Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Kegiatan Liburan


__ADS_3

Aku melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi dan aku masih punya satu episode lagi dari drama yang harus aku tonton. Aku lalu menekan tombol mulai di ponselku. Ammar sudah tertidur seperti seorang bayi dengan kepalanya berada di atas perutku dan tangannya yang berada di pinggangku sementara kaki kanannya berada di kakiku. Dia tidak pernah mengubah posisinya sepanjang waktu seperti ini.


Aku berkonsentrasi kepada drama yang aku tonton itu. Aku merasakan Ammar yang mulai untuk mengubah posisi tidurnya. Aku mengusap kepala dan rambutnya dengan tangan kananku.


Drama itu pun berakhir. Aku tersenyum melihat ke arah layar yang sudah menghitam.


"Apa dramanya sudah berakhir?" Ucap sebuah suara bertanya kepadaku.


Aku melihat ke bawah, melihat ke arah wajah Ammar.


"Kau sudah bangun?" Tanyaku kepadanya.


Dia pun langsung menjawab aku.


"Iya, aku sudah bangun saat kau mulai mengusap rambutku." Ucapnya tersenyum.


Padahal aku sejak tadi terus saja mengusap rambutnya. Itu berarti bahwa dia sudah bangun sejak tadi. Aku lantas mengangkat tangan kananku dari kepalanya. Dia lalu memegang tanganku.


"Tidak bisakah kau terus mengusap kepalaku?" Pintanya kepadaku.


Aku menganggukkan kepalaku dan dia pun melepaskan tanganku. Aku mulai mengusap rambutnya lagi. Dia kembali kepada posisi awalnya tadi.


"Posisi seperti ini jauh lebih nyaman dibandingkan tidur sendirian." Ucapnya padaku.


Aku hanya bisa tertawa.


"Oh ya, bagaimana dengan makan malam yang aku siapkan kemarin untuk mu?" Tanya Ammar kepadaku.


"Tunggu dulu? Apa kau menyiapkan makan malam untukku? Aku tidak ingat makan malam itu." Ucapku.


"Ya, tentu saja kau tidak mengingat hal itu karena kau terus saja fokus pada drama mu itu." Ucapnya.


"Aku minta maaf." Balas ku.


"Tidak apa-apa dengan cara seperti itu, aku jadi mempunyai kesempatan untuk menyuapi mu." Ucapnya tersenyum kepadaku.


"Kau menyuapiku?" Tanyaku kepadanya.


Aku sekarang mengingat pada saat aku menonton drama di episode ke-4 semalam, dia menyuapi aku makan malam.


"Aku ingat sekarang." Ucapku malu.


"Senang kau mengingatnya." Ucap Ammar


"Baiklah, apakah kau merasa drama itu membosankan?" Tanyaku.


"Drama itu? Mmmm... sebenarnya tidak. Sebenarnya bukanlah kebiasaan ku untuk menonton drama sepanjang malam. Aku bisa bosan dengan begitu cepat." Ucap Ammar.


"Kalau begitu maaf karena aku, kau harus memaksa dirimu sendiri untuk terus menonton drama itu." Ucapku merasa bersalah.


"Jangan merasa bersalah. Ini bukanlah sesuatu yang harus membuatmu harus meminta maaf padaku. Setiap orang memiliki hobinya sendiri dan kau mengajakku menontonnya dan aku pun mau dengan tanpa paksaan darimu." Ucap Ammar.


Untuk alasan yang tidak aku ketahui, semua ini terasa membuat rasa bersalahku menjadi sedikit lega. Aku hanya menganggukkan kepalaku kepadanya. Dia lalu melepaskan tangannya dari pinggangku dan memindahkan tubuhnya menjauh dariku. Aku pun melihat ke arahnya.


Dia lalu mendorongku ke arah tempat tidur dan menutup tubuhku dengan selimut.


"Tidurlah sekarang. Kau terjaga sepanjang malam." Ucapnya.


Aku pun mengangguk. Dia lalu menarik aku mendekat ke arahnya dan dia kemudian mulai memeluk aku dengan begitu erat.


"Aku akan tidur denganmu sebentar." Ucapnya menaruh kepalanya di leherku.


Sensasi atas tindakan yang dia lakukan itu membuat aku merasakan geli di seluruh tubuhku.


"Tidurlah." Ucapnya lagi.


Aku pun mengangguk kepadanya lagi.


Sekali lagi aku tidur dengan nyenyak bersama dengan seorang suami yang terasa asing bagiku. Namun sekarang dia sudah membuat jalan ke hatiku terasa terbuka dan hal itu membuat dia bukanlah menjadi orang asing lagi bagiku.


