
Menu makan malam sudah terhidangkan di meja makan. Satu persatu orang keluar dari kamar menuju meja makan. Pak Haris, bu Novi dan Hani sudah duduk menghadap meja makan.
"Ayo dong Yah kita makan, Hani udah lapar nih." celetuk Hani yang hendak mengambil sendok nasi.
Lastri yang tengah meletakkan air minum di atas meja, memukul tangan Hani.
"Mohon maaf ya nona, setidaknya anda tau sopan santun. Tuan dan nyonya rumah belum datang ke meja makan, jadi seharusnya anda menunggu mereka terlebih dahulu." ucap Lastri.
"Kamu itu yaahh..." ucap Hani geram.
"Sudah-sudah, dia itu benar, kamu yang salah Hani. Tunggu dulu sampai Rayhan dan Izzah datang baru makan." ucap pak Haris.
Lastri tersenyum meledek ke arah Hani.
"Iihhh awas kau ya." gumam Hani.
"Lagian kamu kayak orang gak makan lima hari aja, pake acara gak sabaran segala. Bikin ibu malu aja kamu ini." ucap bu Novi yang semakin membuat Hani kesal
Rayhan dan Izzah akhirnya turun dari kamar menuju meja makan.
"Maaf ya semuanya membuat lama menunggu." sapa Rayhan.
"Tadi bang Rayhan ada telepon penting dari klien bisnisnya." lanjut Izzah seraya menyendok kan nasi ke piring Rayhan.
"Iya gak apa-apa." jawab pak Haris.
"Ya sudah ayo dimakan." ucap Rayhan.
Mereka semua akhirnya menikmati hidangan yang dimasak Izzah. Rayhan mengulum senyum puas.
"Sayang, masakan mu selalu saja enak." puji Rayhan.
"Terima kasih bang. Lastri juga ikut membantu kok." lanjut Izzah.
Tengah asyik menikmati hidangan, suara bel rumah berbunyi. Dengan segera Lastri berlarian dari dalam dapur menuju pintu utama. Bu Ros berdiri membelakangi pintu saat Lastri membukanya.
"Kamu siapa ya?" tanya bu Ros menatap Lastri dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
Lastri menimbang-nimbang bahasa yang akan digunakan melihat dari penampilan bu Ros yang terlihat elegan.
"Saya ART disini bu, ibu ada keperluan sama Tuan Rayhan? Karena sekarang Tuan Rayhan tengah makan malam bersama keluarga Nyonya Izzah. Silahkan ibu masuk dulu. Biar saya panggilkan." jawab Lastri.
Tanpa basa basi bu Ros langsung tancap masuk ke dalam rumah, membuat Lastri ketakutan. Karena Rayhan pernah berpesan jika dia sedang makan tak ada siapapun yang boleh mengganggunya.
"Aduh ibu ini siapa sih? Main nyelonong aja, bisa ngamuk ini Tuan Rayhan." gumam Lastri.
Saat menghampiri meja makan pandangan bu Ros mengarah pada keluarga Izzah. Izzah yang melihat kedatangan bu Ros segera berdiri menghampirinya dan langsung mencium tangan bu Ros.
Lastri yang celingukan akhirnya bisa bernapas lega karena ternyata wanita yang diikutinya ternyata orang tua dari majikannya.
"Mami kesini sama siapa? Kenapa gak bilang-bilang?" tanya Izzah menggandeng bu Ros menuju kursi kosong yang ada di samping Rayhan.
"Iya nih mami, bikin kaget aja." Rayhan menambahkan.
"Biar jadi kejutan." balas bu Ros. "Ngomong-ngomong kalian kenapa gak ngasih tau mami kalau besan mami datang hari ini?" lanjut bu Ros.
"Maaf mi, sebenarnya Ray mau ngajak mereka besok pagi ke rumah, biar sekalian ketemu sama keluarga yang lain." jawab Rayhan. "Mami udah makan belum? Ayo cobain opor ayam buatan Izzah, enak banget mi." lanjut Rayhan.
"Boleh." jawab bu Ros.
Kini bu Ros tak lagi memandang rendah pada orang-orang yang berada di bawahnya.
