
PoV Faradina
Aku berada di dapur mencuci sayur untuk memasak saat ponselku bergetar. Aku melihat ke arah ponselku dan itu adalah pesan dari Ammar. Aku lantas membuka pesan masuk di ponselku. Ammar menuliskan pesan untukku.
'Aku akan terlambat pulang hari ini sayang, jangan menunggu aku.'
Aku menghela nafas dan tidak jadi memasak. Ini sudah sering terjadi dalam satu bulan ini. Ammar mulai sibuk dengan pekerjaannya, aku pun hanya bisa menunggunya di kamar tempat tidur kami dan aku pun tertidur.
Dalam tidurku aku merasa sebuah tangan hangat melingkar di pinggangku.
Aku pun berkata, "kau sudah pulang?"
"Iya sayang, tidurlah lagi." Ucapnya seraya mengusap rambutku.
...----------------...
Pagi harinya aku bangun dan menemukan dia tengah tertidur di sampingku. Aku tidak membangunkannya dan langsung mandi. Aku lalu menyiapkan sarapan kami dan juga makan siang hanya untuknya karena hari ini aku tidak pergi bekerja. Aku ingin libur.
Aku menaruh makanan di atas meja dan mulai makan tepat saat dia berjalan turun ke lantai bawah dengan sudah berpakaian rapi.
"Selamat pagi." Ucap Ammar dengan senyuman ceria di bibirnya.
"Selamat pagi." Ucapku tersenyum dan mengambil mangkok berisi apel dan aku menaruhnya di hadapanku dan mulai makan apel itu dengan perlahan.
Ammar selesai sarapan dan mengambil kotak makan siangnya dan berjalan ke arahku kemudian memberikan sebuah ciuman di keningku.
"Bye sayang. Aku akan pulang lebih awal malam ini."
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan tersenyum dan melihat dia berjalan ke arah pintu.
"Fara, apakah kau melihat kunci mobilku?" Tanya Ammar.
Aku sebenarnya melihat kunci mobil itu di meja makan, tapi aku berpikir bahwa aku ingin mengerjainya.
"Aku melihatnya di meja TV." Ucapku berbohong kepadanya.
Ammar lalu mencari kunci itu di sana, tapi tidak dapat menemukannya.
"Mungkin di samping rak." Ucapku lagi.
Ammar kembali mencari di setiap tempat yang aku katakan. Aku melihat itu tampak menggemaskan. Aku berjalan ke arah sofa di ruang tamu dan duduk seraya memakan apel ku.
"Aku ingat sepertinya di meja dekat rak sepatu." Teriakku dan dia pergi ke sana mencarinya lagi.
"Hentikan semua omong kosong ini. Katakan saja kepadaku di mana kunci mobil sialan itu." Teriaknya mendorong sebuah vas yang ada di atas meja di samping rak sepatu.
"Di... meja makan." Ucapku dengan suara yang gemetar.
Dia lalu mengambil kunci mobil itu dan pergi dengan menutup pintu rumah dengan sangat keras.
Air mataku mulai terjatuh. Ini adalah pertama kalinya dia terdengar begitu marah padaku. Memikirkan semua itu, aku berdiri dan berjalan mendekat ke arah vas bunga yang sudah pecah. Aku memungut semua pecahan itu dan tidak sengaja mengenai tanganku. Air mataku kembali terjatuh. Aku lalu menaruh pecahan itu lagi di lantai dan berjalan menjauh.
...****************...
PoV Ammar
Aku tahu aku salah karena berteriak kepadanya. Pulang dari kantor, aku langsung berjalan masuk ke dalam rumah. Tapi semuanya benar-benar gelap. Aku menghidupkan lampu dan melihat keadaan rumah yang semuanya benar-benar kacau. Tidak, kekacauan itu akulah yang membuatnya tadi pagi.
Vas yang aku rusak kan tadi pagi masih ada di lantai. Tapi ada cairan warna merah yang mengering di sekitarnya. Bukan hanya sedikit saja, tapi cairan itu terlihat menggenang di pecahan vas itu.
Aku lalu memesan makanan. Melihat kekacauan ini, aku sangat yakin bahwa dia tidak makan sepanjang siang ini. Aku lalu bergegas menuju kamar kami. Dia tampak tengah berbaring dengan punggungnya yang menghadap ku.
