
Hari ini giliran Arsha yang mengajak Nabila untuk bertemu dengan sahabatnya, Vita.
Sore ini, Arsha dan Nabila sedang berada di toko roti Vita yang sudah tutup. Ketihanya berada di ruangan yang memang khusus Vita siapkan untuk kumpul-kumpul di toko ini.
"Balik juga ya temen kamu," ucap Nabila, setelah Vita meletakkan berbagai macam kue dihadapan mereka.
Vita tersenyum ramah ke arah Nabila.
"Vit, kenalin calon ipar nih, Nabila." ucap Arsha.
Vita yang tengah minum air langsung menyebur ke arah Arsha. Untungnya Arsha bisa menghindar hingga ia tidak kecipratan air semburan dari Vita.
"What? Serius kamu?" tanya Vita tak percaya.
"Seriuslah, masa bercanda. Lagian gak usah gitu banget dong kagetnya, main sembur-sembur aja. Udah kayak Mbah Dukun." jawab Arsha.
Nabila hanya cekikikan.
"Gak percaya aja Arka bisa jatuh cinta dan mau nikah. Secara dia kan pemilih banget, kamu pakai pelet ya?" ucap Vita ke arah Nabila.
"Hush sembarangan." jawab Nabila.
"Hehehe iya-iya maaf. Aku Vita, sahabatnya Arsha sejak masih orok."
"Aku Nabila, sahabat Arsha sejak beberapa hari yang lalu." balas Nabila yang diiringi tawa Arsha.
"Wah, kayaknya Nabila bisa masuk geng kita nih." ucap Vita.
Ketiganya mengobrol asyik, mulai dari tentang pekerjaan, masalah hubungan, hingga membicarakan perjodohan antara Nabila dan Arka. Tak ketinggalan juga tentang Devan.
"Makan yuk, ke caffe biasa," ucap Arsha.
"Kekinian Caffe? Cie ... yang ketemu Devan di sana," goda Vita.
"Siapa tahu ketemu lagi ntar!" Arsha tertawa sambil bersiap-siap. "Jalan kaki aja, itung-itung olahraga sore."
**********************
Sendawa terdengar saat Vita menghabiskan mangkuk kedua. Hari ini, Vita yang mentraktir mereka. Mereka pun keluar caffe setelah selesai, saat baru beberapa kali melangkah tiba-tiba pandangan Arsha tertuju pada wanita berjilbab di seberang jalan.
"Kayaknya itu Mbak Leti deh. Kakaknya Devan."
Nabila dan Vita mengikuti arah pandangan Arsha.
Terlihat Leti masuk ke minimarket di depan sana, sejurus kemudian terlihat dua orang keluar dari mobil yang terparkir di depan minimarket tersebut.
Cepat-cepat Arsha berlari ke belakang sebuah mobil yang terparkir untuk bersembunyi. Nabila dan Vita juga ikut bersembunyi, lalu mereka semua mendadak bingung.
__ADS_1
"Ngapain sembunyi? Kita, kan, nggak ngapa-ngapain," ucap Nabila.
"Oh iya, ya." Vita menimpali.
"Itu mobil Devan," ucap Arsha.
"Terus kenapa?" sahut Nabila.
"Eh, dia turun," ucap Vita. "Eh, sama cewek."
"Eh, sexy, cantik, nggak tepos kayak kamu, Mir." ucap Vita.
"Waaah gandengan lagi. Sha, siapin kipas. Ada yang panas kayaknya." Kali ini Nabila yang mengucap.
"Nggak ada Bil. Adanya angin alami dari mulut. Bruhh bruhh bruhh." balas Vita meniup Arsha.
Nabila dan Vita sudah sangat dekat, seperti sudah bersahabat sejak lama.
"Bau daging sapi, Vita" Arsha menyumpal mulutnya dengan tisu bekas.
"Ih, Arsha. Tisunya ketelen."
"Vitamin T itu," balas Arsha asal.
Mata Arsha semakin melotot saat melihat mereka saling bercanda di seberang sana. "Tuh, kan apa aku bilang, sekali buaya nggak mungkin berubah jadi kucing! Dahlah males, aku bakal bilang ke Ayah Ibu kalau batal lamaran!" Arsha pergi dari tempat persembunyian dan langsung berjalan dengan kesal.
Arsha terus berjalan sambil mengomel. "Buaya darat kalau dijual laku berapa, ya? Mau aku jual rasanya si Devan!"
