
Acara pesta semalam di menangkan oleh pasangan Amira dan Ariel. Keduanya menjadi pasangan terbaik dalam pesta itu. Mengenai kabar tentang pertunangan mereka pun sudah diketahui oleh semua orang yang ada di kampus, kecuali Sheila.
Sheila memang tidak terlalu mengenal banyak orang di kampus termasuk pasangan yang tengah viral, Amira dan juga Ariel. Bahkan Sheila tidak tahu jika Amira adalah adik dari Dafa, pria yang belakangan ini dekat dengannya.
Keesokan harinya hasil dari tes TOEFL diumumkan dan ada tiga orang dengan predikat tertinggi.
Yang pertama adalah atas nama Sheila dengan poin maksimal 1000 poin. Yang kedua Lola dengan poin 700 dan yang ketiga Daffa Wijaya dengan poin 688.
"Tidak ada seorang pun yang ada di dalam kampus ini dalam sejarah bisa mencapai poin setinggi itu." Ucap seorang mahasiswa.
"Dia adalah monster. Ada 300 poin jarak antara dirinya dengan peserta yang nomor 2." Balas mahasiswa lainnya.
Para mahasiswa lainnya pun mulai membicarakan tentang Sheila yang bisa mengalahkan record yang pernah ada sebelumnya tentang hasil tes TOEFL di kampus mereka.
...****************...
Note Author:
Kali ini, author akan melanjutkan kisah tentang Dafa yang sebelumnya sempat hiatus sangat lama. Tentang Amira adik Dafa, kisah percintaannya cukup sampai bertunangan dengan Ariel. Dan kali ini, author akan berfokus pada kisah cinta antara Dafa dan juga Sheila.
So, buat yang masih stay disini baca terus kelanjutannya ya..
...****************...
PoV Sheila
Aku menang dan sudah seperti yang aku duga. Pandanganku beralih melihat ke arah Dafa yang tengah berjalan mendekat padaku dan aku menyeringai ke arahnya.
"Kau menang, dan seperti kesepakatan kita sebelumnya. Sebagai orang yang kalah taruhan, apa yang kau ingin untuk aku lakukan?" Ucap Dafa kepadaku.
Aku mendekat ke arahnya dan menarik dasi yang dia gunakan mendekat ke arahku. Wajah kami tampak sangat dekat. Aku tersenyum kepadanya dan mengatakan sesuatu padanya dengan berbisik.
"Cium aku...." Bisik ku di telinganya.
"A... Apa?" Ucap Dafa dengan suara yang terdengar begitu gugup.
"Cium aku." Ucapku lagi mengulangi apa yang aku katakan sebelumnya.
"Tapi kenapa?" Tanya Dafa.
"Diam lah dan cium aku." Ucapku lagi.
Aku semakin mendekat ke arahnya dan bibir kami hampir bersentuhan. Tapi aku berhenti dan langsung melepaskan dirinya.
"Eh?"
Dafa tampak terkejut. Sebenarnya, apa yang aku ingin lakukan adalah, aku mencoba melihat apakah Dafa menyukai aku atau tidak. Ini semua adalah ide yang diberikan Marissa kepadaku. Dan sesuai dengan apa yang terjadi, Dafa tidak menolak aku. Jadi, itu artinya adalah Dafa menyukai aku.
"Apa kau menyukai aku?" Ucapku bertanya kepada Dafa.
"A... Apa? Tentu saja tidak. Siapa yang menyukaimu? Kau itu sangat kasar dan juga seorang gadis tomboi." Balas Dafa.
"Lalu kenapa wajahmu merona saat dekat denganku dan kenapa kau tidak menolak untuk menciumku?" Tanyaku kepadanya.
"Karena.... Karena.... Ya karena sekarang cuacanya sangat panas dan kau juga mengejutkan aku." Balas Dafa dengan suara yang terbata-bata.
"Oh..." Ucapku.
'Apakah itu memang alasan yang sebenarnya? Apakah dia berbohong kepadaku atau tidak?' pikirku dalam hati.
"Ayo kita kembali ke inti pembicaraan kita. Apa yang kau ingin untuk aku lakukan?" Tanya Dafa lagi.
Kali ini wajahnya tampak mencoba untuk terlihat serius. Dia terus menatap ke arahku, menunggu apa jawaban yang akan aku berikan padanya.
