
Pagi berikutnya....
Arka, Alia dan Dafa, pagi-pagi sudah rapi dan tengah berada di meja makan. Mereka akan menjalani aktifitas mereka masing-masing. Arka ke kantor, Alia pergi ke studio foto, dan Dafa pergi ke sekolah.
Mereka akhirnya selesai sarapan bersama.
"Biarkan aku mengantarmu ke tempat kerja." Ucap Arka seraya memegang tangan Dafa.
"Tidak usah. Kau lebih baik antar saja Dafa ke sekolah dan aku akan pergi sendiri." Ucap Alia dan tersenyum.
Alia lalu berjalan ke arah mereka berdua. Alia lalu mencium kedua pipi Dafa.
"Mmmuuaachh... Jadilah anak yang baik ya sayang." Ucap Alia kemudian mengusap kepala Dafa.
Alia lalu melihat kearah Arka yang tampak cemberut.
"Ada apa denganmu?" Tanya Alia dengan raut wajah yang kesal.
Arka membalikkan kepalanya dengan wajah yang cemberut. Alia menjadi tertawa kemudian mengusap kepala dan rambut Arka.
"Jangan terlalu percaya diri." Ucap Alia tertawa.
"Itu saja?" Tanya Arka seraya melihat ke arah Alia. "Tidak ada yang lain? Apa tidak ada ciuman perpisahan?" Sambung Arka.
" Apa kau ingin aku untuk memberikan mu pelajaran?" Tanya Alia dan melipat tangannya di dada.
"Aku rasa kita sudah terlambat." Ucap Arka dan berjalan keluar rumah dengan cepat.
Melihat kelakuan Arka seperti itu, Alia tertawa dan berkata, "kau bertingkah begitu berbeda dibanding dengan apa yang aku pikirkan."
Arka hanya tersenyum mendengarkan ucapan istrinya itu.
Alia lalu mengikuti Arka dan berjalan keluar dari dalam rumah. Tiba-tiba ekspresi Alia berubah dan dia berhenti di tengah jalan.
'Kenapa aku tiba-tiba merasa begitu aneh, seolah sesuatu akan terjadi. Ah, tidak, tidak mungkin. Ini hanya imajinasi ku saja.' ucap Alia dalam hati dan kemudian berjalan keluar dari dalam rumah.
Alia lalu duduk di dalam mobil dan melambaikan tangannya kearah Arka dan Dafa yang juga sudah masuk ke dalam mobil mereka. Alia kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi bergegas pergi ke studio foto. Sementara Arka harus mengantar Dafa ke sekolahnya.
"Papa aku mau es krim." Ucap Dafa dengan wajah yang tampak merengek, dia tengah duduk di kursi samping pengemudi.
"Kita akan membelinya nanti dengan Mama, oke." Balas Arka dengan tersenyum seraya melihat kearah Dafa.
"Yeeeiii... Baiklah, Pa..." Ucap Dafa penuh kebahagiaan.
'Nyonya Arka Wijaya, kau akan mengakui perasaan cintamu kepadaku secepatnya atau aku yang akan membuatmu mengakui perasaanmu itu.' ucap Arka dalam hati dan tersenyum dengan ceria saat memikirkan Alia.
Arka lalu tiba di sekolah Dafa....
"Belajar yang baik ya. Ingat, bersikap yang baik dan jangan berkelahi dengan teman-temanmu." Ucap Arka.
"Siap Pa." Balas Dafa dengan mengangkat tangan dengan sikap hormat pada sang Papa.
Dafa lalu berjalan masuk ke dalam kelas. Saat hendak menghidupkan mobilnya pergi ke kantor. Arka menerima panggilan dari Nadia.
Arka memutar mata malas dan kemudian menerima panggilan itu.
"Sayang, kamu dimana? Tolong cepat datang." Ucap Nadia manja.
Arka tampak kesal sekaligus jijik mendengar ucapan Nadia.
"Aku harus ke kantor dulu." Balas Arka.
"Tapi aku membutuhkanmu. Semalam kau tidak menemaniku di rumah sakit. Dan sekarang kau malah...." Suara Nadia terdengar menangis.
Arka menghela napas, ia merasa begitu jengkel.
