
"Kenapa di sini begitu gelap? Di mana sebenarnya mereka membawa ku?" Ucap Alia saat akhirnya dia bisa tersadar kembali.
Alia merasa sedikit pusing, tapi dia mencoba untuk membuka matanya dan dia pun melihat ruangan yang gelap dengan tidak ada jendela di sisinya. Tapi Alia melihat ada sebuah pintu yang tidak tertutup.
Tangan Alia terikat ke belakang di sebuah kursi, dimana dia tengah duduk. Ali pun mulai mencoba untuk membuka ikatan itu dan dia pun berhasil dengan mudah.
"Huh, siapa yang mengikat tali seperti ini? Dasar penculik bodoh." Ucap Alia dan membuang tali itu ke lantai.
'Mereka pasti tengah berjaga diluar sana. Berpikirlah, ayo berpikir tentang sesuatu Alia."' ucap Alia dalam hati dan melihat ke arah seluruh sudut ruangan itu.
Alia lalu melihat ada sebilah tongkat bambu. Dia pun lalu mengambil tongkat itu dan berjalan kearah belakang pintu.
"Aahhh...!!" Teriak Alia dengan keras saat seorang pria yang berjaga di pintu masuk kedalam dan kemudian Alia memukulinya dengan tongkat bambu itu dan berlari keluar dengan penuh kecepatan.
Alia berhasil berlari sampai ke pintu utama dari bangunan itu. Tapi seseorang kemudian memegang leher Alia dari belakang dan kemudian mendorong Alia terjatuh ke lantai.
"Heh, kau mencoba untuk kabur ya? Ha ha ha, tidak semudah itu sayang." Ucap salah seorang dari penculik itu kepada Alia dengan suaranya yang terdengar menyeramkan dan dia juga tampak tersenyum.
(Pria penculik itu tidak punya nama, jadi ayo kita mulai saja menyebutnya dengan tanpa nama) 😂
'Oh ya Tuhan! Kenapa ini terjadi kepadaku? Aku tidak tengah berkelahi dengan siapapun. Lalu kenapa semua ini terjadi. Hmmm.... biar aku tebak. Aku rasa dialah yang merencanakan semua ini. Kenapa tidak? Dia bahkan bisa membunuh adik kandungnya sendiri. Lalu siapa lah aku ini. Tentu saja tidak berarti apa-apa baginya.' ucap Alia dalam hati dan menghela napas.
Sementara itu pria tanpa nama itu membawa Alia kembali ke dalam ruangan itu dan kembali mengikatnya dengan tali kembali.
"Hei kau pria botak dan perbaiki ikatan mu dengan baik. Penculik jenis apakah kau ini. Kau sangat bodoh." Ucap Alia dengan tatapan yang tajam kepadanya.
Pria tanpa nama itu tertawa dan kemudian mengeratkan ikatan tangan Alia.
"Oh ngomong-ngomong aku lapar. Bisakah kau memesan makanan untukku. Aku ingin, ingin makan pizza. Dan sepertinya akan enak dan jangan lupa pesankan minuman bersoda untukku itu akan menjadi perpaduan yang sempurna." Ucap Alia dengan santai dan senyuman yang menghiasi wajahnya.
Sementara itu, pria tanpa nama itu tidak dapat mengatakan apapun.
Pria tanpa nama itu keluar dan kemudian menelepon Nadia.
"Aku tidak menculiknya dan untuk mengasuhnya." Ucap pria itu ditelepon setelah Nadia menjawab panggilan darinya.
"Apa yang kau maksudkan? Kau hanya menculik Alia bukan, bukan anak kecil?" Tanya Nadia dengan kebingungan.
"Ini adalah orang yang sama dengan kai perintahkan untuk diculik dan datanglah dengan cepat dengan membawa uang itu." Ucap pria tanpa nama itu dan lalu mematikan sambungan telepon.
"Hai penculik bertubuh kekar. Apakah kau sudah memesan pizza ku atau tidak? Aku sangat lapar." Teriak Alia dari dalam ruangan itu.
"Anak nakal ini... Eeehh maksudku wanita ini." Ucap pria tanpa nama itu dan kemudian memesan memesan pizza untuk Alia.
(Ada apa sebenarnya ini?) 😂
"Baiklah, sekarang tutup mulutmu itu dan diam saja." Ucap pria tanpa nama itu dan kemudian keluar dari dalam gedung itu untuk pergi merokok.
Sementara Alia menghela napas dan kemudian berkata dalam pikirannya,
'Arka, apakah kau akan datang hari ini atau besok untuk menyelamatkan aku?'
Satu jam berlalu dan Alia telah mendapatkan pizza nya.
"Hei penculik kekar, apa kau bisa menyuapi aku?" Teriak Alia.
