
Alia harus pergi ke luar kota untuk melakukan pemotretan selama satu minggu. Setelah itu dia dan Arka telah merencanakan untuk pergi berbulan madu.
"Kemana kalian akan pergi?" Tanya manager Alia.
"Aku juga tidak tahu, Arka yang sudah mengatur semuanya." Balas Alia.
"Jadi semuanya kejutan?"
"Hmmmm... Sepertinya begitu." Balas Alia lagi.
Hari ini merupakan hari terakhir untuk pemotretan Alia, hingga ia akhirnya bisa pulang ke rumah.
"Bersiaplah, besok kita akan berangkat." Ucap Arka yang dibalas senyuman oleh Alia.
"Mama, apa aku tidak boleh ikut?" Tanya Dafa.
"Dafa, bukannya sudah deal sama Papa kemarin." Ucap Arka.
Dafa hanya mengangguk, namun wajahnya masih sendu.
"Ada apa sayang?" Tanya Alia.
"Mama janji ya, pulang nanti bawakan Dafa adik."
Blush!!!
Wajah Alia langsung memerah, dia pun menatap Arka yang hanya cekikikan.
"Mama gak janji ya sayang. Tapi Mama berjanji akan bawakan Dafa mainan yang banyak."
Dafa mengangguk dan tersenyum bahagia.
****************
Alia mengeluarkan beberapa pakaian yang akan dia bawa dari dalam lemari baju, dan juga beberapa keperluan lainnya yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
Hari ini Alia dan sang suami akan berangkat untuk honeymoon.
Negara K adalah tujuan mereka dan dibutuhkan waktu kurang lebih 9 jam untuk menuju ke sana. Bukan waktu yang sebentar dan itu pasti akan terasa sangat melelahkan. Mereka berdua akan menghabiskan waktu selama 5 hari disana. Mereka akan berangkat dengan pesawat pukul 10 dan diperkirakan akan sampai disana pukul 7 atau 8 malam.
“Arka, apa kau sudah menyiapkan semuanya?” Alia berteriak dengan cukup kencang sambil memasukan barang-barang bawaannya ke dalam koper.
Saat ini Arka sedang mandi, dia bangun kesiangan karena semalam sibuk menandatangani berbagai berkas sehingga tidur larut.
“Belum, tolong bantu aku, ehm… istriku sayang” Balasnya dengan teriakan keras dari balik pintu kamar mandi.
'Aish, apa saja yang harus aku bawa untuk keperluannya. Hem, mungkin beberapa bajunya saja yang akan aku siapkan. Sisanya biar dia yang melakukannya.' pikir Alia.
Alia meraih sebuah koper berwarna merah dari dalam lemari kemudian meletakkannya di atas ranjang. Dia membuka lemari yang menjadi daerah kekuasaannya, karena kedua pintu dari kanan memang hanya berisi baju-baju dan juga jas milik Arka.
'Hem, kali ini kami berangkat untuk liburan, jadi tidak usah membawa pakaian formal.'
“Baiklah, jeans, hoodie, t-shirt, hem apa lagi yang harus aku bawa?” Gumam Alia sembari menurunkan beberapa pakaian dari dalam lemarinya.
Alia mengambil celana jeans dan juga sebuah hoodie dengan warna biru gelap yang terlihat sangat lucu.
"Kenapa dia tidak pernah menggunakannya? Pasti akan terlihat sangat keren jika dia menggunakan hoddie ini."
Alia juga mengeluarkan kaus pendek warna abu-abu dan juga kemeja santai motif kotak lengan panjang berwarna hijau toska.
"Oh iya aku lupa aku juga harus membawa baju tidurnya, baju tidur berwarna biru muda dengan garis putih. Entah kenapa aku sangat suka jika dia menggenakan baju tidur setelan seperti ini, benar-benar lucu."
