
Karena hari semakin sore, Arsha dan teman-temannya beranjak pulang. Vita pulang sendiri, sedangkan Arsha mengantar Nabila dulu dan baru sadar saat tak sengaja melihat spion mobil, ternyata Devan mengekorinya dari belakang.
Memang aneh orang yang tengah jatuh cinta, sampai-sampai melihat mobilnya saja membuat deg-degan. Arsha menjadi tidak fokus menyetir.
'Jangan sampai sein kanan belok kiri, Arsha!'
Sampai di rumah, keduanya disambut Rayhan dan Izzah yang sedang duduk di taman depan rumah. Devan dengan sopan mengucap salam dan menyalami tangan kedua calon mertuanya.
"Eh, ada nak Devan juga. Ayo masuk." Ajak Izzah.
“Saya gak lama Yah, Ibu, cuma mau mastiin Arsha sampai rumah dengan selamat aja." Balas Devan.
Devan sudah mulai terbiasa memanggil Rayhan dan Izzah dengan sebutan 'ayah ibu'.
"Baiklah, kalau begitu terima kasih ya nak Devan. Sudah mau mengantar anak ayah yang paling cantik ini." Ucap Rayhan seraya mengelus kepala Arsha.
"Sudah tugas dan kewajiban saya selaku suami..... Eh maksud saya calon suami." Balas Devan yang membuat jantunv Arsha semakin jedag-jedug tidak karuan.
"Tahan, jangan loncat-loncat." Bisik Izzah ditelinga Arsha.
"Iiihh ibu." Ucap Arsha dengan suara yang manja.
**********************
Malam harinya, Arsha uring-uringan di ruang keluarga. Kadang rebahan di sofa, kadang duduk di lantai, tapi tetap saja tidak bisa tenang.
'Kenapa, sih, omongan mantan-mantannya Devan tadi terus terngiang-ngiang?'
“Biasa aja.”
“Enggak cantik padahal.”
Arsha benar-benar dibuat tak tenang karena memikirkan perkataan mantan-mantan Devan tadi.
“Ini cucu kesayangan kakek teh kenapa rebahan di lantai? Ini teh kena kutukan ditolak kasur apa gimana?” Mang Diman yang tengah menonton televisi sepertinya sadar kalau Arsha sedang galau.
“Ditolak nasib, Kek!” jawab Arsha.
__ADS_1
“Kenapa lagi atuh? Gagal cabut gigi orang hari ini?”
Arsha memutar bola mata malas, dan memilih diam.
"Cerita atuh neng, sama kakek. Siapa tau kakek bisa bantu."
"Males ah, kakek gak bakalan ngerti."
Izzah datang membawa camilan berupa buah segar yang sudah di potong.
"Bah, noh dipanggil Bang Rayhan. Ngajakin main catur." Ucap Izzah.
"Sok atuh, ini baru asyik. Daripada ngobrol sama Neng Arsha teh gak nyambung." Balas Mang Diman.
Izzah tersenyum, seraya membantu Mang Diman berdiri.
"Neng, sok ditanyaken itu si puteri cantik. Sepertinya dia teh lagi ada masalah. Dari tadi teh tidak bisa diam, sudah kayak ulat nangka atuh. Kadang duduk di sofa, kadang duduk di lantai. Jangan-jangan dia teh lagi sakit perut karena cacingan." Ucap Mang Diman serius.
"Iiihh kakek nih sembarangan banget. Udah ngatain aku kayak ulat nangka, malah ngirain aku cacingan lagi." Protes Arsha.
"Sudah-sudah." Ucap Izzah. "Sudah sana Bah, sudah ditunggu sama Bang Rayhan. Ada Arka juga, katanya sih mau jadi juri."
"Kakeeeekkk." Pekik Arsha.
Izzah menggeleng-geleng melihat tingkah kedua orang itu.
"Sayang, ayo duduk sini nak." Ajak Izzah.
Arsha pun mengikuti perintah Izzah dengan duduk disampingnya.
