
Pagi.....
Motor matic hitam Nabila melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan, hijab lebarnya bergerak mengikuti embusan angin. Sesekali sang pengendara motor menyenandungkan lagu dangdut kegemaran mamanya yang selalu diputar setiap hari.
Sedetik kemudian jari lentik itu menekan tombol sein, lalu perlahan berbelok ke pelataran parkir Toko Buku. Nabila akan menghabiskan setengah harinya di sini, membeli buku? Tidak, dia hanya numpang membaca saja. Karena hari minggu, ia jadi memiliki banyak waktu untuk melakukan hobi membaca yang hanya sempat ia lakukan setiap hari minggu karena setiap harinya harus bekerja di kantor.
Waktu menunjukkan pukul 09.00 dan toko masih terlihat lenggang di hari libur seperti ini.. Gadis bergigi ginsul itu mulai mengambil beberapa buku lalu duduk santai di lantai dan mulai hanyut dalam buku yang ia baca.
"Permisi, apa kamu bisa membantuku?" ucapan itu membuat Nabila mendongak, lalu menatap wanita cantik berdiri di hadapannya dengan wajah pucat, persis seperti mamahnya saat ditagih Kang kredit panci.
Nabila berdiri sembari memandang wanita berkulit putih dan mengenakan hijab ala vokalis band gambus yang tengah viral karena dugaan kasus perselingkuhannya itu, tampak bingung. "Ada apa?"
Dengan ragu wanita tadi membisikan sesuatu pada Nabila.
Sekali lagi, Nabila menatap wanita itu dari ujung kepala sampai ujung kaki lalu berkata, "ikuti aku." Diletakkannya buku ke tempat semula, kemudian berjalan ke arah toilet diikuti oleh wanita tadi.
********************
Nabila menoleh ketika wanita cantik tadi keluar dari toilet dengan wajah yang terlihat ceria. "Sudah?" tanya Nabila pada wanita tadi.
Kini, ia sudah berganti dengan pakaian yang Nabila beli di butik depan toko buku tadi.
Dengan senyum merekah, ia mengangguk. "Terima kasih banyak. Aku nggak tahu gimana jadinya kalau nggak ada kamu tadi. Mungkin ... aku akan mati berdiri tadi," balasnya sambil menggenggam tangan Nabila erat.
"Jangan mati berdiri, capek. Duduk atau tiduran saja," ucap Nabila.
Wanita di depan Nabila itu terbahak. "Kamu lucu sekali. Oh, kenalkan, namaku Arsha, kamu?"
__ADS_1
"Banyak orang memanggilku Laudya Cintya Bella, tapi mama ku melarang keras, katanya mirip nama artis. So, dia memberi ultimatum untuk memanggilku Nabila saja."
Wanita cantik yang tak lain Arsha kembaran Bos-nya itu terbahak. "Ada-ada saja."
Dengan dahi mengernyit Arsha menatap gadis yang terlihat seusia dengannya itu lebih dalam. "Tunggu, siapa namamu tadi? Nabila? Sepertinya aku familiar dengan nama itu, tapi di mana, ya? Ah, sejak kehadiran Devan aku jadi sering pelupa." Ia berdecak kesal. "Btw, kamu ada acara setelah ini? Mampirlah ke rumah, akan kuganti pakaian ini. Kebetulan rumahku dekat dari sini," tawar Arsha.
"Nggak perlu, itu cuma pakaian murah diskonan, beli 1 gratis merk-nya. Santai saja, nggak perlu diganti."
"Jangan gitu, ini akan kuanggap hutang seumur hidup. Ayolah, mampir ke rumah, akan kukenalkan pada orang-orang rumah, terutama Ibu aku...," bujuk Arsha dengan sedikit memaksa.
"Berat ini, aku nggak bisa menolak kalau menyangkut tentang seorang Ibu, aku sangat menyayangi emak-emak berdaster.."
"Asiiik. Mobilku ada di depan, ayo."
"Eh, aku bawa motor. Aku ngikutin aja dari belakang, oke?" ucap Nabila akhirnya yang dibalas anggukan dan senyum merekah oleh Arsha.
**********************
"Apa kamu anak dukun?" tanya Nabila takjub saat masuk ke halaman rumah Arsha yang begitu luas dan asri.
Ada taman luas di sana, ditumbuhi berbagai tanaman bunga dan juga pepohonan, di bagian tengah ada kolam ikan dengan jembatan kecil.
"Dukun?" Arsha tergelak mendengarnya.
"Karena di daerahku, hanya dukun yang punya rumah gede gini, walau nggak segede ini sih," balas Nabila yang masih takjub dengan kediaman Arsha.
Arsha menggelengkan kepala heran. "Ada-ada aja kamu ini. Btw, ayo masuk, Ibu aku ada di dalam, kamu harus kenalan sama Ibu, dijamin asyik. Kalian punya banyak kemiripan" ajak Arsha.
__ADS_1
"Sebentar, itu kolam ikan, ya? Boleh aku menyapa ikan-ikan di sana dulu?" tanya Nabila penasaran.
Lagi-lagi Arsha terbahak. "Boleh, asal jangan diajak mereka pacaran, oke? Aku masuk sebentar."
"Oke, kalau nggak khilaf." Nabila kembali mengedarkan pandangan saat Arsha beranjak masuk ke rumah.
"Permisi para ikan, orang cantik mau lewat."
Gadis itu menatap halaman rumah yang baru pertama kali ia datangi. "Ini seperti rumah di sinetron ikan terbang yang sering lihat Mama lihat," gumamnya sambil berdecak kagum.
"Aku mau pamer ke Mama. Siapa tahu, nanti jodohku punya rumah segede ini juga." Nabila segera mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecil yang ia bawa, lalu mulai mengambil beberapa foto, berselfie dengan berbagai gaya.
"Cantik sekali diriku," ucap Nabila terharu saat melihat foto dirinya.
Nabila kembali menggerakkan ponsel untuk merekam setiap sisi taman. Perlahan ia mengarahkan benda pipih itu naik ke atas, sampai akhirnya terhenti ketika tak sengaja menangkap sosok pria yang tengah menggunakan celana pendek dengan bertelanjang dada, terlihat ia sedang berolahraga di balkon.
Pria itu mengangkat barbel kecil pada dua tangannya. Kedua telinga tersumpal earphone dengan posisi membelakangi Nabila. "Seksi sekali," ucap Nabila lirih, ia terkagum sampai lupa kalau sedang merekam.
Beberapa saat kemudian, pria itu meliuk-liukan badan ke depan, ke belakang, dan sesekali bergoyang mengikuti alunan musik dari benda yang menutupi telinganya.
Sampai akhirnya pria itu membalikkan badan dan seketika membelalakkan mata. Ia segera menghentikan goyangannya saat tahu ada orang asing di halaman rumah. Lebih parahnya, orang asing yang tak lain adalah Nabila itu sedang mengarahkan ponsel padanya.
"Nabila! Ngapain kamu?! Dasar penguntit mesum!" Menggelegar suara pria bertelanjang dada itu membuat Nabila terperanjat.
"Pak Arka?"
Bersambung
__ADS_1