Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Saling Mengenal


__ADS_3

Dengan memegang tangan Mama aku berjalan ke arah tempat pernikahanku menggunakan sebuah gaun pengantin berwarna putih. Orang-orang tampak berdiri di kedua sisi saat aku berjalan melewati mereka semua. Bersama dengan Mama di samping kananku dan ada sepupuku Amira di sebelah kiri ku.


Saat aku tiba di panggung tempat aku akan melangsungkan pernikahan, Mama memberikan ciuman lembut di pipiku sebelum membuat aku duduk di samping calon suamiku itu.


Dia menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat kepada Mama. Kami pun lalu duduk di depan beberapa orang yang akan menjadi saksi pernikahan kami termasuk juga Papa yang akan menikahkan aku dan dia.


Meski acaranya akan segera terlaksana, aku merasa begitu gugup. Jujur saja aku memang mengharapkan hari ini akan terjadi dimana suatu hari nanti aku akan menikah, tapi ini terlalu cepat bagiku. Tapi aku tidak mau berkomentar apapun lagi tentang pernikahanku ini. Aku tahu bahwa apa yang dilakukan keluargaku terutama Papa dan Mama lakukan adalah yang terbaik untukku.


Calon suamiku menggunakan setelan jas berwarna putih yang tampak serasi dengan gaun yang aku gunakan. Aku tidak terlalu familiar dengan dirinya. Hanya ada satu hal yang aku ingat darinya. Dia memiliki dagu yang tajam yang menyempurnakan bentuk wajahnya itu.


Pernikahan pun dimulai dengan seorang pria yang menyebutkan nama kami masing-masing. Saat namanya disebut jantungku terasa berdetak kencang Karena aku tahu bahwa nama pria yang disebutkan itu akan menjadi suamiku mulai hari ini.


"Ananda Alzam Ammar, saya nikahkan...."


Aku menutup mataku saat mendengar suara Papa mengucapkan kalimat itu dan beberapa saat berikutnya, aku mendengar suara teriakan orang yang berkata 'sah.'


Setelah itu dia mengambil sebuah cincin dan menyematkannya jari manis ku sebelah kanan. Cincin itu tampak simple tapi dibuat dengan pemesanan terlebih dahulu. Sebuah berlian terdapat di tengah cincin platinum itu. Dan terdapat sebuah inisial yang bertuliskan AF.


Aku lalu memegang tangannya dan menyematkan cincin itu di jemarinya. Tangannya terasa begitu hangat dan aku sangat menyukai kehangatan dari tangannya itu.


Kami kembali menghadap orang yang duduk di hadapan kami dan pembawa acara dari pernikahanku pun mengatakan bahwa suamiku boleh menciumku.


Aku menghela nafas dalam, dia akan menciumku dan ini adalah ciuman pertama bagiku. Di mana tidak pernah aku lakukan dengan orang lainnya bahkan meski itu hanyalah sebuah ciuman di kening maupun di pipi apalagi di bibir.


Dia kembali menatapku. Tangannya memegang kedua tanganku dan setelah itu dia mencium keningku. Aku tersenyum kepadanya dan dia pun tampak membalas senyumanku.


Semua orang bertepuk tangan. Aku bisa melihat kebahagiaan dari seluruh keluargaku terutama dari Opa Reyhan dan Oma Izzah dan juga Mama dan Papa ku serta seluruh keluarga besar ku.


Akhirnya hari ini aku melepaskan masa lajang ku, setelah begitu banyak pertimbangan yang aku pikirkan. Setelah hari di mana Mama dan Papa memperlihatkan sosok pria yang akan menjadi suamiku itu di hari ulang tahun pernikahan Oma dan Opa waktu itu.


Aku memang tidak bicara banyak dengannya bahkan bisa dikatakan kami tidak bicara apapun. Kami hanya saling menatap satu sama lain sebentar saja, setelah itu Oma menyarankan kepadaku untuk memohon doa dan petunjuk dari Tuhan, apakah dia adalah jodoh yang memang dikirimkan Tuhan untukku. Dan setelah aku melakukan apa yang disarankan Oma, aku pun mendapat petunjuk bahwa aku memang harus menerima perjodohan yang dilakukan keluargaku dan di sinilah aku hari ini.


