
Setelah jam kuliah selesai ada 4 pria yang menunggu aku di depan gerbang kampus. Mereka salah satunya merupakan laki-laki yang mengganggu aku tadi pagi.
'Oh ya Tuhan, seseorang tolong aku.'
Pria berambut hitam berkata, "Apakah kau sudah memikirkan apa yang aku katakan tadi pagi? Bisakah kita berteman?"
"Aku tidak mengenalmu, maaf." Balas ku.
Aku mencoba untuk menjauh dari mereka, tapi mereka menarik aku lagi.
"Lepaskan aku. Ini pelecehan." Teriakku.
"Kami akan melepaskan mu, hanya jika kau mau memberikan nomormu kepada kami." Ucap mereka.
"Baiklah, kalau begitu jangan salahkan aku untuk apa yang akan aku lakukan kepada kalian." Ucapku.
"Apa?" Ucap mereka dengan bingung.
Aku memukuli dua orang dari mereka dengan kedua tanganku dan langsung mendorong mereka. Kemudian aku menendang telur si laki-laki berambut hitam dan yang terakhir pria yang berambut ikal, dia berlari ketakutan melihat aku yang memukuli teman-temannya.
'Hahaha dasar pecundang!'
Aku bisa menyelamatkan diriku kali ini. Tapi aku tidak akan bisa melakukan hal itu setiap hari. Mereka mungkin akan datang dengan lebih banyak orang lagi.
'Ya Tuhan, ingat apa yang aku katakan sebelumnya, aku memohon kepadaMu Tuhan.' ucapku dalam hati.
...****************...
Keesokan harinya aku harus memanjat dinding tembok yang ada di belakang kampus untuk menghindari para pria yang menunggu aku di pintu gerbang. Aku hampir saja turun, tapi kemudian tanganku terpeleset dan membuat aku terjatuh.
Aku menutup mataku berpikir apakah aku akan mati tapi atau tidak. Aku malah tidak kesakitan sedikitpun. Aku merasa bahwa aku tengah terbang.
'Tunggu dulu, aku kan tidak bisa terbang!'
Aku lantas membuka mataku dan aku melihat wajah Dafa yang tengah menatap ke arahku. Kemudian aku pun menyadari bahwa dia tengah menggendong aku.
"Hmmm... Hai! Aku rasa aku.... Hmm...."
"Tidak perlu menjelaskan apapun. Aku mengerti sekarang. Kau pasti sudah tahu bagaimana rasanya sekarang bukan?" Ucap Dafa.
Dia lalu menurunkan aku.
"Sudah berapa lama kau berada dalam situasi seperti ini?" Tanyaku kepadanya.
"Setidaknya sejak aku berada di sekolah dasar sampai sekarang." Ucap Dafa.
Aku merasa kasihan kepadanya. Mereka semua tidak akan membiarkan kami pergi kecuali kami memiliki seorang pasangan. Tiba-tiba aku mendapat sebuah ide.
"Bagaimana jika kita berpura-pura untuk menjadi sebuah pasangan saja? Mereka pasti akan membiarkan kita pergi." Ucapku.
"Eh? Pa... Pasangan? Denganmu? Tidak akan pernah." Balas Dafa.
"Aku bilang untuk berpura-pura menjadi sebuah pasangan. Kau tidak perlu begitu kejam. Hmmmpp!" Ucapku kesal.
Dafa tampak berpikir beberapa saat kemudian dia berkata, "Baiklah, tapi hanya pura-pura saja."
Aku mendekat ke arah Dafa dan melihat ke arah matanya kemudian berkata, "apakah begitu buruk untuk menjadi kekasihku?"
Dia melihat ke arah lain dan menjawabku.
"Mungkin tidak seburuk itu. Ngomong-ngomong, ayo kita kembali ke kelas sekarang."
"Baiklah." Balas ku.