...****************...


PoV Ammar


Aku berpindah dari atas tempat tidur setelah merasa yakin bahwa dia sudah tertidur. Aku lalu turun dari atas tempat tidurku dan mandi kemudian turun ke lantai bawah menuju dapur dan menyiapkan susu hangat lalu membawanya kembali naik ke lantai atas.


"Fara, minumlah susu ini dan setelah itu lanjutkan tidurmu." Ucapku.


Dia masih mengantuk saat duduk dengan tegap. Dia lalu mengangkat tangannya untuk memegang gelas susu itu dengan matanya yang masih tertutup dia mencari gelas kopi di udara dan itu terlihat menggemaskan. Aku memegang tangannya dan memberikan susu itu kepadanya. Tanpa membuka matanya, dia mulai meminum susu itu. Dengan matanya yang masih tertutup dia lalu mengangkat tangannya ke udara untuk memberikan gelas susu yang sudah kosong itu ke arahku. Aku lalu mengambil gelas susu itu dari tangannya dan dia langsung berbaring lagi dan menutup dirinya dengan selimut sampai kepalanya dan itu sangat menggemaskan bagiku.


Aku lalu menyiapkan sarapan dan menaruhnya di lemari pendingin, kemudian mengambil ponselku.


Kegiatan apa yang harus aku lakukan hari ini adalah pikiran yang terus berlari di kepalaku.


'Iya ini adalah ide yang paling baik.' ucapku dalam hati.


Setelah itu, aku lalu menelepon Papa mertuaku.


"Halo." Ucap Papa mertua melalui telepon.


"Halo Pa. Bagaimana kabar Papa?" Tanyaku dan aku tidak tahu bagaimana caraku untuk menanyakan kepadanya tentang kegiatan apa yang disuka oleh Faradina.


"Baik Nak. Apa alasan sampai kau menelpon Papa?"


Aku begitu terkejut karena Papa mertuaku itu langsung ke inti pembicaraan yang memang ingin aku lakukan dengannya.

__ADS_1


"Papa, aku ingin bertanya. Kegiatan apa yang disukai oleh Faradina dalam waktu senggangnya?" Tanyaku kepada Papa mertuaku itu.


"Sebenarnya itu sangat simpel dan mudah. Fara suka membaca buku, menonton drama, mendengarkan lagu dan beberapa kegiatan menyenangkan lainnya." Ucap Papa.


Tapi semua itu adalah hal yang sudah aku ketahui dan aku ingin tahu hal lainnya.


"Apakah dia suka pergi keluar?" Tanyaku kepada Papa mertuaku itu.


"Sebenarnya dia benci tempat yang ramai kecuali itu memang sangat harus dia lakukan. Dia tidak terlalu suka berinteraksi dengan orang asing." Ucap Papa mertuaku lagi.


"Oh, lalu apakah dia menyukai semacam kegiatan olahraga?" Tanyaku.


Hanya itulah satu hal yang aku pikirkan sekarang.


"Iya. Dia sebenarnya menyukai bermain badminton dan selain itu Papa pernah melihat dia bermain voli pantai dengan beberapa temannya untuk satu atau dua kali dan yang terakhir, dia juga menyukai berenang." Ucap Papa mertua padaku.


"Baiklah Pa, aku akan menelpon Papa lagi nanti. Terima kasih untuk informasinya." Ucapku kemudian menutup sambungan telepon itu setelah Papa menjawab salam ku.


Jadi semuanya sudah aku tentukan. Hari ini aku akan bermain badminton dengan Faradina. Aku menelpon resepsionis dan bertanya apakah ada arena bermain badminton private yang ada di dekat sini dan dia pun memberikan alamat padaku dengan lapangan terdekat dari penginapan kami.


Sekarang sudah siang saat Fara turun dari lantai atas dengan wajahnya yang masih mengantuk.


"Apakah kau tidur nyenyak?" Tanyaku.


Dia menganggukkan kepalanya. Setelah selesai mandi, dia pun keluar dan aku memanaskan makanan dan menaruhnya di atas meja dapur. Kami berdua pun lalu makan siang.


"Bisakah kita keluar?" Tanyaku kepadanya.


"Tentu saja kita bisa keluar. Ke mana kau ingin pergi?" Tanya Fara kepadaku.


"Hmmm.... Sebenarnya aku sudah membooking sebuah arena bermain badminton secara private. Bisakah kita pergi ke sana dan menghabiskan sore kita?" Tanyaku kepadanya.


"Tentu saja kita bisa pergi." Ucapnya dengan suara yang berteriak kegirangan.