Aku mendekat ke arahnya. Aku lalu duduk berlutut di hadapannya dan melihat wajahnya yang tampak kacau dengan air matanya yang sudah mengering. Aku melihat ke arah tangannya yang menggantung di udara. Luka di tangannya belum dibersihkan. Darahnya sudah mengering. Aku memindahkan tanganku ke arah tangannya untuk memegangnya. Namun dia menarik tangannya kembali dan menaruhnya di atas meja. Aku merasa sedikit kesal, tapi dia tetap terlihat tenang.
"Kenapa kau tidak membersihkan luka mu?" Tanyaku kepadanya.
Dia tidak mau membalas ku. Dia tidak melihat ke arahku. Aku berdiri dan berjalan ke arah lemari dan mengambil kotak obat dan kembali duduk di dekat tempat tidur. Aku membersihkan lukanya dan menaruh perban di luka itu. Dia terlihat tidak merasa kesakitan sedikitpun.
"Untungnya kau tidak mendapatkan infeksi." Ucapku dengan senyuman melihat ke arahnya, tapi dia tidak pernah mau melihat ke arahku.
Dia membalikkan tubuhnya dan sekarang punggungnya yang menyapa aku.
"Aku minta maaf. Aku salah, aku seharusnya tidak berteriak padamu." Ucapku.
Tapi aku tetap tidak bisa melihat reaksi di wajahnya.
"Sayang, kumohon...."
Sebelum aku menyelesaikan ucapanku, suara bel di pintu berbunyi dan aku langsung berjalan keluar untuk mengambil makanan pesanan ku itu.
Aku mengambil makanan itu dan langsung kembali ke kamar tidur dan masih melihat dia yang berbaring di atas tempat tidur. Aku menaruh makanan itu di ujung tempat tidur dan menarik tubuhnya untuk duduk. Dia sama seperti sebuah boneka dan dia melakukan apapun yang aku katakan kepadanya. Aku membuka makanan itu dan menaruhnya di atas meja lalu aku kembali membawanya ke atas tempat tidur.
"Makan ini." Ucapku mengambil potongan pizza dan menaruhnya di dekat mulutnya.
Dia tidak menghiraukan aku dan menggunakan tangan kirinya untuk mengambil potongan pizza lainnya.
__ADS_1
'Sial! Aku lupa bahwa dia sangat pintar.'
Baiklah, terserah saja. Lagipula dia harus makan, dan itulah yang terpenting.
Setelah itu dia turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi.
"Apa kau memerlukan bantuan? Maksudku, aku tahu bahwa kau sangat pintar. Tapi tetap saja kau tidak bisa membuka pakaian..."
Sebelum aku bisa menyelesaikan ucapanku, dia sudah membanting pintu kamar mandi dengan sangat keras.
Baiklah, ini sikap yang sangat baik. Tidak apa-apa. Aku lalu berlari ke arah kamar tamu dan mandi di sana dan dengan cepat kembali ke kamar kami.
'Sial!'
Kelihatannya aku butuh mandi air dingin di tengah malam seperti ini. Aku melihatnya berjalan keluar dari ruang ganti menggunakan pakaian seksinya.
"Sayang...."
Sebelum aku bisa menyelesaikan ucapanku lagi, dia bertanya padaku.
"Apakah aku seharusnya tidur di kamar tamu?"
Aku tahu dia berusaha menggodaku.
"Tidak, aku baik-baik saja. Ayo kita tidur." Ucapku dan melompat di atas tempat tidur.
Dia lalu berbaring di atas tempat tidur dan aku berbaring di sisinya. Suasana panas semakin lebih kuat dibandingkan dengan yang aku rasakan saat pertama kali menghabiskan malam kami menjadi suami istri saat itu. Aku lalu bergerak mendekat ke arahnya.
Dia pun berkata, "jangan beraninya kau mendekat ke arahku."
Dia benar-benar mencoba untuk menggodaku. Bagaimana aku bisa melewati malam ini tanpa menyentuh tubuhnya yang seksi ini?
...----------------...