Aku memegang tangan Dafa dan kami berjalan pergi ke kelas. Semua orang tampak menatap ke arah kami. Para gadis yang menyukai Dafa menatapku dengan tatapan membunuh dan para pria yang melihat ke arah Dafa memperlihatkan ekspresi yang penuh kebencian di wajah mereka.
Sepanjang hari ini, tidak ada satupun dari para wanita dan pria yang ingin mendekati kami dan mengganggu kami.
'Ah ternyata rencana ku berhasil.'
"Lihat, aku sudah bilang bahwa rencana ku akan berhasil bukan." Ucapku kepada Dafa.
"Iya, ayo biarkan aku mengantarmu pulang." Balas Dafa.
Dafa lalu mengantar aku pulang.
Saat tiba di rumah, dia pun hendak pulang ke rumahnya. Tapi...
"Mampirlah untuk makan malam." Ucap pelayan di rumahku yang sudah seperti Bibi bagiku.
Bibi menarik Dafa dan seolah langsung menyeretnya masuk ke dalam rumah.
'Maaf Dafa, kau harus diam di rumah ini beberapa saat.' ucapku dalam hati.
Kami lalu duduk di meja makan sementara Bibi tengah memasak dan kakakku masih bekerja. Dafa dan aku duduk berduaan di samping satu sama lain.
"Jika nanti kakakku menanyakan sesuatu tentang kesukaanmu, kau harus menjawab Itali atau Italian, oke." Ucapku.
"Kenapa?" Tanya Dafa.
"Kakakku itu sangat menyukai Itali. Jika dia tahu bahwa kalian memiliki kesukaan yang sama, maka dia akan menyukaimu." Ucapku.
"Semuanya terlihat seperti aku akan bertemu dengan calon kakak ipar ku." Ucap Dafa.
"Sepertinya begitu." Balas ku tersenyum.
Saat Kakak datang, makan malam pun sudah siap dan setelah itu kami pun mulai makan malam bersama.
"Apa makanan favoritmu Dafa?" Tanya kakakku kepada Dafa.
"Pizza, sebenarnya semua makanan Italia. Aku sangat suka Itali." Ucap Dafa.
"Pria yang hebat." Balas kakakku.
Makan malam berjalan dengan begitu mulus. Untuk dessert, bibi memasak kue nanas.
"Sheila, ambil lah sepotong kue ini. Rasanya sangat lezat." Ucap Bibi.
"Bi, apakah Bibi lupa bahwa aku tidak bisa memakan nanas?" Ucapku.
"Ah, kau benar, Bibi lupa. Maaf ya." Ucap Bibi.
Sebenarnya aku bukannya tidak menyukai nanas atau alergi terhadap nanas. Itu semua karena saat setiap kali aku memakan nanas atau sesuatu yang berhubungan dengan nanas, aku akan mabuk. Aku tidak bohong, terakhir kali aku memakan nanas aku berakhir dengan menari Macarena dan berbicara bahasa asing. Bahasa yang sama sekali aku sebenarnya tidak mengerti. Itu sepertinya sebuah kelebihan.
Jika aku memiliki kesempatan untuk pergi ke negara lain, sepertinya aku hanya perlu memakan nanas dan tidak akan ada orang yang bisa melihat perbedaan antara aku dan orang asli negara itu karena aku memang sangat menguasai bahasanya.
Setelah makan malam, Dafa pun pulang ke rumahnya. Untungnya makan malam berjalan dengan sangat sukses.
...****************...
__ADS_1
Hari ini jadwal perkuliahan tidak ada. Jadi aku tidak perlu pergi ke kampus.
'Ahhh... akhirnya aku pikir bahwa minggu ini tidak akan pernah berakhir. Sekarang aku bisa memiliki waktu ku yang sempurna.'
