Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Bakar-bakar


__ADS_3

Mobil Arka berhenti saat lampu lalu lintas di depan berwarna merah.


Ia menatap ke arah spion depan. "Apa katanya tadi? Keriput? Wajah ganteng gini mana bisa keriputan. Ini wajah yang membuat wanita diluaran sana klepek-klepek. Ahh, aku memang sangat tampan," ucapnya sombong sambil terus bercermin.


"Dan apa katanya tadi? Calon istri? Kayak aku mau aja sama dia.." Arka masih terus mengomel sendiri, dengan sesekali menyugar rambut hitamnya. "Sungguh tampan ciptaan Tuhan yang satu ini."


Sedetik kemudian Arka terperanjat, suara klakson dari arah belakang membuatnya kaget. "Sial!" Ternyata lampu telah berubah hijau dan ia malah asik mematut wajah di spion.


"Ini semua gara-gara Nabila!" umpatnya seraya menjalankan mobil dengan kesal.


****************************


Malam harinya rumah kediaman Rayhan dan Izzah terasa berbeda. Nabila diminta tinggal malam ini untuk acara bakar-bakar. Secara kebetulan Devan juga datang berkunjung. Sementara Arka belum juga menampakkan batang hidungnya.


Para lelaki, Rayhan, Devan dan Mang Diman tengah mempersiapkan tempat barbeqeu di belakang rumah. Sementara Arsha, dan Nabila berada di dapur tengah meracik bumbu bakaran bersama Izzah.


"Devan anaknya baik, ya Sha," ucap Izzah.


"Ibu belum tahu aja dulu dia kayak gimana," balas Arsha sambil menuangkan kecap di bumbu yang sudah dihaluskan.


"Jangan nilai orang dari masa lalunya Sha. Bisa aja sekarang dia udah berubah. Itik aja awalnya buruk rupa, bisa jadi angsa yang cantik." ucap Nabila ikit berkomentar.


"Nah, ini Nabila aja tau." balas Izzah.


"Itik mah itik aja, mana bisa berubah jadi angsa. Itu cuma dongeng." Arsha masih saja berpendapat kalau Devan masih sama seperti dulu. Buaya darat dan pengkoleksi asrama wanita.


Izzah dan Nabila terkekeh. "Jadi kamu mau nolak Devan?" tanya Izzah.


Arsha terdiam, ia terlihat bingung.


Kalau diterima takut sakit hati, kalau ditolak kok sayang. Tetapi kemarin sewaktu salat istikharah, ada tanda-tanda condong ke dia.

__ADS_1


"Kalau emang mau nolak, bilang dari sekarang, biar dia tidak berharap juga. Laki-laki itu juga butuh kepastian, kalau ditolak mereka bisa cari yang lain." Izzah mengajak Nabila ke belakang sambil membawa beberapa piring di tangan."


"Dipikir mateng-mateng dan segera kasih keputusan, oke?" Izzah mengedipkan satu mata, lalu beranjak ke halaman belakang disusul Nabila.


Arsha hanya menggeleng-gelengkan kepala seraya tersenyum. Arsha pun kembali fokus meracik bumbu tadi.


"Assalamualaikum! Any body home? Ariel Noah pulang nih? Pada kemana ya kok sepi banget."


Tanpa melihat siapa yang berteriak dari luar, Arsha sudah tahu siapa yang datang.


Arka.


"Ibu, Ayah, Arsha, Kakek kalian ada di mana?" Ia berteriak lagi.


"Waalaikumsalam, di dapur!" jawab Arsha setengah teriak.


"Pada kemana sih semua orang, tadi pintu depan juga gak ditutup. Nih aku bawain buah, pesanan ayah tadi." ucap Arka.


"Makasih, ya, Ariel Noah."


"Pada bakar-bakaran tuh di belakang."


"Termasuk pemilik motor di depan?" Wajahnya mendadak berubah.


"Iya." Arsha melenggang meninggalkan dapur sambil membawa bumbu tadi. Arka mengikuti.


"Kenapa gak disuruh pulang aja sih tuh cewek bikin rusuh. Aku gak...." Suara Arka yang tadi meninggi mendadak terhenti..


Arsha melihat Arka yang ternyata tengah menatap Nabila, sedangkan yang ditatap masih asyik membantu Izzah menyiapkan piring-piring diatas meja.


"Udah pulang Ka? Udah beli buah pesanan ayah tadi. Kita mau bakar-bakaran ini, mumpung kedua calon mantu ada disini." ucap Rayhan.

__ADS_1


Arka langsung berjalan menghampiri Rayhan dan Devan. Sementara Mang Diman duduk di kursi yang disediakan.


Arsha duduk di pinggir bersama Izzah dan Nabila yang sedang menusuk bahan makanan untuk dibakar.


"Neng, siapa namanya?" tanya Mang Diman pada Nabila.


"Nang Neng, Nang Neng, Kakek manggil Neng yang mana?" tanya Arsha.


"Neng yang ini atuh Neng Arsha." Mang Diman menunjuk Nabila.


"Ini namanya Na-bi-la. Calon isterinya Kak Arka."


Seketika Nabila terbatuk, wajahnya merona malu.


Mimpi apa aku sampai dianggap calon isterinya Pak Arka.


"Arka, serius ini teh calon istrimu? MasyaAllah, maneh geulis pisan atuh. Bagi tips atuh Ka, siapa tau Kakek bisa dapet kayak gini juga." ucap Mang Diman.


"Caranya? Mandi kembang tujuh rupa sambil jaga lilin," ucap Arsha menjawab pertanyaan Mang Diman.


Seketika semua tertawa pun dengan Arka yang ternyata sedang menatap Nabila. Nabila yang salah tingkah langsung mencomot sosis dan langsung melahapnya.


Sementara Arsha sendiri, dia diam-diam mencuri pandang ke arah Devab. Saat tatapan keduanya bertemu, tiba-tiba Devan mengedipkan satu mata pada Arsha.


Aku yang terkejut, refleks menusuk tangannya dengan tusukan sate.


"Awww...."


"Kenapa Sha?" tanya Izzah.


"Gak kenapa-napa Bu. Ini tadi salah tusuk."

__ADS_1


"Kok bisa? Tangan kamu gak kenapa-napa?" tanya Izzah lagi seraya memeriksa tangan Arsha.


"Beneran Bu, gak apa-apa." balas Arsha.


__ADS_2