Aku bangun karena ada rasa geli di wajahku. Aku membuka mataku dan melihat dia tersenyum ke arahku. Dia tampak menikmati melihat wajahku.
"Selamat pagi." Ucapku dan mencium keningnya.
Dia hanya memanyunkan bibirnya. Aku menariknya mendekat ke arahku dan memeluknya dengan sangat erat.
"Apakah kau memaafkan ku?" Tanyaku kepadanya.
Dia dengan cepat mendorongku dan berdiri dari atas tempat tidur. Aku menelan ludah melihat kakinya yang jenjang itu.
Setelah itu dia langsung berjalan ke arah lemari.
Dia tentu tahu bagaimana caranya membuat orang merasa tidak nyaman. Aku hanya mencoba duduk di atas tempat tidur melihat dia tengah berusaha menyisir rambutnya. Aku lalu berjalan mendekat ke arahnya dan menyisir rambut untuknya.
"Mau pergi mandi kan?" Tanyaku kepadanya dan dia menganggukkan kepalanya.
Aku malah membuat rambutnya menjadi berantakan dan aku langsung berjalan pergi dari kamar tanpa menunggu jawaban darinya.
Aku berjalan turun ke arah ruang tamu yang tampak masih kacau. Aku hanya bisa menghela nafas.
'Kenapa asisten rumah tangga meminta liburan di situasi seperti ini?'
Aku hanya bisa komplain dan mulai membersihkan kekacauan yang aku buat sendiri. Aku menempatkan semua barang-barang di posisi awal dan membersihkan vas yang aku rusak lalu menaruh bekas pecahannya di tempat sampah. Setelah itu, aku lalu menyiapkan sarapan. Tapi aku tidak tahu apakah dia akan turun.
Aku lalu menaruh sereal di dua mangkok dan mengisi cangkir dengan susu. Setelah itu, aku duduk di depan televisi mencoba untuk bersikap tenang. Aku memutar sebuah film horor dan mulai menontonnya.
Fara tampak berjalan turun ke lantai bawah dengan hanya mengenakan hoodie berwarna pink dan tidak memakai apapun di bagian bawahnya dan rambutnya tergerai ke bawah.
'Kenapa dia melakukan hal ini kepadaku?' pikirku dalam hati.
Dia berjalan langsung menuju ruang makan dan mengambil mangkuk sereal yang aku taruh di atas meja dan menuang susu ke dalamnya dan berjalan lalu duduk di sampingku.
Aku berdiri dari sana dan berjalan ke arah dapur saat aku mengingat sesuatu. Aku berbalik saat aku mendengar dia berteriak kencang. Apa yang aku takutkan terjadi. Aku berlari ke arahnya dan melihat ke arah televisi. Dia benar-benar tampak ketakutan. Aku lalu memeluknya dengan sangat erat.
"Ssshhh.... Aku minta maaf. Aku lupa mengingatkanmu. Ini salahku. Ssshhh... jangan menangis. Itu tidak apa-apa. Aku minta maaf." Ucapku saat aku mengusap punggungnya.
"Aku minta maaf karena aku membuatmu marah kemarin." Ucapnya seraya menangis dalam pelukanku.
"Tidak, itu memang salahku. Aku seharusnya tidak marah padamu. Maukah kau memaafkan aku?" Tanyaku kepadanya.
Dia menganggukkan kepalanya. Aku pun merasa lega. Setelah itu aku lalu memeluknya. Dia berada di dalam pelukanku sepanjang waktu.
Aku lalu berdiri dan berjalan ke arah dapur. Dia mengikuti aku dari belakang dengan memegang pakaianku. Aku berbalik dan melihat ke arahnya.
"Apa kau marah padaku? Kau terlihat tidak menghiraukan aku?" Ucapnya dengan suara yang menggemaskan.
Aku langsung menggendongnya dan menaruhnya di atas meja dapur.
"Kau berhasil menggodaku." Ucapku dan aku berbalik untuk pergi.
Namun dia mengunci aku dengan kakinya dan menarik aku mendekat ke arahnya. Aku berbalik ke arahnya. Dia menaruh keningnya di keningku dengan matanya yang tertutup.
__ADS_1
"Aku tidak menggunakannya karena aku tidak bisa melakukannya dengan satu tangan." Ucapnya padaku.