Bu Ros tengah membahas tentang acara pernikahan Rayhan dan Izzah bersama pak Haris dan bu Novi. Izzah yang duduk agak jauh dari mereka bertanya pada Rayhan.
"Bang, bagaimana agenda persidangan abang dengan Bella?"
"Hmmm semuanya berjalan lancar." jawab Rayhan.
"Bukannya abang gak pernah menghadiri sidang itu?" tanya Izzah lagi.
"Abang malas ketemu Bella sayang, semuanya sudah abang serahkan pada pengacara abang. Toh juga sidang yang pertama waktu itu agendanya mediasi. Apalagi yang perlu di mediasi, abang kan sudah memang mau menceraikan Bella." jelas Rayhan.
Izzah memandang Rayhan dengan lekat.
"Sebenarnya Izzah kasihan bang sama Bella. Dia itu benar-benar cinta sama abang. Dia bahkan dulu sering nangis saat menceritakan tentang abang pada Izzah."
__ADS_1
"Abang heran sama Izzah. Perempuan lain itu gak bakal ada yang membela madunya. Ini kok Izzah malah kesannya mau membuat abang batal menceraikan Bella." ucap Rayhan.
Izzah hanya menghela nafas panjang.
"Sayang....dengerin abang. Mana ada perempuan di dunia ini yang rela untuk di madu sayang. Dan misalnya nih ya, kalaupun Izzah ikhlas bermadu abang tetap gak mau. Karena abang takut gak bisa adil sayang. Abang gak mau berbuat dzolim pada isteri abang yang lain. Sementara cinta, jiwa dan raga abang hanya untuk Izzah seorang." ucap Rayhan menggoda Izzah dengan mencubit hidung Izzah.
"Ih abang..." rintih Izzah.
"Sudah ya, jangan lagi bahas tentang Bella atau bermadu. Punya isteri satu saja abang sudah mendapatkan semua kebahagiaan, jadi untuk apa punya isteri yang lain."
Izzah tersenyum mendengar jawaban Rayhan. Dari balik tembok ruang keluarga, Lastri menguping pembicaraan Rayhan dan Izzah.
"Ooohh jadi Tuan Rayhan pernah nikah sama orang lain. Hmmmm... gak menutup kemungkinan nantinya kalau si Izzah itu bakal jadi maduku. Hihihihi." ucap Lastri.
Hana yang tengah berjalan menuju kamarnya melihat gerak-gerik Lastri.
"Heh.. ngapain kamu disini? Lagi nguping pembicaraan kak Izzah dengan kakak ipar ya?" teriak Hani.
Semua orang mendengar suara Hani membentak Lastri. Merekapun mendekat ke arah Hani.
"Ada apalagi sih kalian?" tanya Rayhan.
"Ini kak, pembantu kakak ini gerak-geriknya mencurigakan. Tadi Hani liat dia kayak lagi nguping pembicaraannya kakak ipar dengan kak Izzah." jawab Hani.
"Gak Tuan, non Hani salah paham. Saya saya...saya... hanya..."
"Sudah cukup." potong Rayhan. "Lebih baik kamu ke belakang sana. Beresin pekerjaan kamu. Dan kamu Hani silahkan ke kamar kamu untuk istirahat." perintah Rayhan.
"Baik kak." jawab Hani berlalu.
Izzah menatap punggung Lastri yang berjalan ke belakang.
"Memang ada yang salah tentang Lastri." gumam Izzah. "Semoga saja aku salah."
"Ya sudah kalau gitu mami pamit ya, udah larut ini. Pak Haris, bu Novi saya tunggu kedatangannya besok di rumah." ucap bu Ros.
"Baik bu." jawab pak Haris dan bu Novi bersamaan.
__ADS_1
Rayhan dan Izzah bergantian mencium tangan bu Ros sebelum dia keluar rumah. Setelah bu Ros pergi pak Haris dan bu Novi masuk ke kamar mereka. Begitu juga dengan Rayhan dan Izzah, mereka bergandeng tangan dengan mesra menaiki anak tangga menuju kamar mereka.
Dari jauh nampak sepasang mata terus memperhatikan langkah mereka berdua dengan nafas yang memburu, ada rasa cemburu tidak terima dengan kemesraan yang dilakukan Izzah dan Rayhan.