"Coba sekarang kamu ceritain sama Ibu, kamu lagi ada masalah apa?"
Arsha terlihat menarik nafas dalam-dalam.
“Tadi aku ketemu mantan-mantannya Devan, Bu.”
Arsha memutuskan untuk menceritakan pada Ibu nya tentang hal yang mengganggunya ini.
__ADS_1
“Mereka cantik-cantik banget, Bu, aku minder,” lanjut Arsha sambil menunduk.
“Memangnya kamu nggak cantik?”
“Cantik sih, tapi banyakan mereka,” jawab Arsha cepat. “Mereka kayak model, Bu, tinggi, putih, pokoknya cocok banget jadi model internasional atau artis."
“Sekarang gini, Ibu tanya. Kalau kamu lihat baju jelek dan ngata-ngatain baju itu, yang tersinggung siapa? Bajunya atau designer-nya?” tanya Izzah.
“Ya designer-nya lah Bu! Karena bajunya, kan, buatan designer-nya. Dan baju itu cuma hasil pemikiran pembuatnya.” jawab Arsha.
Sekarang Izzwh menepuk-nepuk punggung tangan Arsha.
“Berarti kalau kamu menghina manusia jelek, yang marah siapa? Manusianya atau penciptanya?”
Arsha terdiam, lalu menunduk semakin dalam ketika menyadari maksud ucapan Izzah.
“Sama seperti baju tadi, kita ini hanya hasil ciptaan. Waktu kamu menghina baju jelek, berarti kamu menghina desainer-nya yang nggak bisa membuat baju bagus. Begitu juga manusia. Kalau kamu bilang kamu jelek, itu sama saja kamu menghina Allah. Padahal manusia itu makhluk yang paling sempurna, dan ciptaan Allah yang paling indah. Kamu meragukan kekuasaan Allah?”
“Enggak …,” jawab Arsha setengah berbisik.
“Tidak ada manusia yang jelek, semuanya indah. Hanya terkadang rasa syukurnya yang kurang, sehingga menutupi kecantikan atau ketampanan itu sendiri,” ujar Izzah lagi. "Semua sama di mata Allah, hanya di sini yang membedakan." Izzah menunjuk dada Arsha. "Isi hati membedakan cantik atau tidaknya seseorang. Ibarat teko, dia akan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya, termasuk kita. Apa yang kita lakukan, ucapkan, pikirkan tergantung apa yang kita tanam dalam hati. Jika baik, semua ikut baik, pun sebaliknya." Terang Izzah.
Arsha terdiam, pikiran melayang ke mana-mana.
'Astagfirullah ....'
Lalu suara Izzah terdengar lagi, “Jangan selalu melihat masa lalu, Nak, karena waktu itu bergerak maju, nggak mungkin mundur. Coba ngobrol lagi sama Allah, tanya mana keputusan terbaik buat kamu. Kalau masalah penampilan, biarpun mantannya Devan cantik-cantik, mereka cuma masa lalu, bukan masa depannya. Kalau Devan maunya cuma sama kamu, mereka bisa apa?” Izzah memainkan alisnya naik turun.
Arsha tersenyum, ia menatap wajah wanita yang paling berharga dalam hidupnya itu lekat. Wajah yang selalu ia rindukan meski bertemu setiap hari. Wajah wanita terhebat dalam hidupnya. “Makasih, Bu."
"Sekali kita bersyukur, seribu kali Allah limpahkanlah kenikmatan pada kita." Izzah menyentil hidung Arsha pelan. "Lagian, anak ibu ini cantik, kok, cantik banget malah." Izzah membingkai wajah Arsha. "Gimana gak cantik, ayah kamu kan ganteng, ibunya juga cantik." Gelak Izzah.
Lagi-lagi Arsha tersenyum. "Terima kasih, Bu."
"Sama-sama sayang. Tetaplah bahagia, meski itu awal atau akhir bulan." Goda Izzah.
Arsha terbahak. "Aku ke kamar dulu, Bu.”
__ADS_1
Izzah hanya mengangguk sambil tersenyum.