Waktu yang sempurna bagiku adalah berbaring di atas tempat tidur dan tidak bangun kecuali untuk pergi ke kamar mandi. Untuk sepanjang hari, aku hanya akan makan dan menonton TV di tempat tidur. Itu adalah mimpi dari semua orang.
Aku tengah menonton film aksi saat seseorang berjalan dengan begitu terburu-buru masuk ke dalam kamarku.
'Eh?'
Ternyata itu adalah Marissa. Dia menggunakan sebuah kaos oblong berwarna merah dan celana pendek putih. Dia melihat ke arahku dari atas ke bawah seolah tengah meneliti diriku.
"Hai kucing pemalas. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau masih berbaring di atas tempat tidur? Ini saatnya bangun. Ayo pergi." Ucapnya.
"Jika kau mau, kau bisa diam bersamaku di sini." Balas ku.
"Apa kau bercanda? Tidakkah kau melihat bahwa hari ini sangat cerah dan juga indah. Ayo kita pergi ke pantai. Semua orang akan ada di sana." Ucap Marissa lagi.
"Mmmmm... Tidak." Balas ku.
"Kau akan pergi dan kau tidak punya pilihan lain." Ucap Marissa.
"Apa maksudmu?" Ucapku.
Dia mendorong aku jatuh dari atas tempat tidur dan kemudian dia menarik aku ke dalam ruangan ganti pakaian.
'Sejak kapan dia menjadi begitu kuat?' pikirku.
Dia malu memakaikan aku sebuah kaos oblong berwarna putih dan celana pendek coklat.
'Tidak... hari sempurnaku....'
Dia menarik aku keluar dari rumah dan saat itu juga aku baru menyadari bahwa itu adalah hari yang sangat indah dan sangat cerah. Mungkin ide untuk pergi ke pantai tidak terlalu buruk.
"Lihat! Hari yang cerah dan indah bukan? Ayo kita pergi ke pantai." Ucap Marissa.
Kami lalu berjalan menuju halte bus. Kami akan pergi ke pantai menggunakan bus.
Saat kami tiba di pantai, di sana tidak terlalu sibuk karena masih sangat pagi. Tapi sudah ada banyak dari teman-teman kampus kami yang ada di sana.
Dari ujung mataku, aku bisa melihat Dafa tengah mengobrol dengan seorang pria.
'Oh ya Tuhan.... Dia memiliki tubuh yang sangat sempurna. Perut kotak-kotaknya itu sangat indah.' ucapku dalam hati.
Aku melihat seorang gadis mendekat ke arah Dafa, dan itu adalah Lola. Ternyata dia masih punya muka untuk mendekat ke arah Dafa. Biarkan aku melihat, apa yang akan dia lakukan. Aku lalu mendekat ke arah mereka dengan perlahan. Aku berdiri di belakang mereka. Lola tidak menyadari kehadiranku, begitu juga dengan Dafa.
"Dafa, aku tahu bahwa kau punya seorang pacar sekarang. Tapi aku akan mengatakan kepadamu bahwa dia bukanlah orang yang baik. Aku sudah mencari tahu tentang dirinya. Dia hanyalah seorang anak yatim dari keluarga miskin dan dia punya banyak kekasih sebelum dirimu. Jadi Dafa, dengarkan lah aku sebagai teman baikmu. Kau harus meninggalkan dia." Ucap Lola.
"........."
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Apakah dia begitu idiot? Dia sebenarnya pintar hanya di kampus saja tapi di kehidupan nyata, dia benar-benar bodoh.
Aku menyentuh pundak Lola dari belakang. Saat dia melihatku, dia mungkin saja terkena serangan jantung.
"Pada awalnya aku benar-benar berpikir bahwa kau memang mencari tahu tentang diriku. Tapi kemudian aku menyadari bahwa semua itu hanyalah sebuah kebohongan semata. Kau benar-benar hebat dalam hal omong kosong. Jika hubungan kami ini mengganggu dirimu, itu semua bukan urusanmu." Ucapku.
