Aku Wanita Simpanan

Aku Wanita Simpanan
Kekacauan


__ADS_3

Saat jam makan siang, di lapangan ada sekelompok mahasiswa yang tengah melakukan pertandingan bola basket. Dafa terlihat bermain juga.


'Oh ya Tuhan, dia sangat hebat.'


Tim Dafa terlihat lebih menguasai pertandingan. Aku melihat para wanita yang mengidolakan Dafa tampak menggila. Mila hanya melihat ke arah Dafa dengan tatapan mata yang penuh cinta. Semua itu terlihat meyakinkan bahwa dia memang mencintai Dafa. Tiba-tiba seorang pemain dari tim Dafa terluka. Mereka pun kekurangan satu anggota tim.


"Kami butuh seorang pemain." Ucap Dafa.


Tidak ada yang berani menjawabnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tidak ada orang yang mau bermain?


"Aku akan memilih sendiri satu orang jika tidak ada yang mau mengajukan dirinya sendiri." Ucap Dafa.


Saat Dafa mendekat ke arah kami, semua mahasiswa yang menonton dengan cepat berlari menjauh dan aku pun menemukan diriku sendiri berdiri di depan Dafa.


"Ehhmmm aku bisa bermain basket tapi...."


"Tidak ada tapi-tapian..." Ucap Dafa.


Dia langsung menarik ku ke ruangan ganti dan membuat aku mengenakan kostum bola basket.


"Aku belum setuju." Ucapku.


"Kau begitu berisik, ayolah cepat ganti pakaianmu. Aku tidak akan melihatmu." Ucap Dafa.


"Tidak, tunggu." Ucapku.


"Kau yang memaksaku." Ucap Dafa.


"Eh.....!"


Dafa membuka pakaian yang aku gunakan.


'Kenapa dia tidak tahu malu.'


"Hentikan, dasar mesum." Ucapku. "Hentikan sekarang juga." Lanjut ku.


"Aku hampir selesai." Ucap Dafa membuat aku menggunakan sebuah kostum bola basket.


"Kenapa kau begitu tidak tahu malu?" Ucapku dengan suara yang pelan.


Dia mengangkat daguku dan berkata, "aku hanya tidak tahu malu padamu."


"Apa yang kau katakan?" Tanyaku.


Dafa tidak menjawab, dia malah menarik ku keluar. Saat kami keluar, semua orang berbisik dan aku mendengar apa yang mereka katakan.


"Lihat mereka begitu intim."


"Dafa bahkan membantu dia untuk mengganti pakaiannya."


"Jadi rumor yang mengatakan bahwa mereka sudah putus tidak benar."


"Mereka benar-benar pasangan yang serasi, bahkan jauh lebih serasi dibandingkan dengan Mila."


'Apakah mereka tidak punya pekerjaan lain selain bergosip?'


Pertandingan basket pun dimulai. Aku tidak tahu bahwa aku ternyata hebat juga dalam bermain basket. Kami menang dengan mudah. Pada akhir pertandingan, semua orang bertepuk tangan untuk kami.


"Kau hebat." Ucap Dafa.


"Bahkan lebih hebat dibandingkan dirimu." Balas ku.


Aku lalu menunjukkan lidahku dengan arogan kepadanya dan...


"Ah!"


Dia menggigit pipiku dan bahkan menciumku.


'Kenapa dia begitu mesum hari ini?'


Dia melepaskan aku dan berkata, "ini adalah balasan untuk ciuman yang kau curi dariku di pantai waktu itu."


Mila melihat ke arah kami dan kemudian dia berjalan mendekat.


'Oh ya Tuhan, jantungku berdetak begitu kencang. Aku bisa merasakan pipiku memerah seperti tomat.'


Mila tampak canggung, yang membuat aku begitu bahagia melihat dia seperti itu.


"Apakah kalian berdua mempunyai hubungan?" Tanya Mila.


Aku berpikir apa yang akan dikatakan Dafa. Dia melihat ke arah mataku.


'Kenapa dia melihatku?'


"Iya, dia adalah kekasihku." Ucap Dafa.


Untuk beberapa saat, aku melihat wajah Mila tampak marah. Tapi dia kemudian menampilkan senyuman palsu di wajahnya.


"Aku ikut bahagia untuk kalian berdua." Ucapnya.


'Iya, kami mempercayai itu Mila.' ucapku dalam hati.


Mila pun pergi dengan tersenyum. Mungkin inilah waktunya bagiku untuk menyatakan perasaanku kepada Dafa. Aku hendak mengatakan perasaanku kepadanya, tapi tiba-tiba suara ponselku berdering.


'Oh baiklah, aku akan mengatakan kepadanya lain kali.'


