuk uang 10 juta ini, kalian harus melecehkan wanita yang akan makan malam bersamaku malam ini. Kalian juga harus merekam semua kejadiannya. Aku mau wanita ****** itu kehilangan wajahnya."
"Setuju."
Rekaman itu memperdengarkan suara Mila dan juga kedua pria itu yang membuktikan semuanya bahwa Mila memang orang yang bersalah. Aku lalu melihat ke arah Dafa, wajahnya tampak memerah dan dia begitu marah.
"Mila, aku sudah memberikanmu kesempatan lainnya. Tapi kau bahkan mencoba untuk melecehkan Sheila. Kita tidak akan berteman lagi." Ucap Dafa.
Dafa pun mengambil ponselnya. Dia pun menelpon polisi.
"Dafa kumohon jangan telepon polisi reputasi ku dipertaruhkan sekarang." Ucap Mila memohon.
"Kau pantas mendapatkannya Mila." Balas Dafa kemudian.
__ADS_1
Setelah polisi datang membawa Mila dan kedua pria itu, tentu saja keluarga Mila bisa membantu Mila untuk keluar dari masalah itu. Tapi setidaknya reputasi Mila sudah rusak.
Kami akhirnya kembali ke kota. Dafa tidak mengatakan apapun kepadaku. Dia pasti merasa bersalah. Sekarang kami berada di dalam mobil aku mendekat ke arahnya dan aku memeluknya.
"Aku tidak menyalahkan mu?" Ucapku.
"Benarkah?" Tanya Dafa.
"Benar." Balas ku.
Aku lalu mencium Dafa, sopir melihat ke arah kami dengan tatapan yang canggung.
"Bisakah kalian tidak memanasi orang lajang seperti aku." Ucap sopir yang masih tampak muda itu.
Aku dan Dafa melihat satu sama lain dan tertawa. Akhirnya Dafa kembali normal lagi tidak seperti tadi yang terus saja tampak murung.
Dafa menemani aku pulang ke rumah. Aku bisa bernapas lega. Sebenarnya itu adalah liburan yang normal, tapi Mila datang dan mengacaukan semuanya. Tapi setidaknya sekarang, dia sudah mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan.
Aku melihat Kakak tengah membaca koran. Aku lantas mendekat ke arah Kakak dan berkata,
"Apa yang tengah Kakak baca?" Tanyaku.
"Oh selamat datang kembali. Kau bisa melihatnya sendiri." Ucap Kakak.
Aku melihat ke arah artikel itu dengan judul Surya dan Rio group sebentar lagi akan mengalami kebangkrutan dan sebuah masalah baru mulai muncul begitu cepat.
"Ini semua karena grup Wijaya yang sudah membantu kita. Kekasihmu itu sangat mencintaimu." Ucap Kakak.
"Itulah dia." Ucapku.
"Kalau begitu, bagaimana tentang masalah kematian orang tua kita Kak?" Tanyaku.
"Iya, polisi sudah menginvestigasinya sekarang. Sebentar lagi kebenaran akan terungkap." Ucap kakak.
"Aku begitu bahagia, akhirnya kita bisa membalas kematian orang tua kita." Ucapku.
__ADS_1
Malam itu aku tidur dengan begitu nyenyak, jika Dafa mendengar suara dengkuran ku dia pasti akan menyebut aku sebagai seekor kucing.
Bersambung....