Dia langsung terlihat begitu panik dan wajahnya langsung pucat.
"Aku... aku hanya bercanda. Iya kan Dafa?" Ucapnya dengan gugup.
Dafa bahkan tidak melihat ke arahnya. Dafa hanya menaruh lengannya di pundak ku dan berkata, "apapun yang kau lakukan, baik itu bercanda atau pun tidak, aku tidak peduli karena aku sudah tahu bagaimana kenyataannya." Ucap Dafa.
"Sudah berapa lama kau berteman dengan nya?" Tanyaku kepada Dafa.
"Sebenarnya kami tidak berteman begitu saja. Orang tua kamilah yang memaksa kami karena pertemanan di antara kedua Papa kami, membuat aku harus memperlakukan dia dengan baik." Balas Dafa.
"Aku mulai merasa lebih dan lebih mengasihani dirimu dan aku minta maaf karena memaksamu untuk menjalani hubungan palsu ini. Aku tahu kau mencintai Kenzo. Aku akan menemukan solusi lain untuk membuat para fans kita itu pergi." Ucapku.
"Ssshhhh.... berhentilah bicara omong kosong." Ucap Dafa.
Dia Lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya dan memaksa itu masuk ke dalam mulutku.
'Oh tidak lagi.'
"Ini adalah permen pedas. Bagaimana rasanya? Apakah sangat pedas?" Ucap Dafa padaku.
Dafa menyeringai ke arahku.
'Baiklah biarkan aku menunjukkan kepadamu bagaimana pedasnya permen ini.'
Aku memegang wajahnya dengan kedua tanganku dan aku menciumnya. Aku memaksa dia agar membuka mulutnya dengan lebar agar bisa membuat permen itu masuk ke dalam mulutnya. Dan setelah menciumnya, aku menaruh permen pedas itu ke dalam mulutnya.
"Ah sangat pedas beraninya dirimu." Uap Dafa.
"Ah, kau pantas menerimanya." Balasku.
Aku masih merasa pedas di mulutku. Saat aku melihat ke sekeliling, semua orang tengah melihat ke arah kami. Saat itulah aku menyadari bahwa aku sudah mencium Dafa di depan semua orang.
'Oh ya Tuhan, aku begitu berani.'
Aku melihat para wanita yang menyukai Dafa dan Lola juga melihat ke arahku dengan tatapan mematikan. Aku memegang lengan Dafa dan menariknya menjauh dari sana. Setelah itu, kami minum cukup banyak air untuk meredakan pedas di mulut kami.
"Maaf karena aku mencium mu di depan semua orang. Jika Kenzo salah paham kau bisa mengatakan kepadanya yang sebenarnya. Aku akan menemukan solusi lain untuk membuat para fans kita itu menjauh." Ucapku.
"Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak mencintai Kenzo. Aku tidak perlu mempunyai alasan untuk menyembunyikan semua itu darimu jika itu semua memang benar oke." Ucap Dafa.
'Jika dia tidak mencintai Kenzo? Lalu kenapa dia mencoba untuk memisahkan aku dengan Kenzo? Apakah itu karena dia sangat membenci Kenzo?'
"Baiklah aku mengerti." Balas ku.
Aku lalu pergi untuk membeli kostum renang. Dafa mendekat ke arahku karena dia tidak mau para gadis yang menggilai dirinya untuk mengganggunya. Toko itu dipenuhi dengan banyak kostum renang berbagai jenis.
Aku tengah melihat sebuah kostum saat Dafa berkata kepadaku, "coba ini ucapnya."
"Apa kau yakin? Bukankah ini terlalu terbuka ?" Ucap ku.
Itu adalah sebuah bikini merah dan jika aku menggunakan bikini itu, maka dadaku akan terlihat sangat jelas.
"Tentu." Ucap Dafa.
Aku lalu mencoba bikini itu.