Aku akhirnya menjadi istri yang sah dari seorang pria yang belum pernah aku kenal sebelumnya.


Acara pernikahan pun berakhir tapi berikutnya adalah resepsi di mana Aku sudah tidak memiliki tenaga lagi yang tersisa.


...****************...


Sekarang aku tengah saling berpegangan tangan dengan suamiku.


Acara pernikahan akhirnya sudah selesai. Meski keluarga ku bisa disebut sebagai keluarga yang berada, tapi kami semua sepakat untuk tidak berlebihan dalam mengadakan pesta pernikahan ku. Kami semua memilih melaksanakannya dengan sederhana yang dihadiri keluarga dan kerabat dejat saja.


"Hai, aku Ivan, Kakak dari Ammar."


Sebuah suara terdengar yang berasal dari belakangku. Aku berbalik dengan suamiku yang tetap tidak melepaskan tanganku.


"Hai kakak ipar." Ucapku lembut dengan tersenyum.


Aku menyadari bahwa disamping kakak ipar ku itu ada seorang wanita. Aku rasa dia pasti istri dari kakak ipar ku. Menyadari tatapan mataku, Kak Ivan memperkenalkan istrinya yang bernama Alvita dan putrinya Ria yang berusia 5 tahun.


Aku menundukkan kepalaku ke arah mereka dengan sopan dan melambaikan tanganku ke arah gadis kecil itu yang bersembunyi di belakang Kak Vita. Ria mengintip ke arahku dan melambaikan tangannya. Aku pun tertawa kecil menyadari bahwa dia secara diam-diam menatap ke arahku.


Pria lain yang berusia remaja mendekat ke arahku. Dia menjabat tanganku dan tangan suamiku dan memberikan ucapan selamat kepada pernikahan kami.


"Dia adalah adikku Ferry."


Sebuah suara terdengar di telingaku dan kemudian aku begitu terkejut saat menyadari bahwa itu ternyata suamiku yang bicara kali ini.


Iya dia bicara kepadaku dan aku menganggukkan kepadaku dan mengatakan kepadanya bahwa aku mengerti.


Kami berbicara dengan para keluarga dan teman-teman yang lain sebelum orang tuaku dan mertuaku mendekat ke arah kami.


Mama memegang tanganku dan aku mulai menangis. Mama memelukku seolah akan melepaskan aku selamanya. Aku lalu melihat ke arah Papa dan Papa mendekat ke arahku dengan senyuman cerah di wajahnya.


"Pa....." Ucapku mulai menangis lagi.


"Ssshhh.... Seorang putri tidak boleh menangis." Ucap Papa menarik aku kedalam pelukan Papa.


"Aku akan merindukan Papa." Ucapku dengan menangis.


"Jangan menangis karena make up-mu akan rusak." Ucap Papa dengan tertawa dan ada tangisan di dalam matanya.


Aku pun berhenti menangis dan terdiam.


"Aku tidak akan menangis, jaga diri Papa dan juga Mama." Ucapku.


Setelah itu aku berpamitan kepada anggota keluargaku yang lainnya. Mulai dari Kak Denis dan istrinya Amel, Kak Dafa dengan istrinya Kak Sheila, serta Amira dan suaminya Ariel.


Dan yang paling utama aku berpamitan kepada kedua pasangan favoritku yaitu Opa Reyhan dan Oma Izzah. Mereka berdua memeluk aku dengan begitu erat tak lupa memberikan beberapa nasehat kepadaku.


"Terima kasih sayang karena kau sudah mengabulkan keinginan Oma dan Opa sebelum kami berdua meninggalkan dunia ini." Ucap Oma Izzah kepadaku.


"Jangan berkata begitu Oma." Ucapku mulai menangis.