'Apa yang ingin aku untuk kau lakukan?' Tanyaku dalam hati.
'Hihihi.'
"Aku ingin kau menggunakan sebuah kostum kucing. Aku selalu menginginkan seekor kucing sejak lama. Tapi kakakku alergi kucing." Ucapku.
"Apa-apaan kau ini? Apakah kau itu gadis yang mesum? Ngomong-ngomong karena aku memang pihak yang kalah dan aku ini adalah pria yang jujur. Jadi aku akan melakukan apa yang kau inginkan." Ucap Dafa.
"Sempurna. Kalau begitu, datanglah ke rumahku hari ini jam 05.00 sore." Ucapku dengan penuh rasa bahagia.
Dafa pun setuju, kemudian pergi meninggalkan aku. Aku terus membayangkan bagaimana dia nantinya saat menggunakan kostum kucing. Aku pasti akan mengambil banyak foto dirinya.
'Ya Tuhan.... Dia pasti akan terlihat sangat menggemaskan. Hihihi....'
...****************...
Seperti yang sudah ditentukan sebelumnya. Dafa akhirnya datang ke rumahku tepat pukul 05.00 sore. Aku berpikir, dia ternyata orang yang cukup tepat waktu mengingat dirinya yang pasti sibuk dengan pekerjaan di kantor orang tuanya di sela-sela kesibukannya berkuliah.
Aku mendengar banyak hal tentang dirinya dari Marissa kemarin, termasuk dengan ternyata dia punya seorang adik perempuan yang usianya hampir seumuran denganku.
"Akhirnya kau datang juga." Ucapku.
Iya." Balas Dafa.
Wajahnya tampak seperti anak kecil yang sedang di-bully orang lain. Aku sangat senang melihat ekspresinya yang seperti itu. Selama ini, sejak awal aku mulai pindah ke kampus itu, dia terlihat seperti pria yang arogan. Tapi sekarang aku bisa melihat dengan jelas bahwa dia seorang pria yang cukup baik dan juga menggemaskan.
Aku jadi penasaran dengan bagaimana dia bersikap di depan keluarganya.
"Yeiii.... Akhirnya sekarang kau adalah properti milikku. Ayo kita pergi ke kamarku." Ucapku.
Dafa terlihat sedikit ragu untuk mengikuti aku berjalan naik ke lantai atas. Namun aku memegang tangannya lalu menuntunnya pergi ke kamarku.
Tiba di kamarku, dia tampak diam mematung melihat ke setiap sudut kamarku. Aku memang bukan tipe wanita yang feminim yang memiliki kamar berwarna pink atau warna-warna cerah ceria. Kamar ku malah bernuansa hitam dan putih. Dan sepertinya Dafa tampak fokus melihat ke arah sebuah lukisan siluet seorang pria yang berwarna hitam putih yang menggantung di tembok kamarku.
Aku beralih menuju lemari dan mengambil sebuah paper bag. Setelah itu aku mengeluarkan isi dari paper bag itu dan langsung memberikan dia kostum kucing yang merupakan isi dari paper bag itu.
"Pergi ke ruang ganti sekarang dan kenakan kostum ini." Ucpku kepada Dafa seraya menunjuk ke arah ruangan tempat berganti pakaian.
__ADS_1
"Apakah aku benar-benar harus menggunakan ini?" Tanya Dafa dengan ragu.
Wajah Dafa jelas terlihat sepertinya dia enggan menggunakan kostum itu. Tapi seperti yang sudah kami sepakati, dia harus mengikuti apa yang diperintahkan oleh pihak yang memenangkan taruhan.
"Iya, kau harus menggunakannya. Bukankah kau sendiri yang sudah setuju." Balasku dengan menaikkan alisku menatapnya.
Dafa terdengar menghela nafasnya dengan panjang. Aku lalu mendorong Dafa ke arah ruangan ganti pakaian dan menunggu dirinya di luar.
Beberapa saat kemudian, dia pun keluar dari ruang ganti setelah menggunakan kostum itu.
"Apakah kau sudah puas sekarang.?" Tanya Dafa padaku dengan wajah yang terlihat memerah.
'Wow.... Dia terlihat sangat menggemaskan. Aawww...'
