
'Oh ya Tuhan, apa sebenarnya yang hendak Arka lakukan padaku?' ucap Alia dalam hati dan tampak mematung.
Alia hendak duduk di sebuah bangku yang berada di depannya. Tapi tiba-tiba seseorang dari arah belakang menutup mulutnya dengan sebuah saputangan dan menarik dirinya ke dalam sebuah ruangan kosong, sementara Alia berusaha untuk melepaskan dirinya tapi orang itu sangat kuat.
Orang itu mendorong Alia masuk ke dalam ruangan kosong dan mengunci dirinya dalam ruangan itu dari luar.
'Apa yang sedang terjadi denganku hanya dalam waktu satu menit ini? Dimana aku? Kenapa begitu gelap di sini?' ucap Alia dalam hati dan mencoba untuk tenang.
Tiba-tiba ada sebuah suara berasal dari belakangnya. Itu adalah suara yang sangat menakutkan dan terdengar begitu dalam.
'Beraninya kau menikah dengannya.'
Alia menjadi begitu terkejut. Jantungnya mulai berdegup dengan begitu kencang karena rasa takut yang merasukinya. Alia ingin berteriak, tapi dia tidak dapat mengucapkan apapun. Seperti sebuah keanehan yang telah terjadi padanya dan mengambil suaranya dalam hitungan menit.
Alia bergetar karena ketakutan karena suatu suara yang menakutkan datang dari arah belakangnya dan tiba-tiba seseorang menaruh tangannya di atas bahu Alia. Lagi-lagi Alia terkejut dan dia bahkan tidak bisa bertindak apapun.
"Tinggalkan dia atau kau akan kehilangan seseorang yang sangat penting bagi dirimu." Ucap orang itu lagi dan kemudian mulai tertawa dengan suara tawa seperti iblis yang jahat.
"Papa, dimana Mama?" Tanya Dafa pada Arka yang tengah menunggu kedatangan Alia.
"Hmmmm.... Ini sudah sangat lama semenjak dia pergi. Kemana dia sebenarnya?" Ucap Arka dan melihat ke arah jam di tangannya.
Arka kemudian mengambil ponselnya dari dalam saku celananya dan kemudian mencoba untuk menelpon Alia, tapi ponsel Alia itu tidak aktif. Saat orang tadi menarik Alia dari belakang, ponsel Alia terjatuh di tanah.
'Kenapa ponselnya mati? Kemana dia pergi? Jangan bilang bahwa dia telah tersesat, ah itu tidak mungkin.' ucap Arka dalam hati dan kemudian meminta para pengawalnya untuk segera datang.
Karena dia adalah seorang Arka Wijaya, jadi dia membutuhkan penjagaan yang ketat terutama terhadap Dafa, jadi dia selalu diikuti para pengawalnya. Mengingat selama ini ada saja orang yang ingin menyakiti keluarga Arka, entah itu saingan bisnis ataupun orang-orang yang memang menginginkan mengambil keuntungan darinya, contohnya menculik Arka.
Arka lalu meminta kepada para pengawalnya untuk mencari Alia. Dia lalu meminta 2 orang dari mereka untuk menjaga Dafa, sementara dia sendiri pergi untuk mencari Alia di arah lainnya.
Di sisi lain nya, Alia merasa begitu ketakutan. Dia ingin untuk kabur mencari bantuan, tapi suaranya tidak bisa keluar dari dalam mulutnya. Alia memegang lehernya dan berusaha berteriak dengan kuat. Tapi hal itu sangat sulit untuk dia lakukan. Dia seperti benar-benar kehilangan suaranya.
"Simpan itu di dalam kepalamu. Arka adalah milikku, dan selamanya akan menjadi milikku!"
Suara orang itu menghilang perlahan demi perlahan. Dan saat itulah Alia akhirnya bisa bicara lagi. Alia berteriak dengan semua kekuatannya.
"Siapa kau?" Teriak Alia tapi tidak ada seorangpun yang merespon kepada dirinya, tiba-tiba pintu terbuka.
Alia berlari saat dia melihat pintu terbuka. Kakinya masi gemetaran. Sebenarnya kaki Alia bahkan terasa mati rasa karena dia merasa ketakutan. Tapi dia bisa berjalan keluar dari dalam ruangan itu dengan usahanya yang sangat keras.
