
Cuaca diluar sedang dingin-dinginnya. Tepat tengah malam Izzah terbangun karena perutnya yang terasa lapar. Izzah menyingkap selimut yang menutup tubuhnya dan Rayhan. Ia melihat Rayhan yang tertidur lelap dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Izzah lalu menuju kamar mandi, membasuh wajahnya. Saat keluar kamar mandi, Izzah dikagetkan oleh Rayhan yang telah duduk yang dihadapannya sudah ada makanan di atas meja. Rayhan menatap Izzah tersenyum.
"Abang lapar sayang, ayo makan. Izzah pasti lapar juga kan, apalagi tadi habis olahraga yang lumayan berat." goda Rayhan.
Izzah tersenyum lalu mendekati Rayhan.
"Kapan abang pesan makanan ini?" tanya Izzah.
"Sesampai dirumah selamam, abang langsung pesan dan makanan ini sudah ada diatas meja sayang . Hmmm pasti karena keasyikan olahraga jadi Izzah tak menyadari bahwa ada makanan di atas meja." goda Rayhan lagi.
"Iiihh abang apaan sih." ucap Izzah malu-malu. "Sebenarnya gak baik untuk kesehatan makan saat tengah malam begini. Tapi mau bagaimana lagi, Izzah sangat lapar bang." lanjutnya.
"Sekali-kali gak apa-apalah sayang. Ayo makan, ini ada ayam goreng, dan sate. Tapi makanannya sudah dingin. Apa perlu abang panaskan dulu." tanya Rayhan.
"Udah gak usah bang, dingin juga gak apa-apa" jawab Izzah.
"Mau pakai nasi?" tanya Rayhan lagi.
Izzah menggeleng lalu mulai menyantap makanan yang ada dihadapannya.
Setelah merasa kenyang Izzah dan Rayhan lalu duduk bersandar di sofa dan menyalakan televisi.
"Sayang...." ucap Rayhan.
"Iya bang."
"Besok malam bersiaplah untuk ikut abang ke rumah Bella."
"Rumah Bella? Mau ngapain bang?" tanya Izzah.
"Iya, Izzah ikut aja. Lihat aja apa yang akan abang lakukan besok."
*************************************
Pagi ini Rayhan berangkat ke kantor lebih awal karena akan mampir di kontrakan Yusuf.
"Sayang, hari ini gak usah ke toko kue dulu ya, istirahat aja. Abang juga sudah menyewa jasa asisten rumah tangga untuk membereskan pekerjaan rumah. Sebentar lagi pasti dia akan datang."
"Aduh bang, kenapa harus sewa art sih, Izzah masih mampu kok urusin pekerjaan rumah."
"Sudahlah sayang, nurut aja. Abang juga sudah pekerjakan seorang satpam buat jaga-jaga didepan rumah."
Izzah hanya menghela nafas dengan wajah yang cemberut.
"Apa Izzah akan merasa terganggu dengan adanya orang lain dirumah kita? Karena gak bisa bermesraan bebas, iya kan?" goda Rayhan.
"Iihh abang...." ucap Izzah sambil mencubit pinggang Rayhan.
"Awww...sakit sayang." ringis Rayhan tersenyum. "Semua ini abang lakukan demi kenyamanan dan keamanan Izzah. Jadi jangan nolak ya." lanjut Rayhan.
"Baiklah bang." ucap Izzah seraya memeluk Rayhan.
"Terima kasih untuk semuanya bang."
Rayhan mencium kening Izzah.
__ADS_1
"Abang berangkat dulu ya sayang." ucap Rayhan.
Izzah mengangguk, lalu mengantar Rayhan sampai depan pintu. Saat pintu dibuka ada seorang wanita yang berdiri dengan menenteng sebuah tas. Dia mengenakan rok rumbai selutut dan kaos oblong warna merah.
Rambutnya diikat tinggi dan riasan wajah yang mencolok dengan bibir berwarna merah.
