
Pagi berikutnya.....
Dafa tengah berada di kampus, dia tampak tengah berbicara dengan Lola.
Sheila melihat ke arah mereka yang memang tampak begitu dekat. Sheila pun mendekat ke arah Marissa dan bertanya padanya.
"Siapa Lola? Dia terlihat seperti bukan orang baik." Ujar Sheila.
"Dia adalah mahasiswa terbaik di kelas ini. Dua minggu yang lalu, dia pergi untuk program pertukaran mahasiswa ke luar negeri, tapi sekarang dia sudah kembali. Dan kau benar, dia itu gadis yang bermuka dua. Semua orang tahu bahwa dia sangat mencintai Dafa. Dafa tidak memperlakukannya seperti para gadis penggemarnya yang lain, karena Papa mereka bersahabat baik. Kabarnya orang tua mereka bahkan ingin membuat mereka bertunangan!" Ucap Marissa.
"Setidaknya Dafa tidak terlihat menyukainya." Balas Sheila.
"Apa kau cemburu? Jangan khawatir! Aku bisa mengatakan padamu bahwa Dafa hanya mencintai mu." Ucap Cindy dengan menggoda Amira.
"Berhentilah bicara omong kosong! Seseorang bisa mendengar mu." Ucap Sheila.
"Baiklah, baiklah!" Seru Marissa.
Sheila lalu duduk di bangkunya dan melihat Lola yang maih berbicara dengan Dafa. Tapi ternyata Dafa hanya melihat kearah buku yang tengah dibacanya.
Lola mempunyai rambut yang panjang dan matanya yang berwarna coklat dia tampak cantik.
"Dafa, aku dengar bahwa sahabat mu meninggal. Aku ikut sedih. Apakah kau tahu bahwa dia selalu ingin kita bersama. Itu adalah pesan terakhirnya." Ucap Lola pada Dafa.
'Benar-benar gadis yang licik. Dia mencoba untuk menggunakan topik pembicaraan sahabat Dafa yang meninggal. Untuk menarik perhatian Dafa. Benar-benar gadis yang egois. Dia tidak memikirkan bagaimana perasaan Dafa.' ucap Sheila dalam hati.
Melihat Dafa yang tampak merasa terganggu atas kehadiran Lola, Sheila pun ingin melakukan sesuatu.
Sheila pergi dengan membawa sebuah buku perhitungan dan membawanya pergi mendekat kearah Dafa.
"Dafa, aku tidak mengerti bagaimana cara penyelesaian yang ini. Bisakah kau membantu ku, kumohon." Ucap Sheila.
"Oh tentu saja." Balas Dada
Sheila berlutut di lantai dengan lengannya berada di atas meja . Dan Dafa dia melihat kearah Lola yang menampakan ekspresi marah sebelum dia pergi.
'Aku sangat menyukai hal ini. Hahahaha....' ucap Sheila dalam hati.
"Aduh!"
Dafa memukul kepala sama dengan sebuah pena.
"Aku tidak merasa bahwa kau tidak mengerti akan penyelesaian perhitungan itu." Ucap Dafa.
"Kau benar, aku hanya tidak suka dengan tatapan matanya. Jadi aku membuat dia untuk menjauh." Balas Sheila.
"Kau tidak menyukainya?" Tanya Dafa.
"Apakah kau akan menyukai seseorang yang terus memandang mu dengan tatapan mematikan." Balas Sheila bertanya balik pada Dafa.
"......" Dafa hanya diam.
"Baiklah, aku disini bukan untuk menghakimi wanita pilihanmu aku akan pergi." Ucap Sheila.
"Aku tidak menyukai Lola." Ucap dafa dengan suara yang sangat keras.
Seisi ruangan mendengar suara Dafa. Semua orang melihat kearah Dafa dan kemudian melihat kearah lola. Wajah Lola terlihat begitu malu.
Sheila terlihat begitu puas. Untuk menghindari tatapan seisi ruangan yang membuatnya malu Lola memutuskan untuk pergi ke kamar mandi. Sementara Dafa sendiri terlihat tidak peduli dengan apa yang terjadi. Dia tampak tengah memainkan ponselnya seperti tidak terjadi apa-apa.