"Apakah kau suka untuk bermain badminton?" Tanyaku kepadanya.


" Aku sangat suka." Balasnya dengan jujur.


Dia pun tersenyum kepadaku.


...****************...


PoV Faradina


Kami bermain badminton sepanjang sore dan kembali ke penginapan saat sudah jam 07.00 malam. Aku membiarkan Ammar mandi dengan cepat dan saat itu aku langsung menyiapkan makan malam untuk kami berdua.


Tepat saat Ammar keluar dari dalam kamar mandi, aku pergi dengan cepat untuk mandi.


"Apa kau sudah menyiapkan makan malam?" Tanya Ammar kepadaku saat aku berjalan keluar dari kamar mandi.


"Baiklah." Balas Ammar.


Setelah itu kami pun mulai makan malam.


"Apakah kau menikmati waktu sore kita ini dengan bermain badminton?" Tanya Ammar padaku.


"Iya, tentu saja aku menikmatinya." Balasku dengan tersenyum.


"Bisakah kita pergi ke taman besok?" Tanyaku kepada Ammar.


"Sebenarnya Papa mu mengatakan bahwa kau benci untuk pergi ke tempat yang ramai." Ucap Ammar padaku.


"Oh jadi kau memang bicara dengan Papa bukan?" Tanyaku.


Dia pun menganggukkan kepalanya. Aku pun lantas tersenyum kepada Ammar.


"Aku hanya saja benci menempatkan diriku di keramaian seperti karnaval, di mana di sana selalu ada orang banyak. Tapi seperti yang kau lihat, taman tidak terlalu ramai dan orang-orang disana tidak harus saling mendorong satu sama lain." Ucapku dan dia pun menganggukkan kepalanya. "Dan hal yang paling penting adalah, ini bukan sebuah masalah psikologis yang harus aku hindari. Jika tidak ada pilihan lain lagi, maka aku akan memilih hal itu. Aku pun akan pergi ke tempat keramaian itu." Ucapku.


"Jadi aku juga bisa memilih tempat yang ramai untuk kencan kita?" Tanya Ammar kepadaku.


"Iya tentu saja kau bisa. Aku tidak akan marah jika kencan yang kau siapkan untukku di keramaian itu bisa menyentuh hatiku." Ucapku.


"Baiklah, bersiaplah untuk hari itu di masa depan nanti." Ucap Ammar.


Setelah mengobrol beberapa saat kami pun akhirnya pergi ke kamar untuk tidur sekitar jam 09.00 malam dan kami pun mulai tertidur dengan sangat nyenyak.


...----------------...


Seperti biasanya aku bangun keesokan paginya dengan melihat wajah Ammar yang tampan. Aku menatapnya beberapa saat. Dia pun terbangun dan menatap ke arah diriku sama seperti aku yang tengah menatapnya. Dia tersenyum dan kemudian mendekat kearahku dan memberikan sebuah ciuman di keningku.


Aku mengangkat daguku dan menatap ke arah wajahnya. Dia memberikan aku sebuah senyuman yang menyentuh hatiku. Aku membalas senyumannya dan kemudian turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi.


Aku lalu menyegarkan diriku dan menyiapkan sarapan. Saat dia berjalan keluar dari dalam kamar mandi, dia tampak mengangkat tangannya dan menurunkannya juga.


"Ada apa?" Tanyaku kepadanya.


"Aku rasa, aku sudah membuat tanganku mati rasa saat tidur semalam." Ucapnya.


"Aku lebih berpikir bahwa itu mungkin karena kau terlalu memaksakan lenganmu saat bermain badminton kemarin." Ucapku.


"Tidak, sebenarnya tidak seperti itu. Aku tahu perbedaannya. Ini hanya karena posisi tidurku yang salah. Aku akan membaik beberapa saat lagi." Ucapnya dengan keras kepala.


"Baiklah kalau begitu." Balas ku dan menaruh makanan di atas meja makan.


Setelah itu, kami lalu makan dalam diam dan aku melihatnya terlihat kesusahan untuk mengangkat tangannya saat makan. Aku hanya makan dalam diam. Aku lalu menyelesaikan sarapanku dengan cepat dan menaruh piring kotor di wastafel. Aku lalu kembali berjalan mendekat ke arahnya dan mengambil sendok dari tangannya.

__ADS_1


"Biarkan aku menyuapi mu." Ucapku.


"Tidak, aku bisa makan sendiri. Ini hanya karena posisi tidurku yang salah." Ucapnya keras kepala.


Aku lalu mencubit lengan kanannya dan dia pun berteriak.


