
Arka pergi ke kamar Dafa lebih dulu dan memintanya dengan cepat turun ke bawah untuk sarapan. Setelah itu Arka beranjak menuju kamarnya.
Arka membuka pintu kamar dan menemukan Alia yang sedang berdiri tepat di depan cermin meja rias kesayangannya. Alia itu gadis feminim, menggunakan make up sudah rutinitas kesehariannya mengingat dia yang berprofesi sebagai model. Jadi Alia sangat memperhatikan penampilannya agar terlihat sempurna.
'Itu lah yang aku tidak suka darinya. Selalu saja membiarkan kecantikannya itu dinikmati oleh semua orang.'
“Kau masih sibuk? cepat keluar! Ayo kita sarapan.” Arka berjalan mendekat ke arah Alia kemudian duduk di pinggir ranjang tepat di belakangnya yang sedang berdiri di depan cermin.
Arka memperhatikan gerakan Aliaa dari pantulan cermin yang menghadap dirinya. Alia masih sibuk mengatur letak scarf yang melingkar di lehernya.
'Aneh, mengapa musim panas menggunakan scarf seperti itu?' pikir Arka.
“Kau ini korban fashion, atau memang tidak mengerti geografi huh? Ini musim panas. Jika kau menggunakan scarf seperti itu, terlihat sangat aneh. Bukankah itu akan membuatmu kepanasan.” Ujar Arka dengan nada mencibir.
Arka bangkit dari posisinya dan menyilang kan kedua tangan di dadanya kemudian memutari tubuh Alia. Alia yang kesal akhirnya berbalik menatap Arka dengan tajam. Kemudian menarik scarf-nya hingga terlepas.
“Ini semua gara-gara mu Tuan Arka. Kau yang membuatnya seperti ini.”
Alia menunjuk beberapa tanda merah yang ada di lehernya.
'Haha, aku tidak menyangka akan berbekas seperti itu. Apa ciumanku tadi pagi benar-benar sebuas itu sampai tanpa merah menjalar di lehernya. Ya Tuhan, apa aku ini vampir?'
“Ahahaha, aku tidak menyangka akan meninggalkan bekas seperti itu.” Ujar Arka sembari terkekeh puas hingga terbungkuk-bungkuk dan memegangi perutnya sendiri.
Alia yang kesal akhirnya meninju pelan lengan Arka sehingga membuat Arka kembali tegak dan segera menghentikan tawanya yang menggema di dalam kamar.
“Kau harus bertanggung jawab.”
Alia menggembungkan pipinya dengan kesal dan mengerucutkan bibir mungilnya.
'Ya Tuhan, jika seperti ini, aku malah ingin mencium mu Nyonya Arka.'
“Sayang, aku kira tidak akan berbekas seperti itu. Sini aku bantu mengenakannya.”
Arka menarik kedua tangan Alia agar mendekat kearah Arka kemudian mengambil scarf dalam genggamannya dan melingkarkan di leher Alia untuk menutupi tanda merah itu.
'Lebih memalukan jika tanda merah itu terlihat jelas, daripada menggunakan scarf di musim panas seperti ini. Setidaknya kami akan berada di pesawat selama 9 jam ke depan.'
“Aku mencintaimu.” Ucap Arka lalu menyingkirkan poni Alia, dengan tangan kananku.
Arka kemudian mengecup dahi indah favoritnya itu. Beberapa saat Arka menahan bibirnya disana, membuat Alia sama sekali tidak bisa berkata-kata. Arka benar-benar sangat mencintai gadis di hadapannya ini.
'Kurasa aku benar-benar tidak bisa terlepas darinya, karena ikatannya padaku terlalu kuat.'
****************
Setelah melalui perjalanan yang melelahkan selama kurang lebih 9 jam, akhirnya mereka berdua sampai di tempat tujuan. Akhirnya mereka menginjakan kaki di Negara K. Saat ini sudah malam tapi suasananya memang terasa sangat panas.
'Apa mungkin karena aku belum terbiasa dengan udaranya yang memang tengah memasuki musim panas?' pikir Alia.
Kali ini mereka sudah berada di dalam hotel untuk mencari kamar yang akan mereka tempati. Semuanya sudah diatur oleh Ayah mertua Alia.