Di akhir perkuliahan semua orang mulai membicarakan dan bergosip tentang Dafa dan juga Lola. Sheila hendak berjalan keluar melewati gerbang, saat Lola tengah berdiri dihadapannya.
'Apa yang dia inginkan?' pikir Sheila.
"Kau sebaiknya kemasi semua barang-barang mu. Karena ini adalah hari terakhir mu berada di kampus ini." Ucap Lola sombong.
"Kau benar-benar pengecut sekarang kau akan meminta bantuan papamu?" Ucap Sheila.
"Kau...!!!" Lola tampak semakin marah.
Lola mencoba untuk memukul Sheila, tapi Sheila dapat menghindarinya dan kemudian Lola terjatuh. Rok pendek yang dia gunakan Lola terangkat naik dan hal itu membuat bok*ongnya terlihat.
Beberapa orang mengambil gambar Lola yang terlihat seperti itu.
"Benar-benar berita besar. Lola putri si donatur terbesar di kampus ini hendak melakukan sesuatu yang jahat di luar kampus. Benar-benar memalukan." Ucap para pria yang memotret Lola itu, kemudian mereka berlari menjauh.
Sheila tidak memperdulikan Lola dan dia berjalan pulang ke rumah.
*********
Tiba di rumah...
"Kak aku besok mau pergi ke makam mama dan papa. Apa kakak mau ikut?" Tanya Sheila.
__ADS_1
"Sayang besok kau akan ujian dan juga akan ada pesta di kampus mu dua hari lagi."
'Oh sial, pesta itu. Aku hampir melupakan akan hal itu. Aku harus memilih gaun ku mulai dari sekarang.' ucap Sheila dalam hati.
"Jangan khawatir, itu bukan masalah besar." Ucap Sheila pada kakaknya.
Sheila lalu bergegas menuju kamarnya. Dia pergi ke arah ruang gantinya untuk memilih gaun, tapi tidak ada banyak gaun di sana. Kebanyakan dari gaun itu sudah sangat kecil untuk Sheila dan yang lainnya tampak jelek.
Kemudian Sheila melihat sebuah gaun yang diberikan oleh orangtuanya melalui kakaknya saat dia berusia 5 tahun. Kakak Sheila, Sara mengatakan pesan orang tua mereka, bahwa Sheila bisa menggunakan gaun itu hanya saat dia sudah cukup dewasa.
Itu adalah sebuah gaun indah berwarna biru gelap. Dan hanya ada satu model seperti itu di seluruh dunia. Gaun itu dibuat di italia dengan nama bintang berkilau.
Sheila lalu mencoba gaun itu dan dia tampak sempurna.
'Aku sudah punya gaun sekarang.' ucap Sheila dalam hati.
********
Keesokan harinya....
Sheila pergi ke kampus, dia bertemu dengan Marissa di depan gerbang.
"Aku gugup sekali. Tidak, aku bahkan ketakutan. Bagaimana jika aku tidak lulus tes toefl?" Ucap Marissa.
"Sudahlah, jangan berpikir yang tidak-tidak. Kita sudah belajar bersama-sama selama ini. Kau hanya perlu fokus menjawab semua soal yang ada. Aku yakin kau pasti bisa. Dan, setelah tes ini selesai, aku akan mentraktir mu pizza." Ujar Sheila.
"Pizza mozarella ya." Ucap Marissa.
"Sesuai keinginan mu." Balas Sheila.
Saat mereka berjalan masuk ke dalam gedung kampus, para mahasiswa lainnya menatap ke arah Sheila.
'Sepertinya aku ini terlahir memang menjadi pusat perhatian.' ucap Sheila.
Sheila tidak sengaja mendengar ucapan mereka.
"Lola ingin membuatnya keluar dari kampus ini. Tapi dia tetap ada disini. Apa yang terjadi?"
"Apakah dia berasal dari keluarga kaya?"
"Aku tidak tahu tapi dia mempermalukan Lola kemarin."
Lola memang mencoba untuk mengeluarkan Sheila dari kampus, tapi dia gagal. Semua itu karena Sheila merupakan mahasiswa yang paling pintar di seantero negeri. Jadi, tidak ada kampus manapun yang akan menolaknya. Bahkan jika mereka ingin mengeluarkan Sheila, mereka tidak akan bisa melakukannya begitu saja, karena Sheila punya keistimewaan tersendiri sebagai mahasiswa yang terpintar.
