
"Permisi, Pak," sapa Nabila saat membuka pintu setelah diizinkan masuk oleh sang pemilik ruangan.
"Duduk di sana." Terlihat Arka tengah menerima telepon saat Nabila masuk ke ruangannya.
Nabila mengedarkan pandangan dengan takjub, selama kerja di sini baru kali ia masuk ke ruangan Bos. Maklum, karyawan yang kerja di departemen bawah, mentok hanya bertemu dengan sekretarisnya saja.
"Siapa namamu?" tanya Arka setelah selesai menerima telepon.
"Nabila, Pak," jawab gadis berlesung pipit itu sembari menatap bosnya.
"Dengar, Nabila. Saya tidak tahu apa yang kamu lakukan tadi serius atau hanya bercanda, tapi itu sungguh menyalahi kode etik kantor. Saya pimpinan di sini dan kamu permalukan di depan umum seperti tadi, itu sungguh kesalahan yang fatal," ucap Arka sambil duduk di kursi depan Nabila.
Nabila menunduk. "Saya minta maaf, Pak. Saya yang salah, sebenarnya ... saya kalah taruhan dengan seorang teman dan sebagai hukumannya, saya harus mengajak Bapak menikah di depan umum seperti tadi," jelas Nabila jujur.
"Dengan mempermalukan saya dan juga harga dirimu? Come on Nabila, kalau kamu saja tidak bisa menjaga harga dirimu sendiri, bagaimana kamu mau menjaga harga diri suamimu kelak?"
'Kenapa malah bahas suami?' tanya Nabila dalam hati, bingung.
"Maaf sebelumnya, kalau Bapak menyuruh saya ke sini cuma mau memberi ceramah, ibu saya juga bisa, Pak. Maaf, Pak, saya bosan. Di rumah dikasih ceramah, di kantor juga. Tolong langsung pecat saja, biar saya bisa segera keluar dari ruangan ini, Pak." Nabila menatap Arka dengan wajah mengiba.
"Heh, kamu iniβ" Belum juga Arka menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara khas yang sangat Arka kenal bergema dari luar ruangan.
"Assalamualaikum Ka! Kamu di dalam?" ucap perempuan bersuara merdu itu.
Sedetik kemudian pintu terbuka, terlihat wanita yang masih terlihat cantik dengan tubuh berbalut gamis dan jilbab besar masuk ke ruangan di mana Arka dan Nabila berada.
Arka segera berdiri dan mengusap dahinya pelan. "Waalaikumsalam Bu, kok tiba-tiba ke kantor?" ucap Arka sembari menatap wanita yang telah melahirkannya ke dunia.
Nabila yang tadinya duduk, ikut berdiri dan memberi salam pada wanita yang Arka panggil ibu tadi. "Selamat siang, Bu," sapa Nabila ramah.
"Selamat siang. Eh, ada gadis cantik, masyaallah, siapa namamu Nak? Kenapa siang-siang ada di ruangan Arka? Apa kamu pacarnya?" tanya Izzah berubi-tubi.
__ADS_1
"Eh, bukan, Bu. Saya karyawan Pak Arka. Eh, lebih tepatnya mantan karyawan sejak dua jam yang lalu," sergah Nabila cepat.
Dahi Izzah mengernyit. "Mantan karyawan? Maksudnya, kamu mengundurkan diri atau ...."
"Saya ... dipecat, Bu," jawab Nabila dengan senyum malu-malu, dan menggaruk rambut yang tak gatal.
Alis Izzah saling bertautan. "Dipecat? Memangnya kesalahan apa yang kamu lakukan sampai dipecat?"
"Saya cuma ... anu, itu ... hmmm, mengajak beliau menikah," balas Nabila lirih.
Kali ini mata Izzah terbelalak. "Apa? Ngajak Arka nikah?!" tanya Izzah kaget.
"Iya Bu, malu-maluin kan." ucap Arka.