Aku benar-benar ingin mencubitnya. Aku lalu berjalan mendekat ke arahnya dan mulai menyentuh telinga kucing yang dia gunakan. Rasanya sangat lembut dan membuat aku merasa seperti tengah berada di surga dengan semua kelembutan ini.
"Hei... kenapa kau menyentuhku?" Ucap Dafa kepadaku.
"Karena kau terlihat begitu menggemaskan. Biarkan aku mencium mu, ku mohon." Ucapku.
"Eh!" Ucap Dafa dengan wajah yang tampak terkejut setelah mendengarkan ucapan ku.
Aku lalu mencium kepala Dafa. Rambutnya begitu lembut.
"Jangan.... jangan cium aku atau aku akan menggigit mu sebagai balasannya." Ucap Dafa.
"Aaawww.... Kau mau menggigit aku seperti kucing sungguhan ya... Sungguh menggemaskan sekali." Ucapku.
"Hentikan. Aku tidak menggemaskan sama sekali." Ucap Dafa dengan memperlihatkan wajahnya yang mencoba terlihat garang.
Aku lalu mencium pipi Dafa dengan cepat dan kemudian mengusap ekor yang dia gunakan. Aku melihat pipi Dafa tampak semakin memerah seperti tomat. Dia bahkan terlihat jauh lebih menggemaskan saat wajahnya merona seperti ini. Jika saja memungkinkan untuk mati karena melihat bagaimana gemasnya dia, aku pasti akan menjadi orang pertama yang akan mati karena hal itu, aku begitu yakin.
"Aku akan menunjukkan kepadamu, siapa sebenarnya yang menggemaskan." Ucap Dafa lalu memaksa aku untuk berbaring di atas tempat tidur dan dia mendekat ke arahku.
"Hei kucing kecil. Apa kau ingin bermain denganku." Ucapku.
Dafa mendekat ke arah leherku dan mulai menjilat leherku persis seperti yang dilakukan oleh kucing sungguhan.
"Aaawww... Kau mau menjilat ku untuk menunjukkan bahwa kau sayang padaku sama seperti yang dilakukan seekor kucing sungguhan ya." Ucapku semakin menggoda Dafa.
"A.... Apakah kau tidak takut jika aku bisa saja melakukan sesuatu kepadamu?" Ucap Dafa padaku.
"Apa yang bisa dilakukan oleh kucing kecil seperti dirimu?" Ucapku lagi.
"Baiklah, akan aku tunjukkan kepadamu." Balas Dafa.
Dia lalu memegang tanganku dengan satu tangannya dan dengan tangan lainnya dia mulai membuka pakaianku. Dia benar-benar kucing yang agresif dan aku sangat menyukainya.
"Kau sangat menggemaskan." Ucapku lagi.
"Apa? Aku sedang membuka pakaianmu dan kau masih bisa mengatakan bahwa aku ini menggemaskan?" Ucapnya dengan wajah yang tampak heran dengan apa yang aku ucapkan padanya.
"Aawwww....!!!" Ucapku semakin gemas padanya.
"Dasar kau pria mesum." Ucapku seraya mendorong dia menjauh dan menutup tubuhku dengan selimut.
Kali ini aku bisa merasakan bahwa aku lah yang merona. Wajahku terasa begitu memanas. Dia pun tampak meregangkan otot lehernya.
"Kau baru menyadarinya sekarang ya? Lihat aku tidak menggemaskan sama sekali bukan?" Ucap Dafa.
Aku melihat wajah Dafa yang ternyata juga masih tampak merona.
'Aawww... dia sungguh menggemaskan sekali.'
Aku lantas menggelengkan kepalaku.
'Tidak Sheila. Dia adalah seorang pria yang mesum. Kau jangan sampai dibodohi oleh tampang polosnya itu.' ucapku berusaha meyakinkan diriku sendiri.
Kami berdua begitu terkejut karena kedatangan pelayan yang masuk ke dalam kamarku.
'Oh tidak! Bibi pasti akan salah paham tentang hal ini.'
"Maaf, kalian berdua silakan lanjutkan saja. Ingat, Bibi menginginkan sepasang cucu kembar." Ucap pelayan ku itu dengan tertawa lalu pergi dengan cepat.
