
Alia tengah mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dia begitu senang untuk bertemu Morgan.
Morgan baru saja tiba dari luar negeri setelah menyelesaikan kuliahnya dan sekarang akhirnya dia kembali dan hal itulah yang membuat Alia begitu bahagia. Sebelum Alia di adopsi oleh keluarga Luiz, Alia memang sangat dekat dengan keluarga Dinata. Saat Alia berusia 7 tahun, dan Morgan Dinata 4 tahun sementara Mia Dinata berusia 9 tahun.
Di sisi lain, Arka tengah berada di belakang mobil Alia. Arka menjadi begitu marah setelah memikirkan bahwa Alia tengah pergi untuk bertemu dengan seorang pria.
'Aku seharusnya membuat kontrak sebelumnya. Hanya saja, kenapa di dunia ini aku selalu merasa begitu insecure bahkan jika pernikahan kami tidak dilakukan karena cinta, tapi setidaknya kami tetap pasangan yang sudah menikah.'
Ucap Arka dalam hati dan mencengkeram stir mobil dengan kuat.
'Kenapa aku merasa seseorang tengah mengikuti aku.' pikir Alia seraya melihat kebelakang mobilnya melewati kacanya.
Alia tidak bisa melihat wajah pengemudi mobil yang berada dibelakangnya dengan jelas karena Arka saat itu memang memakai masker agar Alia tidak bisa mengenali dirinya.
Setelah beberapa menit berlalu, Alia tiba di hotel dan memberikan kunci mobilnya kepada penjaga untuk memarkirkan mobilnya, sementara dia berdiri di luar hotel.
Arka berada sedikit jauh dari tempat Alia berdiri dan dia melihat Alia dengan hati-hati. Alia menelpon Morgan dan memanggilnya untuk turun ke bawah.
'Kenapa dia tidak masuk ke dalam?'
Pikir Arka dan tampak bingung.
Sementara itu Morgan turun dan langsung memeluk Alia saat dia melihat alia pertama kalinya. Hal itu membuat Arka semakin marah.
"Ya Tuhan, kesayanganku....!!!" Teriak Alia dengan bahagia dan Arka dapat mendengar suaranya dengan jelas.
"Aku sudah dewasa, serius lah Kak." Ucap Morgan dengan suara yang normal.
Suaranya tidak terlalu keras hingga tidak bisa didengar Arka.
'Cukup, aku tidak bisa melihat semua ini lagi.' ucap Arka dalam hati dan kemudian keluar dari dalam mobil dengan penuh amarah.
Arka berjalan ke arah mereka. Melihat Alia tertawa dan tersenyum dengan orang lain membuat dirinya semakin mendidih dalam amarah. Arka menarik Alia dengan tiba-tiba yang membuat Alia terkejut.
"Oh ya Tuhan." Ucap Alia dan tampak terkejut.
Morgan juga sangat terkejut. Dia pikir bahwa itu adalah orang lain karena separuh wajah Arka tertutup dengan sebuah masker.
Morgan menarik kakaknya itu dengan memegang tangannya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Morgan dengan marah.
"Kau sudah kelewatan batas Nyonya Wijaya." Ucap Arka dengan nada yang penuh kemarahan.
Mata Alia membelalak, dia lalu berbalik dan menarik masker Arka. Alia menjadi lebih terkejut saat melihat bahwa orang yang menariknya itu ternyata adalah suaminya, Arka.
"Apa kau mengikuti aku?" Tanya Alia dan mulai merasa begitu marah.
Arka menarik Alia ke sisinya dan berkata, "iya, aku mengikuti mu, memangnya kenapa?"
Alia melihat kearah Arka dengan mata yang penuh amarah dan menarik tangannya.
"Kita tidak sedekat itu untuk berpegangan tangan." Ucap Alia dingin.
"Apa masalahmu Alia?" Tanya Arka.
"Kakak datang untuk menemui aku Tuan Arka. Kenapa anda menjadi begitu marah karena hal ini?" Ucap Morgan.
Arka melihat kearah Morgan dengan mata yang terkejut.
"Kakak?" Tanya Arka.
"Iya..."