'Kalau saja bukan karena aku ingin mencari bukti atas perbuatan mu kepada Nabila, aku sudah menghajar mu habis-habisan.' ucap Arka dalam hati.
"Sayang, apa kau akan datang?" Tanya Nadia lagi.
"Baiklah, tunggu aku disana." Balas Arka.
"Aku mencin...."
__ADS_1
Belum selesai Nadia berbicara, Arka sudah menutup sambungan telepon mereka.
"Sialan." Umpat Nadia. "Tunggu saja, kau akan menjadi milikku selamanya."
Arka pun lalu pergi ke rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, Arka langsung duduk di sebuah kursi di samping Nadia. Sementara Nadia tengah berbaring di atas tempat tidur dan tengah memegang tangan Arka.
"Apakah kau mencoba untuk berbohong kepada ku?" Tanya Nadia dan melihat kearah Arka dengan ekspresi yang serius.
"Tidak, tentu saja tidak. Bagaimana mungkin aku membohongimu." Ucap Arka dan mengusap kepala Nadia.
'Apakah dia mulai meragukan aku? Tapi kenapa? Apakah dia mengetahui sesuatu? Tapi apa itu, dan bagaimana dia mengetahuinya?' ucap Arka dalam hati dan tampak gugup.
Sejak tadi Nadia terus mencecar Arka dengan pertanyaan siapa yang dia cintai.
Nadia melihat ke arah Arka dan rahangnya mulai mengeras dan berkata dalam hati.
'Jadi kau mulai menyukai wanita itu sekarang? Arka kau seharusnya tidak menyukai seseorang selain diriku.'
Nadia tengah marah, dia merencanakan sesuatu di dalam pikiran busuknya. Sementara Arka tengah sibuk memikirkan tentang Alia.
Nadia akhirnya bisa keluar dari rumah sakit. Dia pun berjalan keluar dari rumah sakit bersama dengan Arka.
"Tunggu disini, biar aku membawa mobilnya kemari." Ucap Arka dengan tersenyum dan pergi untuk mengambil mobil di parkiran.
Sementara Nadia mengambil ponselnya keluar dari dalam tasnya dan mencoba untuk menelpon seseorang.
"Jadi, ternyata kau masih hidup?" Suara seseorang datang dari sambungan telepon itu.
"Hmmmmppphh ... Lakukan suatu pekerjaan untukku, dan aku akan memaafkan mu." Ucap Nadia tertawa kecil.
"Menjauh lah, dasar kau penghianat. Kau akan mengkhianati kami lagi dan berlari kabur menjauh dengan uang kami." Ucap orang yang sama.
"Aku sudah mendapatkan posisiku kembali. Jadi jangan khawatir tentang uang. kau hanya perlu menculik wanita itu." Ucap Nadia dan tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu kirimkan aku foto wanita itu dan pekerjaanmu selesai dan jika kau gagal untuk memberikan uang kepada kami, maka kali ini kau tidak akan bisa hidup." Ucap orang itu dan memutus sambungan telepon.
'Hmmmpphh.. Dasar penculik bodoh, kau akan berlutut di hadapan ku nanti.' ucap Nadia dan menyeringai.
Arka menghentikan mobilnya tepat di hadapan Nadia dan memintanya untuk masuk ke dalam mobil.
'Aku tidak bisa membawa dia pulang ke rumah karena Alia sudah tinggal di sana. Kalau begitu lebih baik aku akan membawa dia ke rumah lainnya dulu. Ah menyebalkan sekali.' ucap Arka dalam hati.
Setelah perjalanan yang memakan waktu 1 jam, akhirnya Arka dan Nadia tiba disebuah rumah.
"Rumah ini terlihat seperti properti milik keluarga Wijaya. Tapi kenapa desain mereka berbeda?" Tanya Nadia saat melihat sekeliling rumah itu.
"Setelah aku pikir kau sudah meninggal, aku mulai merenovasi rumah ini." Ucap Arka dan menjadi sedih dengan berakting.
"Ahh.. Aku minta maaf Arka." Ucap Nadia berjalan mendekat kearah Arka dan dia tampak mengusap wajahnya.
Sementara Arka mulai membuat wajahnya terlihat sedih.
'Argghh... Sentuhannya membuat aku merasa jijik. Aku harus mandi dua kali sekarang.' ucap Arka dalam hati dan melepaskan tangan Nadia.