Aku tak bisa membayangkan jika mereka berdua akan meninggalkan aku begitu cepat.


"Oma dan Opa masih sehat. Jadi kalian berdua pasti akan bisa melihat cicit-cicit kalian dari kami semua nantinya." Ucapku lagi kepada Oma Izzah yang dari sorot matanya tampak berkaca-kaca.


Pipiku terasa memerah setelah mengatakan akan memberikan cicit untuk Oma dan Opa.


Oma Izzah lalu mencium keningku dan kembali memelukku. Setelah itu aku kembali ke arah mama dan memeluk Mama dengan sangat erat.


Sekali lagi aku menangis dalam pelukan Mama dan tiba-tiba aku merasakan ada sebuah tangan di pundak ku. Aku berbalik melihat ke arah pemilik dari tangan itu, dan ternyata itu adalah Ammar yang mencoba untuk membuat aku merasa nyaman dengan senyuman dari bibirnya itu.


Setelah itu kami berjalan ke arah mobil. Aku melambaikan tangan kepada seluruh keluargaku. Mobil yang aku tumpangi itu pun menjauh dan membuat aku mulai menangis lagi. Ammar lalu memberikan sebuah sapu tangan kepadaku.


Beberapa saat kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah rumah yang sangat besar. Aku keluar dari dalam mobil dan dia memegang tanganku kemudian kami berjalan keluar. Tapi langkah kami dihentikan oleh suara dari Mama nya.


"Apa yang kau lakukan? Gendong dia masuk ke dalam rumah." Perintah Mama nya.


Tiba-tiba aku bisa merasakan pipiku terasa menghangat. Dia pun menggendong aku di lengannya ke arah rumah baruku. Dia lalu menaruh tubuhku di atas sebuah sofa di ruang tamu dan berjalan menjauh. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.

__ADS_1


Seorang wanita yang tampak seusia denganku berjalan mendekat ke arahku. Dia terlihat begitu familiar dan aku pun menyadari bahwa aku bertemu dengannya di acara pernikahanku tadi.


"Hai aku Eva, sepupu dari Ammar." Ucapnya tersenyum kepadaku dan berjabat tangan denganku.


"Apa yang kau lakukan di sini? Ini sudah hampir waktunya. Kembalilah ke kamarmu. Ayo, aku akan menunjukkan jalannya padamu." Ucap Eva mendorong aku ke arah tangga.


"Aku aku masih belum mengambil tasku. Bisakah kmu membantu aku dengan itu?" Tanyaku kepada Eva dengan suara yang terdengar gugup.


"Bibi bilang bawa barang-barang mu akan dibawa pulang ke rumah besok." Ucap Eva dengan santai.


Aku tidak membalas ucapannya dan kami lalu tiba di depan pintu sebuah kamar yang merupakan kamar milik Ammar.


'Oh aku lupa bawa sekarang kamar ini adalah kamar kami berdua.'


Eva membuka pintu dan membuat aku berjalan masuk ke dalam. Dia tersenyum menyeringai kepadaku sebelum menutup pintu. Aku berbalik untuk melihat ke dalam kamar itu. Semuanya tampak membuat aku terkejut karena semuanya berwarna merah kecuali gaun pengantinku.


Ada lampu-lampu yang bercahaya dan ada aroma bunga mawar di mana-mana. Tempat tidur itu dipenuhi dengan kelopak mawar putih yang begitu kontras dengan seprai tempat tidur yang berwarna merah. Aku menjadi begitu gugup pada saat itu.


Kepalaku terasa berputar dan menatap sekeliling kamar.


'Di mana dia sekarang? Lalu, apa yang harus aku lakukan nanti?' tanyaku dalam hati.


Ada begitu banyak pertanyaan yang terus muncul di pikiranku.


Aku duduk di atas tempat tidur bersandar di kepala tempat tidur dengan memegang bantal merah dan memeluknya.