Morgan hendak mengatakan sesuatu tapi kemudian Alia memegang tangannya dan berkata,
"Kau tidak perlu menjelaskan siapa dirimu."
Alia memeluk lalu memeluk Morgan dan berkata, "ayo kita bertemu lagi besok dan tentang kejutan yang ingin kau lakukan untuk Kak Mia dan yang lainnya, kita akan mendiskusikan nya besok oke, jaga dirimu." Ucap Alia lagi.
"Jangan khawatir Kak ucap morgan dengan tersenyum.
Sementara Arka merasa begitu bersalah. Dia bertindak tanpa mengetahui kebenarannya dan meluapkan marahnya kepada Alia.
Alia berbalik lalu pergi dan meminta penjaga untuk memberikan kunci mobilnya, tapi Arka memegang tangannya.
"Lepaskan aku." Ucap Alia dengan ekspresi dingin.
Arka tahu bahwa Alia tidak akan pernah mendengarkan dia. Jadi Arka menggendong Alia di lengannya yang membuat Alia begitu terkejut.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku, tinggalkan aku." Teriak Alia dan berusaha untuk melepaskan dirinya.
Arka hanya diam dan dia berjalan lurus menuju mobilnya. Dia lalu membuat Alia duduk di dalam mobilnya di kursi depan.
"Apa kau sudah kehilangan akal mu?" Teriak Alia.
"Diam lah Alia." Ucap Arka dan mengunci pintu.
Alia mencoba untuk membuka pintu mobil tapi Arka sudah mengunci pintu mobil itu. Arka masuk dan duduk di kursi pengemudi, dia melambaikan tangannya kepada Morgan dan kemudian mulai menghidupkan mobilnya untuk pergi.
"Apa maksud dari semua ini?" Tanya Alia marah.
Arka tidak mengatakan apapun dan hanya mengendarai mobilnya.
'Apa sebenarnya masalahnya hingga bertingkah seperti tadi dan sekarang ini? Apakah aku harus membentur kan kepalaku ke tembok? Ini sangat menyebalkan.' ucap Alia dalam hati dan kemudian melihat kearah Arka.
'Lagi, aku salah paham terhadapnya. Aku seharusnya tidak mengikuti dia. Dia memiliki kehidupan privasi nya sendiri dan aku malah membuat dia marah lagi.' ucap Arka dalam hati dan merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukannya.
Mereka akhirnya tiba di rumah. Arka keluar dari dalam mobil tapi Alia tetap duduk di dalamnya. Arka berjalan menuju ke sisi mobil tempat Alia duduk dan membuka pintu untuk Alia.
"Keluarlah..." Ucap Arka dengan wajah datar.
Alia melihat kearah Arka dan kemudian memutar wajahnya dari Arka.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mau." Ucap Alia dan melipat lengannya di dada.
"Alia, keluarlah." Ucap Arka lagi.
"Apa yang akan kamu lakukan, jika aku tidak mau.."
Alia belum menyelesaikan kalimatnya tapi Arka sudah menariknya dan menaruh tubuh Alia di pundaknya.
"Aku bisa melakukan apapun." Ucap Arka dan berjalan lurus masuk ke dalam rumah.
"Apa kau sudah gila? Turunkan aku..." Teriak Alia dan mulai memukul punggung Arka.
Sementara Arka hanya berjalan lurus masuk ke dalam. Semua pelayan dan penjaga tampak terkejut melihat Tuan mereka bertingkah seperti itu. Arka membawa Alia masuk kedalam kamarnya dan Alia sudah menyerah untuk mencoba melepaskan dirinya.
Arka mengunci pintu dengan sebuah kata sandi dan menyimpan kunci itu di dalam saku nya. Arka lalu menurunkan Alia di lantai.
"Apa yang sedang kau coba lakukan?" Tanya Alia dan tampak marah kepada Arka.
Arka menghela napas dan kemudian berjalan mendekat kearah Alia. Alia bahkan tidak berkedip, dia tetap berdiri dan melihat ke arah mata Arka.
Arka lalu memegang tangan Alia dan berkata, "aku minta maaf." Suaranya terdengar begitu sedih dan penuh rasa bersalah.