"Bisakah kita masuk ke dalam?" Tanya Arka dengan senyuman palsu di wajahnya.
"Aku bertanya-tanya tentang ke mana dia pergi?" Tanya Nadia.
"Aku mengatakan kepadanya untuk pergi dari rumah sejak Nabila ku kembali dan meminta untuk tinggal di rumah ini." Ucap Arka dan memegang tangan Nabila dengan erat namun penuh paksaan dari dalam hatinya.
"Kau begitu manis sekali." Ucap Nadia dan tersenyum, tapi didalam hatinya menjadi begitu marah karena dia bukanlah Nabila tapi kakaknya, Nadia.
'Lalu, memangnya kenapa? Sekarang ini tidak penting lagi. Nadia adalah masa laluku dan sekarang aku adalah Nabila. Nabila nya Arka.'
Nadia menganggap dirinya sendiri sebagai Nabila dan merasa begitu penuh percaya diri.
'Dan apakah aku harus menghentikan penculikan itu? Tidak, aku tidak bisa. Dia tetap tidak menandatangani surat perceraian itu. Jadi dia harus mendapat hukuman.' ucap Nadia dalam hati dan berjalan masuk kedalam rumah dengan senyum sumringah di wajahnya.
Di tempat lain, Alia akhirnya tiba di studio fotonya untuk album barunya. Dia memarkirkan mobilnya dan masuk kedalam untuk bersiap melakukan pemotretannya. Dia tidak menyadari bahwa seseorang tengah mengikutinya sejak dia keluar dari dalam rumah tadi.
****************
__ADS_1
Alia akhirnya selesai dengan pemotretannya dan semua yang bertugas di sana sangat bahagia setelah Alia menyelesaikan pekerjaannya dengan begitu brilian.
"Kalau begitu aku bisa pergi sekarang." Ucap Alia dan kemudian mengambil tasnya dari tempat duduknya.
"Oh iya, tugas seorang Mama." Ucap manajer Alia dengan tersenyum dan kemudian semua kru yang ada di sana mulai tertawa kecil. "Aku yakin kau akan menjadi ibu terbaik karena kau adalah model yang terbaik." Ucap manajernya lagi dengan senyuman yang tulus.
"Terima kasih." Ucap Alia kepadanya dan kemudian berjalan keluar dari dalam studio foto.
'Apakah aku harus membelikan sesuatu untuk Dafa? Ah terserah saja, apapun yang aku lakukan untuk Dafa, Arka akan menjadi cemburu. Ah, pria itu sangat kekanak-kanakan.' ucap Alia dalam hati dan menunggu mobilnya untuk dibawakan oleh petugas parkir.
Beberapa orang pria bertubuh kekar tiba-tiba berdiri di belakang Alia dan hendak menculik Alia. Tapi kemudian Alia berbalik dan menatap mereka dengan wajah yang terkejut.
"Siapa kalian?" Tanya Alia dengan berjalan beberapa langkah mundur ke belakang.
"Malaikat yang akan menjemputmu pergi." Ucap seorang pria berkulit gelap dengan postur tubuh yang begitu tinggi.
Pria itu kemudian memukul belakang leher Alia di bagian terlemah Alia. Setelah itu Alia pun kehilangan kesadarannya.
Pria itu lalu mendorong Alia masuk ke dalam mobil dan kemudian meminta orang lainnya untuk mengendarai mobil itu. Kemudian mereka menelepon Nadia.
"Siapkan uangnya sekarang juga." Ucap pria itu.
"Apa? Itu cepat sekali!" Ucap Nadia tampak terkejut karena mereka sudah menyelesaikan pekerjaan mereka.
"Kau hanya perlu memberikan uangnya kepada kami, sisanya terserah pada kami saja." Ucap penculik itu dengan suara yang menyeramkan.
"Baiklah. Baiklah, aku akan membawakan uangnya kepada kalian dengan cepat dan dengarkan aku baik-baik. Kalian hanya perlu menakuti dia saja. Jadi dia tidak akan berani untuk mendekat kepada Arka lagi." Ucap Nadia.
"Siapa?" Tiba-tiba Arka muncul di hadapan Nadia dan bertanya dengan suara yang penuh tanda tanya.
