
Waktunya bagi Dafa untuk bersiap-siap pergi ke sekolah dan Arka lah orang yang biasanya menyiapkan semua keperluannya. Tapi kali ini, Alia yang melakukan semuanya untuk menyiapkan semua keperluan anak sambungnya itu. Dimulai dengan mandi, mengenakan pakaian hingga menyisir rambutnya yang membuat Dafa terlihat begitu menggemaskan.
"Terima kasih Mama." Ucap Dafa.
Alia hanya tersenyum seraya mencubit pipi Dafa gemas.
"Mama tidak akan pergi meninggalkan Dafa lagi kan?" Tanya Dafa.
"Tidak sayang. Kenapa Mama harus pergi, Mama akan selalu ada disamping Dafa." Balas Alia.
Dafa tersenyum lalu memeluk Alia dengan erat.
Alia dan Dafa turun ke bawah bersama dengan bergandengan tangan. Arka tampak tengah sarapan, setelah ia selesai berolahraga pagi tadi dan kemudian mandi dengan cepat. Dia lalu melihat kearah dan Dafa yang berjalan turun di tangga dengan menggandeng tangan Alia. Sementara Alia sendiri melihat ke arah Arka dan sedikit terpukau setelah melihat senyuman dari bibir Arka.
'Senyumannya begitu indah.' pikir Alia dalam hati.
"Mama ayo pergi." Ucap Dafa bahagia dan terlihat begitu senang untuk pergi dengan Alia.
Alia mengusap rambut Dafa dan berkata, "iya, ayo kita pergi."
"Aku akan mengantar kalian berdua." Ucap Arka seraya berdiri setelah selesai sarapan.
"Tidak usah, aku bisa mengantar Dafa sendiri. Kau mungkin akan terlambat pergi ke kantor." Ucap Alia dengan tersenyum.
Arka melihat ke arahnya dan kemudian melihat kearah jam di tangannya.
"Baiklah kalau begitu, tolong jaga dia dengan baik." Ucap Arka dan mulai meminum airnya sementara Alia berjalan keluar rumah bersama dengan Dafa.
Saat berada di jalan menuju sekolah, Alia mendapat panggilan telepon dari Mia. Tapi ponselnya ada di dalam tasnya dan tas Alia itu berada di bangku belakang, di mana Dafa duduk disana.
"Sayang, bisakah kau menjawab panggilan itu?" Tanya Alia kepada Dafa.
"Bisa Ma." Jawab Dafa dan mengambil ponselnya keluar dari dalam tas dapat menjawab panggilan itu dan mulai berbicara.
"Halo..."
"Aaaawww.... Apa ini keponakanku yang tersayang?" Ucap Mia di dalam telepon.
"Hmmmm, iya Tante." balas Dafa dengan tersenyum.
"Bagaimana kabarmu sayang?" Tanya Mia dengan suara yang sangat lembut.
"Baik. Bagaimana dengan Tante?" Tanya Dafa dengan suaranya yang begitu menggemaskan yang membuat Mia begitu bahagia.
Mia benar-benar menyukai suara Dafa.
"Sayang, katakan kepada Tante untuk menelepon nanti." Ucap Alia yang tengah fokus menyetir dan Mia mendengar ucapannya.
"Oke. Dah Dafa." Balas Mia kemudian menutup sambungan telepon itu.
"Apakah kau mau pergi ke rumah Mama untuk bertemu dengan Kakek dan Tante Mia sayang?" Tanya Alia dengan mata yang tetap fokus pada jalanan yang lumayan ramai itu.
"Tentu, jika Mama mau." Balas Dafa dengan suara yang begitu menggemaskan.
"Kau manis sekali sayang. Ayo kita pergi ke sana setelah kau selesai di sekolah nanti." Ucap Aliya.
__ADS_1
Tak lama mereka akhirnya tiba di sekolah Dafa. Alia lalu memarkirkan mobilnya.
"Yeiiiii...." Ucap Dafa dan melompat keluar dari dalam mobil.
Alia mencium kening Dafa dan kemudian Alia bergegas pergi ke tempat studio foto. Aliya tengah mendapat pekerjaan photo shoot, tapi karena harus mengurus segala keperluan Dafa hingga mengantarnya pergi sekolah, hal itu akhirnya membuat dirinya pun menjadi terlambat bekerja.