Aku tiba-tiba mendengar suara pintu terbuka dan ternyata itu adalah suara yang berasal dari pintu kamar mandi yang terbuka. Dia tampak berjalan mendekat ke arah sofa dengan mengusap rambut hitamnya yang basah dengan sebuah handuk. Dia menggunakan kaos oblong berwarna putih dan celana pendek biru. Dia lalu duduk di sofa dan melihat ke arahku.


Aku juga melihat ke arahnya. Setelah menyadari bahwa dia tengah menatap ke arahku, dia membuka mulutnya dan mulai bicara kepadaku.


"Buatlah dirimu merasa nyaman. Pergilah buat dirimu merasa segar lebih dulu." Ucapnya padaku.


"Emmm... Aku...." Ucapan ku di hentikan olehnya.


"Oh maaf, aku lupa untuk mengatakan kepadamu bahwa ada sikat gigi lainnya di laci sebelah kanan di dalam kamar mandi. Sementara untuk barang lainnya, kau harus menggunakan milikku hari ini untuk sementara." Ucapnya kepadaku lagi.


Aku berdiri dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi. Aku lalu mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahku. Aku dengan cepat membalik tubuhku ke arah di mana suara langkah kaki itu berasal.


Bruk!!!


Aku menabrak dadanya dengan kepalaku. Kami begitu dekat satu sama lain. Dia memegang pinggangku, membantu aku untuk tidak terjatuh ke lantai. Dia lalu melepaskan tangannya dari pinggangku saat aku sudah bisa berdiri stabil dan dia terdengar menelan ludahnya.


"Maaf, aku tidak bermaksud melakukannya. Mama ku mengatakan bahwa pakaianmu belum ada di sini. Jadi kau harus menggunakan milikku hari ini." Ucapnya padaku.


Aku hanya menganggukkan kepalaku. Dia lalu masuk ke dalam ruangan ganti pakaian yang berada di samping kamar mandi. Dia berjalan keluar dengan membawa sebuah kaos oblong berwarna navy dan celana pendek hitam. Dia juga memegang sebuah handuk mandi berwarna putih di tangan sebelah lainnya.


Dia mendekat ke arahku dan mengatakan, "aku tidak pernah menggunakan yang ini sebelumnya. Jadi kau boleh menggunakannya."


Aku memegang pakaian itu dan berjalan masuk ke arah kamar mandi. Aku rasa aku akhirnya keluar dari dalam kamar mandi setelah 30 menit atau lebih.


...****************...


PoV Ammar


Dia berjalan keluar dengan rambut hitamnya yang hampir menyentuh pinggangnya itu.


"Hair dryer nya ada di laci sebelah sana." Ucapku menunjuk ke arah laci yang ada di dalam ruang ganti, setelah melihat dia yang tengah berusaha mengeringkan rambutnya.


Aku melirik ke arahnya sesekali saat dia mengeringkan rambutnya. Aku mulai fokus kepada ponselku lagi saat dia berjalan keluar dari ruangan itu. Dia berjalan mendekat ke arahku dan duduk di sofa di sampingku. Aku melihat ke arahnya dan ada rasa canggung serta sunyi yang menyelimuti kami berdua.


Aku harus menghentikan kecanggungan diantara kami berdua ini.


"Kau bisa tidur di atas tempat tidur dan aku akan tidur di sofa." Ucapku dengan tersenyum.


Aku bisa merasakan ketidaknyamanan di antara kami.


'Kalian berdua benar-benar orang asing. Jadi ini adalah keputusan yang tepat untukmu Ammar.' ucapku kepada diriku sendiri.


"Tidak, kau bisa tidur di atas tempat tidur."


Aku melihat ke arahnya dengan terkejut.


"Aku, maksudku sofa itu terlalu kecil untukmu. Kita bisa tidur di tempat yang sama bersama." Ucapnya melihat ke arahku yang masih terkejut.


"Apakah kau yakin?" Tanyaku kepadanya.


"Emmmm itu tidak masalah, karena bagaimanapun kau juga suamiku." Ucapnya.