Mendengarkan ucapan Arka, Alia menjadi terkejut.
Dia terdiam dan sudah tenang seperti biasanya.
"Aku tidak tahu, aku menjadi marah secara tiba-tiba ketika aku melihatmu bersama orang lain. Aku tidak mencintaimu, tapi aku juga tidak membencimu. Aku tidak mau istriku bertemu dengan pria lain. Jika kau mau, maka aku bisa menemanimu. Tapi ingatlah bahwa kau adalah istriku dan ibu dari Dafa." Ucap Arka dan melihat kearah Alia.
Alia menelan ludah karena tenggorokannya terasa begitu kering, dengan wajahnya yang juga merona.
"Aku mengerti. Aku tidak akan menginformasikan kepadamu apapun dan akan pergi begitu saja. Dengar, aku bukan wanita seperti itu dan ini adalah harapan ku dan kebebasan ku untuk bertemu dengan siapapun yang aku mau. Ini semuanya hanya dirimu yang salah paham kepadaku dan tentu saja kau akan melakukannya karena kau tidak mengenalku dengan baik. Tapi aku jamin padamu bahwa aku tidak akan melakukan apapun yang akan merusak reputasi dari keluarga Wijaya." Ucap Alia dan berbalik hendak pergi.
Saat dia memegang gagang pintu, itu ternyata terkunci. Alia mematung ketika Arka mendekat ke arahnya dari belakang dan menaruh tangannya di pintu.
"Diam lah disini." Ucap Arka dengan wajah yang serius.
"Kenapa?" Tanya Alia dan tanpa berbalik ke arah belakang
"Aku ingin berbicara denganmu tentang sesuatu." Ucap Arka.
"Kalau begitu bicara saja." Ucap Alia dan merasa semakin kesal.
Arka berbalik ke belakang dan kemudian berjalan menuju kamar mandi.
"Tapi aku mau mandi lebih dulu." Ucap Arka.
Alia berbalik dan melihat bahwa Arka sudah masuk ke dalam kamar mandi.
'Yang benar saja, kenapa dia selalu bertindak seperti bos di hadapanku?' ucap Alia kemudian duduk di tempat tidur.
Mata Alia memandang sekeliling kamar. Dia kemudian melihat kearah sebuah bingkai foto yang berada di atas meja dekat tempat tidur. Alia mengambil bingkai itu dan melihat gambarnya.
"Wow dia sangat cantik." Ucap Alia.
Arka menggunakan celana pendek dan kemeja yang masih terbuka. Alia lalu berbalik.
"Tidak bisakah kau mengancing nya lebih dulu?"
Arka tertawa dan kemudian berjalan ke mendekat kearah Alia.
"Aku sudah melakukannya, berbalik lah." Ucap Arka dengan tersenyum.
Alia berbalik dan menjadi lebih terkejut karena mengetahui ternyata Arka berbohong. Arka berjalan mendekat kearah Alia dan Alia pun melangkah mundur.
"Apa.... Apa yang kau lakukan?" Tanya Alia gugup.
Alia sudah tersudut di tembok dan Arka menaruh salah satu tangannya ke tembok. Dia bertanya kepada Alia untuk melihat ke atas dan Alia melakukan apa yang dikatakan Arka.
'Sekarang kau terlihat seperti kelinci kecil yang ketakutan.' ucap Arka dalam pelatih dan tersenyum.
Alia menutup matanya dan mulai ketakutan, sementara Arka menghidupkan lampu dan berjalan berbalik. Alia membuka matanya dan merasa malu.
"Apa yang kau pikirkan Alia?" Tanya Arka dan melipat tangannya di dada seraya tersenyum.
"Ti... Tidak ada." Balas Alia dan berjalan mendekat ke arah tempat tidur.
"Tidakkah kau lapar?" Tanya Arka dan berdiri di belakangnya.
Alia berbalik dan hampir saja terjatuh ke tempat tidur tapi Arka langsung memegang tangannya dan tersenyum.
"Terlalu gugup ya sampai kau hampir jatuh ke tempat tidur?" Tanya Arka dengan tersenyum.
