
Setelah insiden terjatuh itu, Arka dan Nabila memutuskan untuk tidur terpisah.
"Hey, sini aku mau ngomong penting sama kamu." Ucap Arka setelah Sang Isteri selesai berganti pakaian.
"Mau ngomong apa, gak bisa besok apa. Saya capek ini." Balas Nabila yang memilih membaringkan tubuhnya di ranjang, daripada mengikuti perintah Arka untuk duduk di sofa yang tersedia.
"Oohh, jadi kamu mau ngajak aku olahraga malam nih. Ya udah hayuk kalau gitu."
Dengan cepat Nabila melompat dari ranjangnya dan duduk di hadapan Arka.
"Hehehe mau ngomong apa tadi?" Tanya Nabila berusaha menutupi kekhawatirannya.
"Nggak jadi deh, lebih baik kita tidur yuk. Inikan malam pertama kita. Jadi kamu tahu dong, kebiasaan orang setiap malam pertama itu ngapain." Ucap Arka seraya memainkan alisnya.
"Jangan macem-macem ya kita belum ha....."
"Belum apa? Halal? Hahaha kita udah nikah, jadi aku bebas buat apa-apain kamu."
Sontak Nabila memeluk dirinya sendiri.
"Dasar otak mesum." Ucap Arka. "Tenang aja aku gak doyan ama ikan teri."
"Kalau gak doyan, kenapa setuju nikah?" Ucap Nabila.
Arka tersenyum, "Oke, sekarang aku mau ngomong serius sama kamu." Lanjut Arka.
Nabila memperbaiki posisi duduknya, dan menatap Arka dengan lekat.
"Kalau kamu mau tahu kenapa aku nikahin kamu, jawabannya karena Allah yang ngasih aku petunjuk buat nikahin kamu."
"Maksudnya?" Tanya Nabila bingung.
"Pokoknya intinya gini deh, aku minta yang terbaik sama Allah. Dan jawabannya adalah kamu."
Wajah Nabila bersemu merah.
'Ternyata aku adalah jawaban dari doanya.'
"Woy, gak usah GR dulu." Ucap Arka seraya mentoyor kepala Nabila.
"Iihh apaan sih."
"Gini, aku mau bilang sama kamu. Aku gak akan lakuin apa-apa sama kamu, sebelum aku benar-benar bisa mencintai kamu. Dan aku yakin, kamu juga belum cinta kan sama aku?"
'Iya'in aja deh, padahal sih udah ada rasa, ya walau cuma sedikit.' gumam Nabila dalam hati.
Nabila mendengarkan setiap ucapan Arka dengan serius.
"Sebelumnya, kita belum pernah berkenalan atau apapun itu. Nah aku mau mulai sekarang kita setidaknya berteman dulu, mungkin seiring berjalannya waktu kita bisa, mmmmm saling mencintai mungkin."
"Saya cuma heran aja sama Pak Arka, kalau memang tidak cinta, kenapa mau menikah?"
"Sudah ku katakan, aku mau menikah selain karena pilihan ibu, aku juga udah dapat petunjuk kalau kamu itu bisa jadi isteri yang baik. Ah sudahlah, mending kita tidur saja."
Arka lalu berjalan ke arah ranjang, kemudian membaringkan tubuhnya yang terasa lelah.
'Katanya gak mau ngapa-ngapain, kok malah tidur disitu.'
__ADS_1
"Tidur disini aja deh." Ucap Nabila pelan seraya membaringkan tubuhnya pelan di sofa panjang.
"Woy, mau ngapain disitu. Tidur disini." Teriak Arka.
"Tadi katanya gak mau ngapa-ngapain. Sekarang ngajak tidur bareng." Gerutu Nabila.
"Udah ngomongnya? Cepetan sini. Aku hitung sampai lima, kalau gak kesini, aku lempar kamu lewat jendela."
"Uh, sadis amat."
"Satu..."
Nabila bergeming, ia masih saja duduk.
"Lima." Ucap Arka seraya berjalan mendekat ke arah Nabila.
Dengan cepat Arka menggendong Nabila, membuat gadis yang mengenakan hijab itu terlihat takut.
"A-ampun, jangan buang saya." Ucapnya meronta berusaha turun dari gendongan Arka.
Arka berjalan mendekat ke arah jendela.
'Apa dia beneran mau lempar aku?'
Nabila menutup matanya, merasa pasrah dengan keadaan.
"Aaaaaa" teriak Nabila saat merasakan tubuhnya dilempar.
'Loh kok.'
Saat membuka mata, Nabila ternyata ada diatas kasur, dan Arka sudah berbaring disampingnya.
Nabila memukul-mukul dada Arka.
"Woy, sakit..." Ucap Arka.
