Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Prahara Baru


__ADS_3

Seminggu sejak kejadian kecelakaan Bu Ros, Rayhan menjadi jarang pulang ke rumah. Alasannya banyak pekerjaan di kantor dan terkadang harus membuatnya ke luar kota.


Bu Ros dikabarkan mengalami stroke akibat dari kecelakaan itu. Izzah belum pernah sempat mengunjungi mertuanya di Rumah Sakit.


Pagi itu, dunia Izzah terasa hancur. Izzah mengirim pesan pada Rayhan.


[Pulang sekarang juga.]


"Ini apa, Bang Ini apa? Jawab!" teriak Izzah.


Izzah menyodorkan ponsel yang tengah menampilkan foto-foto pernikahan Rayhan dengan seorang wanita. Mata Rayhan terbuka lebar, wajah itu berubah pucat, lalu ia membuka mulut.


Namun, sebelum terlontar satu kata, Izzah merebut benda pipih itu, lantas dengan tenaga penuh melemparkannya ke arah cermin. Suara memekakkan pun menggema di seantero kamar.


Kaca itu retak, pecah, lalu berhamburan ke lantai serpihannya. Hanya saja, hancurnya benda bening itu masih belum seberapa dibanding porak-porandanya hati dan jiwa Izzah.


"Kenapa, Bang? Kenapa ? Jahitan bekas melahirkan belum kering, Bang, belum!!" bentak Izzah pada Rayhan yang kini diam seribu bahasa.


Izzah menarik kerah kemeja yang dikenakan Rayhan, lantas mengguncangkan tangannya keras-keras. Tubuh pria yang telah seminggu bergumul dengan istri mudanya itu ikut bergerak-gerak.

__ADS_1


Belum puas meluapkan emosi, Izzah melayangkan tangannya pada pipi Rayhan berkali-kali. Cakaran dan gigitan pun tak luput dari anggota badan Rayhan. Setelah napas tersengal-sengal, Izzah mendorong tubuh Rayhan hingga ia terjatuh dari ranjang.


"Pergi! Pergiii!" teriak Izzah.


Bantal, guling dan selimut yang teserak di atas ranjang dilemparkan Izzah ke arah Rayhan. Setelah semua berhamburan, Izzah meraih piring di atas nakas. Detik berikutnya suara barang pecah belah kembali menggema di ruangan ini.


Izzah menjerit, meraung sekuat-kuatnya. Izzah tak peduli kalau suaranya akan didengar orang lain.


Biar, biar dunia tahu bahwa aku tak rela dengan kelakuan suamiku itu.


"Di saat Izzah masih menahan perihnya luka bekas operasi, Abang malah asyik bercumbu mesra dengan wanita lain. Kalian berpeluh-peluh mencapai kenikmatan di tengah kelelahan Izzah siang malam mengurus bayi kembar kita yang baru lahir. Tega.... Tega.... Tega... kamu!"


"Zah, udah, Izzah. Udaaaah!" teriak Rayhan sambil berusaha merengkuh tubuh Izzah.


Izzah berontak, mencakar, memukul tubuh lelaki yang telah memberinya anak itu.


Karena sudah tak bertenaga, ditambah sakit di area perutnya membuat Izzah menyerah. Rayhan memapah Izzah menuju ranjang. Ia mendudukkan istrinya itu, lalu menjauh. Mungkin takut Izzah mengamuk lagi.


Lalu, ruangan yang telah porak-poranda itu hening. Hanya helaan nafas Rayhan dan isakan Izzah yang terdengar. Lelaki itu melorot kan tubuh ke lantai, lalu menyandarkan punggung ke dinding. Ia menekuk lutut dan mulai terdengar isakan dari mulutnya.

__ADS_1


Izzah merasa itu bukan air mata sesal dan rasa bersalah. Namun, hanya kekesalan karena pengkhianatan yang telah terbongkar.


Apa salahku hingga kau setega ini? Apa arti pengorbanan dan cinta yang kupersembahkan selama ini? Bukankah kita pernah berjanji untuk setia sehidup semati?


***********


Sudah seminggu Izzah kembali tinggal di rumahnya bersama orang tuanya. Izzah juga tak mengizinkan Rayhan menemuinya. Izzah sungguh merasa tak sudi melihat lelaki yang tak punya perasaan.


Rayhan menikahi gadis yang berusia sembilan belas tahun setelah dua hari Bu Ros kecelakaan. Izzah baru tahu setelah seminggu dari akad. Info itu didapat dari Intan yang ia dapat dari akun tante gadis itu.


Intan awalnya ragu untuk bicara. Dia berfikir tak mau menciptakan prahara rumah tangga Izzah. Namun, mengingat Izzah yang baru saja melahirkan, Intan menjadi tak tahan. Menurut Intan keterlaluan sekali lelaki yang istrinya tengah berjibaku dengan sakit dan kerepotan mengurus bayi malah bersenang-senang dengan wanita lain.


Dunia serasa runtuh saat Intan menceritakan perihal pernikahan Rayhan. Terlebih ada bukti foto-foto saat akad nikah. Di gambar itu wajah Rayhan terpampang jelas. Tak bisa disangkal lagi dialah Rayhan Aditya Wijaya.


Apakah aku dan bayi-bayi mungil kami tak melintas di benaknya kala itu? Ternyata nafsunya pada wanita lain telah mengalahkan kedudukan kami berdua di hatinya. Bang Rayhan memang tak pernah berubah.


Benci, Izzah membencinya, bahkan Izzah telah siap melayangkan gugatan cerai. Namun, Pak Haris menahannya.


"Demi Arka dan Arsha. Kasihan kalau harus kehilangan sosok ayah di usia amat dini." ucap Pak Haris kala itu.

__ADS_1


__ADS_2