“F.184” Alia membaca sebuah nomor yang tertempel tepat di depan pintu kamar yang akan mereka gunakan.
Kali ini Arka dan Alia diantarkan oleh seorang pelayan yang membantu mereka untuk membawa koper dan juga membukakan kamar.
“Thank you very much.” Ujar Arka kepada seorang pria yang tingginya beberapa senti di bawahnya itu.
“You’ re welcome sir. Hope you enjoy. Call our staf if you have a problem.” Ujarnya kemudian tersenyum ramah ke arah Alia dan Arka.
Arka membalasnya dengan anggukan singkat kemudian membuka pintu kamar dan segera masuk ke dalamnya.
“Waaah, luas sekali” Ujar Alia yang sedang terpesona dengan keadaan kamar mereka itu.
Ruangannya berukuran sekitar 7 x 5 meter. Terdapat sebuah ranjang besar dengan 4 bantal dibalut dengan sprei berwarna putih dan juga selimut dengan warna senada. Di kedua sisi sampingnya terdapat meja kecil dan juga lampu meja dengan motif etnik yang terlihat sangat menarik. Di ruangan ini juga terdapat sofa berwarna putih tepat di depan LCD berukuran lumayan besar. Alia berjalan menuju kamar mandi yang juga sangat luas, disana terdapat bath tub yang berukuran lumayan besar.
'Ya ampun, apa ini semua disiapkan oleh ayah mertuaku. Keren sekali.' ucap Alia dalam hati.
“Ah aku lelah.” Arka mengayunkan langkahnya menuju ke ranjang dan menjatuhkan tubuh ke atasnya.
Arka melirik kearah Alia yang masih berdiri didepan pintu. Dia terlihat agak kaku dan benar-benar gugup.
'Ada apa dengannya?' pikir Arka.
__ADS_1
“Ada apa?” Ujar Arka, kemudian bangkit dari posisiku sembari membuka 2 kancing kemejanya.
Tiba-tiba Alia menjadi salah tingkah ketika menyadari tangan kanan Arka yang sedang bergerak untuk membuka kancing kemejanya.
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya bingung apa yang harus aku lakukan sekarang.” Jawab Alia dengan suara pelan.
Alia sesekali menghentakkan tumitnya dan menyentuh ujung rambutnya.
'Ya Tuhan, kau terlihat sangat menggemaskan sayang.'
“Mandilah.” Ujar Arka kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alia.
Hal itu membuat dia jadi salah tingkah karena Arka mengulurkan tangan kanannya untuk membelai rambut panjang Alia.
“Ah? Mau apa kau?” Balas Alia dengan suara yang terbata-bata.
'Haha, istriku ini benar-benar polos.'
“Hei, kau ini kenapa? Aku hanya menyuruhmu mandi, setelah itu kita turun untuk makan malam. Apa kau tidak lapar?” Ujar Arka dengan nada suara seperti biasa, membuat Alia menghembuskan nafas lega.
Terlihat sekali kalau Alia memang sedang gugup.
“Ehm. Ya, kita emm.... makan malam. Ya benar, hanya makan malam.”
Alia mengernyitkan dahinya dan memainkan tali dari tas selempang yang dipakainya.
Arka tersenyum singkat, kemudian kembali duduk di pinggir ranjang saat Alia mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
Arka melirik jam yang terletak di meja samping tempat tidur. Pukul 21.30.
"Kurasa ini terlalu malam untuk makan malam, tapi apa boleh buat aku memang benar-benar kelaparan sekarang. Aku yakin dia juga lapar." Ucap Arka seorang diri.
Perjalanan di pesawat sungguh melelahkan bagi keduanya. Mereka juga harus mengalami beberapa kendala sehingga memuat waktu kedatangan menjadi mundur dari jadwal sebelumnya.
************
Selesai makan malam mereka kembali ke dalam kamar.
'Bagus, jika dia mengganti baju didalam kamar mandi maka aku bisa dengan leluasa berganti baju disini.'
Selesai berganti pakaian, kali ini keduanya duduk sejajar dan menyandarkan punggung mereka ke kepala ranjang
“Perjalanan yang sangat melelahkan.” Gumam Alia sembari memukul-mukul bahunya sendiri yang terasa pegal.