"Ka kenapa kamu pecat dia cuma gara-gara hal sepele kayak gitu?"
"Sepele? Dia sudah memalukan anak Ibu yang tampan ini. Aku Bos di perusahaan ini dan semua harus patuh pada peraturan yang aku buat," jawab Arka santai.
"Tapi Bu..."
"Sudahlah, pokoknya Nabila gak boleh dipecat." ucap Izzah.
Izzah berpindah mendekati gadis yang sedari tadi hanya bisa diam saja. "Nabila, kamu nggak jadi dipecat kok, santai saja, ya." Diusapnya pundak Nabila lembut dengan senyum mengembang.
"Kata siapa nggak jadi? Dia tetap dipecat, enak aja! Sudah malu-maluin bosnya di depan umum, masih ngarep kerja di sini? Jangan mimpi!" ucap Arka tak mau kalah.
"Ka....." panggil Izzah lembut.
Aduuhh, suara Ibunya Pak Arka merdu sekali, batin Nabila.
"Iya Bu..." balas Arka.
__ADS_1
"Arka kok tumben gak mau denger ucapan Ibu."
"Habis nih cewek ngeselin Bu. Udah buat Arka malu."
"Nak, masalahnya kan cuma sepele. Kenapa dibesar-besarkan. Masa kamu gak mau maafin Nabila. Kita gak tau loh Ka, kehidupan Nabila ini bagaimana. Kalau kamu tetap kekeh buat pecat dia, kasihan kan. Cari kerjaan sekarang itu susah Nak. Maafkan lah dia. Allah aja Maha Pemaaf kepada kita hambanya yang tak luput dari kesalahan. Masa kita sesama manusia, apalagi kesalahannya cuma sesepele itu gak mau dimaafin." ucap Izzah panjang lebar.
MasyaAllah, adem banget denger Ibu ini ngomong, batin Nabila.
"Iya, iya. Ibu mulai lagi deh." ucap Arka. "Heh, Nabila. Hari ini karena Ibu, aku memaafkan kesalahan kamu. Kamu gak jadi dipecat. Sekarang kamu boleh kembali ke ruangan kamu." lanjut Arka.
"Waahhh alhamdulillah. Terima kasih banyak atas kebaikan Pak Arka. Terutama terima kasih Bu...." ucapan Nabila menggantung.
"Bu Izzah." ucap Izzah.
"Oh iya, terima kasih banyak Bu Izzah. Karena Ibu lah, Pak Bos tidak jadi memecat saya. Sekali lagi terima kasih banyak Bu." ucap Nabila dengan wajah yang berbinar.
"Kalau begitu saya permisi Bu. Assalamualaikum." ucap Nabila seraya meraih tangan Izzah dan menciumnya.
Izzah membalas dengan mengelus kepala Nabila. Nabila beralih pada Arka, hendak meraih tangan Arka untuk menciumnya.
"Mau apa kamu?" ucap Arka sewot.
"Mau cium tangan juga." jawab Nabila refleks. "Astaga..." Nabila menepuk dahinya sendiri seraya beringsut mundur. "Maafkan saya Pak, saya permisi dulu. Mari Bu Izzah." lanjut Nabila seraya keluar dari ruangan Arka.
Izzah tersenyum geli.
"Gadis yang cantik." ucap Izzah.
"Cantik apanya? Adanya juga bar-bar." balas Arka.
"Hush gak boleh ngomong gitu. Oh ya, sekarang ayo temenin Ibu ke supermarket. Tadi Ibu mau ke supermarket ditemenin Ayah, tapi mendadak ayah kamu pusing. Jadi Ibu minta Mang Budi buat anter kesini. Kamu lagi gak sibuk kan? Bisa temenin Ibu?" tanya Izzah.
__ADS_1
"Tentu, apa sih yang gak buat Ibuku tersayang." ucap Arka menciumi pipi Izzah.