'Hmmmm, tapi tunggu sebentar. Kenapa warna biru mendominasi seperti ini? Haha, sudahlah. Semua akan terlihat menarik jika dia yang mengenakannya.' pikir Alia.
'Aish, aku lupa dengan satu hal yang harus dibawa. Yap, pasport-nya.'
“Arka, dimana kau menyimpan pasport mu?” Alia kembali berteriak dengan volume tinggi, agar Arka bisa mendengarnya dengan jelas.
Alia harus memastikan benda penting itu tidak ketinggalan, karena pasti akan sangat merepotkan jika sudah sampai di bandara tanpa membawanya.
“Cari di laci meja kerjaku!” Balas Arka berteriak dari dalam kamar mandi.
Alia dengan segera melangkahkan kakinya menuju meja kerja Arka, menarik gagang laci dan mencari benda tersebut di dalamnya. Alia hanya menemukan beberapa kartu ataupun surat-surat penting lainnya yang terlihat berantakan.
'Aish, dimana dia meletakkannya?'
Alia membungkukkan badannya agar bisa memeriksanya dengan jelas.
“Apa kau menemukannya?” Arka menyentuh pundak Alia dari belakang.
Alia dapat merasakan tangan dingin Arka karena baru saja selesai mandi. Alia mengeluarkan tangan kanannya yang sedang merogoh laci itu untuk menemukan pasport Arka.
“Aku tidak menemukannya.”
Alia membalikan tubuhnya menghadap Arka yang tepat berada dibelakangnya, tapi kemudian Alia menyadari bahwa saat ini Arka tidak memakai baju ketika keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Aaaaaaaaa...... apa yang kau lakukan?” Teriak Alia histeris, sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan untuk menghindari pemandangan yang disuguhkan di hadapannya.
'Bagaimana mungkin dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan sehelai handuk yang melingkar di pinggangnya. Dasar bodoh, apa dia sengaja melakukan hak itu dihadapan ku agar aku menjadi histeris seperti ini, huh?'
“Kau kenapa, Sayang?” Arka mencoba menarik kedua tangan yang menutupi wajah Alia.
Tapi kemudian Alia dengan segera menundukkan wajahnya dan menutup mata rapat-rapat. Alia tidak mau melihat pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat.
“Arka Wijaya, apa yang kau lakukan. Cepat pakai bajumu! Mengapa keluar dalam keadaan seperti itu?”
Alia membalikan badannya membelakangi Arka agar bisa membuka mata dan bernafas lega. Tapi bukannya pergi, Arka malah memeluk Alia dari belakang dan menyangga dagunya di bahu Alia.
Alia yang benar-benar merasa terkejut hanya bisa menerima perlakuan suaminya saat ini. Alia dapat merasakan nafas Arka yang terasa menggelitik di lehernya. Hal itu membuat Alia merinding selama beberapa saat.
Apa ada seorang yang mati hanya karena sebuah pelukan? Tapi Alia benar-benar merasa sangat sesak dengan perlakuan Arka seperti itu. Bukan karena pelukan Arka yang terlalu kencang. Hanya saja, Alia merasa jika pelukan Arka itu bisa menghentikan detak jantungnya.
“Aku bahkan sudah melihat seluruh tubuhmu. Dan sekarang kau hanya melihat aku bertelanjang dada saja sudah menutup rapat matamu seperti itu, kenapa huh? kau gugup?”
Arka berbicara masih dalam posisi yang sama, dan udara yang keluar dari mulutnya terasa hangat masuk ke dalam telinga Alia.
“Ti... Tidak…”
Alia memang benar-benar gugup dengan perlakuan Arka seperti itu. Jantung Alia jadi berdebar tidak karuan.
'Mama, tolong gadis kecilmu yang masih sangat polos ini!'
“Lalu kenapa sayang. Kenapa kau tiba-tiba diam seperti ini, huh?”