Duduk lebih dari 9 jam, membuat seluruh tubuh Alia terasa kaku dan sakit.
“Seluruh otot ku terasa kaku sekarang.” Balas Arka kemudian memundurkan dudukannya hingga kini menjadi posisi berbaring.
Alia masih duduk tegak sembari memeluk bantal dan menahan dagunya disana.
“Apa besok kita akan ke pantai?” Tanya Alia dengan semangat kemudian meliriknya yang ternyata sudah memejamkan mata.
'Aish, kenapa cepat sekali sudah tertidur.'
“Em, pantai disini pasti sangat indah. Kita juga akan menikmati sunset besok.” Gumam Arka dengan mata terpejam, dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya kemudian terlelap.
Alia merebahkan tubuhnya dan menarik selimut hingga ke dadanya. Sesaat Alia melirik Arka yang sepertinya sudah terlelap.
'Wajahnya imut sekali jika sedang tertidur seperti ini.' ucap Alia.
Alia membalikan badannya memunggungi Arka. Sebenarnya Alia sangat ingin memeluknya, tapi Alia merasa bahwa Arka sudah sangat lelah. Jadi jika dia memeluk Arka, maka dia tidak bisa bergerak dengan bebas ketika tidur.
Alia memejamkan matanya yang sudah terasa sangat perih karena menahan kantuk. Tapi baru saja Alia menutup mata, tiba-tiba dia merasakan tangan besar Arka melingkar di pinggangnya. Alia tersenyum sesaat kemudian mengelus punggung tangan Arka yang tepat berada di perutku.
*********
Hari ini jadwal mereka adalah tour dan sunset dinner cruise. Hari pertama di Negara K, jika dihitung ini berarti hari kedua mereka setelah meninggalkan Tanah Air.
Setelah siap mereka berdua turun dari kamar menuju lobby. Di depan hotel ternyata sudah menunggu seorang tour guide yang akan membimbing mereka untuk mengeksplorasi keindahan salah satu negara yang sangat menarik ini.
Tour mereka dimulai pukul 09.00 menuju ke bulan, menyaksikan pementasan tari Barong, setelah itu menuju kerajinan Batik, emas dan perak di daerah Celuk. Aku memperhatikan setiap hal yang disampaikan oleh seorang Tour Guide wanita yang sangat fasih menjelaskan setiap hal yang sangat menarik ini.
Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju sebuah pantai. Selesai berkeliling, mereka langsung menaiki pegunungan yg sangat terkenal dengan udara sejuk dan pemandangan gunung dan danau yg sangat indah. Udaranya memang benar-benar sejuk, walaupun panas matahari terik tapi tetap dingin.
__ADS_1
Setelah berjalan-jalan selama beberapa saat kali ini waktunya mereka menikmati makan siang, tempatnya adalah di sebuah lokal restauran. Walaupun mereka berdua agak sedikit tidak menyukai makanannya, tapi semua rasa itu memang unik. Alia bahkan hanya menghabiskan setengah dari makanan yang disajikan.
"Lebih baik memakan mi instan saja." Ucap Alia.
Selesai makan siang, mereka diantar menuju sebuah daerah pedesaan tradisional untuk untuk melihat-lihat berbagai macam kerajinan khas disana. Setelah puas menikmatinya, mereka berdua diantar menuju pelabuhan, siap mengarungi lautan dengan kapal pesiar dengan suasana senja yg romantis, sambil menikmati dinner di atas kapal pesiar.
'Benar-benar hari yang sangat menyenangkan. Sangat-sangat menyenangkan karena ku ditemani oleh istriku tercinta.' ucap Arka dalam hati.
Setelah selesai makan malam, akhirnya mereka berdua kembali ke hotel.
***
Mereka sudah berada di dalam kamar. Setelah seharian mengeksplorasi sebuah daerah di negara K, dan berakhir dengan makan malam romantis di atas kapal pesiar dengan pemandangan sunset yang luar biasa indah. Dan besok kegiatan mereka adalah day sea fun cruise, yaitu menghabiskan waktu seharian di pantai.
'Pastinya akan sangat menyenangkan.' pikir Alia.