"Cakep, sih cakep. Tapi kalau cuma nyakitin, nyamuk juga bisa! Heran bisa-bisanya dia bak malaikat di depan, tapi joker di belakang. Minta dirukiyah kayaknya dia! Bener nggak?" ucap Arsha bertanya pada Nabila dan Vita..
"Pasang coba nanti di jbo, dijual terpisah tidak termasuk kepala!"
Kenapa mereka nggak nyahut? Biasanya paling heboh kalau gibahin orang.
Arsha yang penasaran langsung berbalik. "Kalian kenapa diem a ... ja."
Mati aku!
Kenapa dua temanku berubah jadi Devan?
Arsha melongok ke belakang tubuh tingginya, tetapi Vita dan Nabila tidak ada.
Gimana ini? Apa tadi dia denger semua ucapanku?
"Vit? Bil? Kalian di mana?"
Arsha pura-pura tidak melihat Devan dan langsung melewatinya, tapi tiba-tiba ia menarik ujung jilbab Arsha. Untung saja Arsha langsung memegang bagian atas kepala, kalau sampai terlambat alamat jadi Marsha and the bear.
__ADS_1
"Mereka sudah pulang," ucap Devan setelah melepas tarikannya.
"Oh." Arsha mencoba bersikap tenang, lalu memilih berjalan mendahuluinya. "A-ku juga mau pulang."
Arsha merasa sepertinya Devan mengikutinya, terlihat dari beberapa orang yang lewat terutama wanita yang melihat ke arah belakangnya. Arsha pun semakin mempercepat langkahnya.
"Dulu aku juga pernah berjalan di belakangmu seperti ini." Ucapan Devan membuat Arsha memelankan langkahnya.
Kapan itu? Pertanyaan yang hanya bisa terucap dalam hati.
"Saat itu kamu sedang lembur menyelesaikan laporan baksos agar dana segera cair. Berdiri lama di depan gedung sendirian, seperti sedang menelepon seseorang tapi nggak diangkat. Aku terus memperhatikanmu sampai akhirnya kamu berjalan keluar gedung."
"Tadinya mau menawarkan boncengan, tapi aku yakin kamu pasti menolak. Karena kamu itu terkenal anti berboncengan dengan laki-laki. Jangankan boncengan, berdekatan dengan laki-laki pun bisa dihitung pakai jari." Devan terus saja berbicara.
Arsha terus berjalan sambil mencoba mengingat kapan itu terjadi.
Ah, ya ... itu sewaktu aku menginap di kosnya Vita.
Saat itu Vita pulang duluan ke kos karena sakit perut dan mau menjemput Arsha nantinya, nyatanya ia ketiduran.
Arsha akhirnya harus pulang sendiri ke kos Vita dengan berjalan kaki, kebetulan memang tidak jauh jaraknya. Hanya saja saat itu jalanan gelap dan sepi. Saat itu, Arsha memang merasa sedang diikuti, mau berhenti takut kenapa-kenapa. Akhirnya ia mempercepat langkah sampai akhirnya sampai di kos. Arsha sempat mengintip setelah menutup gerbang, tampak seorang pria berbalik dan berjalan menjauh.
Jadi ... itu Devan?
"Bedanya, dulu aku belum ada rasa spesial padamu, tapi sekarang aku memiliki rasa itu, bahkan lebih."
Arsha masih diam saja.
"Perempuan tadi sepupuku, dia memang seperti itu kalau denganku. Manjanya keluar. Kalau kamu nggak suka, aku akan menjaga jarak atau paling tidak membatasi diri dengannya."
"Bukan urusanku," jawab Arsha akhirnya.
"Mungkin saat ini memang bukan urusanmu, tapi kelak urusanku adalah urusanmu begitu pula sebaliknya. Aku memang belum mengenal dirimu secara langsung, Sha. Tapi bisakah kamu sedikit membuka hati untukku?"
Arsha semakin mempercepat langkahnyq karena hampir tiba di toko kue Vita. Namun, langkahnya mendadak berhenti saat Devan tiba-tiba mendahului dan berdiri tepat di depannya.
"Cukup buka sedikit saja, dan biarkan aku menerobosnya dengan caraku," ucapnya pelan, tapi membuat jantung Arsha bergetar hebat.
Buaya emang paling jago kalau masalah merayu.
Keduanya berpandangan dengan lekat.
"Kheeemmmm.... Langsung halalin aja Van." ucap Vita yang tiba-tiba ada dibelakang Arsha.
Iiihhh ganggu aja, batin Arsha.
Bersambung...........
__ADS_1