"Aku rasa, bahwa aku seharusnya tidak membuat seorang pria merasa malu. Tapi melihatmu bertingkah seperti anak kecil." Ucapku tertawa.


Aku lalu mengambil kotak obat dari lemari dan menyemprotkan beberapa obat gosok di lengan Ammar.


"Aku saja, ini terjadi karena kau memaksa lenganmu terlalu keras kemarin." Ucapku.


"Tidak, ini bukan karena...."


Aku menghentikan dia bicara.


"Saat kau membuat lenganmu keseleo hanya karena tidak tidur dengan posisi yang benar. Kau akan merasa sakit tapi kau akan bisa mengangkat tangan kananmu dan menggerakkannya tanpa terlalu merasa sakit. Aku tahu karena aku juga pernah merasakannya." Ucapku.


"Baiklah, aku akan mengakui bahwa ini karena latihan kemarin." Ucap Ammar.


"Katakan saja kepadaku, sudah berapa lama kau tidak pernah berlatih?" Tanyaku.


"Setidaknya selama 6 bulan. Aku begitu sibuk dengan jadwalku, jadi aku tidak pernah punya waktu untuk berlatih." Ucapnya kepadaku.


"Lihat, aku benar jika tubuhmu mulai beradaptasi dengan malas." Ucapku dengan tertawa.


Aku mengusap lengannya dengan jemariku dengan lembut.


"Ini akan membuat rasa sakit mu sedikit berkurang." Ucapku kepadanya.


Dia pun menganggukkan kepalanya.


Setelah itu selesai, aku lalu menyuapinya sarapan.


"Bagus." Ucapku saat melihat piringnya yang sudah kosong.


"Aku bukanlah anak kecil. Jangan perlakukan aku seperti itu." Ucapnya tampak cemberut.


"Baiklah, baiklah..." Ucapku tertawa kecil. "Kita akan pergi ke taman sore nanti." Ucapnya lagi.


"Tidak, kita bisa pergi besok. Kita tidak akan bisa menikmati semuanya saat kau merasakan sakit seperti itu." Balas ku.


"Tapi ini..." Ucapnya.


Namun aku kembali menyela ucapannya itu.


"Jangan mengatakan apapun lagi. Kita bisa pergi ke sana besok." Ucapku.


Sepanjang hari ini sudah tidak ada lagi yang bisa kami lakukan. Aku hanya bisa menyuapinya makan siang dan malam, kemudian pergi tertidur.


Keesokan harinya aku terbangun dengan sudah tidak ada orang lagi di sisi tempat tidur tampak kosong.


"Ammar..." Ucapku memanggilnya dengan keras.


Dia berjalan dengan tubuh yang sudah mandi dan kemudian melompat ke sisi kosong tempat tidur.


"Kau bangun pagi?" Tanyaku kepadanya.


"Iya." Balasnya tersenyum.


"Bagaimana lenganmu?" Tanyaku padanya lagi.


Dia pun tampak mengangkat kedua tangannya naik turun kemudian berkata, "aku benar-benar sudah baik saja. Sekarang aku bisa menggerakkan tanganku. Jdi kita bisa pergi ke taman hari ini." Ucapnya lagi.


"Baiklah." Balas ku.


Aku sudah bersiap dan keluar dari dalam kamar mandi dan disambut dengan aroma makanan yang sangat lezat.


Aku lalu turun ke lantai bawah.


"Aromanya lezat." Ucapku.


"Coba ini, rasanya sangat enak." Ucap Ammar.


Aku menganggukkan kepalaku dan kemudian duduk. Kami lalu mulai makan dalam diam.


Setelah selesai sarapan, kami kemudian bersepeda sampai akhirnya kami tiba di taman. Kami membawa tiket masuk dan berjalan masuk ke dalam taman.


"Bagaimana jika kita mengambil sebuah selfie?" Ucapku kepada Ammar.


Ammar menganggukkan kepalanya. Kami lalu mengambil lebih dari 10 foto selfie.


"Ini adalah pertama kalinya kita mengambil foto selfie bersama." Ucap Ammar.


"Iya benar, pertama kalinya. Wah, kelihatannya bagus." Ucapku saat memeriksa foto-foto yang kami ambil itu.


Untuk waktu yang sudah sangat lama, aku selalu berharap bisa berpose seperti ini.


"Bisakah kau membantu aku mengambil fotoku?" Tanya Ammar.


Aku pun mengangguk.


"Bergayalah, aku akan mengambil gambar mu." Ucapku.


"Tidak, ini harus menjadi sebuah selfie kita berdua." Ucap Ammar dan menarik aku mendekat ke arahnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2