Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Besok Lamaran


__ADS_3

Arsha berjalan menuju kamar. Saat baru menghempaskan tubuh ke kasur, getar ponsel terdengar.


'Ah, iya, aku sampai lupa dengan benda satu ini.'


Arsha meraih ponsel itu, seketika matanya membulat saat melihat siapa yang menelepon.


“Ehem … ehem!” Arsha berdeham keras-keras saat melihat nama Devan di layar.


'Gimana caranya ngeluarin suara yang bagus kayak dua mantannya tadi? Apa besok aku harus ikut les vokal biar punya suara merdu?'


“Assalamu’alaikum,” ucap Arsha semanis mungkin setelah menggeser tombol hijau.


Suara Devan terdengar menjawab salah di seberang sana, lalu bertanya Arsha dari mana.


“Ha? Enggak dari mana-mana, kok. Emang kenapa? Aku bau keringet, ya?”


Devan tertawa kecil. “Mana nyampe baunya ke sini, Sha.”


“Oh, iya!” Arsha menepuk jidat, ia lupa kalau sinyal tidak bisa mengirim bau badan.


“Kamu sibuk?" tanyanya.


"Enggak."


"Boleh aku bicara sesuatu?” ucap Devan yang entah mengapa membuat Arsha deg-degan.


“I-iya. Kenapa?”


“Kamu tahu, kalau setiap kehidupan memiliki tiga masa. Masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Kamu juga tahu gimana masa laluku, tapi untuk menjadi seperti itu di masa sekarang dan mengulanginya di masa depan, aku sadar diri kalau aku semakin tua, Sha.”

__ADS_1


Devan terdengar menghela napas, lalu berkata, “Aku juga nggak peduli dengan masa lalumu, apa pun itu. Entah yang aku tahu ataupun nggak. Karena waktu aku memutuskan untuk memilihmu, maka semua masa lalu hanyalah kenangan, dan yang terpenting adalah masa sekarang dan masa depan saat kamu bersamaku.”


Arsha termangu mendengar ucapan Devan.


“Sha?" panggilnya.


"Ya?"


"Menikahlah denganku. Entah itu siang atau malam, terang atau gelap, senang atau susah, aku mau hanya kamu yang membersamaiku sampai maut menjemput kita.”


'Jangan pingsan, jangan pingsan, jangan pingsan!'


"Mari lupakan masa lalu, dan sambut masa depan bersama. Arsha ... aku mencintaimu," lanjutnya.


Arsha langsung membekap mulut dengan tangan, entah mengapa rasanya hatinya tersentuh dan dipenuhi keyakinan.


Mereka terdiam beberapa saat.


"Eh, eng-enggak."


"Jawab kalau gitu."


“I-ya. Minggu besok kamu harus lamar aku! Kalau telat gak jadi."


"Jangan Minggu, kelamaan. Besok saja, aku akan bawa keluargaku ke rumahmu besok.”


“Ha?.” Arsha langsung gelagapan.


“Lebih cepat lebih baikkan." Ucap Devan

__ADS_1


"Ta-tapi....."


"Biar bareng nikahan sama kembaran kamu. Udah ya, sampai jumpa besok, Arsha. Segera istirahat dan jangan mimpiin aku, karena lebih ganteng di kehidupan nyata,” kata Devan sebelum akhirnya mengucap salam dan memutus sambungan telepon.


Layar ponsel sudah berubah jadi wallpaper bergambar foto Arsha, Arka, dan kedua orang tuanya yang tengah berlibur.


“Ha? Be-sok?”


Tangan dan kaki Arsha mendadak berkeringat dingin.


'Bagaimana ini?'


“Ayah ... Ibu... Kakek.... Kak Arka....! Tolong!” Arsha langsung berlari keluar kamar.


"Ada apa, Nak?" Rayhan tampak bingung pun dengan Izzah yang langsung berlari ke ruang tengah dengan tangan yang penuh tepung karena sedang membuat kue.


Arka dan Mang Diman juga ikut menghampiri Arsha.


"A-nu mau itu a-nu anu besok, Yah, Buh" ucap Arsha gagap.


"Anunya nganu siapa, Neng? Ngomong teh yang jelas atuh tenang dulu, tarik napas ... tahan ... tahan ... tahan ...."


"Mati dong nanti Arsha Kek,!" Arsha memukul lengan Mang Diman pelan.


Arsha yang nurut saja disuruh tahan napas, langsung mengembuskannya.


"Devan, Yah. Devan mau ngelamar aku besok!"


"Wah, kok mendadak banget, Sha?" tanya Arka tampak terkejut.

__ADS_1


"Ya kan bagus Nak, biar bisa nikah bareng sama kamu." Ucap Izzah.


"Benar sekali, ayah setuju ucapan ibu kamu." Lanjut Rayhan.


__ADS_2