
Di ruang tamu para orang tua melanjutkan pembicaraan mereka. Sementara di ruang keluarga, Arsha dan Nabila sedang bermain gadget sambil mengobrol. Sementara Arka berada di tempat yang tak jauh dari tempat Nabila dan Arsha berada, ia terlihat serius dengan laptop dengan sesekali menikmati makanan yang ada di sisinya.
"Bil, mau bantuin aku gak besok." ucap Arsha.
"Bantuin ngapain? Aku kan harus kerja." balas Nabila.
"Udah, mulai besok gak usah kerja deh. Ikut aku aja. Besok aku juga lagi free."
"Tapi...."
"Kak, mulai besok Nabila gak usah kerja lagi ya. Lagian dia juga udah mau jadi istri kakak kan?" teriak Arsha.
"Terserah." jawab Arka.
"Noh, beres. Kamu gak perlu kerja lagi. Pokoknya besok temenin aku." ucap Arsha.
"Oke lah kalau begitu." jawab Nabila.
Keduanya kembali menatap layar ponsel mereka.
Tiba-tiba....
"Aduh gemes banget. Ya ampun, pipinya kayak bakpao!"ucap Nabila.
"Apaan sih?" tanya Arsha penasaran.
__ADS_1
"Nih lihat, babynya Ammar Zoni sama Irish Bella, chubby dan ganteng banget." ucap Nabila memperlihatkan layar ponselnya pada Arsha.
"Ya elah, kirain apaan tadi. Tapi emang bener sih yang kamu bilang. MasyaAllah, ganteng banget. Namanya juga unik, Air." balas Arsha.
"Pak!" seru Nabila ke arah Arka.
"Hmmm," balas Arka tanpa memalingkan muka dari layar.
"Besok kita buat yang kayak lucu gini juga, ya!"
"Uhuk!" Arka tersedak makanan yang belum sempurna ia telan. Bergegas ia meraih segelas air dan meneguknya habis. "Bisa nggak, kalau ngomong disaring dulu?"
Arsha terbahak melihat kejadian itu
Jam sembilan malam, Nabila dan ibunya pamit pulang. Mereka dan diantar oleh Arka. Butuh waktu satu jam untuk sampai ke rumah Nabila.
"Terima kasih, Nak Arka, sudah repot-repot mengantar kami," tutur Bu Mira saat sudah turun dari mobil. "Ayo mampir dulu, silakan masuk."
"Tidak usah, Bu. Terima kasih. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Saya langsung pulang saja," balas Arka sopan.
"Oh, gitu. Baiklah, hati-hati di jalan. Saya masuk dulu. Bil, jangan dinakalin, ya." Ucapan Bu Mira membuat Nabila terkekeh.
Arka yang mendengar itu hanya tersenyum simpul. Ia harus mulai sabar dengan tingkah keluarga ini.
"Jadi, apa yang kamu lakukan beberapa hari ini sampai gak ke kantor?" tanya Arka kepada Nabila saat calon mertuanya itu sudah masuk ke rumah.
__ADS_1
Dengan bersandar di badan mobil dan melipat tangan di dada, Arka menatap Nabila.
'Ih mulai kepo dia, perhatian nih ceritanya,' gumam Nabila.
"Hmm ... jalan-jalan, shopping, makan-makan ... banyak deh. Ternyata enak juga, ya, hidup kayak ini, Pak. Nggak kerja," balas Nabila dengan senyum lebar.
Arka memutar bola matanya malas, lalu seketika ia tersenyum manis. Tangannya terulur, mengelus kepala Nabila, "Jangan terlalu capek," ucapnya lembut.
Nabila beringsut mundur, ia terkejut dengan perubahan sikap Arka.
"Pernikahan kita tinggal sebulan lagi, gunakanlah untuk olahraga," lanjut Arka dengan berjalan memutari Nabila pelan.
"Olahraga?" tanya Nabila bingung.
"Iya, biar kamu sehat dan kuat. Bukannya kamu pengen punya anak yang lucu kayak anak Irish Bella? Sedangkan membuat anak yang lucu itu capek, harus punya banyak tenaga," jawab Arka tepat berdiri di belakang Nabila. "Karena satu kali buat saja nggak akan cukup. Mungkin bisa sampai belasan kali, bahkan puluhan kali. Siapkan tenagamu," bisiknya tepat di telinga Nabila.
Blush! Wajah Nabila langsung memanas. Ia yakin, wajahnya tak kalah merah dengan udang rebus yang sering dimasak mamanya.
Arka yang berjalan ke arah depan dan melihat perubahan wajah pada Nabila, langsung tergelak sembari memegang perut dan menyeka air mata yang keluar.
"Aku pulang dulu. Sepertinya, aku juga harus menambah jam olahraga," pamit Arka dengan menahan tawa, lalu beranjak masuk ke mobil.
Arka menurunkan kaca mobil. "Aku sudah tidam sabar untuk berolahraga bersamamu di tempat tidur. Dan semoga saja itu tidak ...." Ia melirik dada Nabila. "Datar," ucapnya sambil menutup kaca mobil.
Nabila yang mendengar itu langsung melepas sandal dan melemparnya ke arah mobil hitam yang sudah melaju. "Arkaaaaa! Akan kubuat kamu diformalin dan dimuseumkan di rumahmu sendiri! Dasar kulkas!" teriak Nabila sambil berjinjit mengambil sandal yang ia lempar tadi.
__ADS_1