'Oh ya Tuhan, aku merasa seolah tidak memakai pakaian.'
Aku keluar untuk menunjukkan kostum renang itu itu kepada Dafa. Dia melihat ke arahku dari atas ke bawah. Kemudian Dafa mendekat ke arahku dia mengusap pipiku dan berkata,
"Kau benar-benar seksi."
"Eh, jangan katakan hal itu. Tapi apakah kostum ini benar-benar terlihat bagus untuk aku kenakan?" Tanyaku.
__ADS_1
"Tentu saja, itu juga sangat indah." Balas Dafa.
"Baiklah, aku akan membelinya." Balas ku.
Aku hendak membayar kostum itu. Tapi Dafa menarik aku kembali dan aku mendapati diriku tengah memeluk dirinya.
"Apa yang kau lakukan? Aku mau membayar kostum ini." Ucapku.
"Jangan beli kostum ini." Ucap Dafa.
"Eh, tapi kau bilang bahwa kostum ini sangat indah. Kenapa kau membuat aku menggunakannya?"
"Aku hanya ingin melihatmu memakainya, tapi aku tidak mau orang lain melihatmu tampil seksi seperti itu juga." Balas Dafa.
"Dasar kau pria mesum." Ucapku.
Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa sangat senang saat dia mengatakan bahwa dia tidak mau orang lain melihat aku menggunakan pakaian terbuka seperti itu. Dafa lalu memelukku.
"Kenapa kau memeluk aku?" Tanyaku padanya.
"Kau sangat lembut." Balas Dafa.
Dia lalu menaruh dagunya di kepalaku.
"Lepaskan aku. Aku harus mengambil kostum lainnya sekarang. Dia lalu melepaskan aku. Pada akhirnya aku membeli sebuah bikini berwarna hitam dan kemudian kami kembali pergi ke pantai.
Saat kami tiba di pantai, Marissa mendekat ke arah kami.
"Ke mana saja kau Sheila? Ayo kita berenang." Ucap Marissa.
Kami lalu ikut bersama teman-teman yang lainnya dan pergi berenang. Airnya tidak terlalu panas. Sangat hebat karena Marissa memaksa aku untuk keluar rumah. Semua ini lebih baik dibandingkan dengan tidur seharian di kamar.
Aku tengah berbaring di sebuah pelampung berbentuk donat dan tiba-tiba seseorang menyiram air ke arahku.
Aku menjadi begitu marah.
'Siapa orang yang sudah mengganggu waktu santai ku ini?'
Aku melihat ke sekeliling dan mendapati jika Dafa tengah tersenyum ke arahku. Beraninya dia! Aku lalu mengambil beberapa air dan menyiramnya ke wajah Dafa.
"Ah kau mau melawanku ya?" Ucapnya.
Dia lalu mengambil seember air yang entah dari mana dan mulai menyirami air itu ke wajahku.
"Hentikan..." Ucapku.
Tapi dia terus menyiram air ke arahku. Aku mengambil ember itu darinya dan aku menyiram air ke arahnya juga. Aku melihat ke arah sekeliling dan aku melihat orang lainnya sudah pergi.
"Ke mana perginya semua orang?" Tanyaku.
"Mereka pergi bermain bola voli." Aku kembali menyiram air ke arah Dafa.
Di saat yang bersamaan, sebuah ombak besar mendekat ke arah kami. Ombak itu lalu menghantam kami. Aku menutup mataku saat dan aku membuka mataku dan menyadari bahwa aku berada di depan Dafa. Dia menyeringai ke arahku.
"Ada apa?" Tanyaku.
Dafa mendekat ke arahku dan berbisik di telingaku.
"Lihat bagaimana dirimu sendiri." Ucap Dafa.
Aku lantas melihat ke bawah dan...
'Oh tidak, aku kehilangan kostum ku.'
Dadaku benar-benar terekspos begitu jelas sekarang. Dafa terus menyeringai.