Sementara Dafa, dia sebenarnya ingin memperkenalkan Alia kepada teman-temannya.
"Dafa sayang. Mama harus pergi bekerja dulu. Nanti Mama akan menjemputmu sepulang sekolah. Setelah itu, kita akan pergi ke rumah lama Mama. Bagaimana, apa kau mau?" Tanya Alia panjang lebar.
"Tentu saja Ma." Balas Dafa.
Dafa terlihat sedikit sedih, tapi dia tetap mencoba untuk tersenyum dan berjalan masuk kedalam kelasnya.
Alia kemudian mengendarai mobil dengan kecepatan penuh dan tiba di studio sedikit terlambat. Dia lalu bergegas masuk ke dalam studia dan dapat bernapas dengan lega setelah melihat bahwa mereka para pekerja itu tidak menggantikan tempat Alia dengan model lain.
"Maaf karena aku datang terlambat." Ucap Alia dengan perasaan tidak enak.
"Kami mengerti Alia, kau sekarang adalah pengantin baru. Sekarang pergilah dan bersiap-siaplah." Ucap seorang fotografer.
Alia pun tersenyum dan kemudian pergi ke ruangan ganti.
Setelah beberapa menit, dia sudah bersiap dan tampak begitu cantik dan juga elegan dengan menggunakan gaun berwarna biru navy. Alia pun mulai sibuk dengan pekerjaannya. Sementara dia tidak menyadari sebuah panggilan telepon yang terus saja berdatangan, tapi ponselnya tengah dalam mode diam.
>> >> >> >> >> >> >>
Setelah setengah jam, Alia akhirnya mendapat waktu istirahat. Jadi dia pergi dan duduk di sebuah kursi di mana barang-barangnya berada. Dia meminum sedikit air dan kemudian mengambil ponselnya keluar dari dalam tasnya. Dia pun melihat bahwa ada banyak panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal dan kemudian dia menelpon nomor yang sama itu.
"Halo, siapa ini?" Tanya Alia.
Ternyata itu adalah guru kelas dari Dafa.
Ketika Alia mengantar Dafa ke sekolah tadi, disaat yang bersamaan dia memberikan kartu namanya kepada guru Dafa agar bisa menelpon dirinya jika terjadi sesuatu.
Setelah mendengarkan apa yang dikatakan guru Dafa, Alia langsung berdiri dari kursinya dengan terkejut dan berlari cepat keluar.
"Alia.... Kau mau kemana?" Tanya manager, tapi dia berlari dengan cepat dan tidak menjawab apapun.
'oh tidak, aku seharusnya tidak meninggalkan dia sendirian di sana. Sialan kau Alia. Apa yang sudah kau lakukan?' ucap Alia dalam hati saat mengendarai mobilnya dan dia tampak begitu khawatir.
Setelah beberapa saat, Alia akhirnya tiba di pelataran parkir sekolah Daffa dan dia langsung masuk ke dalam gedung sekolah.
"Permisi, dimana ruangan kepala sekolah?" Tanya Alia kepada seorang staf sekolah yang tengah berjalan di koridor.
Orang itu menunjukkan sebuah ruangan yang berada di bagian terakhir deretan ruangan yang ada. Alia lalu berterima kasih kepada orang itu dan kemudian berjalan lurus ke arah ruangan itu.
Tiba-tiba, dia tidak sengaja menabrak seseorang.
"Oh maafkan aku." Ucap Alia dan kemudian melihat ke atas.
Alia menjadi begitu terkejut ketika melihat orang itu adalah Arka.
Arka terlihat begitu marah, dia menatap Alia dengan tajam dan mata yang memerah. Dia lalu memegang lengan Alia yang sebelah kanan dan memegangnya dengan begitu erat hingga alia merasa kesakitan.
"Bukankah sudah aku katakan untuk menjaganya." Ucap Arka dengan penuh kemarahan.
__ADS_1
Sementara Alia, dia merasa begitu bersalah karena kesalahan yang dilakukannya. Dia melihat ke bawah dan merasakan sakit di lengannya.
Arka meremas tangan Alia dengan lebih erat.
"Kenapa kau datang sekarang, ketika semuanya sudah selesai. Kau tidak dibutuhkan lagi." Ucap Arka dan kemudian mendorong Alia.
Alia tidak mengatakan apapun, dia melihat ke dalam ruangan kantor kepala sekolah. Dafa terlihat terluka, anak itu pun melihat kearah Alia.