'Bagus! Sekarang Bibi benar-benar sudah salah paham kepada kami berdua.'
Aku lantas melihat ke arah Dafa. Dia pun lalu mengatakan bahwa dia akan pulang ke rumahnya. Wajahnya masih tampak merona lagi dan itu sangat menggemaskan bagiku. Aku benar-benar ingin menciumnya lagi. Aku menarik lengannya dan mencium keningnya.
"Eh!! Aku pergi dulu." Ucap Dafa.
Dia pun berlari dengan wajah yang tampak panik.
Hahaha...
Aku tidak pernah merasa sebahagia ini untuk waktu yang sangat lama. Sayang sekali karena aku lupa untuk mengambil gambar dirinya yang menggunakan kostum kucing itu tadi.
...****************...
Keesokan harinya aku pergi ke kampus bersama dengan Marissa. Dia benar-benar terus menggoda aku tentang hubunganku dengan Dafa seperti biasanya.
"Aku berpikir, apakah Lola masih punya muka untuk datang ke kampus hari ini." Ucap Marissa.
"Dia tidak akan punya muka untuk melakukannya. Ingat lah bahwa dia sudah menunjukkan wajah aslinya kemarin di pesta itu." Ucapku.
Kami lalu tiba di kampus sedikit lebih pagi dari biasanya. Jadi kami bisa berada di taman kampus untuk beberapa waktu. Kami tengah mengobrol saat Kenzo mendekat ke arah kami.
"Hai Sheila... Terima kasih padamu karena aku jauh lebih berhasil dalam ujian ku. Lihat, aku membuat cupcake ini sebagai ucapan terima kasih untuk mu." Ucap Kenzo padaku.
Saat Dafa tidak datang ke kampus, aku memang mulai mengajari Kenzo. Dan akhirnya dia bisa jauh lebih baik sehingga dia berhasil menaikkan nilainya.
'Aku benar-benar seorang tutor yang hebat.'
__ADS_1
"Kau tidak perlu melakukan hal ini. Tapi terima kasih ya." Ucapku.
Aku hendak mengambil box cupcake itu tapi...
"Eh ..!!"
Dafa datang entah dari mana dan langsung mengambil box cupcake itu.
'Apa sebenarnya yang dia lakukan?' pikirku.
"Kenapa kau mengambil box cupcake itu?" Tanyaku bingung.
"Hmmmm.... Ini milikku sekarang." Balas Dafa.
Kenzo terlihat malu, jadi dia pun pergi menjauh untuk meninggalkan kami.
"Berikan itu padaku lagi Dafa." Ucapku kesal.
"Tidak akan pernah terjadi. Jadi kau diam lah." Balas Dafa.
Dafa lalu pergi dengan membawa cupcake itu menjauh dariku.
'Cupcake ku.... Aku sangat ingin memakannya.'
Cupcake itu terlihat sangat lezat. Marissa lantas melihat ke arahku dan berkata,
"Sekarang kau tahu bagaimana perasaan Dafa yang sebenarnya bukan?"
"Setelah apa yang baru saja terjadi, tentu saja aku tahu bagaimana perasaannya." Balas dengan perasaan masih kesal, karena dia membawa cupcake lezat yang sebenarnya adalah milikku itu.
"Setidaknya kau tidak begitu bodoh dalam urusan cinta." Ucap Marissa menepuk pundak ku.
"Bagaimana mungkin aku tidak tahu tentang cinta. Terlihat sangat jelas bahwa tingkahnya itu menunjukkan jika dia mencintai Kenzo. Dia cemburu padaku karena Kenzo lebih perhatian padaku dibandingkan dengannya." Ucapku pada Marissa.
"Ya Tuhan... Apa-apaan kau ini? Dasar bodoh. Aku tarik kembali apa yang baru saja aku ucapkan. Kau adalah orang yang paling bodoh jika mengenai tentang cinta." Ucap Marissa yang terlihat begitu kesal kepadaku.
Dia juga tampak menggelengkan kepalanya.
'Aku bingung, apa sebenarnya yang dia maksud? Bukankah karena Dafa mencintai Kenzo sehingga dia mengambil cupcake itu dariku?' pikirku dalam hati.
Saat aku masuk ke dalam kelas aku mendekat ke arah Dafa dan berkata padanya dengan suara yang begitu pelan.