Arka menyingkirkan rambut panjang Alia yang menjulur ke depan, kemudian mengecup leher Alia dari samping. Alia benar-benar tidak dapat bergerak saat ini. Kedua kakinya terasa lemas. Alia bahkan kesulitan untuk mengartikulasikan kata-kata dari mulutnya.
'Bagaimana mungkin dia bisa melakukan ini padaku. Mengapa suamiku tiba-tiba menjadi mesum seperti ini?'
“A.... Arka...”
'Bodoh, Alia Luiz, kenapa kau menjadi gugup seperti ini. Setidaknya kau harus bisa menyembunyikan perasaanmu.'
“Kurasa kita masih punya banyak waktu untuk bersenang-senang pagi ini. Kau tidak keberatan kan?”
Alia tidak dapat berkata-kata ketika bibir Arka mulai menjelajahi leher dan bahunya yang terbuka, karena saat ini Alia masih menggunakan dress tidur dengan satu tali. Alia hanya bisa terdiam sambil menggigit bibir bawahnya, menahan suara menjijikkan yang mungkin akan keluar begitu saja dari mulutnya.
“Arka.... Ah... hentikan. Aku...” Dengan sekuat tenaga Alia berusaha menghentikan Arka yang mulai menggila.
Kedua kaki Alia terasa sangat lemas, tapi dia berusaha melangkah untuk maju dan menjauhi tubuh Arka. Kedua tangan Arka masih melingkar di perutnya, tapi Alia segera melepaskannya.
“Hahahahaha.....”
“Kau ini, kenapa wajahmu merah seperti itu? Kau takut? Oh Tuhan, kau ini sudah besar sayang. Kenapa masih malu-malu. Huh.” Lanjut Arka kemudian kembali terkekeh puas.
'Bagus Arka Wijaya, mau bermain-main denganku huh? Ini masih pagi dan dia sudah menguji kesabaran ku. Mau mati rupanya.'
PLETAK...
Sebuah jitakan yang lumayan keras akhirnya mendarat di kepala Arka.
"Semoga saja itu bisa menyadarkan mu yang sudah mulai gila, dan juga menghilangkan pikiran kotor yang berkecamuk di otakmu itu." Ucap Alia kesal.
“Sayang, kenapa kau tiba-tiba galak seperti ini. Kurasa tadi kau benar-benar menikmatinya?”
'Haish, kenapa masih membahas hal itu?'
Alia jadi malu mendengarnya.
'Dasar kurang ngajar, bagaimana mungkin dia mengatakan hal itu padaku. Bodoh.'
“Berhenti tertawa. Aku tidak mau membantumu membereskan barang-barang bawaan mu. Aku juga tidak mau mencari pasport milikmu. Merepotkan saja. Sudahlah, aku mau mandi.” Ujar Alia dengan nada tinggi.
Alia memasang tampang kesal dan berjalan untuk mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu kamarnya. Setelah itu, dia segera masuk ke kamar mandi.
Alia menarik nafas dalam-dalam dan membasuh wajahnya berkali-kali untuk menghilangkan bayangan aneh yang berkeliaran di otaknya.
'Bagaimana mungkin aku berfikiran seperti itu? Ya Tuhan, kurasa sentuhannya benar-benar bisa membuatku gila.'
“Fyuuhh...” Alia menghembuskan nafas berat dan melihat bayangannya sendiri di cermin.
Alia lalu merapikan rambut panjangnya yang sedikit berantakan.
“Apa ini?”
Alia benar-benar kaget ketika melihat beberapa tanda merah di lehernya.
'Bodoh, apa yang dia lakukan padaku sampai seperti ini? Apa Arka Wijaya itu vampir. Aish, bagaimana aku bisa keluar dalam keadaan seperti ini. Sekarang musim panas. Jika aku menggunakan scarf pasti akan terlihat aneh, dasar bodoh seenaknya saja berbuat seperti ini padaku.'
Bayangan tubuh Arka kembali terlintas di pikiran Alia.