Izzah dan Rayhan mengerutkan dahi.
Dengan sopan wanita itu menunduk.
"Selamat pagi tuan, nyonya, saya Lastri asisten rumah tangga yang tuan cari. Ini resume saya dan surat-surat pernyataan dari kantor jasa penyaluran art tuan." ucapnya sambil menyerahkan map berisi berkas-berkas tentang data dirinya.
Rayhan membaca berkas-berkas itu sekilas, lalu mengangguk.
"Baiklah, mulai hari ini kau bisa bekerja dirumah ini. Aku Rayhan dan ini isteriku Izzah. Yang perlu kau tau tentang aturan yang aku terapkan dirumah ini, jangan sekali-kali membuat kesalahan yang fatal. Apalagi itu menyangkut isteri ku, jangan sampai dia terluka saat berada di rumah. Atau kau akan menerima akibatnya." ucap Rayhan.
"Baa...ba...baik tuan." jawab Lastri gugup.
"Bagus." ucap Rayhan.
Izzah menarik lengan Rayhan.
"Abang jangan terlalu keras begitu, lagipula gak akan ada hal yang membuat Izzah terluka selama di rumah." ucap Izzah menatap Rayhan lekat.
"Sayang, bisa saja terluka saat memotong sayuran atau yang lainnya. Jika itu terjadi maka Lastri lah yang bertanggung jawab." balas Rayhan.
Izzah menggeleng, sedangkan Lastri terlihat sebal.
"Baiklah sayang baik-baik ya dirumah. Abang berangkat dulu. Assalamualaikum." ucap Rayhan yang tiba-tiba mengecup bibir Izzah didepan Lastri.
Izzah yang kaget langsung memukul bahu Rayhan. Rayhan tertawa kemudian menarik Izzah dalam pelukannya dan mencium keningnya. Izzah lalu mencium punggung tangan Rayhan.
Rayhan melangkah keluar dari teras, Izzah memandangnya. Namun Rayhan kembali berbalik menatap Lastri yang membuat Lastri tersipu. Sedangkan Izzah menatap Rayhan penuh keheranan.
"Hey, satu hal lagi. Kalau kau mau bekerja dirumah ini hapus dandanan mu yang menor itu, mataku sakit melihatmu. Kau terlihat seperti ondel-ondel." ucap Rayhan.
"Abaaang." teriak Izzah namun menahan tawa.
"Daahh sayang." ucap Rayhan melambai ke arah Izzah.
"Hati-hati dijalan bang." teriak Izzah saat Rayhan masuk ke dalam mobil.
"Iya." teriak Rayhan, lalu mobil pun melaju meninggalkan rumah.
Izzah menatap Lastri yang tertunduk.
"Lastri, ayo masuk." ajak Izzah.
Lastri kemudian mengangkat tasnya, lalu masuk ke dalam rumah. Lastri menganga melihat seisi rumah. Ini pengalaman pertamanya memasuki rumah yang begitu mewah baginya. Karena sebelum bekerja sebagai art, Lastri hanya bekerja di toko sembako.
"Kamu jangan masukin ke hati ya ucapan bang Rayhan. Tapi satu hal yang aku tekankan ke kamu, bang Rayhan orang yang keras. Jadi kamu ikutin aja apa yang dia katakan." ucap Izzah.
"Tentu nyonya saya tidak akan mengecewakan nyonya dan tuan." jawab Lastri.
"Kalau begitu kamarmu ada dibelakang, kamu lewat pintu samping itu. Untuk pekerjaanmu seperti biasa pekerjaan art saja, membersihkan rumah, mencuci dan menyetrika. Untuk memasak, kau hanya perlu memasak nasi, dan untuk lauknya aku sendiri yang akan memasak. Kau hanya perlu membantuku memotong-motong sayuran." ucap Izzah panjang lebar.