"Jangan lihat...! Dasar kau mesum." Ucapku tapi dia semakin mendekat ke arahku lalu aku mendengar beberapa suara dari orang-orang.
"Guys, ayo kita mandi sekarang..."
"Tidak, aku mau melihat para gadis cantik."
'Oh tidak! Seseorang akan datang dan jika mereka melihatku seperti ini.... maka....'
Aku lalu mendekatkan tubuhku kepada Dafa..
"Hei apa yang kau lakukan?" Tanya Dafa.
"Bisakah kau tidak bertingkah memalukan sekarang saja? Bagaimana bisa kau menjadi pemalu dengan begitu tiba-tiba?" Ucapku.
Kemudian Dafa mendengar para laki-laki itu mendekat. Dafa pun akhirnya mengerti dan dia memeluk aku semakin erat. Dadaku menekan ke arah tubuhnya. Situasi ini terasa begitu familiar bagiku. Pada akhirnya, para pria itu menjauh bahkan tanpa melihat ke arah kami. Aku pun bernapas lega dan aku melihat ke arah mata Dafa. Wajahnya tampak merona. Siapa sangka jika dia bisa merona dengan begitu Dia benar-benar pria yang menggemaskan.
Aku lalu memanggil Marissa yang tengah memakan es krim. Dia menemukan kostum ku dan aku menggunakannya. Sayangnya aku tidak bisa mengikat kostum yang aku gunakan.
"Marissa.... Bisakah kau membantuku." Ucapku, tapi aku merasakan ada tangan di punggungku.
Aku pun berpikir sejak kapan tangan Marisa begitu besar. Aku lalu berbalik dan saat aku berbalik aku melihat bahwa itu adalah Dafa yang membantu aku.
"Apakah aku terlihat seperti seorang perempuan?" Tanya Dafa.
"Bagaimana jika aku berkata iya." Balas ku. "Ngomong-ngomong, terima kasih." Lanjut ku.
Kami pun akhirnya pulang....
Malam itu aku tidur seperti sebuah beruang. Aku benar-benar kelelahan.
...****************...
Hari berikutnya di kampus semua orang di kelas terlihat jauh lebih bahagia dibandingkan biasanya. Mungkin karena kemarin. Tapi aku tidak merasa terlalu baik hari ini. Aku merasa bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi dan tiba-tiba dosen datang bersama dengan seorang gadis di sampingnya. Gadis itu tampak sangat cantik dengan memiliki rambut berwarna hitam dan bulu mata yang begitu lentik.
Dari ujung mataku aku bisa melihat Dafa dengan wajahnya yang tampak terkejut itu. Semua terlihat tidak seperti saat Lola datang ke dalam kelas dia terlihat bahagia.
Dafa dan gadis baru itu melihat satu sama lain seperti pasangan dari masa lalu. Dan kenapa aku merasa tidak nyaman melihat mereka seperti itu.
"Hari ini, kita kembali kedatangan mahasiswa baru. Silahkan perkenalkan dirimu." Ucap dosen.
"Hai semuanya. Namaku Mila Olivia, aku harap kalian semua bisa berteman baik denganku." Ucap gadis baru itu.
Dia lalu tersenyum ke arah Dafa dan Dafa membalas senyuman itu padanya. Mereka pasti mempunyai hubungan yang sangat baik seperti yang bisa aku lihat.
Gadis bernama Mila itu lalu duduk di hadapanku.
Dia pun berkata, " Hai siapa namamu?" Tanya Mila kepadaku.
"Aku Sheila. Kau sepertinya mengenal Dafa? Apakah kalian berteman?" Tanyaku.
Dafa tidak mengatakan apapun dia hanya tersenyum ke arah Mila. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa sangat kesal setiap kali Dafa tersenyum kepadanya.
"Kami teman romantis sejak masih kecil." Balas Mila.
__ADS_1
Bersambung....