'Sejak kapan dia mempunyai six pack yang terlihat sangat indah itu? Benar-benar keren. Aku tidak pernah melihatnya bertelanjang dada, dan baru saja aku menyaksikan pemandangan itu di depan wajahku. Ya Tuhan, awas saja kalau dia berani memperlihatkan tubuh indahnya itu pada gadis lain.'
__ADS_1
Sementara itu, Arka masih terkekeh geli sembari memasangkan kancing kemejanya.
'Haha, dia benar-benar lucu, aku hanya menggodanya tapi dia sudah gugup sampai mau pingsan seperti itu.'
Arka memang hanya berniat menggoda Alia dengan cara memeluknya dari belakang. Tapi ketika melihat bahu Alia yang terbuka, juga leher jenjang yang terpampang indah di hadapannya, Arka mulai kehilangan akal sehatnya hingga akhirnya menjadi seperti itu.
"Untung saja aku bisa menghentikannya dan mengendalikan diriku sendiri. Ah, jika tidak. Entah apa yang akan terjadi di pagi yang cerah ini. Hmmm... memikirkannya saja membuatku hampir gila." Ucap Arka cekikikan.
Arka menghampiri koper berwarna merah yang tergeletak dalam posisi terbuka di atas ranjang. Alia sudah membereskan baju-baju Arka ketika dia sedang mandi.
'Hem, istri yang baik. Kau mau membantu suamimu ini membereskan barang bawaannya hah?'
Arka segera meraih koper merah itu dan memeriksa satu-persatu, apa saja yang Alia masukan ke dalam kopernya.
“Kemeja biru, jeans biru, hoddie biru, baju tidur biru. Ya Tuhan, kenapa warna biru mendominasi koperku.” Gumam Arka sembari mengacak-ngacak isi koper yang sudah Alia rapikan itu.
Tapi Arka tidak menemukan barang-barang paling pribadi miliknya.
"Mengapa bisa lupa hal terpenting seperti itu?"
Setelah selesai membereskan barang bawaan, Arka segera turun ke bawah untuk memeriksa mobil dan juga meletakan 2 koper besar ke dalamnya.
'Akhirnya hari ini tiba juga. Hari yang paling ku tunggu.'
Arka berharap bahwa kali ini mereka berdua akan melakukan honeymoon seperti pasangan pengantin lainnya. Walaupun sebenarnya Arka tidak yakin 100 % mereka berdua benar-benar akan melakukannya disana. Mengingat selama ini selalu saja ada halangan yang terjadi setiap kali keduanya hendak melakukannya.
“Wah... Wah... Wah... Anak Ibu sudah selesai bersiap. Pastikan tidak ada yang tertinggal” Teriak Izzah dari arah dapur.
Sejak beberapa hari ini, Izzah memang tinggal di rumah Arka untuk menemani Arka selama Alia pergi untuk urusan pemotretan. Dan hari ini, setelah Arka dan Alia berangkat, Izzah akan membawa Dafa untuk tinggal di kediamannya selama Arka dan Alia berbulan madu.
Arka masih melangkahkan kakinya dengan sedikit tergopoh-gopoh menuruni tangga karena kedua tanganku menjinjing koper besar miliknya dan juga Alia. Tapi yang terasa lebih berat adalah koper milik Alia. Arka tidak tahu apa saja yang di bawa Alia sampai seberat ini.
'Dia tidak memasukan meja riasnya ke dalam koper kan? Ya Tuhan, kenapa seorang wanita selalu saja merepotkan dirinya sendiri.'
“Em, Ibu, Alia masih mandi. Dan aku akan memasukan barang-barang ini kedalam mobil” Arka meletakan kedua koper itu dan berjalan menuju meja dapur, menuangkan segelas penuh air putih dan meneguknya sampai habis.
“Em, cepat bereskan setelah itu kita sarapan bersama." Ujar Izzah sembari meletakan sepiring besar sandwich diatas meja makan sedangkan seorang pelayan masih sibuk memanggang daging.