"Oh ya satu hal lagi, kau tidak perlu membersihkan kamar utama, maksudku kamar kami. Aku bisa melakukannya sendiri. Sekarang, kau boleh pergi." lanjut Izzah.
__ADS_1
"Baik nyonya." jawab Lastri berlalu meninggalkan Izzah.
Sesampainya dikamar belakang Lastri kembali dibuat melongo dengan fasilitas yang ada di dalam kamarnya. Terdapat sebuah springbed berukuran sedang, ada sebuah lemari gandeng lengkap dengan meja rias. Dan yang membuatnya kegirangan ada televisi di dalam kamar itu. Lastri bersorak sorai, kemudian dia melihat ada sebuah pintu dipojokan kamar. Saat dibuka ternyata itu adalah kamar mandi.
"Wah bisa betah aku kerja disini. Rumahnya mewah, fasilitas untukku pun lengkap. Dan yang paling penting tuan rumah ini begitu tampan. Aaahh andai dia bisa jadi milikku. Isterinya sama sekali tak cocok dengannya. Tuan Rayhan lebih cocok denganku." ucap Lastri.
Lastri kemudian memandangi pantulan wajahnya di cermin.
"Aku harus membuat tuan Rayhan tergoda dengan tubuhku. Tunggu saja, lambat laun dia pasti akan jatuh dalam pelukanku."
Rayhan berhenti didepan kontrakan Yusuf. Mang Diman yang melihat mobil Rayhan berhenti langsung menghampiri Rayhan.
"Ehh nak Rayhan tumben mampir." sapa mang Diman.
"Assalamualaikum mang." ucap Rayhan mencium tangan mang Diman.
"Waalaikumsalam." balas mang Diman. "Kenapa atuh pagi-pagi kesini?" tanya mang Diman.
"Ini mang mau nemuin Yusuf." jawab Rayhan.
"Yusuf?"
"Iya mang." ucap Rayhan seraya mengetuk pintu kontrakan Yusuf.
Saat pintu terbuka terlihat Yusuf dengan wajah yang bengkak. Membuat mang Diman terperanjat kaget.
"Astagfirullahal'adzim." seru mang Diman memegang dadanya. "Kamu teh kenapa Yusuf? Kenapa atuh Yusuf muka kamu sudah seperti ikan kembung begitu?" tanya mang Diman.
Yusuf tak menjawab, dia hanya memegangi pipinya yang masih terasa sakit.
"Nanti malam kau ikut denganku pergi ke rumah Bella untuk menjelaskan perbuatan kalian berdua didepan semua orang." ucap Rayhan.
"Baik." jawab Yusuf singkat.
"Apa kau sudah berobat?" tanya Rayhan.
Yusuf hanya mengangguk.
"Sudah sana masuk, istirahatlah." lanjut Rayhan.
Yusuf kemudian masuk, lalu menutup pintu. Mang Diman masih bingung dengan percakapan antara Rayhan dan Yusuf.
"Mamang dan bi Asih nanti malam ikut juga ya." ajak Rayhan.
"Sebenarnya teh ini ada apa? Kenapa wajah Yusuf bisa jadi seperti itu? Terus mau apa kita ke rumah neng Bella?" tanya mang Diman.
"Ceritanya panjang mang."
"Pendek kan." ucap mang Diman.
Rayhan tertawa, lalu mulai menceritakan kejadian yang menimpa Izzah.
"Waahh wahh wahh si Yusuf teh bisa jahat juga ya. Semuanya gara-gara hasutan neng Bella, dasar penyihir cantik." celetuk mang Diman.
"Issshh mang Diman ada-ada saja." ucap Rayhan.
"Baiklah kalau begitu, saya pamit mang. Jangan lupa nanti malam setelah isya Rayhan jemput.
__ADS_1
Assalamualaikum" lanjut Rayhan.
"Waalaikumsalam." jawab mang Diman.