Setelah pulang ke rumah, aku merasa begitu aneh karena tidak melihat Bibi, tapi aku hanya melihat Kakak, dan Kakak terlihat panik.

__ADS_1


"Ada apa Kak?" Ucapku.


"Bibi diculik." Jawab Kakak.


"Apa?" Ucapku terkejut.


Kakak tampak begitu panik, Kakak tidak tahu apa yang harus dilakukan.


"Bibi belum pulang sejak tadi. Jadi Kakak merasa begitu khawatir dan Kakak pun menelepon Bibi. Tapi saat ada yang menjawab itu adalah suara seorang pria. Dia berkata bahwa Bibi ada bersama mereka. Kakak tidak tahu apa yang mereka inginkan." Ucap Kakak.


"Tenanglah Kak, sangat jelas bahwa mereka menginginkan uang atau mungkin mungkin Om Surya dan Om Rio yang ingin membuat kita untuk memberikan perusahaan kepada mereka." Ucapku.


"Kakak tidak peduli terhadap perusahaan itu. Kakak hanya mau Bibi menjadi aman." Ucap Kakak.


"Aku tahu aku juga begitu Kak, tapi kita tidak boleh menyerah begitu saja seperti ini. Aku punya rencana." Ucapku.


"Sebuah rencana?" Ucap Kakak.


"Dengarkan aku. Pertama, kita mengundang Om Surya dan Om Rio untuk datang ke rumah untuk menunjukkan kepada mereka bahwa kita mempercayai mereka, dan kita siap memberikan perusahaan untuk kebebasan Bibi. Setelah itu kita akan mengirim mata-mata di dalam perusahaan mereka untuk menemukan bukti tentang insiden yang terjadi kepada orang tua kita. Jika mereka memang terbukti bersalah oleh polisi, maka penculik dari Bibi pasti akan ditemukan." Ujar ku kepada Kakak


"Itu semua terdengar sedikit rumit. Tapi Kakak rasa, kita tidak punya pilihan lain. Kita akan mengundang mereka besok saat makan malam." Balas Kakak.


"Baiklah, sempurna." Balas ku.


Setelah itu, aku lalu kembali ke kamarku. Aku menutup pintu dan membiarkan diriku duduk di lantai kamar.


Itu semua bukan karena aku takut. Aku hanya sangat khawatir tentang keadaan Bibi. Bagaimana jika aku kehilangan Bibi? Tidak, aku tidak bisa menerima hal itu. Bibi sudah seperti Ibu bagiku. Aku akan melakukan apapun untuk menyelamatkan Bibi.


Sebuah notifikasi dari ponselku mengalihkan perhatianku, dan itu adalah pesan dari Dafa.


'Besok setelah jadwal perkuliahan selesai, datanglah ke pohon cemara yang ada di taman'


Pohon cemara itu biasanya merupakan tempat di mana para mahasiswa menyatakan perasaan cinta mereka.


'Apakah Dafa akan menyatakan perasaannya kepadaku?'


Aku rasa malam ini, aku tidak akan bisa tidur.


...****************...


Keesokan harinya aku begitu bersemangat dan juga khawatir di saat yang bersamaan. Bersemangat karena Dafa meminta aku untuk pergi ke pohon cemara dan khawatir tentang makan malam nanti bersama dengan Om Surya dan Om Rio.


Sepanjang kelas pagi berjalan, aku hanya memikirkan tentang Dafa dan kemungkinan pengakuan cintanya padaku. Saat kelas berakhir, aku pun makan siang lebih dulu dan kemudian menunggu beberapa menit untuk membiarkan Dafa menyiapkan dirinya sendiri.


Saat menunggu, aku mengatakan semuanya kepada Marissa.


Dia pun berkata kepadaku, "apakah Dafa akan menyatakan perasaannya kepadamu? Akhirnya..."


"Aku tidak yakin akan hal itu." Ucapku.


"Marissa kau khawatir terlalu berlebihan. Memangnya apa yang bisa menjadi lebih buruk akan hal ini." Ucapku padanya.


Tapi ternyata aku tidak tahu apa yang aku lihat nantinya akan membuat aku begitu terkejut.


Aku berjalan ke arah pohon cemara itu.


'Bagaimana Dafa akan mengakui cintanya kepadaku? Apakah dengan bunga ataukah dengan sebuah ciuman?'


Aku terlalu bahagia tapi apa yang aku lihat malah membuat aku membeku.


Dafa tampak bersama dengan Mila dan wanita itu tengah memeluk dirinya. Aku merasa bahwa Mila melihat aku, dan tiba-tiba dia mencium Dafa.


'Dafa dasar sialan kau. Dasar pria brengsek... Kau membuat aku datang kemari untuk melihat kalian berdua tengah bermesraan.'