Saat Sheila masuk ke ruang kelas, dia bertemu dengan Dafa.
"Semoga berhasil juga untukmu." Balas Sheila.
Mereka berdua lantas melakukan tos satu sama lain, kemudian menuju tempat duduk mereka.
Dosen kemudian masuk ke dalam kelas. Semua orang tampak gugup. Beberapa mahasiswa terlihat masih belajar. Ada juga yang terlihat tengah mencatat sesuatu di secarik kertas.
'Ah, pemandangan yang indah.' ucap Sheila dalam hati.
Tiba-tiba Lola mendekat ke arah meja Sheila dengan wajahnya yang tampak arogan dan berkata,
"Aku tahu taruhan mu dengan Dafa. Kenapa kita tidak membuat semuanya jadi lebih menarik?"
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Sheila.
"Aku juga akan ikut taruhan itu! Jika aku menang, Dafa juga menang dan kau harus melakukan apapun yang kami katakan. Oke?" Ucap Lola angkuh.
"Tentu saja." Balas Sheila santai.
'Kau sendiri yang mengajukan semua ini. Jadi jangan salah kan aku nanti!' ucap Sheila dalam hati.
Ujian pun di mulai dengan lancar. Pertanyaannya lebih sulit dari yang dikira oleh Sheila, tapi tetap saja itu tidak ada apa-apanya bagi Sheila.
Setelah selesai dengan ujian di kampus, Sheila lantas pergi ke pemakaman untuk mengunjungi kedua orang tuanya seperti yang sudah dia rencanakan. Sheila membeli mawar putih, bunga favorit dari mama nya.
Sheila akhirnya tiba di pemakaman yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampusnya itu. Dia lalu menaruh bunga mawar itu di makam mamanya yang berdampingan dengan makam sang papa.
"Hai Pa, Ma. Jangan khawatir, semuanya berjalan dengan baik. Ujian hari ini berakhir dan tetap mudah seperti sebelumnya. Aku sangat merindukan kalian berdua. Kakak dan Bibi menjaga dan merawat ku dengan sangat baik. Dan aku bukanlah gadis yang lemah, jadi kalian bisa beristirahat dengan tenang. Aku minta maaf, tapi aku harus pergi sekarang. Akan ada pesta dua hari lagi di kampus." Ucap Sheila seraya terus mengusap nisan makam orang tuanya itu.
Saat Sheila berbalik, dia melihat seseorang tengah berdiri di belakangnya. Orang itu adalah Dafa.
'Apa yang dia lakukan disini?' pikir Sheila.
"Sudah berapa lama kau berdiri di belakangku?" Tanya Sheila.
"Sekitar dua menit, atau mungkin saja kurang." Balas Dafa.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sheila penasaran.
__ADS_1
"Aku mengunjungi sahabatku." Ucap Dafa seraya menatap ke arah sebuah makam berada di belakangnya.
Sheila melihat ke arah makam itu sesaat.
"Apakah mereka orang tua mu?" Tanya Dafa.
"Iya. Mereka meninggal saat aku berusia 9 tahun.
Kali ini giliran Dafa yang memeluk Sheila. Setelah beberapa saat, Dafa lalu melepaskan pelukannya pada Sheila. Mereka berdua lalu pulang ke rumah masing-masing.
Mereka berdua sesaat melupakan semua pertengkaran yang pernah terjadi diantara mereka.
'Aku bisa bilang bahwa kami sudah berteman. Atau mungkin saja bisa lebih dari teman.' ucap Dafa seraya tersenyum saat mengendarai mobilnya.
*********
Sementara itu, pagi tadi saat Amira pergi ke kampus...
"Hei, apakah kau mendengar berita yang beredar? Keluarga Febby diisukan akan bangkrut." Para mahasiswa yang ada di kelas Amira tengah membicarakan tentang Febby.
'Kak, kau sudah berjanji padaku. Lalu kenapa? Sial... Aku harus melakukan sesuatu. Febby pasti sudah tahu apa kesalahannya.' ucap Sheila dalam hati.
"Tenanglah. Dia tengah mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan." Ucap Cindy pada Amira.