Saat itulah ketika Arka datang setelah melakukan pencarian Alia sejak tadi, hingga akhirnya dia menemukan Alia.
"Alia...." Teriak Arka dan berjalan mendekat kearah Alia.
Wajah Alia tidak terlihat baik-baik saja. Dia melihat kearah Arka dengan tatapan mata yang ketakutan.
Arka langsung memeluk Alia dengan erat. Sementara Alia tidak dapat menahan air matanya untuk lebih lama lagi, dia memeluk Arka lebih erat dan mulai menangis dengan keras.
"A... aaa... aku sa... sangat ke.. takutan." Ucap Alia dan tidak bisa berbicara dengan benar.
"Tenanglah, aku sudah ada disini." Ucap Arka seraya mengusap punggung Alia dengan perlahan.
'Apa yang sebenarnya sudah terjadi hingga membuatnya begitu ketakutan seperti ini? Aku tidak akan pernah memaafkan orang yang melakukan semua ini padanya. Bagaimana orang itu bisa berani-berani nya menyakiti istriku.' ucap Arka dalam hati dan terlihat sangat marah.
"Arka...." Alia memanggil nama Arka untuk pertama kalinya dan tampak masih menangis.
"Iya..." Balas Arka dan menyeka rambut dari depan wajah Alia.
"Seseorang.... Ada seseorang di dalam sana. Seseorang... ada di dalam sana..." Ucap Alia berulang-ulang seraya menunjuk ke arah ruangan kosong itu.
"Cepat masuk ke dalam sana dan cari orang itu di setiap sudut ruangan. Temukan orang yang berani-beraninya menyakiti wanitaku." Titah Arka kepada para anak buahnya dan kemudian dia masuk untuk ikut mencari keberadaan orang yang sudah membuat Alia sampai ketakutan.
Alia hampir saja terjatuh sejak dia merasa begitu lemah dan begitu bodoh karena ketakutan. Arka memegang tangan Alia dan lengannya, kemudian berkata, "kau tidak perlu untuk takut sekarang ini, aku akan selalu ada bersamamu."
Alia memeluk Arka dan membiarkan kepalanya bersandar di pundak Arka. Kata-kata yang di ucapkan Arka membuat Alia menjadi merasa cukup tenang. Keberadaan Arka membuat Alia merasa nyaman.
Arka membuat Alia duduk dengan nyaman dan mengusap kepalanya dengan lembut.
"Tutuplah matamu dan cobalah untuk tidur sebentar." Ucap Arka dan kemudian dia membuat Alia tertidur di atas pangkuan nya.
Alia mencoba untuk menutup matanya tapi ketika dia mencobanya, ruangan gelap itu, suara yang sangat menyeramkan itu, dan tawa yang sangat tidak enak untuk didengarnya. Membuat Alia kembali ketakutan. Dia mematung dan kemudian memeluk Arka dalam ketakutan.
'Aku akan membuat mereka membayar apa yang mereka lakukan terhadap dirinya.' ucap Arka dalam hati.
Arka sangat marah, dia bahkan bisa membunuh orang-orang itu karena sudah melakukan suatu hal seperti ini terhadap Alia yang bahkan membuat Alia tidak bisa menutup matanya.
Arka meminta kepada sopirnya untuk mengendarai mobil kembali ke rumah dan meminta dia untuk menelpon dokter.
"Dokter itu harus berada di rumah sebelum kami tiba di rumah." Ucap Arka.
"Baik Tuan." Balas sopir itu.
"Papa, apa yang terjadi kepada Mama?" Tanya Dafa dan dia tampak begitu khawatir.
"Papa tidak tahu Dafa. Duduklah dengan baik atau kau akan terjatuh." Ucap Arka seraya mengusap punggung Alia.
Dafa duduk dengan benar dan tampak menangis dengan perlahan.
'Mama sedih karena aku.'
__ADS_1
Dafa menyalahkan dirinya sendiri karena meminta Alia untuk membawanya pergi ke taman bermain.
