Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Tas Kresek Hitam


__ADS_3

Waktu berjalan dengan cepat. Akhirnya Arka dan Arsha di wisuda. Keduanya kuliah di kampus yang berbeda. Arka mengambil fakultas Ekonomi, sementara Arsha mengambil pendidikan akademis di program studi Kedokteran Gigi dan mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi.


Setelah di wisuda Arsha kemudian harus mengikuti kepaniteraan atau praktek di sebuah rumah sakit yang di tunjuk selama dua tahun untuk mendapat gelar dokter gigi.


Sementara Arka, atas desakan Rayhan, ia akhirnya setuju untuk menggantikan posisi Rayhan sebagai CEO di perusahaan Wijaya Group.


Pagi itu.....


[Gaes, ada kabar besar. Aku udah nggak perawan!]


Arsha yang baru saja mengigit kue bolu buatan Izzah seketika tersedak. Grup WA yang berisikan tiga orang sahabat Arsha itu memang sering membicarakan hal-hal absurd, bahkan kemarin sebelum pernikahan Nia, salah satu temannya, mereka membahas tentang malam pertama.


[Ponakanku auto launching, nih.] Balasan dari Vita yang membuat Arsha gatal untuk mengetik.


[Emang sekali bikin bisa langsung jadi? Teh celup kali, ah.] balas Arsha cekikikan.


[Idih siapa bilang cuma sekali bikinnya? Udah sampai nambah tiga kali kemarin.] Kali ini balasan dari Nia membuat Arsha tertawa, pun dengan Vita yang memberikan emot tertawa 20x di grup.


[Kalian kapan nyusul? Sumpah enak.]


[Bulan depan!] balas Arsha asal.


[Aminin yang keras.]


"Kalau lagi makan, jangan mainan HP." Suara Rayhan membuat Arsha tertawa kecil, lalu segera meletakkan ponsel di meja.


"Ibu mana?" tanya Rayhan setelah menyesap kopi hitam kesukaannya.


"Lagi di belakang kali Yah. Paling juga ngadem sambil ngasih makan ikan."


"Oohh." balas Rayhan.


"Aku berangkat dulu, Yah." Arsha mencium punggung tangan pria yang tetap terlihat tampan meski sudah hampir memasuki kepala lima itu. "Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan, Nak."


"Siap."


"Dompet, HP jangan sampai ketinggalan. Bensin jangan lupa dicek. Sekalian hatinya." pesan Rayhan.


"Siap, Yah."


Rayhan selalu seperti itu, selalu memastikan anak-anaknya membawa persiapan sebelum pergi.


Arsha mulai mengeluarkan mobil dan mengendarainya dengan kecepatan sedang.


Masih jam setengah tujuh, perjalanan ke rumah sakit hanya memerlukan waktu 30 menit.


*********************************


Sepulang dari rumah sakit, biasanya Arsha akan bertemu dengan dua sahabatnya, Nia an Vita. Namun, karena Nia baru saja menikah, mustahil baginya untuk kumpul-kumpul lagi.


Arsha dan Vita duduk di caffe langganan mereka. Vita sendiri bekerja di butik milik ibunya.


Sepertinya berat.


Arsha mengambilnya dan segera membuka. "Allahu Akbar." Spontan Arsha langsung menutupnya lagi.


Vita yang sedang menyeruput es jeruk menatap Arsha dengan alis naik turun. Arsha mengedarkan pandangan, beberapa orang yang ada di caffe tengah menatapnya.


Arsha menggeleng ke arah Vita, lalu segera menghabiskan makanan kemudian segera keluar dan berdiri di samping mobil.


Tak berapa lama Vita keluar. "Kenapa, sih? Buru-buru amat, biasanya juga godain waiternya dulu."


"Coba lihat ini." Arsha sedikit membuka plastik tadi. "Isinya uang bergepok-gepok plus jeruk," bisik Arsha


Vita membulatkan mata dan langsung membuka plastik yang sedari tadi dipeluk Arsha.

__ADS_1


"Bisa shopping sepuasnya kita ini. Mungkin itu jeruk impor dari Jepang. Mari kita coba!" Mata Vita tampak berbinar melihat beberapa gepok uang merah yang diikat karet gelang itu.


"Hush! Ini bukan uang kita. Laporin ke polisi aja kali, ya? Atau tungguin dulu sampai orangnya nyari ke sini?"


"Yaaah, gagal borong isi Mall. Tungguin bentar, deh."


Akhirnya mereka memutuskan untuk menunggu sambil sesekali mengecek uang tadi.


Hampir satu jam keduanya duduk didalam mobil, tetapi tak ada tanda-tanda orang yang terlihat bingung mencari sesuatu.


"Uang ini tuh banyak banget, kalau dipake untuk empar orang aja mungkin bisa bikin pingsan. Enggak mungkin rasanya kalau direlain gitu saja." ucap Arsha.


Vita juga terus memantau grup di FB, siapa tahu ada yang membuat postingan kehilangan uang.


"Gimana?"


"Adanya kehilangan pacar," jawab gadis berambut pendek itu.


Arsha mentoyor kepalanya. Ia terbahak, lalu tiba-tiba terhenti dan mengangkat telepon yang masuk ke ponsel.


"Aku harus balik ke toko, nih," ucap Vita lagi setelah menutup telepon.


"Ya udah balik aja, aku tungguin bentar lagi. Kalau nggak ada yang dateng juga, ntar aku ajak ke kantor polisi, ya."


"Bagi dua ajalah, biar cepet kelar."


"Kalau ini duit pesugihan gimana? Kamu mau jadi tumbal kayak di di film-film horor itu?"


"Amit-amit, ahl. Ya udahlah, ntar kabarin aja, pokonya kalau mau foya-foya pake duit itu jangan lupa ajak-ajak."


Arsha memutar bola mata malas.


Vita pun akhirnya pergi. Sementara Arsha masih setia duduk di dalam mobil, memperhatikan orang berlalu lalang dan yang keluar masuk caffe itu.

__ADS_1


Arsha menghela napas panjang. Merasa seperti patung selamat datang, hampir dua jam dan tidak ada tanda-tanda sama sekali.


Akhirnya hendak bersiap untuk pergi.


__ADS_2