
Pagi hari yang begitu cerah, menyambut keluarga bahagia Izzah dan Rayhan. Izzah tengah mengeringkan rambutnya yang masih basah setelah shalat subuh bersama Rayhan. Sementara Rayhan masih terdengar melantunkan ayat suci al-qur'an.
Tak lama setelah selesai mengaji, Rayhan menghampiri Izzah dan memeluknya dari belakang.
"I love you sayang." Bisik Rayhan di telinga Izzah.
"I love you more Bang." Balas Izzah.
"I love you most." Ucap Rayhan lagi.
Begitulah keseharian kedua pasangan yang kini usianya sudah mendekati lima puluh tahun itu. Setiap hari tidak akan mereka lewati tanpa mengucapkan kata 'I love you."
"Bang..." Ucap Izzah sembari tengah menyisir rambut panjangnya.
"Iya sayang..."
"Hari ini abang bisa temenin Izzah gak?"
"Temenin kemana?," Tanya Rayhan.
"Izzah mau nyekar ke makam Ayah sama Ibu." Jawab Izzah.
"Kok mendadak sayang?" Tanya Rayhan lagi.
"Gak kenapa-napa Bang. Izzah.... Cuma kangen aja. Izzah juga mau ajak anak-anak."
"Baiklah. Apa kita akan menginap atau pulang langsung hari ini juga?"
"Lebih baik nginap aja Bang. Disana kan ada rumah lama Izzah."
"Ya sudah, sekarang bersiaplah. Abang akan beritahu anak-anak dulu." Titah Rayhan.
Izzah kemudian mulai mengemasi pakaian yang akan ia bawa. Sementara Rayhan menuju kamar Arka.
Jam dinding menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit. Rayhan sudah tak mendapati Arka di kamarnya. Begitu juga Arsha. Dengan cepat Rayhan menuju lantai bawah ke ruang makan.
Benar saja, disana sudah ada Arka dan Arsha yang sudah rapi, mengenakan pakaian kerja mereka masing-masing. Mang Diman juga ada bersama mereka tengah menikmati sarapannya berupa nasi beras merah dan sayur-sayuran.
Sejak tinggal bersama Izzah, Mang Diman tak lagi makan sembarangan. Biasanya setiap pagi Mang Diman selalu minum kopi, namun kini kopi sudah diganti menjadi susu.
__ADS_1
Izzah telah mengatur ketat makanan yang dihidangkan untuk Mang Diman.
"Selamat pagi semuanya..." Sapa Rayhan.
"Pagi ayah..." Jawab Arka dan Arsha berbarengan.
Sementara Mang Diman hanya mengangkat sendoknya, tak bisa menjawab sapaan Rayhan karena mulutnya yang tengah mengunyah.
"Semuanya, ayo hari ini kita ke kampung halaman Ibu. Ibu ingin nyekar ke makam kakek nenek.
"Yaaaaa Ayaaahhh...." Teriak Arsha yang langsung melepas roti yang tengah ia olesi dengan selai cokelat itu.
Arka tak bergeming, ia terus melanjutkan sarapannya.
"Loh, kenapa?" Tanya Rayhan.
"Kenapa mendadak sih? Aku mana bisa Yah. Hari ini jadwal temu pasienku banyak banget Yah. Gak bisa di cancel gitu aja dong Yah." Ucap Arsha cemberut. "Padahal, aku pengen banget pergi ke kampung halaman Ibu lagi. Mmmm suasananya itu loh, dingiiinn. Enak banget kayaknya buat bulan ma.... Eh..." Arsha dengan cepat menutup mulutnya.
Arka yang duduk disampingnya, mentoyor kepala saudara kembarnya itu.
"Belum juga nikah, udah mikirin bulan madu. Noh sekalian aja bulan madunya di Mars, biar gak ada yang ganggu kalian."
"Sewot banget sih Kakak...."
"Hahahaha kakek bisa aja, samain diri sendiri sama gubuk bambu.
"Di dalam gubuk bambu, tempat tinggalku...
Di sini kurenungi nasib diriku....
Di dalam gubuk bambu, suka dukaku....
Di sini kudendangkan sejuta rasa.... Aseekk..." Teriak Mang Diman berdendang.
"Lah lah kok malah nyanyi, Abah kan lagi makan." Ucap Izzah yang datang ke ruang makan.
"Hehehe lemper Neng..."
"Lemper? Abah mau makan lemper?" Tanya Izzah.
__ADS_1
"Bukaan, itu Neng, bahasa anak gaul yang kalau denger lagu suka sedih itu Neng...."
Izzah terlihat berpikir.
"Huahahahaha maksud kakek baper kali Bu." Ucap Arsha terbahak.
"Hehehe iya, itu. Maksud Abah teh baper."
Izzah dan Rayhan menggeleng-gelengkan kepala, sementara Arka terlihat menahan tawanya.
"Duhh Kak Arka, sok jaga image. Kalau mau ngakak, ngakak aja keles."
"Seles? Arka teh mau jadi seles ya? Seles apa? Kan sudah jadi Bos? Masa mau jadi seles lagi, panas atuh jalan-jalan keliling kampung nawarin barang. Itu, Kakek teh dulu pernah ngamuk sama seles yang nawarin kompor gas itu. Kakek teh bilang, kompor gas kakek teh baru beli. Masih bagus, eehh seles itu teh maksa buat nawarin sama kakek dan Nek Asih. Kakek teh kesal, mau kakek siram atuh. Tapi Nek Asih bilang jangan...."
Arsha tertawa terpingkal-pingkal.
"Keles Kek, bukan Sales." Ucap Arka memotong cerita Mang Diman.
"Keles? Keles itu apa Neng Izzah?" Tanya Mang Diman.
"Itu bahasa gaul Bah, kali jadi keles."
"Aneh ya bahasa anak muda sekarang, mau bilang mandi ke kali, jadi bilang mandi ke keles. Gitu ya Neng?"
Arsha semakin terpingkal-pingkal, sementara Arka tak bisa lagi menahan tawanya, ia ikut tertawa mendengar ucapan Mang Diman.
"Bukan kali sungai yang di maksud Izzah Bah. Kali yang dimaksud itu... Emmm gimana ya sayang jelasinnya?" tanya Rayhan.
Izzah tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
"Gini Bah, misalnya Arsha mau bilang gini, 'kamu itu lebay banget. Biasa aja kali,' nah 'biasa aja kali' nya itu diubah jadi 'biasa aja keles'." Terang Izzah.
"Oohh sekarang Abah ngerti. Yang jadi pertanyaan Abah sekarang, lebay itu apa?" Tanya Mang Diman lagi.
Izzah menepuk keningnya dengan telapak tangan.
"Bi Jum...." Teriak Izzah.
ART baru, yang khusus merawat Mang Diman itu berlarian masuk ke ruang makan.
__ADS_1
"Sudah yuk Bah, kalau sudah selesai sarapan. Ke taman ya, duduk, nanti Bi Jum yang anterin sambil minum vitamin disana." Ucap Izzah.
Mang Diman menurut saja, ia berjalan menuju taman sambil di tuntun Bi Jum.