"Jadi kau tidak bermaksud untuk menggodaku?" Tanyaku kepadanya lagi.
"Tidak." Balasnya.
"Sayang." Ucapku dan dia menganggukkan kepalanya. Aku lalu melanjutkan ucapanku, "bagaimana jika kita membuat bayi?" Ucapku melebarkan kakinya dengan tanganku dan matanya tampak membulat sempurna.
"Jika kau tidak mau...."
Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku saat dia bertanya padaku.
"Berapa banyak anak yang kau mau?"
"Hah?" Tanyaku.
"Berapa banyak anak yang kau inginkan?" Tanyanya lagi kepadaku.
"Dua." Balasku.
Dia mencium bibirku dengan cepat.
"Kita selalu memiliki pemikiran yang sama." Ucapnya tersenyum.
Aku membuat dia mendekat ke arahku dan menatap ke arah matanya. Aku lalu menciumnya dengan lembut dan juga perlahan.
"Ayo kita mulai program membuat anak sekarang juga." Bisik ku di telinganya.
"Jangan disini. Bawa aku ke kamar." Balasnya dengan pipi yang memerah.
Aku lantas menggendongnya naik ke lantai atas menuju kamar kami untuk memadu kasih.
Sejak pertama kali kami melakukannya di hari ke seratus pernikahan kami, kami tidak pernah melakukannya di pagi hari. Dan ini adalah pengalaman pertama kami melakukannya di waktu yang berbeda.
Ah, aku suka sekali mendengar suaranya yang begitu lembut terus menyebut namaku saat aku mulai menjamah tubuhnya.
Aku tidak pernah membayangkan bahwa kami akhirnya bisa melakukan semua ini. Meski ini sudah bukan yang pertama kali kami melakukannya, tapi tetap saja semuanya terasa begitu menakjubkan.
"Aku mencintaimu." Bisik ku di telinganya saat kami berdua berhasil mencapai puncaknya secara bersamaan.
"Aku juga mencintaimu." Balasnya.
Aku mencium keningnya yang tampak berkeringat karena aktifitas yang baru saja kami lakukan.
"Apa kau tidak akan bekerja?" Ucapnya padaku.
"Tidak. Aku ingin menghabiskan hari ini untuk seharian bersamamu diatas tempat tidur. Kita harus melakukan hal ini seharian penuh." Ucapku menggodanya.
"Hah! Apa kau tidak lelah?" Balasnya.
Aku menggelengkan kepalaku.
"Bukankah kita ingin memiliki anak? Jadi hari ini kita harus melakukannya berkali-kali sampai berhasil. Lagi pula aku sudah menahan diriku sejak semalam. Kau terus saja menggodaku." Ucapku padanya.
Wajahnya tampak memerah. Dan seperti yang aku katakan, aku tidak membiarkan dia keluar dari dalam kamar. Kami terus melakukannya bahkan sampai membuat kami lupa untuk makan siang. Kami akhirnya keluar dari dalam kamar setelah pukul 03.00 sore.
"Pinggangku sakit. Kau jahat sekali, tidak mau melepaskan aku." Protes Fara.
Aku hanya tertawa dan mendudukkannya diatas kursi meja makan.
"Maaf sayang." Balasku lalu mencium pucuk kepalanya. "Mau makan apa?" Tanyaku.
"Apa saja. Aku lapar." Ucapnya.
Aku lalu beralih ke arah lemari pendingin dan langsung mengambil daging dan dengan cepat memanggangnya.
Tak butuh waktu lama, aku menyajikan daging itu dihadapannya dengan beberapa potongan tomat segar dan juga asparagus. Sementara aku hanya meminum kopi.
"Apa kau tidak makan?" Ucapnya padaku.
Aku menggelengkan kepalaku.
"Tidak lapar?" Ucapnya lagi.
"Aku sudah kenyang memakan mu. Tapi aku belum puas, aku masih mau lagi." Balasku.
Kali ini dia memicingkan matanya menatapku.
"Mesum." Ucapnya.
"Hahaha..." Aku hanya bisa tertawa membalas ucapannya itu.
'Oh Tuhan, aku benar-benar mencintai wanita yang ada dihadapanku ini.'
Bersambung....
__ADS_1