Kata suami yang dia ucapkan itu membuat seolah kupu-kupu berterbangan di perutku.


"Di sisi sebelah mana dari tempat tidur yang kau sukai?" Tanyaku kepadanya.


Dan dia membalas ku, "oh biarkan aku tidur di sisi sebelah kiri. Apakah kau tidak keberatan dengan hal itu?"


"Ah aku malah takut bahwa kau akan memilih sebelah kanan, karena itu adalah posisi biasanya aku tidur. Tapi ternyata kau memilih kiri dan itu membuat aku lega." Ucapku kepadanya.


Aku rasa itu adalah ucapan terpanjang yang aku katakan kepadanya untuk pertama kali.


Kami lalu berbaring di sisi bagian tempat kami tidur dan menutup tubuh kami dengan selimut. Itu adalah pengalaman pertama bagiku berbagi tempat tidurku dengan seseorang dan itu benar-benar sebuah pengalaman pertama bagiku. Bahkan aku tidak pernah membiarkan temanku untuk tidur bersamaku.


Pikiranku teralihkan dengan seseorang yang berada di sisiku itu yang terus saja berputar ke kiri dan ke kanan selama lebih dari 5 menit.


Aku memegang tangannya dan mengatakan, "apakah kau merasa tidak nyaman tidur di tempat yang sama denganku?"


"Bukan karena itu. Tempat ini begitu baru bagiku dan aku selalu tidur dengan memeluk teddy bear ku di rumah. Jadi itulah alasannya kenapa aku tidak bisa tidur." Ucapnya.


"Kalau begitu biarkan aku menemanimu sampai kau bisa mengantuk. Apa kau mau?" Tanyaku kepadanya berpikir apakah hal itu bisa membuatnya merasa nyaman.


"Tentu saja, jadi ayo kita saling mengenal satu sama lain." Ucapnya dengan tersenyum dan duduk di tempat tidur dengan menyilang kan kedua kakinya.


Aku lalu duduk berhadapan dengannya dan mulai memperkenalkan diriku.

__ADS_1


"Namaku Alzam Ammar. Orang-orang biasanya memanggilku dengan sebutan Ammar. Tinggi ku 170 cm dan berat tubuhku sekitar 74-78 kilogram, itu saja." Ucapku.


Dia tersenyum padaku dan mulai memperkenalkan dirinya kepadaku.


"Aku Faradina Wijaya dan teman-temanku memanggilku Fara. Untuk tinggi tubuhku aku rasa sekitar 158 cm dan beratku sekitar 50 kilo atau mungkin lebih sedikit dari itu."


Aku menganggukkan kepalaku dan mengatakan kepadanya bahwa kami bisa bermain dengan 20 pertanyaan. Dia pun setuju dan mengatakan bahwa kami bisa mengenal satu sama lain dan tersenyum kepadaku.


"Kau duluan." Ucapku menunjuk ke arahnya.


"Baiklah, biarkan aku yang memulai." Balasnya.


"Kopi atau teh?" Ucapnya.


"Mmmm mungkin kopi?" Ucapku terdengar lebih dari sebuah pertanyaan dibandingkan dengan sebuah jawaban.


Dia pun menganggukkan kepalanya dan melanjutkan ucapannya.


"Pakaian berwarna gelap atau yang berwarna terang?"


Pertanyaan yang sedikit sulit. Aku berpikir sebentar dan aku pun memilih warna yang lebih sering aku kenakan.


"Warna terang." Ucapku tersenyum.


"Suka punya hewan peliharaan atau tidak?" Ucapnya dengan menaikkan alis sebelah kirinya saat bertanya kepadaku.


Sejujurnya untuk menjawab hal itu, aku bukanlah orang yang terlalu suka memiliki peliharaan. Tapi apa yang akan dia pikirkan jika aku mengatakan bahwa aku tidak suka peliharaan. Dia pasti akan merasa kecewa karena dia sangat menyukai untuk memelihara hewan peliharaan dan berencana untuk memilikinya di masa depan nanti.