Sementara Nadia menjadi terkejut dan mematung. Dia dengan cepat memutus sambungan telepon itu dan mencoba untuk melihat kearah Arka.
"Emmm..... Aku tengah berbicara dengan temanku. Dia bilang bahwa dia mau bertemu dengan dirimu. Jadi aku bilang kepadanya untuk tidak berani-beraninya menemui suamiku." Ucap Nadia dan menghindari tatapan mata Arka.
Arka menyadari perilaku Nadia bahwa dia tengah menyembunyikan sesuatu. Arka kemudian tersenyum dan berkata, "Oh... jadi Nabila ku ini menjadi cemburu ya?"
Mendengar nama adiknya disebut, Nadia menjadi marah dan dalam kemarahannya itu dia berkata, "aku bukanlah....,
"Hah .. Kau bukan apa?" Tanya Arka dengan menatap mata Nadia dan tersenyum.
"Maksudku, aku bukannya tidak cemburu. Aku malah sangat cemburu." Ucap Nadia dan kemudian masuk ke dalam kamarnya dari balkon.
'Dia pasti sudah melakukan sesuatu. Tapi apa? Aku harus mengecek ponselnya. Apa sebenarnya rencana yang dilakukan Nadia sekarang?' ucap Arka dalam hati dan melihat ke arah ponsel Nadia yang dia taruh di atas tempat tidur.
Nadia masuk ke dalam kamar mandi dan saat itulah Arka mengambil ponsel Nadia dan mencoba untuk membukanya. Tapi ponsel itu menggunakan kata sandi.
"Password apa yang biasanya dia gunakan." Ucap Arka pada dirinya sendiri dan tampak gugup.
"Apakah dia menggunakan namaku sebagai password nya?" Arka mulai menulis namanya sendiri tapi itu tidak bisa.
Arka kembali berpikir lagi dengan sambil mencoba password lainnya, tapi itu tetap salah.
'Sial, lalu dia pakai password apa ya?' ucap Arka dalam hati dan kemudian mengetik password lagi sebagai Nyonya Wijaya.
Hal itu membuat Arka menjadi begitu terkejut karena ponsel itu akhirnya bisa dibuka.
"Dia benar-benar punya mimpi yang terlalu tinggi. Mimpi yang akan selamanya menjadi mimpinya." ucap Arka dan kemudian melihat semua kontak telepon yang ada di ponsel Nadia danl juga dengan pesan yang ada di sana.
Arka menjadi begitu terkejut setelah melihat bahwa Nadia tengah meminta seseorang untuk menculik Alia.
Itulah saat Nadia keluar dari dalam kamar mandi dan bertanya, "apa yang kau lakukan dengan ponselku?"
Tapi Arka tetap tampak tenang dan berkata dengan senyuman di bibirnya.
"Aku hanya penasaran. Apakah kau menaruh gambar ku sebagai wallpaper mu."
Nadia tersenyum dan melupakan semua yang terjadi. Dia kemudian berjalan mendekat kearah Arka dan hendak melingkarkan lengannya di leher Arka. Tapi kemudian Arka berkata, "Ada hal penting yang harus aku lakukan di perusahaan yaitu meeting dengan beberapa klien. Jadi ayo kita ketemu nanti malam." Ucap Arka dan kemudian meninggalkan kamar itu.
Sementara Nadia mencoba untuk menghentikan Arka, tapi Arka sudah pergi. Nadia pun menghela nafas dan berkata, "Sudahlah. Tidak apa-apa sekarang. Aku punya banyak waktu dengan Arka dan tidak akan ada satu orang pun yang bisa mengganggu kami."
Arka kemudian bergegas menuju studio Alia.
"Aku bersumpah aku akan membunuh wanita itu jika sesuatu terjadi kepadamu."
__ADS_1
'Tapi bagaimana ini bisa terjadi? Ya Tuhan, aku merasa seperti pecundang. Aku tidak bisa melindungi orang yang aku cintai. Aku mohon Alia, kau harus baik-baik saja.' ucap Arka dalam hati dengan tangannya yang gemetar saat dia mengendarai mobilnya dan dia begitu takut bahwa sesuatu akan terjadi kepada Alia.
Bersambung....