Alia merona dan mencoba untuk mendorong Arka tapi berakhir dengan terjatuh di tempat tidur. Arka juga terjatuh ke atas tubuhnya, keduanya terdiam beberapa saat dan saling melihat ke mata masing-masing.
Arka mendekatkan wajahnya ke arah wajah Alia dan melihat kearah bibir Alia. Sementara Alia tampak merona dan begitu gugup.
Bibir mereka hampir saja bertemu tapi kemudian Arka melirik kearah foto Nabila. Dia langsung terkejut dengan apa yang dilakukannya. Arka lalu berdiri dan berbalik.
'Sial, apa yang baru saja hendak aku lakukan. Aku minta maaf Nabila, aku... Aku hampir kehilangan akal sehat ku.' ucap Arka dalam hati dan merasa begitu bersalah terhadap Nabila.
Alia duduk di atas tempat tidur dan berkata, "aku tidak bermaksud untuk melakukan itu, semuanya karena tidak disengaja."
"Tidak apa-apa." Ucap Arka dan menghela napas.
"Bolehkah aku pergi keluar sekarang?" Tanya Alia.
Arka berbalik menatap Alia dan bertanya, "kenapa kau ingin keluar dari dalam kamar ini? Apakah kau begitu membenci aku hingga kau tidak bisa bertahan untuk berada di dalam kamar yang sama denganku?" Entah apa alasannya Arka menjadi marah.
"Tidak... tidak... seperti itu..." Ucap Alia tapi ucapannya dipotong oleh Arka.
"Kalau begitu makanlah bersamaku." Balas Arka seraya duduk di atas tempat tidur menatap Alia.
"Kita bisa makan di bawah." Ucap Alia.
__ADS_1
"Aku mau makan disini." Balas Arka dengan nada dingin.
Alia menjadi terdiam dan tidak mengatakan apapun lagi. Sementara Arka meminta kepada pelayan untuk membawa makanan bagi mereka. Pelayan bisa masuk kedalam karena ada kode pintu dari luar dan pengasuh Dafa mengetahui password nya.
Pelayan lalu mengambil meja kecil dan menaruh nya di atas tempat tidur dan kemudian menyajikan makanan di atasnya. Dia kemudian membungkuk di hadapan Arka dan berjalan keluar.
'Kenapa dia tetap membiarkan aku terkunci di dalam kamarnya dan tadi kenapa dia langsung bangun begitu saja setelah melihat gambar istrinya? Lalu kenapa dia meminta aku untuk tetap bersamanya disini.' pikir Alia dan mulai makan.
Setelah beberapa menit kemudian mereka selesai dengan makan malam mereka. Arka memanggil pelayan untuk membersihkan bekas makanan mereka.
"Sekarang aku mau pergi ke kamar ku." Ucap Alia.
"Tidak boleh." Balas Arka dan merenggangkan tangannya di udara.
"Tapi kenapa?" Tanya Alia.
"Tidurlah denganku." Ucap Arka dengan santai.
Sementara itu, Alia tampak terkejut. Dia melihat Arka dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
"Tidur bersama di atas tempat tidur yang sama. Jangan berpikir yang lainnya." Ujar Arka dengan tersenyum dan kemudian berbaring di tempat tidur.
"Siapa..... siapa yang mengatakan bahwa aku memikirkan tentang sesuatu yang lainnya?" Ucap Alia dengan berbaring di samping Arka.
"Matikan lampunya." Ucap Arka dan menutup matanya.
"Kenapa? Aku suka tidur dengan lampu yang menyala." Ucap Alia dan merasa sedikit takut karena Arka.
Dia merona dan itu adalah pengalaman pertamanya untuk tidur dengan seorang pria.
'Apa yang sedang dia pikirkan?' pikir Arka dan melihat kearah Alia.
>>>>>>>>>>>>>
Pagi berikutnya......
Arka dan Alia tertidur dengan nyenyak. Keduanya tidak menyadari bagaimana posisi mereka tidur. Arka tengah memeluk Alia dalam tidur lelapnya.
Alia perlahan membuka matanya dan menyadari bahwa Arka tengah memeluknya dari belakang. Pipi Alia menjadi memerah secara tiba-tiba dan Alia membeku seperti sebuah patung.