"Mamaaa......" Teriak Dafa dan berlari kearah Alia lalu memeluknya.
Alia berdiri dengan lutut nya dan memeluk Dafa, dia terlihat menangis.
"Maafkan mama sayang. Mama tidak bisa...."
Alia hendak mengatakan sesuatu, tapi Dafa memotong ucapannya.
"Aku bertengkar dengan dia karena dia berkata buruk tentang Mama." Ucap Dafa menunjuk ke arah seorang anak yang bersembunyi di belakang ibunya.
Wajah Alia terlihat begitu sedih. Dia memeluk Dafa lagi dan berkata, "Mama minta maaf. Mama seharusnya tidak meninggalkanmu."
"Tidak apa-apa Mah." Ucap Dafa dengan tersenyum.
"Dengarkan Mama ya sayang. Pertengkaran itu tidak baik untuk dilakukan. Kau seharusnya memberi tahu kepada guru, jika dia menyakitimu." Ucap Alia.
Dafa tetap terdiam, ia menundukkan kepalanya.
"Sayang lain kali, kalau ada yang berkata buruk atau mengganggumu, lebih baik meminta pertolongan pada guru atau orang tua teman kamu itu. Bagaimana caranya? Kamu bisa mengatakan langsung pada orang guru atau orang tuanya itu, seperti, βTante, tadi dia memukul aku sampai tanganku sakit. Atau jika dia berkata buruk, katakan bahwa dia mengatakan hal buruk padamu.
Atau, Dafa bisa mengancam teman yang mengganggu itu misalnya dengan mengatakan, kalau kamu pukul aku lagi, atau kalau kamu mengejek aku lagi, aku akan bilang sama Ibu guru.β
"Tapi dia mengatakan kepadaku bahwa Mama itu bukan Mama ku. Dia bilang Mama itu bukan wanita yang baik. Jadi aku tidak bisa menerimanya. Aku langsung memukulnya." Ujar Dafa.
"Sayang, ingat ya. Lain kali Dafa tidak usah mendengarkan apapun yang dikatakan orang lain, apalagi hal itu hanya membuat Dafa menjadi marah. Dafa harus menjadi lebih bersabar dan sekarang, lebih baik kalau Dafa meminta maaf. Bisa?"
Dafa mengangguk kan kepalanya dan menyandarkan kepalanya di pundak Alia. Alia lalu menggendong nya dan berdiri.
"Saya minta maaf atas sikap anak saya." Ucap Alia kepada ibu dari anak yang menjadi lawan Dafa bertengkar.
"Saya juga minta maaf atas nama anak saya yang sudah berkata buruk tentang anda." Balas orang tua anak itu.
Alia dan ibu dari anak yang menjadi lawan Dafa bertengkar tadi kemudian berbicara tentang sesuatu hal selama beberapa menit. Sementara Arka melihat kearah Alia, dia kemudian berbalik dan berkata kepada asistennya.
"Ayo kita pergi, kembali ke kantor." Ucap Arka.
'aku bertindak sedikit berlebihan, tapi kata maaf tidak akan pernah keluar dari mulutku.' ucap Arka dalam hati dan kemudian duduk di dalam mobilnya.
(Minta maaf tidak akan membuatmu menjadi rendah, itu malah akan membuat image mu menjadi tinggi di hadapan orang lain)
Saat Alia melihat kearah lengan kanannya, terdapat lebam karena Arka yang memegang nya dengan begitu erat. Alia menghela napas dan membawa Dafa kembali ke rumah mereka.
Setelah tiba di rumah, Alia langsung membawa Dafa kedalam kamar. Dia lalu melepas pakaian Dafa dan kemudian membersihkan luka di tubuh kecil Dafa yang dia dapatkan karena perkelahian tadi. Alia kemudian membawa Dafa ke dalam kamar mandi untuk memandikan nya dengan baik. Tapi Alia merasa begitu sedih dalam hati. Kata-kata yang diucapkan Arka, kembali terngiang dalam pikirannya.
'Kau tidak dibutuhkan lagi....'
Alia merasakan sesuatu. Rasa itu sangat menyakitkan baginya, dan hal itu membuatnya merasa sedih. Tapi untuk Dafa, dia terus tersenyum dan bermain dengannya.
__ADS_1
Bersambung.....