Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Tentang Ana


__ADS_3

"Tetaplah di sisi Abang, jangan pergi! Demi anak-anak kita, demi cinta yang telah kita bina!" iba Rayhan pada Izzah yang pipinya telah basah oleh airmata.


Mungkin kini ia benci, amat benci pada pengkhianat ini. Namun, akan kulakukan segala daya upaya untuk meluluhkannya kembali.


Kamar itu kemudian hanya diisi dengan tangisan dua insan. Posisi mereka masih sama hingga bermenit-menit lamanya.


Rayhan bangkit dan duduk di samping Izzah. Perlahan Rayhan merengkuh tubuh Izzah yang masih terguncang oleh tangisan. Dalam dekapan Rayhan, luapan emosi Izzah makin membuncah.


Aku tahu hatinya masih bertaut sebab cinta kami amatlah tinggi.


"Kenapa, Bang, kenapa jadi begini?" tanya Izzah di sela tangisan.


Izzah hanya ingin meluapkan emosi, bukan semata melempar pertanyaan.


"Izzah tak bisa, Bang, tak bisa begini!" lanjutnya. Lalu, meluncurkan kalimat-kalimat tak jelas terdengar sebab harus bersaing dengan suara tangisan yang terus membesar.


Akhirnya Izzah dapat menghentikan tangisan. Wanita itu perlahan mulai menata emosi agar tak meledak lagi.


Izzah pun meminta Rayhan pergi dengan alasan dirinya butuh ketenangan.


Rayhan menuruti semua permintaan Izzah. Setelah mencium dan memeluk kedua buah hatinya, Rayhan berpamitan pada mertuanya juga Mang Diman dan Bi Asih yang masih ada di rumah itu.


Beberapa hari yang lalu...


"Pokoknya kamu ikutin semua perintahku, lakuin apa yang aku katakan..."


"Tapi Bu, bagaimana jika saya ketahuan pura-pura?"

__ADS_1


"Makanya kamu harus pintar bersandiwara."


"Tapi jika saya dibawa ke Dokter?"


"Kamu tenang saja, aku yang akan mengurus semuanya. Tugasmu hanya berpura-pura, dan ingat jangan sampai ketahuan. Kalau sampai gagal aku tidak akan menghidupi keuargamu lagi."


"Baik bu, saya akan berusaha sebaik mungkin."


"Bagus."


************


Malam di rumah utama...


Rayhan dan Ana tengah duduk di ruang keluarga.


Rayhan menoleh sekilas, lalu fokus lagi pada televisi.


"Benar kata paman, saya memang pembawa sial. Kenapa saya tak mati saja saat kecelakaan agar Mas Rayhan dan mba Izzah tidak ikut menderita," ucap Ana lirih.


"Kalau mba Izzah minta cerai, lebih baik saya yang diceraikan. Saya bisa kok hidup sendiri kalau paman tak mau menampung, Saya bisa jualan seperti dulu." tambah Ana.


"Cukup Ana, jangan bahas lagi perceraian! Aku takkan menceraikan kalian! Tentang Izzah biar aku yang selesaikan. Kamu tinggal menurut saja!" bentak Rayhan pada wanita itu.


Mana mungkin aku menghancurkan orang yang telah hancur. Lelaki macam apa aku jika berlaku zolim padanya.


Yang Rayhan tahu, Ana merupakan gadis yatim piatu. Hingga Rayhan tak mungkin membiarkan Ana tinggal di rumah pamannya. Selain pamannya suka berlaku kasar, di sana juga ada sepupu-sepupu Ana yang tak punya ahlak. Bisa saja Ana dijadikan bahan hinaan akibat cacat yang disandang seumur hidup. Juga memungkinkan ada pelecehan seksual karena semua sepupu lelaki Ana adalah pemabuk dan suka main perempuan.

__ADS_1


Memang benar bukan aku yang telah menabraknya. Namun, apakah mungkin membiarkan Umi masuk bui. Sementara saat ini Umi pun masih terbaring karena terkena stroke akibat kecelakaan itu.


"Maaf," gumam Ana.


Setelah itu Ana tak buka suara lagi. Hanya saja ia tak mampu untuk menghentikan tangisannya.


Rayhan meraih tubuh Ana hingga berada dalam selipan dua lengan Rayhan.


"Menangislah jika itu mampu membuatmu tenang. Jangan terus menyalahkan diri sendiri sebab kau memang tak bersalah. Teruslah berdoa agar aku, kau dan Izzah mampu melewati ketetapan ini!"


Dalam pelukan Rayhan, Ana tersenyum dengan licik.


********************


Rumah Mang Diman....


"Bu, kok Bapak teh gak yakin ya istrinya Rayhan yang tadi itu benar buta." ucap Mang Diman sambil menyeruput kopi yang dibuatkan Bi Asih.


"Maksud Bapak teh apa ngomong begitu?" tanya Bi Asih.


"Ya bisa aja dia bohong."


"Husssh ngomong apa sih. Jangan suudzon begitu sama orang. Apa Bapak gak lihat tadi mau minum aja Rayhan yang ambilin."


"Entahlah Bu, perasaan Bapak teh bener-bener gak enak atuh."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2