Saat Mila melepaskan Dafa, aku berjalan mendekat ke arah mereka tepat saat aku mengangkat tanganku dan menampar Dafa, dia pun menyadari keberadaan ku.


"She.... Sheila... Apa ini? Tunggu, ini bukan seperti yang kau..."


Aku menyela ucapan Dafa.


"Dafa kau pria brengsek. Kau membuat aku datang kemari untuk melihat kau yang sedang bermesraan dengan kekasihmu ini. Aku begitu bodoh." Ucapku.


Aku tidak membiarkan Dafa mengatakan satu patah kata pun. Aku tidak mau mendengarkan suaranya lagi. Aku kembali ke kelas, Dafa tidak mengikuti aku. Sekarang dia tidak mempunyai muka untuk melihat aku lagi.


Tiba-tiba Mila datang mendekat ke arahku.


'Apa yang dia inginkan sekarang?'


Aku minta maaf Sheila, tapi seperti yang kau lihat, kami saling mencintai satu sama lain. Aku harap kau bisa mengerti." Ucap Mila padaku.


'Dasar wanita bermuka dua. Biarkan aku mengajarimu suatu pelajaran.'


"Tentu saja aku mengerti. Tapi kekasih Dafa itu harus bisa cukup memasuki kualifikasi untuknya. Dafa mengatakan kepadaku bahwa dia menyukai seorang gadis yang pintar dan juga kuat. Yang paling pintar dan paling kuat di kampus ini adalah diriku jadi...."


Mila menyela ucapan ku.


"Apakah kau mengatakan bahwa aku ini lebih bodoh dan lebih lemah dibandingkan dirimu? Baiklah, aku menantang mu." Ucap Mila dengan suara yang begitu keras bahkan seisi kelas bisa mendengarkan suaranya.


'Itulah yang aku inginkan Mila, kau jatuh dalam, jebakan ku.'


"Dalam kompetisi karya ilmiah, aku akan mendapatkan nilai lebih tinggi darimu. Jadi kau harus mengakui bahwa aku lebih pintar darimu di depan semua orang di kampus ini." Lanjut Mila.


"Bagaimana dengan adu kekuatan?" Ucapku.


"Tidak perlu melakukan hal itu. Ngomong-ngomong jika kau menang apa yang kau ingin aku lakukan, ucapnya dengan suara yang pelan.


"Kau tidak mau bertaruh kekuatan denganku karena kau begitu lemah." Ucapku.

__ADS_1


"Tidak mungkin." Balasnya.


Tentu saja aku tidak akan menerima tantangan darinya jika aku tidak mendapatkan apapun. Intinya adalah dia yang sudah menantang aku di depan seluruh teman-teman. Semua hal ini akan menyebar di seluruh kampus. Jadi jika dia kalah, dia otomatis akan kehilangan wajahnya tanpa aku perlu memaksanya.


Aku tidak melakukan hal ini untuk Dafa. Aku melakukan hal ini karena dia itu wanita yang bermuka dua dan dia perlu diberi pelajaran.


Tapi sekarang yang paling penting adalah makan malam bersama dengan om Surya dan Om Rio.


...****************...


Aku dan Kakak tengah menunggu om Surya dan Om Rio datang. Kakak tampak begitu khawatir. Bagaimana tidak, ini adalah situasi yang sulit bagi kami. Aku juga sedikit gugup dengan hal ini.


Suara bel rumah berbunyi dan itu pasti mereka. Aku pergi untuk membuka pintu dan mendapati bahwa Om Surya dan Om Rio tengah berdiri dengan membawa bunga.


"Masuklah." Ucapku menyapa mereka.


Mereka lalu masuk ke ruang tamu.


"Kami sangat sedih mendengar tentang berita Bibi mu. Kami sudah melakukan semua hal untuk bisa menemukan dia. Kami berjanji kepadamu." Ucap Om Surya.


"Terima kasih Om. Para penculik itu masih belum mengatakan apa yang mereka inginkan. Aku rasa mereka menginginkan uang balas ku." Ucapku.


"Tidak peduli seberapa banyak uang yang mereka inginkan, aku bersedia untuk memberikan bahkan perusahaan itu untuk membebaskan Bibi."


"Aku hanya ingin dia selamat, dia pasti tengah ketakutan." Ucapku.


Bibi memang sudah seperti Ibu bagiku dan juga kakak.


Aku bisa melihat bahwa Om Surya dan Om Rio tampak tersenyum. Sekarang Aku yakin bahwa merekalah yang membunuh orang tuaku dan menculik kakakku.


Aku tiba-tiba merasa kecewa, membenci dan juga sedih. Kecewa dengan apa yang mereka lakukan. Sedih karena dikhianati oleh dua orang yang aku percayai.


"Aku dan Kakak akan pergi memasak sesuatu. Anggap saja sebagai rumah sendiri." Ucapku kepada Om surya dan Om Rio.