"Jawab aku." Ucapnya yang membuat aku kembali kepada kesadaran ku.


"Oh baiklah. Aku akan menjawab mu dengan jujur. Jadi jangan kecewa." Ucapku untuk melihat reaksinya.


Dia pun tersenyum kepadaku dan aku melanjutkan ucapan ku lagi.


"Tidak, aku tidak suka mempunyai peliharaan." Ucapku.


"Benar-benar melegakan." Ucapnya tersenyum.


Aku bingung kenapa itu bisa membuatnya merasa lega.


'Tunggu dulu! Apakah dia juga tidak suka memelihara hewan?'


Aku rasa sekarang aku sendiri bingung dengan tatapan di wajahku ini. Dia pun tertawa dan menjawab kebingunganku.


"Iya, aku tidak suka memelihara hewan."


'Apakah dia baru saja membaca pikiranku?'


"Pertanyaan selanjutnya, apakah kau mulai siap untuk berkomitmen dengan pernikahan ini?" Ucapnya.


"Iya aku jauh lebih siap untuk hal ini." Ucapku dengan jujur.


Bahkan walaupun ini adalah pernikahan yang diatur oleh keluarga kami, aku memang ingin menikahinya. Aku memang pernah memiliki seorang kekasih, tapi harus putus dengannya karena orang tuaku memaksa untuk pernikahan ini. Dalam sepanjang hidupku, aku tidak pernah berkencan dengan seorang wanita dengan begitu serius. Karena aku tahu benar bagaimana tradisi keluargaku.


Jadi aku hanya sekedar bermain-main saja dengan para teman wanitaku dan tidak pernah melakukan kontak fisik apalagi sampai menaruh hati pada mereka. Hanya ada satu motto dalam hidupku yaitu, 'cinta setelah menikah dan istri adalah cintamu satu-satunya.'


"Pesan singkat atau panggilan telepon untuk komunikasi?" Ucapnya lagi.


"Keduanya tidak masalah bagiku." Balas ku kepadanya.


Faktanya aku memang seperti itu. Aku tidak masalah dengan cara berhubungan via telepon. Baik itu melalui pesan singkat, panggilan telepon atau bahkan video call. Semuanya tergantung dengan perasaanku saja.


"Selanjutnya, gunung, pantai, monumen atau tempat rekreasi lainnya?" Ucapnya lagi.


"Gunung dan pantai." Balas ku.


Jujur saja, aku memang tidak bisa jika diminta untuk memilih salah satu dari itu.


"Pilih salah satu." Ucapnya tertawa.


"Baiklah, aku akan memilih gunung." Ucapku.


"Pagi atau malam?" Ucapnya.


"Malam, aku rasa." Balas ku.


"Makan di luar atau makanan rumah?" Ucapnya kepadaku lagi.


"Itu semua tergantung perasaanku saja." Balasku


Alisnya tampak terangkat dan itu terlihat cukup menggemaskan.


"Pilih salah satu." Protesnya lagi.


"Oh aku lebih banyak makan di luar." Balasku.


"Introver atau extrovert?" Ucapnya.


"Extrovert aku rasa." Balas ku.


"Keluarga atau teman?"


"Keluarga." Balas ku dengan cepat.


Aku mengatakan yang sebenarnya dengan aku memilih keluarga dibandingkan teman jika aku diminta untuk memilih sebuah keputusan antara keduanya. Tapi itu tidak berarti bahwa aku akan meninggalkan teman bermain ku, di mana aku lebih sering bersama mereka.


"Aku rasa, aku tidak punya pertanyaan lagi untuk aku tanyakan kepadamu." Ucapnya tersenyum.


Aku pun menganggukkan kepalaku.


"Maka itu bukanlah 20 pertanyaan. Itu hanya 10 pertanyaan." Ucapku.

__ADS_1


Dia pun langsung tertawa.


Bersambung...


__ADS_2