"Iiissshhh menyebalkan sekali." Ucap pria tanpa nama itu mendekati Alia. "Apa kau tidak bisa menyuapi dirimu sendiri?"
"Bagaimana aku bisa melakukannya, sedangkan kau mengikat tanganku seperti ini." Balas Alia.
"Kau benar-benar merepotkan."
Pria tanpa nama itu kemudian mulai menyuapi Alia, tentu saja setelah Alia memastikan tangan pria itu bersih saat memegang ujung pizza nya.
"Hmmmm, ini enak sekali. Serius kau tidak mau?" Tanya Alia.
"Tidak, aku tidak makan makanan sampah seperti ini."
Alia tertawa.
"Oohh aku tau apa makanan kesukaanmu. Melihat tubuhmu yang kekar dan berotot ini sepertinya kau makan itu seperti makanan kambing."
"Apa maksud mu?" Teriak pria tanpa nama itu tampak kesal.
"Kenapa kau marah saat aku menyebutmu seperti kambing? Bukankah kau pasti lebih suka makan sayur-sayuran yang berwarna hijau sama seperti kambing?" Ucap Alia lagi.
Pria tanpa nama itu terdiam dan malah terus menyuapi Alia. Hal itu membuat Alia menahan tawanya dan kembali mengunyah pizza nya.
"Hei penculik kekar. Sebenarnya kau itu terlihat seperti orang baik. Kalau boleh aku tanya untuk apa kau menculik ku? Apa itu demi uang?" Cecar Alia lagi.
"Bukan urusanmu."
__ADS_1
"Tentu saja urusanku, karena kau menculik aku."
"Terserah kau saja. Sekarang lebih baik kau diam dan cepat habiskan makananmu. Aku lelah mendengar mu terus mengoceh." Ucap pria tanpa nama itu.
"Bagaimana kalau kau bekerja denganku saja menjadi bodyguard ku. Aku bisa membayar mu mahal." Alia berusaha mengajak pria tanpa nama itu bekerja sama.
"Tidak tertarik."
"Aku punya banyak uang." Lanjut Alia.
"Tidak perduli." Balas pria tanpa nama itu.
"Ayolah." Bujuk Alia.
"Apa kau sudah selesai? Aku harus keluar." Ucap pria tanpa nama kemudian hendak berjalan keluar.
"Hei, setidaknya beri aku minum dulu." Ucap Alia lagi.
Pria tanpa nama itu sudah berada di pintu dan menghela napasnya kemudian berbalik dan membuka botol minuman untuk Alia kemudian memberikan Alia minum.
"Ahh.... Kenyang sekali. Terima kasih ya. Kau sangat baik padaku, aku menghargai semuanya."
Pria tanpa nama itu terdiam, dia lalu kembali menaruh minuman itu di samping Alia kemudian hendak berjalan keluar.
"Jika pekerjaanku ini sudah selesai, dan kau sudah mendapatkan uangmu, aku harap kau bisa berubah menjadi orang baik-baik. Berhentilah menjadi penculik atau melakukan tindakan kriminal lainnya."
Pria tanpa nama itu terdiam, ia kembali berjalan ke arah pintu.
"Hei...." Teriak Ali.
Pria tanpa nama itu memutar tubuhnya menghadap Alia saat ia sudah berdiri di pintu.
"Apa lagi?"
"Hubungi aku jika kau berubah pikiran. Cari saja aku di studio foto X. Cari saja aku, Alia Luiz."
Pria tanpa nama itu tak mengatakan apapun, ia melangkah keluar dari dalam kamar itu. Sementara Alia hanya tersenyum.
'Ah, penculik yang baik.' ucap Alia dalam hati.
Setelah itu, selang setengah jam, Nadia akhirnya tiba di tempat yang sama dimana penculik itu berada.
(Di mana sebenarnya Arka? Kenapa dia lama sekali)
Pria tanpa nama itu tengah berdiri di luar gedung itu.
"Di mana uangnya?" Tanya pria tanpa nama itu.
"Ini uangnya." Balas Nadia seraya menyerahkan uang itu dan berjalan masuk ke dalam.
"Oh Ya Tuhan.... Pelakor, pelakor, pelakor! Apakah kau terkejut karena melihat aku berada disini sayang." Ucap Nadia seraya menampilkan senyuman di wajahnya.
Alia menatap kearah Nadia dan kemudian menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak terkejut sama sekali." Balas Aliah.
"Oh, maka aku rasa bahwa kau adalah wanita yang pintar." Ucap Nadia dan berjalan mendekat ke arah Alia.
Nadia lalu memegang dagu Alia dengan begitu keras dan bertanya, "Kenapa kau tidak menandatangani surat perceraian itu?"
"Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku akan mendatangani surat perceraian itu?" Tanya Alia balik dan melihat ke arah mata Nadia dengan tajam.
Nadia menjadi sangat marah. Dia menghembuskan napas dengan kasar dan berkata, "kau benar-benar ingin mati di tanganku ya?"
Alia hanya tersenyum dan berkata, "apa kau akan Membunuhku?"
"Tanpa keraguan sedikitpun." Balas Nadia dengan tersenyum licik dan kemudian mengeluarkan sebuah senjata api dari dalam tasnya.
Nadia lalu menodongkan nya di kening Alia dan tersenyum.
"Tanda tangani surat perceraian itu dan tinggalkan sisinya. Jika kau melakukannya, aku janji bahwa aku tidak akan melukaimu sedikitpun." Ucap Nadia dan memberikan surat perceraian itu kepada Alia.
"Tentu saja aku tidak bisa memberikanmu surat yang asli. Jadi aku hanya bisa memberikanmu duplikat ini saja. Sekarang tandatangani saja surat ini atau bersiaplah untuk mati, saay ini juga." Ucap Nadia lagi.
Alia tertawa dan berkata, "aku tidak mau menandatanganinya. Lakukan saja apapun yang ingin kau lakukan padaku."
"Apakah kau menyukai dia atau apa itu? Tandatangani saja surat itu sebelum aku kehilangan kesabaran ku?" Ucap Nadia dengan suara yang penuh ancaman dan menarik pelatuk senjata itu.
"Aku tidak menyukainya. Tapi aku mencintainya." Ucap Alia penuh kejujuran.
Nadia menjadi semakin dipenuhi emosi. Dia kehilangan kesabarannya.
__ADS_1
"Beraninya kau!" Teriak Nadia saat dia hendak menembak kening Alia.
Dia hendak menembakkan senjata itu ke kening Alia. Tapi tiba-tiba sebuah suara yang begitu keras berasal depan membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu terkejut.
Asisten Arka sudah menembak tangan Nadia lebih dulu hingga membuat senjata yang ada di tangan Nadia terjatuh ke lantai.
"Pikirkan dulu aksimu itu Nadia." Ucap Arka dengan tatapan mata yang penuh kemarahan saat dia berjalan mendekat kearah Nadia.
Sementara Nadia sendiri tengah memegang luka di tangannya dan tampak menangis karena luka di tangannya itu terasa sangat sakit. Nadia juga sebenarnya begitu terkejut.
Di sisi lain Alia tengah menatap mereka dengan ekspresi yang serius. Arka lalu berlari ke arah Alia kemudian memegang tangan Alia dan berkata dengan tersenyum.
"Apa kau terkejut melihatku?"
"Arka...." Ucap Alia dengan merasa begitu bahagia karena melihat suaminya itu sudah datang.
"Wah kau begitu tampak senang melihat kedatanganku sayang." Ucap Arka dengan tersenyum.
"Tentu saja aku sangat bahagia melihat suamiku datang menyelamatkan aku, seperti seorang pahlawan." Ucap Alia tersenyum.
Arka tengah melepaskan ikatan di tangan Alia dan tersenyum. Dia tampak begitu bahagia karena bisa datang tepat waktu.
"Omong kosong apa yang kalian berdua bicarakan ini. Arka.... Arka hanyalah milikku." Ucap Nadia yang tampak semakin bodoh dan begitu terkejut melihat kedatangan Arka.
"Berhentilah bermimpi. Aku hanya milik Alia." Ucap Arka.
Alia pun tersenyum saat mendengar ucapan suaminya itu. Setelah ikatan di tangannya itu terbuka, dia lalu berbalik dan memeluk suaminya dengan erat.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja? Apakah dia atau orang lainnya melakukan sesuatu kepadamu?" Ucap Arka menanyakan banyak pertanyaan, tapi Alia hanya diam dan terus memeluk Arka.
"Aku pikir, aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi. Aku pikir, aku akan mati hari ini." Ucap Alia.
"Bodoh, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Ucap Arka kemudian memeluk Alia dan memegang tangan Alia kemudian mengusap pipi Alia dan mengatakan semuanya dengan tatapan penuh cinta.
Tiba-tiba dari arah luar Devan datang bersama dengan beberapa pengawal. Melihat mereka berdua tengah berpelukan, Devan pun berkata, "permisi kalian pasangan yang penuh cinta. Kalian berdua bisa melanjutkan kemesraan kalian di rumah. Tapi sekarang, ayo kita fokus pada situasi yang ada di sini."
Arka dan Alia pun tertawa bersama dan kemudian saling memegang tangan dengan erat. Nadia menjadi begitu marah. Dia tidak bisa mengerti dengan apapun yang terjadi dan dia sangat terkejut setelah mengingat bahwa Arka sudah menyebutkan namanya sebagai Nadia dan bukan Nabila.