'Alia, tenangkan dirimu. Mungkin semua itu hanyalah sebuah prank. Tapi siapa yang akan melakukan sebuah prank sejahat ini?' ucap Alia dalam hati dan mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.
Sementara itu, Arka menerima sebuah panggilan telepon dari bodyguard nya. Arka menjawab panggilan itu dan bertanya, "apakah kamu menemukan sesuatu?"
"Tidak Tuan, tidak ada apapun di dalam sana dan itu adalah sebuah rumah kosong. Jadi mungkin...."
Bodyguard itu hendak mengatakan semuanya, tapi kemudian Arka mengatakan sesuatu dengan suaranya yang dingin.
"Apakah aku bertanya kepadamu?"
"Maafkan saya Tuan." Balas Bodyguard itu meminta maaf.
"Carilah di seluruh taman bermain, temukan orang itu, bagaimana pun caranya." Ucap Arka dan kemudian menutup sambungan telepon itu dalam kemarahan.
Alia menggelengkan kepalanya dan berkata, "lupakan saja semua itu."
"Kenapa?" Tanya Arka seraya melihat ke arah Alia dengan bingung.
"Mungkin semua itu hanyalah sebuah prank saja." Balas Alia.
"Siapa yang sudah melakukan prank keterlaluan seperti itu? Apakah mereka tidak mempunyai otak?" Ucap Arka dengan begitu marah.
"Itu... Itu... adalah seorang wanita." Balas Alia dengan perlahan.
"Seorang wanita?" Tanya Arka dan rahangnya mengeras.
"Iya... Pertama, seseorang menutup mulutku dan kemudian mendorongku masuk ke dalam ruangan itu. Lalu ada suara seorang wanita yang terdengar menyeramkan." Ucap Alia menjelaskan kepada Arka semua yang terjadi kepadanya.
Mendengarkan semua itu, Arka menjadi terkejut.
'Ini semua bukan prank. Ini adalah ulah seseorang yang melakukannya karena bertujuan sesuatu.' ucap Arka dalam hati dan memikirkan semuanya.
Setelah itu, mereka tiba di rumah. Arka menggendong Alia di lengannya dan membawa Alia masuk ke dalam rumah. Dia meminta kepada sopir untuk menggendong Dafa masuk kedalam.
Di dalam rumah, dokter sudah menunggu mereka di ruang tamu. Dokter itu tengah duduk di sofa dan menggoyangkan kakinya.
Dokter itu kemudian melihat kearah Arka lalu dengan cepat berdiri.
"Apa yang terjadi Tuan Arka?" Tanya dokter itu tampak khawatir.
"Ikut dengan ku." Ucap Arka dan berjalan naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Arka menaruh tubuh Alia di atas tempat tidur dengan perlahan dan duduk disampingnya.
"Cepat periksa dia, dan katakan kepadaku apa yang terjadi padanya." Ucap Arka kepada dokter itu.
Setelah beberapa menit, dia tampak berpikir dengan begitu serius.
"Apakah sudah terjadi sesuatu kepadanya?" Tanya dokter itu kepada Arka.
Arka hendak mengatakan semuanya, tapi Alia memegang tangan Arka dan langsung duduk diatas tempat tidur.
"Tidak ada yang salah dengan diriku. Dan, terima kasih Dokter." Ucapan Alia dengan tersenyum yang dipaksakan.
Dokter itu mengangguk dan berjalan keluar.
"Apa kau yakin, bahwa kau baik-baik saja?" Tanya Arka dan duduk di samping Alia.
Dia menyentuh pipi kanan Alia dan merasa begitu khawatir kepada Alia. Alia tersenyum dan berkata, "jangan khawatir."
'Mungkin semua ini hanya halusinasi ku saja. Jika aku akan mengatakan semua ini kepada orang lain, maka mereka pasti akan berpikir bahwa aku sudah gila. Tapi Arka mempercayaiku.' ucap Alia dalam hati dan kemudian melihat kearah Arka.
Alia memegang tangan Arka dan tersenyum.
"Jika aku mengatakan kepadamu bahwa aku jatuh cinta kepadamu. Apakah kau akan percaya kepadaku?" Tanya Arka secara tiba-tiba dengan wajah yang begitu serius.
Sementara Alia tampak begitu terkejut.
