
Jalanan tampak ramai dengan riuhnya deru mobil dan motor yang memenuhi jalanan ibu kota. Siang yang begitu terik tak menyurutkan niat bu Ros dalam menyelidiki sendiri masa lalu Izzah.
Bu Ros berniat menuju rumah mang Diman.
Diman dan Asih pasti tau bagaimana Izzah, karena mereka berdualah orang yang mengetahui hubungan Rayhan dan Izzah pertama kali.
Setelah setengah jam perjalanan akhirnya bu Ros sampai di kediaman mang Diman. Bu Ros langsung berjalan masuk ke halaman rumah mang Diman.
Bi Asih dan mang Diman yang tengah duduk-duduk di teras terlihat kaget melihat kedatangan bu Ros. Raut wajah mang Diman terlihat tidak suka dengan kedatangan bu Ros.
"Assalamuaaikum, selamat siang." sapa bu Ros.
"Waalaikumsalam, mau apa kesini?" tanga mang Diman ketus.
Bi Asih menyenggol pinggang mang Diman. Mang Diman melongos pergi ke dalam rumah dengan manyun.
"Waalaikumsalam bu Ros, ayo duduk dulu." ucap bi Asih.
Bu Ros lalu duduk di bangku yang tersedia di teras rumah mang Diman.
"Maaf sebelumnya, bu Ros ada keperluan apa ya? Tumben kemari."
"Aku kemari mau nanya tentang Izzah."
"Neng Izzah." seru bi Asih.
"Mau nanya apalagi tentang neng Izzah? Paling juga kamu mau nyakitin neng Izzah lagi. Dasar Mak Lampir gak punya hati." ucap mang Diman yang berdiri di pintu.
"Jangan mulai kamu Diman. Aku datang kemari karena benar-benar mau tanya tentang Izzah."
Mang Diman mendengkus kesal.
"Kamu teh mau nanya apa memangnya Lampir?" ucap mang Diman lagi.
Bi Asih menggeleng-geleng melihat ke arah mang Diman.
"Bu Ros sebenarnya mau nanya apa?" tanya bi Asih.
"Gini Asih, dulu kamu dan Diman kan yang pertama kali bertemu Izzah dan mengetahui hubungan mereka. Apa kamu sudah tau sejak awal kalau Izzah itu mantan wanita panggilan?"
"Astaghfirullah, gini bu Ros. Sejak pertama kali neng Izzah datang ke villa, saya teh gak tau apa-apa tentang neng Izzah. Nak Rayhan hanya bilang untuk mengurus keperluan neng Izzah. Saya ingat satu bulan semenjak kedatangan neng Izzah di villa, neng Izzah teh sempat mau kabur. Saat acara pernikahan si Lilis baru saya tau kalau nak Rayhan sama neng Izzah teh sudah menikah. Saya gak tau menau tentang masa lalu neng Izzah. Tapi bisa saya pastikan kalau neng Izzah pasti bukan perempuan panggilan." ujar bi Asih panjang lebar.
"Aduh Asih, percuma kamu teh kasih tau si Mak Lampir. Dia gak akan percaya, telinganya teh udah ketutupan kebanyakan kotoran. Jadi kuping dia itu bakalan nerima kabar yang kotor atau yang jelek-jelek aja tentang neng Izzah. Giliran yang baik terhalang sama kotoran telinganya." ketus mang Diman.
__ADS_1
Bu Ros menggebrak meja di depannya dengan keras.
"Eh Diman, dari tadi aku diem aja gak nanggepin omongan sampah kamu. Tapi makin didiiemin kamu makin ngelunjak."
"Wah wah wah berani banget kamu Lampir kasar sama meja antik saya. Ayo sini maju biar saya kasih kamu pelajaran." ucap mang Diman dengan memasang kuda-kuda seperti sudah siap hendak bertarung dengan bi Asih.
Bu Ros hendak maju mendekati mang Diman. Namun bi Asih dengan cepat menahan bu Ros.
"Sudah bu, ayo duduk lagi biar kita bicarakan dengan baik-baik. Bapak juga teh lebih baik masuk sana, gak usah ikut omongan perempuan." ucap bi Asih.
"Bapak gak bakalan diam kalau menyangkut neng Izzah. Sudah berapa kali Mak Lampir ini melakukan hal jahat sama neng Izzah. Tapi neng Izzah selalu saja maafin dia. Saya teh heran sama kamu Mak Lampir. Punya mantu sebaik neng Izzah, kok tetap saja di jahatin. Benar-benar manusia gak punya hati kamu tuh Mak Lampir."
"Sudah atuh pak." balas bi Asih.
"Sudahlah Asih, sepertinya aku harus pergi sekarang juga. Aku gak mau buat keributan." ucap bu Ros.
