
Matahari sepertinya enggan menampakkan sinarnya untuk menyinari bumi. Gumpalan awan menutupi cahayanya. Pagi ini begitu mendung menandakan hari akan hujan.
Izzah tengah bersiap-siap menuju toko kuenya. Matanya terlihat sembab, namun dia berusaha tegar dan tetap tersenyum saat bersama bi Asih dan mang Diman.
"Neng mau ke toko? Apa gak mau istirahat dulu?" tanya bi Asih.
"Ya bi, Izzah baik-baik aja kok jadi Izzah bisa ke toko. Izzah juga dapat orderan lumayan banyak hari ini bi." ucap Izzah.
"Kalau gitu biar mamang antar ya, neng Izzah jangan bawa motor sendiri dulu." ucap mang Diman.
Saat Izzah hendak menjawab terdengar suara mobil berhenti didepan rumah. Dengan segera mang Diman keluar rumah melihat siapa yang datang.
Tak lama mang Diman masuk bersama Rayhan. Raut wajah Izzah berubah, terlihat ia tak suka akan kedatangan Rayhan.
"Kalau gitu Izzah pamit ya bi." ucap Izzah sambil mencium tangan bi Asih.
Lalu Izzah menuju mang Diman untuk menyalaminya. Izzah melengos begitu saja melewati Rayhan keluar rumah. Rayhan lalu mengejar Izzah dan menarik tangan Izzah.
"Izzah tunggu, abang mau bicara."
Izzah tak menanggapi, dia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Rayhan.
"Please Zah, kasih abang kesempatan sekali lagi untuk menebus semua kesalahan abang."
"Maaf saya tidak punya waktu untuk bicara dengan anda, saya sibuk. Dan tolong lepaskan tangan saya." ucap Izzah seraya tetap berusaha melepas tangan Izzah.
__ADS_1
Namun Rayhan memegang tangan Izzah semakin erat. Membuat Izzah meringis kesakitan. Hati Izzah begitu dongkol.
"Lepasin, aku mau kerja."
"Abang antar ya." ajak Rayhan sembari tangannya semakin erat menggenggam tangan Izzah.
Izzah meringis kesakitan, ia tetap berusaha melepaskan pegangan Rayhan. Yusuf memperhatikan mereka berdua dari depan kontrakannya.
Kontrakan mang Diman berdampingan dengan rumahnya hanya berjarak seratus meter. Yusuf memutuskan menghampiri Izzah yang tengah bersitegang dengan Rayhan.
Sementara mang Diman dan bi Asih hanya memandang mereka berdua. Mang Diman dan bi Asih tak ingin ikut campur masalah Izzah dan Rayhan.
"Lepasin..." ucap Izzah.
Yusuf datang dan melepaskan pegangan Rayhan pada tangan Izzah.
"Tolong jangan kasar sama perempuan." ucap Yusuf.
"Siapa kau? Jangan ikut campur masalahku dan Izzah, dia istriku." ucap Rayhan seraya menarik Izzah kembali agar berada didekatnya.
Yusuf lalu menarik Izzah agar berada dibelakangnya.
"Aku tau Izzah itu istrimu, tapi kau tidak berhak untuk berlaku kasar padanya. Lagipula Izzah juga tidak suka kau ada disini. Izzah tidak mau pergi denganmu." ucapnya.
"Oh jadi dari tadi kau menguping pembicaraanku dengan istriku?" balas Rayhan seraya memegang kerah baju Yusuf.
__ADS_1
"Wah bisa runyam masalahnya kalau begini bu." ucap mang Diman yang menyaksikan kejadian itu.
"Iya pak, sana cepat lerai mereka. Takutnya nanti mereka berantem pak." ucap bi Asih.
Mang Diman lalu datang menengahi Rayhan dan Yusuf.
"Sudah...sudah, jangan ribut disini. Kalau mau berantem sana di ring tinju jangan disini, gak enak diliatin orang-orang. Lebih baik kalian berangkat kerja sekarang." ucap mang Diman.
"Ayo Izzah ikut mas aja, kita kan searah." ajak Yusuf.
"Enak saja, Izzah itu istriku. Jadi dia harus aku yang antar, bukan kau." teriak Rayhan.
"Cukup." teriak Izzah. "Kalian pergi saja, aku bisa pergi sendiri." sambungnya seraya berlalu meninggalkan mereka menaiki sepeda motornya.
Yusuf memandang Izzah lalu berlari menuju kontrakannya mengambil motornya mengejar Izzah.
"Kurang ajar sekali dia. Siapa sebenarnya dia mang?" tanya Rayhan.
"Dia Yusuf, dia sering membantu Izzah selama ini. Hmmm sepertinya dia suka pada Izzah." ucap mang Diman.
Wajah Rayhan berubah penuh amarah. Dia segera menuju mobilnya berusaha mengikuti Izzah.
"Kenapa bapak ngomong gitu sih sama Rayhan, makin runyam masalahnya pak." ucap bi Asih.
"Waduuhh, bapak teh keceplosan bu. Gimana ya? Hmmmm tapi biarin aja dah biar Rayhan semakin giat mendapatkan hati Izzah lagi." ucap mang Diman.
__ADS_1