Alia begitu terkejut, dia hanya melihat kearah Arka yang menatap dirinya dengan tatapan yang penuh keseriusan.
"Apakah kau mencoba untuk menghibur aku?" Tanya Alia.
Arka menghela nafas dan berkata, "aku harus bekerja lebih keras lagi.'
"Hahaha... Apa yang kau katakan?" Tanya Alia dengan wajah yang tampak kebingungan.
Arka mencubit pipit Alia dan berkata, "ayo, biarkan aku memasak makan malam untukmu."
Alia merona dan menganggukkan kepalanya perlahan.
"Bisakah aku ikut denganmu?" Tanya Alia dan tampak ketakutan untuk ditinggal sendirian.
Arka tersenyum dan langsung menggendong Alia dalam lengannya yang membuat Alia tampak terkejut.
"Kau pasti sudah mendengarkan apa yang aku katakan tadi bukan?" Tanya Arka dengan tersenyum.
Alia melingkarkan lengannya di leher Arka.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak mendengarkan apapun." Ucap Alia dengan tersenyum dan menyembunyikan wajahnya dari Arka.
"Baiklah, aku mengerti." Ucap Arka dengan tersenyum dan membawa Alia turun ke lantai bawah.
Arka lalu membuat Alia duduk di ruang makan dan mengusap kepala Alia dua kali.
"Aku akan memasak dan datang kemari secepat mungkin." Ucap Arka dan masuk ke dalam dapur.
"Mama...." Ucap Dafa seraya berlari turun dari tangga.
Dia lalu melompat dan langsung memeluk Alia seraya menangis.
"Maafkan aku Mama." Ucap Dafa dengan tangisannya.
"Oh kenapa anak kesayangan Mama menangis?" Tanya Alia seraya memeluk Dafa balik.
"Ini semua salahku Ma." Ucap Dafa seraya sesenggukan.
Alia mengusap rambut Dafa.
"Tidak sayang, ini sama sekali bukan salahmu. Berhentilah menangis." Ucap Alia berusaha menenangkan Dafa.
"Apakah Mama tidak marah kepadaku?" Tanya Dafa dan melihat kearah Alia.
Alia menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Dafa lalu mencium pipi Alia dan menjadi begitu senang karena ternyata Alia tidak marah kepadanya.
Setelah beberapa saat kemudian.....
Arka sudah selesai memasak makan malam. Dia tersenyum begitu ceria dan berharap bahwa Alia akan menyukai masakan yang dibuatnya. Dia sendiri menyajikan makanan itu di atas meja dan kemudian duduk di hadapan Alia.
Alia mencium aroma makanan itu dan tersenyum.
"Wow.... aromanya enak sekali." Ucap Alia.
Arka lalu tersenyum dan berkata, "ini adalah pertama kalinya aku memasak makan malam."
Alia melihat kearah Arka dengan mata yang takjub. Dia kemudian berkata, "terima kasih."
Arka tersenyum kemudian menyajikan makanan di piring. Sementara Dafa tersenyum setelah melihat mereka berdua seperti itu. Dia mulai memakan masakan Papanya dengan tangannya sendiri. Sementara mereka berdua juga mulai untuk makan.
Alia mengambil suapan pertamanya dari makanan itu dan dia tengah dalam perasaan yang begitu serius. Arka tampak gugup, dia ingin memasak sesuatu yang sangat lezat untuk Alia dan ingin untuk membuat Alia kembali bersemangat lagi.
'Aku tidak pernah merasa segugup ini. Tidak bahkan saat ujian ku dulu. Tapi sekarang aku hanya berharap bahwa dia akan menyukai masakan buatan ku.' Ucap Arka dalam hati dan sangat gugup.
"Wow, ini sangat menakjubkan. Ini lezat sekali." Ucap Aliya setelah menelan makanan itu dengan perlahan.
Arka tersenyum begitu bahagia dan kemudian mulai memakan makanan yang ada di hadapannya dengan wajah yang lega.
Sambil memakan makan malamnya harga melihat ke arah Alia. Ada sebutir nasi yang berada di sisi bibir Alia. Arka lalu mengambil nasi itu dengan menatap Alia dan hal itu membuat Alia terkejut Alya melihat ke arah Arka dan tiba-tiba wajahnya merona memerah.