"Udah sana pergi aja. Buat sakit hati aja lihat kamu disini Lampir." celetuk mang Diman.
Bu Ros hendak pergi meninggalkan rumah mang Diman namun bi Asih mengejarnya.
"Bu Ros, saya teh hanya mau bilang neng Izzah itu wanita yang sangat baik dan sholehah. Saya berani jamin neng Izzah pasti bukan wanita panggilan. Kalaupun benar adanya neng Izzah pernah dijual ibu tirinya. Itu semua pasti karena neng Izzah di jebak. Untuk lebih jelasnya, lebih baik bu Ros temuin saja perempuan yang dibilang tempat neng Izzah dijual dulu sama ibu tirinya." ucap bi Asih.
Bu Ros mengangguk lalu pergi dari rumah mang Diman. Bi Asih berbalik setelah kepergian bu Ros menuju ke arah mang Diman.
"Sebut aja dia itu Mak Lampir, ngapain atuh harus sopan santun sama wanita jahat seperti dia." balas mang Diman lalu masuk ke dalam rumah.
Bi Asih menggeleng dan menatap lurus kedepan, ke arah jalanan.
Semoga bu Ros teh kali ini dapat mengetahui semuanya dan sadar kalau neng Izzah itu wanita yang baik dan sholehah.
Di dalam mobil bu Ros memikirkan kata-kata bi Asih.
"Masa iya harus ketemu si Lita itu lagi. Males banget harus pergi ke tempat kotor itu."
Bu Ros lalu mengambil ponselnya menghubungi seseorang.
[Halo, aku punya pekerjaan buat kamu.]
[Siap bos, apa itu?]
[Pergi ke area lokalisasi yang ada di daerah X, cari yang namanya mami Lita. Ajak dia ketemu aku nanti di lokasi yang akan aku tentukan. Kalau dia gak mau, bila perlu seret dia. Aku yakin dia punya banyak bodyguard, jadi kamu harus bisa bawa dia kehadapanku.]
[Tenang saja bos, saya pasti bisa bawa dia kehadapan bos.]
__ADS_1
[Baiklah, aku tunggu dalam waktu dua jam. Kamu harus bisa bawa dia.]
[Siap bos.]
Sambungan teleponpun terputus.
Aku harus mencari tahu semuanya langsung dari mulut wanita itu.
Orang suruhan bu Ros tiba di area lokalisasi. Suasananya sama seperti perumahan biasa pada umumnya. Terlihat begitu sepi dan lengang. Hanya ada satu dua orang perempuan cantik yang tengah duduk-duduk di teras rumah. Namun berbeda pada malam harinya, area tersebut akan menjadi begitu ramai dengan hiruk pikuk gemerlap dunia malam.
"Permisi nona-nona cantik, saya mau tanya. Ada yang kenal mami Lita gak?" tanya orang suruhan bu Ros.
"Aduh bang brewok ngapain tanya mami Lita sih, kenapa gak nanyain kita-kita aja." ucap gadis-gadis itu cekikikan.
"Nona manis, saya sedang ada bisnis dengan mami Lita. Nanti malam saya balik lagi deh dengan teman-teman saya nemuin kalian semua." goda lelaki itu mencolek pipi seorang gadis.
"Aahh abang brewok janji ya balik lagi entar malam. Di jamin bakalan di service dengan baik."
"Tentu sayang, abang bakalan balik lagi entar malam. Sekarang kasih tau dulu dimana mami Lita." ucap lelaki itu sambil menyodorkan selembar uang warna merah.
Para gadis-gadis itu berebutan mengambil uang itu.
"Sini bang, saya kasih tau. Mami Lita ada di rumah itu tuh." tunjuk salah seorang gadis.
"Terima kasih sayang, ini buat kamu." ucap lelaki itu sambil menyelipkan dua lembar uang merah pada dada wanita itu.
Dengan segera orang suruhan bu Ros menuju rumah yang di tunjuk.
"Permisi, mami Lita ya?"
"Iya, saya sendiri. Kalian-kalian ini siapa ya? Ada perlu apa dengan saya?"
"Mari ibu ikut dengan kami bertemu bu Rosita." ucap orang suruhan bu Ros sambil menarik mami Lita.
"Loh loh loh kenapa kalian main paksa. Alex, Toni cepat usir mereka." teriak mami Lita.
"Jangan macam-macam." ucap orang suruhan bu Ros.
Pengawal mami Lita sudah dibuat babak belur oleh suruhan bu Ros.
"Ayo ikut kami, kalau anda tidak mau bernasip sama seperti mereka."
"Baaaa...baik." ucap mami Lita.
__ADS_1
Mami Lita lalu ikut masuk ke dalam mobil yang dipakai orang-orang suruhan bu Ros. Mereka pun pergi menuju lokasi yang sudah di tentukan bu Ros.