
"Arrrrrggghhh....Mas Rayhan kenapa gak pulang-pulang sih? Gimana caranya bisa tidur bareng kalau dia gak ada disini. Boro-boro bisa hamil, disentuh aja gak pernah." ucap Ana mendengkus kesal.
Ana tengah berbaring di kamarnya menunggu kedatangan Rayhan. Namun orang yang ditungguinya tak kunjung datang.
"Keluar kamar gak bisa, mau ketemu Mas Surya juga gak mungkin. Aduuuuhh."
Ana mengambil ponselnya yang ia simpan rapi di dalam tasnya. Selama ini Ana menyembunyikan keberadaan ponsel tersebut dari Rayhan karena tak ingin ketahuan berpura-pura buta.
Ana membuka akun miliknya mencari akun milik Rayhan. Setelah didapatnya, Ana memandangi foto-foto masa lalu Rayhan yang berpose sendirian. Karena kebanyakan foto Rayhan yang sekarang selalu bersama Izzah ataupun kedua bayi kembarnya.
Ada satu foto yang membuat darah Ana berdesir. Foto tersebut menunjukkan Rayhan yang tengah berolahraga di gym. Menampilkan dada bidang dan otot perut Rayhan.
"Ya Tuhann, Mas Rayhan ganteng banget. Gak kayak Mas Surya item dekil, udah tua pula. Kalau aja dulu aku gak tergoda gara-gara dikasih uang mungkin sampai sekarang aku masih gadis perawan."
Ana menghela nafas kasar.
"Hmmm tapi biar bagaimanapun jeleknya, Mas Surya tetap yang terhebat. Permainannya benar-benar memuaskan. Aahh, jadi rindu." desis Ana.
Gadis yang masih berusia sembilan belas tahun itu meraba anggota tubuhnya sendiri sambil terus memandangi foto Rayhan.
"Emmhh Mas Rayhan, kapan aku bisa memuaskanmu." desah Ana.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, menampilkan nama Mas Surya.
Kebetulan banget, gumam Ana.
[Halo Mas, aaahh aku rindu.] ucap Ana tanpa basa-basi.
__ADS_1
[Waahh sayang, aku juga rindu. Pasti si pengusaha itu belum nyentuh kamu ya?] balas Pak Surya.
[Iya Mas, bayangin satu bulan lebih aku gak main Mas. Udah kering banget ini.]
[Kebetulan banget sayang, aku ada pekerjaan yang akan memuaskan kamu.]
[Pekerjaan? Aduh Mas gimana sih, aku kan gak bisa keluar rumah.]
[Kita pikirin caranya nanti. Kamu tau gak bayarannya lima puluh juta.]
[Lima puluh juta?] ucap Ana terbelalak.
[Iya, lima puluh juta. Main sama tiga orang, kayaknya sih pengusaha kaya. Soalnya pakai jas, tapi aku harus ikut di kamar itu buat nontonin dan videoin kamu.]
[Apa? Di videokan? Gak Mas, aku gak mau. Bisa tersebar nanti sampai kampung ku. Apa kata orang tua aku nanti.]
[Loh kok empat, tadi Mas bilang tiga.]
[Siapa tau mereka ngajak aku join sayang, kan enak tuh.]
[Waahh boleh juga tuh Mas. Eeemmmhh jadi pengen.] desah Ana.
[Sabar sayang, besok kamu bakalan puas.]
[Eemmmhh iya Mas.]
Dasar wanita nafsuan, gumam Pak Surya menyeringai.
__ADS_1
[Oh iya Mas, tapi gimana caranya aku bisa keluar rumah. Sedangkan sekarang aku kan lagi pura-pura buta.]
[Tenang aja, biar aku yang atur. Pokoknya besok jam tujuh pagi kamu harus siap-siap.]
[Pagi banget Mas.]
[Kan harus pulang dulu sayang, buat ganti baju.]
[Iya-iya.]
Sambungan telepon pun terputus.
Pak Surya lelaki berusia empat puluh tahun itu tertawa di dalam kamar kosnya.
"Gak sia-sia dulu ku goda si Ana, sekarang dia menjadi mesin pencetak uang untukku. Hahahaha."
Dahulu Ana hanyalah gadis polos nan mandiri. Ana memutuskan meninggalkan kampung halamannya saat tamat SMP, untuk mengadu nasib di ibu kota. Ana mengikuti tetangganya yang bekerja sebagai pembantu.
Pertama kali sampai di ibu kota, Ana bekerja dengan berjualan menjajakan kue di terminal-terminal. Dengan uang tabungannya yang selama itu dia kumpulkan saat di kampung, Ana bisa mendaftar SMA. Hingga Ana harus berjualan setiap harinya sepulang sekolah.
Pertemuannya dengan Pak Surya secara tak sengaja di terminal. Ana yang saat itu terlihat ranum membuat Pak Surya gelap mata. Ana diajaknya menuju kosnya dengan alasan mengambil uang bayaran kue yang dijajakan Ana.
Di kos itulah aksi bejat Pak Surya dilakukan. Ana harus merelakan mahkota kesuciannya pada laki-laki bertubuh kekar itu. Namun karena bujuk rayu Pak Surya dengan mengimingi Ana uang, membuat gadis lugu itu terpedaya.
Sejak saat itu Ana menjadi budak nafsu dari Pak Surya. Ana gadis desa yang begitu polos berubah menjadi liar. Ana bahkan mengikuti permintaan Pak Surya untuk memuaskan nafsu lelaki hidung belang lainnya dengan iming-iming uang. Dengan syarat setelah lulus SMA, Pak Surya harus bersedia menikahi Ana.
Hingga saat ini, Ana menjadi wanita yang haus akan sentuhan laki-laki.
__ADS_1