Alia keluar dari kamar mandi setelah berganti baju. Kali ini ia mengenakan baju tidur yang diberikan oleh Mia, kakaknya. Dress tidur berwarna putih tanpa lengan dengan 3 kancing di atasnya. Alia melihat Arka yang sedang sibuk dengan ponsel di tangganya. Arka duduk di atas ranjang dan meluruskan kakinya, seluruh perhatiannya tertuju pada layar ponsel, sampai dia tidak sadar bahwa Alia sudah duduk di sampingnya.
“Kau sedang apa?” Tanya Alia kemudian memajukan kepalanya untuk melihat layar ponsel Arka.
“Menghubungi Devan untuk menanyakan keadaan perusahaan hari ini.” Ujar Arka tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun pada Alia.
'Aish, menyebalkan. Ini malam kedua kami untuk honeymoon, dan dia masih sibuk dengan pekerjaan kantor.'
Alia yang tidak tahu harus berbuat apa akhirnya mengambil ponselnya yang terletak begitu saja diatas meja. Mengirim pesan pada Mia untuk menanyakan bagaimana kabarnya. Sudah 2 minggu ini Alia memasuki liburan musim panas dan selama itu pula dia tidak bertemu dengannya, karena kesibukan Alia yang bekerja sebagai model.
Mereka berdua hanya mengirim pesan atau sekedar bertelepon ria karena Mia sendiri sedang sibuk di cafe baru miliknya yang baru saja dia buka.
To : Kak Mia
(Apa yang kakak lakukan hari ini?)
Alia menggenggam ponsel berlogo buah itu di tangannya, tak sabar menunggu balasan dari Mia. Beberapa saat kemudian, ponsel di tangan Alia bergetar.
From: Kak Mia
(Hari ini pergi menonton bersama Mas Herry. Aku bosan di cafe, jadi pergi untuk refreshing.)
(Kau sedang apa?)
Kali ini Arka yang penasaran akhirnya mendekatkan wajahnya untuk melihat layar ponsel Alia. Tapi Alia segera menutupnya dengan telapak tangannya, agar Arka tidak bisa melihatnya. Alia melirik ke meja kecil di samping Arka, dan ternyata Arka sudah meletakan ponsel berlogo buah berwarna hitam miliknya itu disana.
“Ini, sudah malam. Letakan ponselmu.” Arka mencoba meraih ponsel yang masih dalam genggaman Alia, tapi Alia menghindarinya.
“Ayolah, aku sedang menghubungi Kak Mia.” Jawab Alia dengan tidak peduli.
“Istriku sayang, disini pukul 9 malam berarti di disana tepat pukul 11 malam.”
Arka mengelus rambut Alia dengan lembut.
'Mencoba merayu rupanya, huh?'
“Aku tahu. Tapi aku bosan karena kau sendiri juga sibuk dengan ponselmu. Kau bahkan tidak memperhatikanku sama sekali.” Alia menggembungkan pipinya dengan kesal kemudian menarik sudut bibirnya mencibir Arka.
“Maafkan aku sayang. Aku hanya menanyakan kabar perusahaan pada Devan. Bagaimanapun juga aku tidak boleh melepaskan tanggung jawab begitu saja."
Arka meraih tangan kanan Alia yang masih menggenggam ponsel.
“Hem, terserah kau.” Ujar Alia masih dengan nada tidak peduli.
Alia sama sekali tidak menatap wajah Arka yang kini sangat dekat dengan wajahnya itu.
“Ayolah, jangan seperti ini. Kita kan sedang honeymoon. Jadi kumohon kurangi kebiasaan mengomel mu itu, sayang.”
Arka merapihkan rambut Alia yang sedikit berantakan, kemudian mengusap punggung Alia dengan lembut.
Alia tidak dapat membalas perkataan Arka karena tiba-tiba Arka menarik ponsel dalam genggaman Alia kemudian menekan tombol switch off.
Arka menunjukan cengiran lebar sembari meletakan ponsel Alia di atas meja kecil di samping tepat tidur mereka. Setelah itu Arka menatap tajam ke arah Alia, membuat Alia menjadi salah tingkah ketika melihat tatapan mata Arka yang terasa aneh.
'Apa yang ingin dia lakukan?' ucap Alia dalam hati dengan debaran jantung yang tak menentu.
Bersambung....
__ADS_1