"Pak Arka sudah buat saya jantungan, huuu...." Isak Nabila.
"Sudahlah, aku cuma bercanda." Arka menahan tangan Nabila agar tak memukulinya.
"Sudah, lepasin saya Pak." Ucap Nabila setelah merasa tenang.
"Bisa gak, gak usah panggil aku Pak. Aku ini sudah jadi suami kamu."
"Pak Arka sendiri dari tadi woy mulu manggil saya, nama saya Nabila. Bukan woy."
"Hahahaha, iya-iya." Ucap Arka lalu membelakangi Nabila.
Nabila duduk bersandar di kepala dipan berukuran besar itu. Pikirannya melayang, memikirkan dirinya yang ternyata sudah menjadi isteri dari bosnya sendiri.
"Hoooaaammm." Nabila menguap, ia lalu membuka hijabnya, tanpa menyadari bahwa Arka tengah memperhatikannya.
Rambut Nabila yang panjang dan hitam, seketika membuat Arka terpana. Tanpa sadar, ia langsung duduk.
"Eh, belum tidur ya." Ucap Nabila canggung.
Arka memegangi rambut Nabila, membuat gadis itu jadi salah tingkah.
__ADS_1
"Kamu... Cantik." Ucap Arka.
Wajah Nabila bersemu merah.
Tanpa sadar, Arka mencium rambut Nabila. Wangi rambut Nabila membuat darah Arka berdesir. Seolah wangi rambut Nabila menjadi magnet bagi Arka untuk berbuat lebih jauh atas Nabila.
Arka lantas mencium pucuk kepala Nabila, kemudian keningnya, berlanjut ke pipinya, hingga berujung pada bibir Nabila.
Awalnya gadis itu hanya bisa menerima perlakuan manis Arka, namun kini ia membalas dengan manis pula.
Ia memeluk Arka erat. Seraya ikut dalam permainan Arka yang tengah menciumnya.
Tangan Arka mulai meraba lekuk tubuh Nabila, pun gadis itu. Hingga tangan Nabila tak sengaja menyentuh sesuatu yang membuatnya terperanjat kaget. Dan melepaskan pelukannya pada Arka.
"Ma-maf Pak." Ucap Nabila berbalik membelakangi Arka.
'Apa yang sudah ku lakukan.' pikir Arka yang seketika menyadari apa yang sudah ia lakukan bersama Nabila.
"Ma-maafkan aku Nabila, seharusnya aku tidak."
Dengan cepat Nabila menutup mulut Arka dengan telapak tangannya.
"Ini memang sudah kewajiban saya sebagai isteri untuk melayani Pak Arka. Tapi tadi, saya hanya kaget saja." Ucap Nabila malu-malu seraya melepaskan tangannya dari bibir Arka.
Arka tersenyum, "aku tidak tau denganmu. Tapi bagiku, ini adalah pertama kalinya aku bersentuhan dengan wanita sedekat ini."
"Mungkin Pak Arka berpikir, karena ada banyak mantan saya, maka saya sudah pernah ini dan itu. Tapi, tidak ada satupun dari mereka yang pernah menyentuh saya lebih dari sekedar berjabat tangan." Tutur Nabila.
Arka yang sudah dimabuk kepayang, kembali memegang dagu Nabila.
"Aku...." Ucapan Arka terputus karena Nabila lebih dulu menciumnya.
Keduanya berciuman dengan mesra, benar-benar dibuai indahnya malam pertama. Hingga hanya tersisa selimut yang menutupi tubuh keduanya.
"Nabila, aku tidak tau apa yang terjadi. Sebelumnya aku menolak untuk menggaulimu sebelum ada cinta dihati kita masing-masing. Tapi sekarang....."
"Saya sudah menjadi isteri Pak Arka. Jadi Pak Arka bebas atas diri saya." Balas Nabila.
"Apa boleh....?"
"Tentu saja, bukankah memang ini yang seharusnya dilakukan pasangan suami isteri saat malam pertama." Ucap Nabila.
Arka tersenyum dan kembali menciumi Nabila.
"Sepertinya aku memang sudah mulai mencintai kamu." Bisik Arka di telinga Nabila.
"Saya juga." Balas Nabila dengan lirih.
Keduanya kembali saling berciuman, hingga Nabila kembali merasakan sesuatu yang aneh terasa dikulitnya.
"Sudah siap?" Tanya Arka.
Nabila mengangguk pelan, ragu dengan apa yang akan terjadi.
Arka mencium kening Nabila, kemudian menindih tubuh gadis yang mulai terlihat ketakutan itu.
"Bismillah." Ucap Arka.
__ADS_1
Keduanya pun melewati malam pertama mereka dengan sangat indah.