Devan lalu berjongkok dan kemudian mengikat luka di tangan Nabila dengan sebuah sapu tangan dan berkata, "kau tidak bisa mati dengan begitu mudah. Aku tidak akan membiarkan semuanya terjadi.
"Apa yang sebenarnya terjadi Arka? Kenapa kau berubah seperti ini? Kenapa kau membiarkan mereka menembak aku? Kenapa? Semua ini sangat sakit. Arka ku mohon bawa aku ke rumah sakit." Ucap Nadia seraya menangis menatap ke arah Arka yang masih berdiri bergandengan tangan dengan Alia.
"Ini adalah karma." Ucap harga dengan tersenyum.
Arka lalu mengambil sebuah botol berisi cairan racun dari dalam saku celananya yang membuat Nadia terkejut, setelah dia menatap Arka melihat hal itu.
"Apa kau mengingat sesuatu?" Tanya Arka dan kemudian berjongkok memutar botol itu di lantai.
"Tidak, aku tidak membunuhnya. Dia memang mati karena melahirkan." Ucap Nadia.
"Kami tidak pernah mengatakan bahwa kau membunuh seseorang dengan racun ini. Apa maksudmu dengan semua hal itu? Apakah kau benar-benar membunuh seseorang?" Ucap Alia dan mencoba untuk membuat Nabila mengakui kejahatannya.
"Tidak. Diam lah, diam saja kau." Teriak Nabila dan menutup telinganya dengan tangannya.
"Kenapa kau tidak mau mengakui bahwa kau melakukan hal yang salah. Akui saja secepatnya." Ucap Alia dan berjongkok di samping Arka.
Pertanyaan Alia yang secara tiba-tiba itu sengaja dia lakukan untuk membuat Nabila menjadi semakin marah agar mengakui kejahatannya sehingga para polisi yang berada di luar bisa langsung menangkapnya.
"Ini semua karena dirimu, karena kau Arka tidak mencintai aku lagi. Kau adalah seorang penyihir. Sihir Apa yang kau lakukan kepadanya. Aku akan membunuhmu juga seperti aku membunuh Nabila." Ucap Nadia yang sudah kehilangan akal sehatnya.
"Berhati-hatilah." Ucap Arka dari samping Alia.
Alia pun menganggukkan kepalanya. Sementara Nadia menarik pisau dari dalam tasnya dan berdiri dengan penuh kecepatan. Alia dan Arka sudah ikut berdiri juga. Tiba-tiba Nadia tertawa seperti orang gila dan berkata, "jika aku bisa membunuh adikku sendiri. Maka aku bisa membunuh siapapun termasuk dirimu."
"Kenapa kau membunuh adikmu sendiri?" Tanya Alia dan berjalan mendekat kearah Nadia.
"Karena dia menjalani hidup yang jauh lebih baik dariku. Dia bisa hidup bahagia dengan keluarganya, sementara aku harus tinggal di desa dengan sebuah keluarga miskin. Dia dicintai dan menikah dengan orang kaya seperti Arka Wijaya dan aku hanya bisa memandangnya dari jauh. Bagaimana aku bisa membiarkan semua ini terjadi sedangkan aku harus hidup sengsara. Jadi aku pun membunuhnya dan membuat Arka untuk menjadi milikku dan dia akan tetap menjadi milikku selamanya. Aku juga akan membunuhmu maka tidak ada orang lain yang mengganggu hubungan ku dan Arka. Aku akan menusuk mu dan membunuh mu, sama seperti aku membunuh Nabila dan kau kemudian akan mati." Ucap Nadia yang berubah menjadi orang gila.
Dia benar-benar kehilangan kontrol akan dirinya dan pikirannya. Dia hendak menyerang Alia tapi Devan langsung memegang tangan Nadia dan mengambil pisau itu dari tangannya. Sementara Arka langsung menarik Alia kebelakang dan memeluknya.
Polisi masuk ke dalam ruangan itu dan langsung menangkap Nadia.
"Terima kasih karena sudah bekerja sama dengan kami." Ucap polisi itu dan kemudian membawa Nadia bersama mereka.
Nadia terus saja berteriak.
"Aku akan membunuhmu."
Sementara itu entah kenapa, Arka tiba-tiba terjatuh dan menjadi pingsan di lantai, dengan berkata, "akhirnya Nabila. Aku berhasil untuk mengungkapkan kebenaran dalam kematian mu.
Sementara Alia yang tadinya berdiri, dia langsung berjongkok dibantu oleh Devan dan asisten Arka untuk membawa Arka ke rumah lama mereka. Di kediaman kedua orang tua Arka, Izzah dan Reyhan.
__ADS_1
Bersambung....