"Aku tahu siapa yang kau cintai."
"Siapa yang mencintaimu?" Ucap Dafa dengan wajah kesal.
Dia terus mencoba untuk menyembunyikan dirinya sendiri. Dia memang benar-benar tengah jatuh cinta.
"Apa? Bukan aku! Aku tahu bahwa kau mencintai Kenzo. Itulah alasan kenapa kau selalu mencoba memisahkan kami. Bukan begitu?" Ucapku.
"Sialan! Apakah kau tengah bercanda?" Ucap Dafa dengan raut wajahnya yang terlihat sangat kesal.
Aku tahu bahwa dia tidak ingin orang lain mengetahui bahwa dia adalah pria penyuka sesama jenis. Dia pasti takut akan stigma negatif yang diberikan oleh orang lain padanya. Bahkan jika dia musuhku, aku akan mendukung dia dalam hal seperti ini. Bagaimanapun itu adalah perasaannya. Jadi tidak ada siapapun yang bisa menghalangi dirinya.
"Dafa, jangan khawatir. Aku akan menyimpan semua rahasia mu ini. Jadi kau tidak perlu khawatir tentang penilaian orang lain terhadap mu. Aku akan mendukungmu sepenuhnya." Ucapku dengan begitu serius.
"Diam lah! Kau benar-benar membuat aku sakit kepala." Balas Dafa.
Dia mengambil sesuatu dari dalam saku celananya dan memaksakan itu masuk ke dalam mulutku.
"Mmmmhhh.... Apa yang kau berikan kepadaku? Ini sangat pedas.... Hah... Hah... Hah... Air..." Ucapku dengan mengeluarkan lidahku.
"Dengan cara seperti ini kau bisa berhenti bicara omong kosong untuk sementara waktu." Ucap Dafa dengan menyeringai ke arahku.
Aku lalu dengan cepat berlari ke arah mejaku untuk mengambil air minum dari dalam tas ku dan mulai untuk meminum air yang aku bawa dari rumah.
'Sial....'
Rasanya masih sangat pedas di mulutku. Sebenarnya apa yang sudah dia berikan kepadaku itu.
Setelah 15 menit, barulah lidahku terasa normal. Dosen bahkan menanyakan kepadaku apakah aku tengah flu karena wajahku tampak memerah.
'Dafa si bodoh itu....'
Aku sudah bersikap baik kepadanya dan dia memperlakukan aku seperti ini. Dia benar-benar seorang pria yang tidak tahu berterima kasih.
Ngomong-ngomong, aku baru menyadari bahwa Lola tidak datang ke kampus. Semua itu memang lebih baik untuknya. Jika dia datang, dia pasti akan menjadi bahan tertawaan oleh seluruh orang di kampus ini.
Setelah waktu istirahat datang, beberapa pria mendekat ke arahku.
'Eh... Apa yang mereka inginkan dariku? Apa mereka ingin aku mengajari mereka seperti yang aku lakukan pada Kenzo?'
Seorang pria berambut ikal berkata padaku.
"Sheila, bisakah aku mendapatkan nomormu? Aku ingin menjadi teman denganmu."
Pria lain dengan rambut berwarna sangat hitam berkata, "jangan dengarkan dia. Dia hanya ingin menjadi kekasihmu. Aku lah yang sebenarnya ingin menjadi teman baikmu."
Pria berambut ikal berkata kepada pria berambut hitam, "bukankah kau lah orang yang hanya ingin tidur dengannya?" Ucap pria itu.
'Apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang? Di mana aku dan siapa aku ini?' ucapku dalam hati.
Untuk menghindari semua pria yang terus mendekati aku itu, aku pun bergegas pergi ke kamar mandi dan aku tidak akan mau kembali ke kelas sampai dosen nantinya masuk.
'Oh ya Tuhan...'
Sekarang akhirnya aku tahu bagaimana rasanya memiliki banyak penggemar seperti yang dirasakan oleh Dafa.
Dafa yang malang. Dia pasti sudah melalui semua ini setiap hari dan sekarang aku juga akan melaluinya.
'Tuhan... Tolong aku untuk bisa melalui semua ini.'
__ADS_1
Aku mulai memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa terbebas dari hal seperti ini.
Bersambung...