
Tiba dirumah mang Diman, Izzah masih saja termenung, tak menyadari jika mobil telah berhenti. Rayhan menggenggam tangan Izzah.
"Sayang..." ucap Rayhan.
Izzah menoleh lalu tersenyum.
"Kita sudah sampai." sambung Rayhan.
"Eh udah sampai ya? Hihi Izzah gak sadar." balas Izzah.
Rayhan lalu turun terlebih dahulu kemudian membukakan pintu untuk Izzah.
Rayhan menggandeng tangan Izzah masuk ke pekarangan rumah mang Diman.
"Waahh gembira sekali wajahmu nak Rayhan." ucap mang Diman.
Rayhan hanya tersenyum.
"Assalamualaikum mang." ucap Izzah.
"Waalaikumsalam." jawab mang Diman.
"Bi Asih kemana mang?" tanya Izzah.
"Itu tadi ke warungnya mpok Siti beli gula." jawab mang Diman. "Ayo nak Rayhan duduk dulu." ajak mang Diman.
"Gak usah mang, aku mau langsung balik aja, mau ke kantor banyak pekerjaan yang harus diselesaikan." ucap Rayhan.
__ADS_1
Mang Diman mengangguk.
"Sayang, abang mau langsung ke kantor dulu ya. Nanti abang balik lagi, Izzah langsung istirahat aja. Gak usah ke toko dulu. Kalau ada apa-apa langsung hubungi abang ya." ucap Rayhan.
"Baik bang." jawab Izzah.
Rayhan lalu mengecup kening Izzah. Dia lupa kalau disampingnya ada mang Diman yang tengah duduk melihat mereka berdua.
"Khem...khem... Yang namanya cinta ya, serasa dunia milik berdua. Orang lainpun udah kayak nyamuk aja. Gak dianggap." celetuk mang Diman.
"Hihi maaf mang. Ya udah, Rayhan pamit ya. Assalamualaikum." ucap Rayhan.
"Waalaikumsalam." jawab Izzah dan mang Diman.
Izzah lalu masuk ke dalam kamar setelah Rayhan pergi. Di dalam kamar, Izzah kembali termenung mengingat kejadian di hotel tadi. Bagaimana orang-orang memandangnya rendah karena berpikir dia adalah perusak rumah tangga orang lain.
Padahal akulah istri pertamanya, tapi... Mungkin memang sudah takdirku menjadi istri simpanan atau lebih tepatnya wanita simpanan.
[Halo, assalamualaikum Zah.]
[Waalaikumsalam Tan.]
[Izzah maaf mengganggu waktu istirahatmu, tapi kita ada pesanan kue tart pernikahan mendadak Zah. Mau dipakai nanti malam. Dan anak-anak bilang hanya kamu yang bisa menghandle kalau masalah kue yang begituan. Anak-anak pada nyerah Zah. Katanya gak berani, takut salah. Gimana Zah apa kamu bisa kesini?] jelas Intan panjang lebar.
[Gimana ya Tan, aku benar-benar lagi gak mood.] jawab Izzah.
[Aku ngerti Zah. Kalau gitu aku tinggal konfirmasi aja sama bu Erna kalau kamu gak bisa.]
__ADS_1
[Bu Erna? Apa maksudmu bu Erna pemilik Cahaya WO?] tanya Izzah.
[Iya Zah. Kenapa emangnya?] ucap Intan balik bertanya.
[Aduh... dia itu customer tetap Izzah Bakery Tan, aku gak mungkin nolak. Gak enak aku Tan, ya udah bentar lagi aku otw, confirm aja sama bu Erna kalau aku bisa bikinin orderannya dia.]
[Baik Zah, kalau gitu aku telepon bu Erna dulu ya. Terus kamu nanti hati-hati dijalan.] ucap Intan.
Sambungan telepon terputus setelah mereka mengucap salam. Setelah itu Izzah langsung bergegas mengganti pakaian dan memesan taksi online.
Setelah hampir satu jam perjalanan Izzah baru sampai di toko kue miliknya. Jalanan yang macet membuatnya terlambat sampai.
"Aduh jalanan macet banget, jadi telat sampainya. Mudah-mudahan masih keburu ya buat kuenya." ucap Izzah.
"Aku bantu Zah, biar lebih cepat." ucap Intan.
"Terima kasih Tan, aku memang akan memerlukan banyak bantuan." balas Izzah.
"Gak usah pakai acara terima kasih, ini sudah memang pekerjaanku. Untuk itulah aku digaji." ucap Intan tersenyum.
"Ya deh, tolong minta juga Ana untuk segera membantuku. Lebih banyak orang akan semakin baik."
Setelah hampir dua jam berkutat dengan tepung, akhirnya kue pesanan bu Erna selesai. Izzah merasa puas dengan hasil kerjanya. Begitu juga dengan Intan dan semua karyawan yang lain.
"Bu Izzah semakin hari semakin mahir dalam menghias kue. Saya takjub dengan hasilnya bu." ujar Ana.
"Kamu bisa aja Ana." balas Izzah.
__ADS_1
Izzah dan Intan lalu beristirahat di depan toko kue. Karena sudah jam makan siang Izzah memesan makanan online.
Saat makanan datang, nafsu makan Izzah tiba-tiba hilang. Izzah malah memainkan makanannya dengan sendok. Intan menatap Izzah penuh tanda tanya.