Arka mengangguk singkat kemudian kembali membawa 2 koper besar itu menuju ke garasi dan meletakkannya di dalam mobil. Setelah itu Arka kembali menuju ke meja makan dan duduk dengan tenang untuk menikmati sarapan. Arka mengulurkan tangannya untuk mengambil sebuah sandwich yang terlihat sangat menggiurkan.
“Ibu, dimana Ayah?” Tanya Arka dengan mulut yang masih penuh.
Arka kesulitan untuk mendorong roti dan daging itu kedalam tenggorokannya.
“Ayah mu itu sedang asik membaca di ruang tengah. Tapi Ibu sudah memanggilnya agar segera sarapan. Em, kau juga panggil Alia agar dia segera turun. Sekalian panggil juga Dafa.” Jawab Izzah sembari menyusun tumpukan roti daging dan sayuran di meja dapur.
“Em, mungkin Alia belum selesai bersiap. Jika dia masih belum turun juga, aku akan menghampirinya ke atas. Dan untuk Dafa, biar pelayan yang memanggilnya.” Ujar Arka kemudian mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil segelas air putih yang terletak di depannya.
Sebelum meneguk air dalam genggamannya, Arka menoleh kearah Izzah yang kali ini sedang memperhatikannya sembari tersenyum.
'Kenapa senyum Ibu aneh sekali, seperti ingin mengatakan sesuatu. Ah entahlah!'
“Arka, ada yang ingin Ibu tanyakan padamu."
Izzah menghampiri Arka kemudian duduk di kursi yang tepat berada di sampingnya. Arka meliriknya dengan ekor matanya sedangkan dia sendiri masih sibuk meneguk air putih untuk mendorong sandwich yang sedikit sulit masuk ke tenggorokannya.
“Kau belum pernah melakukan itu padanya kan?”
Uhugk..... Uhugk...
Air putih yang sedang mengalir di dalam tenggorokan Arka tiba-tiba kembali keluar melawan arah.
'Ya Tuhan, selalu saja seperti ini. Kenapa Ibu suka sekali membuat aku tersedak. Untung saja aku tidak mati karena terkejut.'
Arka masih terus terbatuk-batuk tanpa mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan Izzah.
'Aish, pertanyaan macam apa itu?'
Izzah terlihat khawatir dengan keadaan Arka dan langsung bangkit dari dudukannya untuk membantu Arka dengan menepuk punggung Arka dan menghilangkan rasa sakit karena tersedak.
“Ah... Sudah cukup Bu.” Ucap Arka sembari menepuk-nepuk dadanya sendiri berusaha mengeluarkan sebuah suara dari mulutnya.
“Ah, Alia sudah menceritakan semuanya pada Ibu. Alia memang terlihat bersikap seperti anak-anak. Tapi Ibu rasa saat ini dia sudah sedikit bisa merubah cara berpikirnya. Dan Ibu yakin kau bisa , ehm... melakukannya dengan baik”
Perkataan Izzah membuat wajah Arka memerah seketika.
'Mengapa membicarakan hal seperti itu di meja makan, membuatku tidak nyaman saja.'
“Ehm.., ya..” Hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut Arka.
Arka tidak tahu harus menjawab seperti apa. Yang pasti Arka memang sudah kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan semacam itu.
“Baiklah, sekarang mungkin dia sudah selesai. Coba kau panggil dia agar segera turun dan sarapan. Pesawat kalian akan berangkat pukul 10 kan. Ini sudah jam 8. kalian bisa terlambat pergi ke bandara.” Ujar Izzah kemudian bangkit dari posisinya dan kembali ke meja dapur untuk meneruskan aktifitasnya yang tertunda.
Arka menaruh kembali sandwich yang baru ia gigit di atas piring. Dan segera bangkit dari posisinya kemudian berjalan menuju tangga untuk segera memanggil Alia dan juga Dafa.
__ADS_1
Bersambung.....