Saat kami pergi ke dapur, aku mengeluarkan ponselku dan sudah menaruh beberapa kamera di ruang tamu untuk melihat apa yang akan mereka akan lakukan dan katakan. Apa itu adalah ide dari Kakak.


"Secepatnya perusahaan mereka akan menjadi milik kita."


"Iya, mereka bahkan tidak mencurigai kita."


"Bagaimana mungkin mereka mencurigai kita? Mereka bahkan tidak tahu bahwa kita sudah membunuh Mona dan suaminya. Sayang sekali bahwa kedua putri mereka itu selamat dari kecelakaan itu.


'Jadi mereka juga ingin membunuh aku dan Kakak?'


Rahang ku terasa mengeras. Aku bahkan menggenggam gelas dengan begitu erat sampai hampir membuatnya pecah.


Mereka mengakui bahwa mereka membunuh orang tuaku dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Selama bertahun-tahun ini, mereka sudah membohongi kami.


"Bagaimana jika kita menunjukkan video ini kepada polisi? Kita bahkan tidak perlu mengirim mata-mata ke perusahaan mereka." Ucapku.


Kami bahkan tidak menyangka bahwa mereka akan mengakui tindakan kriminal mereka seperti ini. Ini semua benar-benar keuntungan bagi kami.


"Polisi tentu akan menginvestigasi tentang mereka tapi..."


"Tapi apa?" Tanyaku kepada Kakak.


"Jika kita menunjukkan video ini kepada polisi, mereka mungkin akan melawan kita menggunakan Bibi dan mereka mungkin akan menyembunyikan kebenarannya untuk beberapa tahun lamanya. Mereka pasti sudah menyiapkan hal ini juga." Ucap Kakak.


"Iya, Kakak benar. Tapi tujuan mereka adalah perusahaan. Tunggu dulu... perusahaan!" Ucapku.


"Apa kau punya sebuah rencana Sheila?" Tanya Kakak.


"Iya tapi aku akan memberitahu Kakak nanti setelah mereka pergi." Ucapku.


Kami lalu makan malam bersama Om Surya dan Om Rio. Mereka terus melanjutkan ucapan mereka bahwa mereka akan membantu kami. Mereka terus mengatakan hal itu banyak kali dan itu terlihat aneh bagiku.


'Bagaimana mungkin aku tidak menyadari apapun sebelumnya?'


Setelah mereka pergi, aku mengatakan rencana ku kepada Kakak.


"Tujuan mereka adalah untuk memiliki perusahaan itu bukan? Bagaimana jika kita menciptakan sebuah perusahaan rahasia untuk menyerang mereka. Jika mereka lemah, kita bisa mengambil alih perusahaan mereka dan menemukan semua buktinya. Tapi itu akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk membuat sebuah perusahaan rahasia." Ucapku merasa hampir putus ala.


Mata Kakak tampak berbinar.


Kakak pun berkata, "kita tidak perlu menciptakan sebuah perusahaan rahasia, karena kita sudah mempunyai nya. Bagaimana mungkin Kakak tidak bisa memikirkan hal itu. Sheila, kau sangat jenius." Ucap Kakak.


"Sebuah perusahaan rahasia?" Ucapku bingung.


"Iya, Mama juga mempunyai sebuah perusahaan. Itu lebih tepatnya adalah sebuah organisasi. Aku rasa bahwa kau sudah mendengar tentang nama dari organisasi itu, itu adalah organisasi HYM."


'Di mana aku tinggal selama ini? Apakah di Mars?'


"Iya, Kakak tidak memberitahukan kepadamu dan juga Bibi, karena aku tidak mau memberikan tekanan bagi kalian berdua terutama kau. Kita berdua harus menjaga kedua perusahaan lainnya, tapi sekarang Kakak tidak bisa menyembunyikannya lagi.


"Jangan khawatir Kak, maka semuanya sudah diputuskan. Kita akan menggunakan HYM untuk menyerang perusahaan Om Surya dan Om Rio." Ucapku pada Kakak dan Kakak menganggukkan kepalanya.


"Aku rasa bahwa aku akan berjalan-jalan keluar sekarang." Ucapku pada Kakak.


"Apa kau yakin? Tapi, baiklah. Ingatlah untuk cepat kembali dan berhati-hatilah." Ucap Kakak.


Aku lalu berjalan keluar rumah.


Ada banyak hal yang terjadi di waktu yang singkat ini. Aku perlu untuk memproses semuanya.


Aku tengah berjalan di sekitar pantai yang berada dekat dengan rumahku. Aku merasa bahwa seseorang ada di belakangku. Aku berbalik dan aku melihat seseorang itu ternyata adalah Dafa.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2