"Tapi ini berlebihan." Balas Amira.
Amira memang tidak mengetahui apa yang sudah di lakukan Dafa pada Febby. Namun, sejujurnya bagi Amira, dia sudah memaafkan Febby dan tak ingin membuat Febby lebih terpuruk lagi
Febby mendekat ke arah Amira dan langsung menyiramkan air ke wajah Amira.
"Apa kau sudah bahagia sekarang? Keluarga ku sudah dibuang ke jalanan karena dirimu." Ucap Febby berteriak pada Amira.
"Ya Tuhan, apa kau tahu apa yang baru saja kau lakukan? Kau menyiram wajah Amira dengan air yang begitu dingin. Biar aku tunjukan pada mu bagaimana rasanya." Ucap Cindy dan menyiram tubuh Febby dengan air dingin yang baru saja dia beli tadi di jalan. "Sekarang, bagaimana rasanya?" Tanya Cindy pada Febby dengan marah.
Febby gemetar karena air itu memang begitu dingin. Amira lantas memberikan jaket yang dia gunakan pada Febby, tapi Febby membuang jaket itu ke tanah lalu menginjak-injaknya berulang kali.
Amira sejak tadi berusaha menahan emosinya, tapi kali ini tidak. Jaket itu adalah pemberian mama nya. Alia membeli jaket itu di London untuk Amira.
Amira yang kesal dan marah lantas berjalan mendekat ke arah Febby.
"Kau seharusnya tidak mengganggu aku lebih dulu. Kau dengan sengaja menjebak ku dan sekarang kau menyalahkan aku atas kesalahan mu sendiri." Ucap Amira dengan penuh emosi.
Febby menjadi ketakutan melihat mata Amira yang memerah.
"Kau.... Kau adalah iblis!" Ucap Febby dan berlari ke luar dari dalam kelas.
"Iblis..... Hahahaha... Ngomong-ngomong, terima kasih." Ucap Amira dengan keras agar Febby bisa mendengarnya.
"Bodoh, kemari lah." Ucap Ariel seraya menarik Amira dalam pelukannya.
"Hei bodoh, lepaskan aku." Ucap Amira.
"Ucapkan satu kata lagi, maka aku akan melakukan yang lebih dari pelukan." Ucap Ariel.
Amira menelan ludah dan tidak mengatakan apapun. Sementara para temas sekelas mereka tengah melihat mereka dan menggoda Amira.
"Ohoi, kapan kalian berdua menjadi begitu dekat?" Ucap Cindy.
Ariel membuat Amira mengenakan jaket miliknya.
"Bukankah kami sudah sangat dekat sejak awal?" Ucap Ariel dengan tertawa kecil.
Amira menata ke arah Ariel dan berkata, "dasar aneh."
"Baiklah, ini bukan waktunya untuk bermesraan, dosen akan datang." Ucap Calvin kepada Amira dan Ariel.
Cindy tertawa kecil.
"Senyuman mu sangat indah." Ucap Calvin pada Cindy dengan wajahnya yang tampak tengah menggoda Cindy.
Cindy lantas merona merah dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
'Wow, mereka berdua terlihat cocok untuk bersama. Aku harus melakukan sesuatu untuk membuat mereka berdua dekat.' ucap Amira dalam hati.
"Sebelum kelas di mulai, Amira bisakah kau kemari." Ucap Pak Kim, dosen mereka.
Amira lantas mendekat ke arah Pak Kim. Pak Kim lalu meminta maaf pada Amira atas kelakuan Febby padanya.
"Tolong Pak, jangan lakukan ini. Aku akan meminta kakak ku untuk memperbaiki semua ini. Jadi ku mohon, jangan meminta maaf." Ucap Amira dengan lembut dan suara yang penuh perhatian.
"Pak, apa anda tahu, apa yang sudah dilakukan Febby?" Ucap Cindy.
Amira tengah memberikan isyarat pada Cindy untuk tetap membuatnya diam, tapi Cindy mengatakan semuanya pada dosen. Pak Kim kemudian merasa semakin bersalah.
__ADS_1
Amira kemudian bersin. Ariel lantas mendekat ke arahnya dan berkata pada dosen untuk membawa Amira ke ruang UKS.
Bersambung....