"Apa kau demam?" Tanya Arka dan tanpa khawatir dia mencoba untuk menyentuh kening Aliya tapi Alia langsung menepis tangan Arka dengan perlahan dan berkata tidak aku tidak demam kemudian melihat kearah Alya dan tersenyum.
"Oh, lalu kenapa pipimu memerah?" Tanya Arka dengan senyum nakalnya.
'Kenapa dia bertindak seperti ini secara tiba-tiba?' ucap Alia dalam hati dan tidak bisa menghentikan dirinya sendiri dari merasa malu dan merona.
Sementara Arka hanya tersenyum setelah melihat Alia yang merasa malu.
'Istriku yang pemalu aku akan membuatmu menyukai aku juga.' ucap Arka dalam hati dan tersenyum.
Arka membawa Dafa masuk ke dalam kamarnya karena Dafa sudah tertidur. Arka menutup tubuh Dafa dengan selimut kecil dan mengusap kepalanya.
"Selamat malam Putraku sayang." Ucap Arka dan kemudian keluar dari dalam kamar Dafa.
Di depan kamar Dafa, Alia tengah berdiri karena Arka memintanya untuk menunggu dirinya. Alia hendak bertanya kepada Arka tentang Dafa. Tapi Arka berkata "jangan khawatir, dia sudah tertidur dengan lelap."
Arka lalu memegang tangan Alia dan menuntunnya berjalan masuk kedalam kamarnya. Hal ini sangat sulit untuk diterima oleh sisi terbaru dari Arka yang terlalu tiba-tiba untuk dirinya. Arka duduk diatas sofa yang berada di dalam kamarnya dan kemudian menarik Alia. Dia membuat Alia merasa nyaman dengan membiarkan kepala Alia berbaring di pangkuannya.
Alia tampak terkejut dan tidak bisa berbicara apapun karena Arka menarik dirinya secara tiba-tiba yang mana hal itu membuat Alia tidak bisa bereaksi apapun. Alia melihat ke arah Arka sementara Arka juga sudah melihat ke arahnya.
"Sekarang tutup matamu dan dengarkan ini." Ucap Arka seraya menaruh tangannya di mata Alia dengan perlahan.
'Apa yang sedang dia lakukan? Entah kenapa, berada di dekatnya membuat aku merasa nyaman. Aku merasa begitu bebas dan aman ketika aku bersamanya.' ucap Alia dalam hati dan tersenyum sementara Arka mengusap kening Alia.
'Sudah lumayan lama sejak aku tidak memainkan harmonika lagi. Dan aku harap ini bekerja dengan baik dan akan membantumu untuk bisa tidur dengan nyenyak.'
Arka melihat kearah harmonika dan tersenyum, kemudian mulai memainkan itu secara profesional.
Sangat menenangkan untuk didengar, di mana membuat telinga Alia merasa begitu nyaman dan membuat Alia langsung merasa aman dan baik-baik saja. Musik yang dihasilkan dari harmonika itu, begitu membuat Alia tersentuh.
Arka akhirnya berhasil membuat Alia tertidur tanpa kesulitan sedikitpun. Arka terus memainkannya. Hingga akhirnya dia menaruh harmonika itu di atas meja yang berada di dekatnya dan kemudian mengangkat tubuh Alia dalam gendongannya. Dia kemudian menaruh tubuh Alia dengan perlahan di atas tempat tidur dan kemudian mencium kening Alia.
"Selamat malam istriku sayang." Ucap Arka dan kemudian berbaring di sisi Alia.
Arka memeluk Alia dan menutup matanya.
'Aku tidak pernah ingin untuk melanggar janjiku kepada Nabila. Tapi aku tidak bisa menghentikan hatiku untuk jatuh cinta lagi kepada orang lain dan orang lain ini sudah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidupku. Tidak peduli apa yang akan terjadi di masa depan, aku tidak akan pernah melepaskan tangan ini.' ucap Arka seraya memegang tangan Alia.
Keduanya pun tidur dengan nyenyak tanpa ada kekhawatiran sedikitpun.
__ADS_1
Bersambung....