'Ini.... bagaimana dia bisa memelukku seperti ini?' ucap Alia dalam hati dan mencoba untuk melepaskan tangan Arka dari perutnya.
Tapi Arka semakin menariknya mendekat ke dalam pelukannya dan menyandarkan kepalanya di bahu Alia.
Alia dapat merasakan napas Arka di kulitnya dan Alia tidak bisa menahan dirinya untuk merasa malu dan membuat pipinya merona merah.
'Apa yang harus kulakukan? Dia mungkin akan menyalahkan aku ketika aku jika aku membangunkan nya sekarang. Tapi kenapa bisa begini, aku tidak tahu...' Ucap Alia dalam hati dan terganggu akan semuanya.
Tiba-tiba sebuah suara tangisan berasal dari luar kamar yang membuat Alia terkejut. Dia menepuk tangan Arka dengan keras hingga Arka terduduk di atas tempat tidur bersamaan dengan Alia.
"Ooowww...." Ucap Arka seraya melihat kearah punggung tangannya.
Alia mencoba untuk menyembunyikan wajahnya dan perlahan turun dari tempat tidur. Tapi kemudian Arka memegang tangannya dan bertanya.
"Ada apa dengan wajahmu yang merah ini?" Tanya Arka.
"Aku tidak tahu." Balas Alia dan menghindari kontak mata mereka.
Arka melihat kearah Alia dan hendak membalikkan kepala Alia menghadap dirinya, kemudian tiba-tiba Dafa masuk ke dalam kamar.
Mereka berdua, Arka dan Alia menjadi mematung. Mereka melihat kearah Dafa dan menjadi lebih terkejut.
Ada air di mata Dafa. Dia berlari ke arah tempat tidur dan mencoba untuk naik ke atas tempat tidur. Alia kemudian mengangkat tubuh Dafa dan bertanya, "Oh sayangku, kenapa kau menangis?"
Dafa membiarkan kepalanya berada di pangkuan Alia dan berucap dengan matanya yang berair.
"Mama tidak mencintai aku lagi sekarang."
"Kenapa berkata seperti itu? Bagaimana mungkin Mama tidak mencintaimu?" Ucap Alia memeluk Dafa dan mengusap punggungnya.
"Sekarang Mama mencintai Papa." Ucap Dafa dan melompat turun dari tempat tidur.
Sementara Arka dan Alia menjadi terkejut. Mereka berdua merona tapi kemudian Alia melihat kearah Dafa. Dia berdiri dari tempat tidur dan mengangkat Dafa kemudian menggendong nya.
"Mama hanya akan mencintai Dafa seorang." Ucap Alia dan memberikan ciuman di pipi Dafa.
Arka merasa sedikit sedih setelah mendengarkan apa yang diucapkan Alia. Dia melihat kearah Dafa yang juga melihat kearah dirinya.
Tiba-tiba wajah Dafa menunjukkan ekspresi yang berbeda dan dia tersenyum. Senyuman itu seperti sebuah ciuman yang licik.
'Anak nakal ini.' ucap Arka dalam hati dan berjalan mendekat kearah Dafa dan Alia.
"Mama, Papa mau memukuli aku." Ucap Dafa dan memeluk Alia dengan erat.
Alia membalikkan tubuhnya menghadap Arka dan menatap dirinya.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Alia dengan mata menyelidik.
"Tidak ada, aku hanya ingin pergi untuk memandikan Dafa." Ucap Arka dan tersenyum kearah Dafa seraya berkedip ke arahnya.
"Tidak, aku mau Mama." Ucap Dafa dan kembali mulai menangis.
"Tenanglah, Mama ada disini." Ucap Alia dan mengusap kepala Dafa.
'Hmmmm Dafa, kau sudah mencuri Mama mu dari Papa.' ucap Arka dalam hati seraya melihat ke arah mata Dafa.
'Hehehe sudah kubilang kepada Papa, bahwa Mama adalah milikku.' ucap Dafa dalam hati seraya tersenyum jahat.
'Apa yang sedang terjadi?'
Sementara Alia tampak bingung setelah melihat Papa dan anak yang saling bertatapan tajam itu.
Bersambung.....
__ADS_1