Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Sayang Bangun...


__ADS_3

"Sayang bangun, ayo bangun sayang." ucap Rayhan sambil menepuk-nepuk lembut pipi Izzah.


Izzah dibaringkan di kamar tidurnya masih lengkap dengan pakaian pengantinnya. Sementara diluar kamar semua orang tampak terkejut dan masih tidak percaya akan datangnya Rayhan, terutama Bu Ros.


Saat Izzah pingsan, dengan sigap Rayhan menggendong tubuh Izzah membawanya ke kamar. Saat itu juga Bu Ros tak kuasa menahan tangisnya, ia histeris dan berhamburan memeluk Rayhan yang tengah berjalan menuju kamar.


"Yaa Allah anakku, kamu masih hidup Nak." isak Bu Ros memeluk Rayhan, hingga membuatnya berhenti.


"Alhamdulillah Umi, Allah ngasih Rayhan kesempatan untuk hidup dan bisa bertemu kalian lagi." balas Rayhan tersenyum.


"Rayhan, Umi...Umi..." ucap Bu Ros terbata-bata.


"Umi, nanti aja ya kita bicaranya. Rayhan harus bawa isteri Rayhan dulu ke kamar." ucap Rayhan penuh penekanan karena Romi ikut berdiri tak jauh darinya.


"Iya Nak, ayo cepat bawa Izzah." balas Bu Ros.


Anak-anak Izzah yang bingung akan situasi yang terjadi, di ajak Bi Asih ikut menuju kamar Izzah.


Dokter di datangkan langsung untuk memeriksa Izzah karena tak kunjung sadar.


"Pak Rayhan tunggu saja dulu. Mungkin karena syok membuat Bu Izzah tak sadarkan diri. Kondisi Bu Izzah stabil. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sebentar lagi Bu Izzah pasti sadar." ucap Dokter.


Semua keluarga berada di dalam kamar Izzah termasuk Romi dan Bu Mona.


"Ya Allah den, Mamang benar-benar tidak menyangka ini teh den Rayhan. Ya Allahu Robbi, sungguh besar kuasa-Mu." ucap Mang Diman.


Rayhan langsung memeluk Mang Diman bak ia tengah memeluk ayahnya sendiri. Tangis haru mewarnai moment itu.


"Terima kasih Mang, sudah tetap ada bersama Izzah. Menjaga Izzah selama saya tidak ada." balas Rayhan.


"Tentu den, Neng Izzah teh sudah seperti anak saya sendiri."


"Den Rayhan...." panggil Bi Asih.

__ADS_1


Rayhan menoleh ke arah suara. Bi Asih berdiri dengan senyum yang mengembang. Di sampingnya berdiri dua bocah yang kini sudah besar. Terakhir kali Rayhan melihat keduanya, anak tersebut masih berusia satu setengah tahun.


Luruh, air mata Rayhan jatuh tak tertahankan. Menatap kedua buah hatinya yang sudah beranjak besar. Keduanya tumbuh menjadi anak-anak yang tampan dan cantik. Mewarisi wajah rupawan kedua orang tuanya.


Perlahan Rayhan melangkah maju menghampiri kedua bocah yang terlihat bingung itu.


Rayhan lalu berlutut. Mensejajarkan tubuhnya dengan kedua buah hatinya.


Rayhan mengelus pipi Arka dan Arsha bergantian.


Kedua bocah itu mendongak menatap Bi Asih.


"Itu Ayah kalian." ucap Bi Asih.


Seakan tak percaya, keduanya lantas memandang ke arah Bu Ros yang juga berdiri disamping mereka.


"Oma...." ucap keduanya bersamaan.


Arka dan Arsha kemudian kembali menatap Rayhan yang meneteskan air mata bahagia karena dapat melihat kembali anak-anaknya.


Kedua bocah itu lalu berhamburan memeluk Rayhan. Disambut dengan pelukan erat oleh Rayhan.


"Ayaahh...Ayaahhh...Ayaaahhh..." ucap keduanya.


"Iya sayang. Ini Ayah kalian, Ayah kandung kalian." ucap Rayhan sambil mencium kening kedua anaknya berkali-kali.


Semua orang yang ada di ruangan itu ikut menangis haru melihat pertemuan antara Ayah dan anak-anaknya untuk pertama kali setelah sekian tahun, kecuali Bu Mona dan Romi.


Keduanya tampak tidak suka akan kehadiran Rayhan. Wajah keduanya menyiratkan kebencian yang mendalam.


Sial, umpat Romi dalam hati.


"Sayang, ayo dong bangun. Masa ketemu suami malah pingsan, bukannya bahagia." ucap Rayhan.

__ADS_1


Semua orang sudah keluar dari kamar, tinggal Rayhan dan Izzah.


"Sayang, Izzahku yang cantik. Ayo dong bangun." lagi-lagi Rayhan menepuk-nepuk pipi Izzah.


Rayhan menatap wajah Izzah yang berbalut make up tipis. Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, Rayhan akhirnya bisa menatap wajah Izzah lagi.


"Kau tak berubah sayang, tetap cantik seperti dulu." ucap Rayhan seraya mencium kening Izzah.


Tubuh Izzah bergerak perlahan.


"Oohhh ternyata minta dicium dulu baru bangun." ucap Rayhan. "Ayo bangun sayang, Abang rindu." lanjut Rayhan.


Namun, Izzah belum juga membuka matanya.


Rayhan kemudian berbisik ditelinga Izzah.


"Kalau Izzah gak mau bangun juga, Abang pergi lagi nih." bisik Rayhan.


Karena tak kunjung bangun, Rayhan akhirnya memilih berdiri dan hendak pergi.


Tiba di pintu, tiba-tiba Izzah berteriak.


"Abaaaaangg......"


Rayhan berbalik, menatap Izzah yang sudah duduk. Dengan cepat Rayhan berbalik dan berjalan cepat ke arah Izzah.


Izzah berhambur dipelukan Rayhan. Menciumi seluruh wajah Rayhan dengan air mata yang terus berderai.


"Jangan tinggalin Izzah lagi Bang. Jangaaann, Izzah gak sanggup Bang." ucap Izzah.


"Iya sayang." balas Rayhan.


Keduanya berpelukan begitu erat seakan tak ingin melepaskan.

__ADS_1


__ADS_2